NovelToon NovelToon
Satu Imam Dua Makmum

Satu Imam Dua Makmum

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Adiba Aza hra

Bagi Azam, satu-satunya wanita yang berhak bersandar di bahunya hanyalah Aira Humaira, istri sekaligus sahabat sejatinya.Namun, sebuah kesalahan yang tak di sengaja.kini berubah menjadi hantu yang menuntut penebusan. Safira kini hidup sebatang kara dan hidup menderita akibat kelalaian Azam. Ketika uang tak lagi mampu membasuh rasa bersalah, Aira justru menyodorkan madu pernikahan sebagai jalan keluar."Aku ikhlas, Mas..." kata-kata Aira terdengar tegas, meski hatinya sendiri hancur.Terjebak di antara tuntutan istri yang dicintainya dan penolakan hatinya untuk mendua, keputusan apa yang akan diambil Azam? Siapkah Aira menyaksikan suaminya bersanding dengan wanita lain, ketika ego dan rasa bersalah bertabrakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adiba Aza hra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 Hari Istimewa

Bab 1: Ikrar Suci dan Awal Baru

"Tampannya anak Ibu." Suara lembut yang selalu Azam rindukan kini terdengar begitu pelan. Seorang perempuan paruh baya dengan hijab biru muda berjalan memasuki kamar tidur Azam.

Azam menoleh lalu berjalan menghampiri sang ibu tercinta.

"Ibu," kata Azam lembut lalu membimbing sang ibu untuk duduk di sofa kamarnya.

Azam duduk di hadapan sang ibu, lalu mencium lembut punggung tangan perempuan yang telah melahirlannya itu.

"Ibu, terima kasih karena Ibu sudah menjadi ibu sekaligus rumah ternyaman untuk Azam," kata Azam lembut.

Antara bahagia, Azam juga merasakan sesak di dadanya saat melihat wajah teduh sang ibu.

"Nak, Ibu sangat bangga punya anak sepertimu. Kamu hebat, kamu kuat. Semoga kamu dan Aira sakinah, mawadah, warahmah. Ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untuk rumah tangga kalian," kata Bu Nilta lembut.

Azam menatap wajah teduh sang ibu.

"Azam tidak akan mengecewakan Ibu dan Aira. Azam berharap Ibu juga bisa menerima Aira dan menyayangi Aira seperti Ibu menyayangi Azam dan Hanum," kata Azam lembut dan penuh harap.

Bu Nilta tersenyum lembut ke arah sang putra.

"Ibu sudah menganggap Aira seperti putri Ibu sendiri, makanya itu kamu jangan sakiti Aira, jangan zalimi Aira," kata Bu Nilta tegas.

Azam mengangguk mantap.

"Dengan senang hati, Bu," kata Azam mantap.

Tidak lama kemudian, Hanum datang.

"Ibu, Mas Azam, semuanya sudah siap. Semua orang sudah berkumpul di bawah," kata Hanum antusias.

Azam berdiri lalu mencubit hidung Hanum gemas.

"Kamu kelihatannya seneng banget, Dek," kata Azam meledek.

Hanum tertawa kecil.

"Iyalah, akhirnya Hanum punya teman, apalagi modelan Kak Aira, wuuuuhhh asyik dong!" kata Hanum heboh.

Bu Nilta tersenyum lembut lalu mengajak kedua anaknya untuk keluar kamar.

Azam berjalan tegap dan tegas. Di belakangnya ada Bu Nilta dan Hanum yang mendampingi.

"Kamu sudah siap, Azam?" tanya laki-laki paruh baya dengan setelan jasnya.

Azam menghentikan langkahnya lalu mencium punggung tangan sang ayah.

"Insyaallah Azam sudah siap, Yah. Doakan semoga lancar dan tidak ada halangan," kata Azam tegas.

Ayah Niko memeluk putranya bangga.

"Doa Ayah dan Ibu akan selalu ada untuk rumah tangga kalian," kata Ayah Niko sembari memukul lembut punggung sang putra.

***

Aira langsung menangkupkan kedua tangan di wajahnya, menyembunyikan air mata haru yang mengalir deras. Statusnya kini telah berubah.

Di sebelahnya, Azam mengembuskan napas lega yang amat panjang, pundaknya yang semula tegang seketika melentur.

"Silakan Mas Azam dan Mbak Aira saling berhadapan untuk pemasangan cincin dan penyerahan mahar," instruksi pak penghulu dengan senyum ramah.

Azam memutar tubuhnya menghadap Aira. Jantungnya kembali berdegup kencang, tapi kali ini karena rasa takjub.

