Delapan anak muda berusia enam belas tahun hingga delapan belas tahun dengan latar belakang jauh berbeda. Delapan kehidupan yang tidak pernah bersinggungan sebelumnya. Ada yang sejak awal memiliki rumah yang hangat, ada yang memiliki rumah tapi tidak berhak atas rumah tersebut, ada juga yang tidak memilikinya sejak awal.
Tak seorangpun dari mereka tahu bahwa jalan yang sedang mereka tempuh itu akan mengarahkan mereka ke satu tempat yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Di istana.
Di ruang kerja Kaisar, suasana hening menyelimuti seluruh ruangan. Sang kasim berdiri di samping Kaisar tanpa suara sedikitpun. Cassian di kursinya sedang membaca dokumen negara. Lembar demi lembar, ia membacanya dengan teliti lalu memberikan cap Kaisar dengan hati-hati.
Tanpa terdengar suara langkah kaki sedikit pun, seorang pria berjubah hitam tiba-tiba sudah berlutut di hadapan Cassian.
“yang mulia, Evren Vance sudah tiba di Draven,” ucapnya memberikan sebuah informasi yang baru saja diterimanya.
“dasar tidak becus!”
Dokumen di tangannya dibanting keras ke atas meja.
Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapannya yang biasanya tenang kini berubah tajam, sementara urat di lehernya tampak menegang.
“lalu…” lanjut sang mata-mata dengan ragu.
Cassian menatap tajam bawahannya. Memerintahkannya untuk segera mengatakan apa yang diketahuinya.
“putra mahkota satu atau dua hari lagi juga akan tiba di Draven.”
BRAK!
Cassian menggebrak meja di depannya.
Meja kerja itu bergetar keras. Tinta di dalam botol kecil di sudut meja ikut berguncang. Sang kasim dan mata-mata itu spontan menundukkan kepala lebih dalam. Keringat dingin mulai mengalir dari pelipis mereka.
Keheningan kembali memenuhi ruangan.
Cassian memejamkan mata.
Ia menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
“karena sudah sampai di sana, biarkan saja dia di sana,” ucapnya.
Lalu matanya terbuka dengan sorot tajam.
Keesokan harinya…
Cahaya mentari mulai menyinari ufuk timur, meski sang surya belum benar-benar menampakkan diri. Kokok ayam bersahut-sahutan menandakan pagi telah tiba dan aktivitas di benteng segera dimulai.
Xavier masih tertidur pulas dengan tubuh miring ke kanan. Di ranjang seberangnya, Zephyr bahkan belum berubah posisi sedikit pun. Ia masih tidur telentang, sama seperti semalam.
Sementara itu, Evren sudah tidak berada di dalam tenda. Jauh sebelum ayam pertama berkokok, ia telah memulai rutinitas paginya. Setelah melakukan pemanasan, ia berjalan mengelilingi barak, mengamati lingkungan yang kelak akan menjadi rumahnya... mungkin untuk seumur hidup.
Fasilitas di Benteng Draven ternyata tidak jauh berbeda dengan benteng-benteng besar yang pernah ia kunjungi. Tembok pertahanannya masih berdiri kokoh. Tenda-tenda para prajurit juga terawat dengan baik. Meski segala sesuatunya tampak sederhana dan letaknya berada di perbatasan paling utara dengan medan yang sulit dilalui, tempat ini tidak seburuk yang ia bayangkan.
Saat kokok ayam semakin ramai terdengar, barak perlahan mulai hidup. Para juru masak bergegas menuju dapur, prajurit yang bertugas malam berganti dengan penjaga berikutnya, sementara yang lain mulai berkumpul di lapangan untuk latihan pagi.
Evren yang baru saja kembali ke tendanya belum sempat beristirahat ketika seorang prajurit menghampirinya.
"Ikut latihan pagi."
“Baik!” jawab Evren tegas, sama seperti prajurit lainnya. Tanpa membuang waktu, ia segera menuju lapangan latihan.
Meskipun kini harus berbaur sebagai prajurit biasa, Evren tidak mengeluh sedikit pun. Ia justru menjalani latihan paginya dengan sungguh-sungguh. Gerakan-gerakannya yang rapi dan disiplin beberapa kali menarik perhatian prajurit lain.
