Kehidupan penduduk Kampung Surya Kencana, dimana sebagai besar penduduknya bekerja sebagai besar petani. Kampung ini kini gersang karena dilanda kekeringan.
Warga Kampung Surya Kencana bersifat, tradisional, sehingga sulit menerima perkembangan terutama dibidang pertanian. Pemerintah baik dari pusat, provinsi, kecamatan hingga Kampung sudah sering mengadakan Penyuluhan Pertanian agar pertanian masyarakat dapat meningkat, namun di tolak oleh sebagian besar penduduk yang bekerja sebagai petani.
Seorang pemuda bernama Harjo (pemeran utama) adalah salah seorang dari sedikit petani yang mau mengikuti arahan Penyuluh Pertanian. Dia gigih dan ulet dalam bertani serta cerdas dalam mengembangkan pertanian, sehingga hasil pertanian Harjo menjadi berbanding terbalik dengan hasil pertanian warga Kampung. Hasil pertaniannya melimpah sedang petani lainnya sering terkena hama dan gagal panen.
Banyak penduduk yang mulai tertarik dengan cara bertani Harjo yang terkadang diluar kebiasaan penduduk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Sinaga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11 Lapor Pak. Widuri melayang ke awang-awang.
Hari ini adalah hari Minggu, Widuri terpaksa menutup warungnya sementara karena kejadian kemarin malam.
Widuri bergegas pergi kerumah Harjo, dirinya akan mengajak Harjo ke balai Kampung, untuk menemui Bapak kepala Kampung. Di sana Mereka akan melaporkan perihal kejadian semalam, sesuai permintaan Bapak kepala Kampung kepada Widuri semalam.
Widuri sudah menyiapkan makanan yang akan diberikannya kepada Harjo yang kemungkinan saja belum sarapan. Oleh sebab itu Widuri datang berkunjung agak sedikit lebih pagi.
Sesampainya di depan rumah Harjo, Widuri melihat ada kepulan asap yang tampak di bagian belakang rumah itu.
Rumah di Kampung Surya Kencana pada umumnya memiliki dapur di bagian terbelakang rumah dan dilengkapi dengan tungku batu serta menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakatnya. Sehingga ketika memasak, bagian belakang yang disengaja agak lebih memiliki sirkulasi udara yang lebih besar agar asap yang dihasilkan oleh pembakaran kayu bakar segera dapat keluar dari bagian dapur rumah.
Setiap warga dapat dengan mudah melihat asap yang mengepul jika pemilik rumah sedang memasak sesuatu.
"Harjo... Harjo..." Teriak Widuri.
"Ya... Sebentar!" Jawab Harjo. Harjo meninggalkan masakannya di dapur menuju pintu keluar rumahnya.
"Eh... Kamu Widuri. Ada apa berkunjung sepagi ini?" Tanya Harjo penasaran.
"Oh, iya mari masuk dahulu, Aku sedang memasak air dan juga hendak membuat sarapan didapur." Ajak Harjo kepada Widuri.
"Oh, Baiklah." Jawab Widuri mengikuti Harjo dari belakang menuju dapur rumah Harjo yang juga memiliki pintu masuk.
Rumah di Kampung Surya Kencana terpisah-pisah dengan jarak yang cukup jauh, sebab masing-masing rumah masih memiliki halaman yang luas. Sehingga bagian belakang rumah Harjo masih memiliki halaman yang luas dan di tanami berbagai tanaman, seperti rambutan, mangga dan juga beberapa pohon kelapa. Ranting-ranting dan pelalah pohon inilah yang biasanya dijadikan bahan bakar untuk memasak.
Tanpa harus dipersilahkan, Widuri duduk di sebuah kursi yang biasanya digunakan Harjo untuk meminum kopi, sarapan atau menjaga api ditungku sambil menunggu masakannya matang.
"Oh ya Harjo, Aku juga sudah membuatkan sarapan pagi untukmu, ini!"
Widuri menyerahkan bungkusan nasi lengkap dengan lauknya.
"Eh... Terima kasih Widuri. Kau baik sekali, sudah repot-repot membawakan sarapan pagi juga."
Harjo tersenyum dan menerima bungkusan yang dibawa oleh Widuri.
"Tidak repot, hanya sarapan saja. Kebetulan Aku masak cukup banyak tadi pagi." Jawab Widuri sedikit malu-malu.
Harjo meletakkan bungkusan dari Widuri diatas meja lalu pergi memperbaiki keadaan kayu bakar di tungku, keemudain mengambil piring dan sendok.
Kebetulan air yang dimasak oleh Harjo juga sudah kelihatan matang karena mendidih. Widuri segera bangkit,
"Sini, biar Aku saja yang buatkan kopinya, Kamu sarapan saja dahulu."
Widuri bangkit dari kursi dan mengambilkan gelas lalu memasukkan gula beserta kopi kedalamannya serta menuangkan air panas yang telah masak itu.
Harjo merasa senang sekali, mendapatkan layanan dari Widuri, berupa kopi panas dan juga sarapan yang telah dibawa Widuri.
"Aduh, jadi tidak enak Aku. Kamu yang bertamu, membawa makanan, sekarang malahan harus membuatkan kopi. Terima kasih Widuri!" Canda Harjo.
"Ah, tidak apa-apa. Kamu ada saja, kebetulan airnya sudah masak, wajar dong sebagai wanita Aku yang membuat kopi." Widuri tampak malu-malu.