Ia mengambil cincin emas dari kotak beludru, lalu dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menyematkan cincin itu ke jari manis kanan Aira. Sentuhan kulit pertama mereka setelah sah mendatangkan sengatan hangat di dada Azam.

Aira bergantian memasangkan cincin ke jari manis Azam.

Setelah itu, dengan gerakan anggun dan penuh takzim, Aira meraih tangan kanan Azam. Ia membungkuk, lalu mencium punggung tangan suaminya dengan khusyuk dan lama.

Azam menatap puncak kepala istri kecilnya itu dengan tatapan penuh perlindungan. Ia lalu mengulurkan tangan kirinya untuk mengusap lembut rambut tergerai Aira, lalu mengecup kening Aira dengan penuh kelembutan.

"Cieeee! Halal mah bebas ya, Di!" seru Seno dari barisan belakang, memecah keheningan yang syahdu.

"Woi, Azam! Keningnya jangan ditiup, dicium aja! Ah elah gak asyik lo hahahah," timpal Ardi yang langsung disambut tawa renyah dari seluruh tamu undangan.

Wajah Aira seketika merona merah sehangat bunga sakura di kepalanya, sementara itu Azam hanya bisa berdecak sambil melemparkan tatapan tajam yang berpura-pura kesal kepada dua sahabat ajaibnya itu.

Bu Nilta dan Ayah Niko yang menyaksikan dari kursi saksi tampak menyeka sudut mata mereka yang basah karena bahagia. Begitu pula dengan Pak Hanif yang tersenyum lega, mengetahui putri tercintanya kini telah berada di tangan laki-laki yang tepat—laki-laki yang sejak dulu tumbuh bersamanya.

Setelah penandatanganan buku nikah, pak penghulu pun menutup acara.

"Alhamdulillah, seluruh prosesi akad nikah telah selesai. Selamat menempuh hidup baru untuk Mas Azam dan Mbak Aira," kata pak penghulu.

Azam berdiri, menuntun Aira yang masih sedikit gemetar untuk berdiri bersamanya, siap menjalani hari pertama mereka sebagai pasangan suami istri yang sah.

Banyak teman-teman Aira yang datang, begitu pun dengan Azam. Banyak rekan bisnisnya dan teman-teman kampusnya yang datang. Acara dilanjutkan dengan sangat meriah.

"Sayang," bisik Azam tepat di belakang telinga Aira.

Aira yang sedang menikmati es krim seketika menoleh.

"Apaan sih Zam, sayang-sayang, geli tau," kata Aira malu.

"Makasih ya, Aira Humairaku," bisik Azam lalu mencium sekilas pipi tembam Aira.

Tanpa mereka sadari, di belakang mereka ada Ardi dan Seno yang memperhatikan.

"Yang udah nikah mah bebas ye, Sen. Gue mah masih jomblo aja," gumam Ardi yang langsung dibalas anggukan pasrah oleh Seno.

Azam yang menyadarinya sontak menoleh ke belakang lalu memukul pelan kening Seno dan Ardi.

Hari ini adalah hari yang sangat istimewa untuk Azam Al Ghifari dan Aira Humaira.

1
Redmi
Lanjutkan 😎
Tempat resep ide jajanan Sekolahan
Lanjut 👍🙏
Tempat resep ide jajanan Sekolahan
Lanjut 👍
Tempat resep ide jajanan Sekolahan
Lanjut👍
Saddam Husein
lanjut👍
Saddam Husein
Semangat terus kak 😎👍
Tempat resep ide jajanan Sekolahan
hubungan sama orang tua atau saudara terasa asik biasanya kebanyakan kn nya fokus ke pemeran utama yg ini nih asikkkk gokil /Drool//Joyful//CoolGuy/
pokok lanjut bro Apa lagi pas di suruh masak nasi ngakak. habis hahaa lanjutkan bos kuhh
Tempat resep ide jajanan Sekolahan
Mantap gw yg cowo aja ngakak bca nya 🤣😄
Adiba Azahra
Wah, terima kasih banyak, Kak! 😍 Semoga makin baper ke depannya, ya. Ikuti terus kelanjutan ceritanya! 🔥🚀
Ridwan Hasan: Dari judul nya udah nyesek 🙏 Bagus kak semangat siap menyemak 👍
total 3 replies
Redmi
Lanjuttttttttttt 😍
Redmi
Aaaa ikut baper 😍🙏
gk kebayang aku punya suami kayak azam 🤣 😍
Redmi
Lanjut kak Bagus
Adiba Azahra: Terima kasih banyak, Kak! 🥰 Ditunggu kelanjutannya, ya, secepatnya! 🚀🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!