Kemampuannya berhasil menarik perhatian para prajurit lain. Ditambah statusnya sebagai mantan jenderal yang kini menjadi tahanan pengasingan, hampir semua orang diam-diam memperhatikannya dengan rasa kagum sekaligus waspada.
Di tengah latihan yang melelahkan, aroma masakan dari dapur mulai terbawa angin. Satu per satu perut para prajurit mulai berbunyi, membuat beberapa orang saling tersenyum kecil.
Tak lama kemudian, latihan pagi pun berakhir.
Sebagian prajurit langsung menuju dapur, sementara yang lain kembali ke tenda untuk membersihkan diri. Evren lebih dulu kembali ke tendanya untuk berganti pakaian sekaligus membangunkan Xavier dan Zephyr agar tidak terlambat sarapan.
Xavier menatap semangkuk makanan di depannya, lalu bergantian melihat Evren dan para prajurit lain yang menyantap makanan itu dengan lahap.
Dengan ragu ia menyuapkan sesendok ke mulutnya.
Wajahnya langsung berubah.
Rasanya benar-benar tidak cocok dengan lidahnya.
“Makan! Jangan disisakan. Kamu harus mulai terbiasa,” Ucap Evren saat melihat mangkuk Xavier terlihat tidak tersentuh sedikitpun.
Xavier menatap Evren dengan wajah kesal. Meski berkali-kali hampir memuntahkan makanannya, ia tetap memaksa dirinya menelan setiap suapan di bawah tatapan tajam Evren.
Setelah makan, mereka berdua kembali ke tenda. Xavier terus mengeluh tentang makanan yang baru saja disantapnya. Perbedaan yang begitu jauh dengan kehidupannya di ibukota membuatnya tidak tahan untuk tidak mengeluh.
Tidak lama kemudian, seorang prajurit datang menghampiri tenda dan memanggil Evren. Ia menyerahkan satu set seragam prajurit yang akan digunakan Evren selama bertugas, lalu mengarahkannya menuju pos komando sayap kiri benteng.
Evren mengikuti instruksi dari prajurit itu. Setelah mengganti pakaian, ia bergegas menuju ke pos komando sayap kiri benteng.
“Setelah ini tidak perlu lapor lagi, cukup tulis nama dan bagian tugasmu saja sebelum mulai,” Ucap seorang pria pemimpin pos jaga di bagian sayap kiri benteng.
“Baik!”
Setelah itu, Evren ditempatkan di salah satu pos jaga di sayap kiri benteng. Selain berjaga, ia juga mendapat jadwal patroli sesuai giliran yang telah ditentukan.
Saat waktu makan siang tiba, Evren duduk bersama beberapa prajurit di dekat pos jaga sayap kiri. Menu siang mereka masih sama seperti pagi tadi. Nasi yang sedikit keras, tumis sayuran liar yang dipetik dari sekitar barak, dan sedikit suwiran ayam sebagai lauk. Tanpa mengeluh, Evren menghabiskan seluruh jatahnya. Baginya, rasa bukanlah hal yang penting. Selama makanan itu mampu mengisi tenaga, itu sudah lebih dari cukup.
Sore harinya, Evren akhirnya kembali ke tenda setelah bergantian jaga dengan prajurit lain. Begitu masuk, ia langsung merebahkan tubuhnya di ranjang tanpa sempat mengganti pakaian. Matanya melirik ke arah ranjang seberang.
Zephyr masih tidur.
"Apa dia belum bangun sama sekali?"
Xavier menurunkan buku yang sejak tadi menutupi wajahnya, lalu ikut melirik ke arah Zephyr.
"..."
Ia menutup bukunya, berjalan mendekat, lalu mengamati wajah Zephyr dengan saksama.
"Apa mungkin dia mati?"
Evren langsung bangkit dari ranjangnya.
"Jangan asal bicara."
Meski begitu, ia tetap menghampiri Zephyr dan berjongkok di samping ranjang. Jarinya diulurkan ke bawah hidung pemuda itu untuk memastikan nafasnya masih ada.
"Aku tidak mati."
Suara datar itu terdengar pelan.
Matanya masih terpejam rapat.
Tubuhnya bahkan tidak bergerak sedikitpun.
Evren dan Xavier saling pandang.
“oh…ternyata belum,” ucap Xavier.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, keduanya berdiri dan kembali ke aktivitas masing-masing.