"Oh, iya. Ada apa Kamu berkunjung selagi ini? Tidak biasanya?" Tanya Harjo yang sedikit penasaran akan kedatangan Widuri.
Widuri kembali duduk di kursi setelah selesai mengaduk kopi buatannya untuk Harjo.
"Jadi begini, kemarin setelah Kamu pulang. Pak kepala Kampung datang ke rumahku dan membawa Slamet beserta Udin dan Arif, lalu beliau meminta Kita untuk memberikan keterangan di balai Kampung hari ini." Widuri menjelaskan.
"Oh, begitu. Baiklah setelah sarapan kita segera kesana bersama-sama." Jawab Harjo, yang segera melanjutkan kegiatan makan sarapannya.
Widuri duduk sambil memperhatikan Harjo yang sedang sarapan dirinya seolah-olah berkhayal menjadi istri Harjo yang sedang melayani Harjo pagi itu.
Wajahnya terlihat senyum semringah, tanpa Widuri sadari.
Harjo yang fokus kepada kegiatan sarapannya pun kurang memperhatikan apa yang saat ini dilakukan oleh Widuri.
Widuri sudah merasa nyaman berada di alam khayalannya. Khayalan tingkat tinggi sudah mulai merasukinya. Disana Widuri berperan sebagai istri yang setiap hari melayani Harjo suaminya. Dia memasak, mencuci, serta menyapu rumah Harjo ditemani tatapan penuh senyum dan cinta dari Harjo. Widuri merasa bahagia sekali ketika akhirnya mereka berdua berjalan. menuju ke kamar dan ranjang tempat tidur, ketika hendak..
"Widuri... Wid..." sapa Harjo yang sudah selesai sarapan dan melihat pandangan Widuri yang tidak fokus atau mengambang dan senyuman manis Widuri yang pastinya akan menggetarkan lelaki mana pun yang memandangnya.
Widuri tersadar dari khayalannya yang hampir saja sampai pada tingkatan dewa bercinta.
"Ma... Maaf!" Jawab Widuri singkat yang tampak malu-malu dan menyesal karena lamunannya terpotong.
"Kamu melamun, ya?" Goda Harjo, sembari menyeruput kopi buatan Widuri.
"Ti.. Tidak, cuma bengong sedikit, kok. Habis Kamu lama sih, sarapannya!" Jawab Widuri ketus, merasa malu sekali.
"Ya sudah, sebentar lagi kopiku habis, Kita segera berangkat." Jawab Harjo.
"Ya, tetapi tidak perlu terburu-buru sebab kopinya masih panas. Bahaya, bibir Kamu melepuh nanti!" Jawab Widuri, meminta Harjo santai saja, padahal tadinya Widuri sedikit terlihat marah karena malu kepada Harjo yang memergokinya sedang berkhayal.
Begitulah sifat wanita, ketahuan pasti akan bereaksi berbeda dengan apa yang seharusnya. Menyuruh cepat sekarang santai saja. Buat kita para pria, maklum saja dan harus jeli melihat tingkah wanita yang seperti ini. Perkataan dan perbuatan saat ini, terkadang merupakan gambaran yang tersimpan atau sebaliknya dari wanita. ***
Harjo telah selesai menikmati kopi dan sarapannya, kini mereka berdua telah berjalan menuju balai Kampung. Mereka berjalan dengan santai dan tidak terlalu cepat sambil menikmati sejuknya udara pagi, pemandangan sekitar Kampung yang masih asri, dipenuhi berbagai pohon dan juga suara burung-burung kecil yang bermain dan bernyanyi di sekitar pepohonan.
Banyak orang yang tidak pergi ke kebun hari ini semua menikmati hari libur yang biasanya digunakan untuk bersantai di rumah.
"Lihat bunga Pak Sulistyo sudah bermekaran indah sekali."
Widuri menunjukkan berapa tanaman bunga yang menghiasi halaman rumah Sulistyo warga setempat yang juga berprofesi sebagai petani dan penjual bunga tabur, baik untuk acara pernikahan maupun penguburan di Kampung itu.
"Iya, tampaknya sudah banyak yang bermekaran. Pak Sulistyo dan Ibu Sulistyo memang rajin merawat tanamannya." Jawab Harjo yang juga menikmati pemandangan indah itu.
"Kalau saja ada warga yang menikah dalam waktu dekat, tentunya akan indah sekali dengan hiasan pelaminan terbuat dari bunga-bunga itu." Ungkap Widuri.
"Tentu saja Wid, ruangnya Kamu sudah ada rencana untuk menikah? Aku berani, nanti Aku yang akan menanyakannya kepada Pak Sulistyo, apakah tanamannya boleh digunakan oleh Kamu. Hahaha..." Canda Harjo.
"Dasar, Kamu." jawab Widuri dengan ketus.
Didalam hatinya Widuri berkata,
"Harjo nggak peka. Dasar lelaki dingin, Es kutub kalah dibuatnya. Masih saja beku. Tidak mengerti maksudku!" Widuri merasa Harjo tidak memahaminya.
"Ya, sudah ayo cepat segera ke Balai Kampung, agar selesai masalah ini." Ajak Widuri yang sudah mempercepat langkah kakinya.
Wanita kalau sudah berbicara terkadang menyimpan makna mendalam didalamnya. Mari selalu menyelami maksud dan tujuan pasangan Anda.
👍
yuk diikutin dan di like
tema yang baru