NovelToon NovelToon
Janji Yang Terkubur

Janji Yang Terkubur

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jun

Deskripsi Novel: Janji yang Terkubur

Lira Anindita terpaksa kembali ke rumah masa kecilnya yang penuh kenangan pahit, setelah menerima kabar ayahnya terbaring sakit keras. Lima tahun lalu, ia pergi dengan hati hancur—di hari yang sama ibunya meninggal secara mendadak, Lira menemukan kenyataan bahwa seluruh kehidupan keluarganya hanyalah tumpukan kebohongan. Ia diusir, dipisahkan dari orang yang paling ia cintai, dan dipaksa hidup sendirian menanggung rasa sakit serta fitnah yang menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14: Gerbang Rahasia di Bawah Tanah

Suara guruh petir bergemuruh keras membelah langit yang semakin gelap, disusul rintik hujan yang perlahan berubah menjadi lebat, menghantam atap rumah dan jendela dengan bunyi yang gaduh. Angin kencang bertiup masuk lewat celah-celah kecil, membawa hawa dingin yang menusuk tulang, seolah alam sedang memberi peringatan bahwa bahaya besar akan segera datang menghampiri. Di dalam ruang tengah yang kini hanya diterangi lampu minyak redup, suasana terasa berat dan penuh ketegangan. Semua rahasia yang selama ini tersembunyi akhirnya terbuka, namun kebenaran itu justru membawa beban yang jauh lebih berat daripada yang pernah mereka bayangkan.

Lira duduk kaku di kursi, jantungnya berdegup kencang seolah mau meledak di dada. Pikiran kacau balau, ia masih belum bisa percaya pada apa yang baru saja didengarnya. Selama ini ia mengira dirinya hanya korban dendam pribadi, ternyata ia adalah bagian utama dari rencana besar yang sudah disusun ratusan tahun lalu. Darah yang mengalir di tubuhnya, darah yang selama ini hanya dianggap sebagai warisan orang tua, ternyata menjadi kunci paling berharga yang diincar oleh musuh mereka.

“Benda rahasia itu… apa sebenarnya, Bu?” tanya Lira dengan suara pelan dan gemetar, memecah keheningan yang menyiksa itu. “Apa yang tersembunyi di bawah tanah rumah dan perkebunan kami? Mengapa bisa begitu berharga sampai rela menghancurkan dua keluarga, sampai rela membunuh orang tak berdosa hanya untuk mendapatkannya?”

Bu Sumi menarik napas panjang, mengusap air mata yang masih tersisa di pipinya, lalu menatap lantai kayu tua di bawah kakinya dengan pandangan yang penuh rasa hormat sekaligus rasa takut.

“Aku juga tidak tahu secara pasti apa bentuk bendanya, Nona. Semua yang aku ketahui hanya dari ucapan Tuan Handoko yang pernah terucap secara tidak sengaja saat dia marah atau bicara sendiri. Dia bilang, ratusan tahun lalu, leluhur tertua keluarga Ardiansyah dan keluarga Handoko adalah dua saudara kandung yang sangat kaya dan berkuasa. Bersama-sama, mereka menemukan tambang emas dan permata terbesar yang pernah ada di wilayah ini, serta menemukan peninggalan kerajaan kuno yang menyimpan harta dan ilmu pengetahuan yang luar biasa besar.

Namun seiring kekayaan yang mereka miliki, rasa iri dan kecemburuan tumbuh di antara mereka. Sang kakak merasa semua kekayaan itu adalah hasil kerja kerasnya sendirian, sedangkan sang adik merasa ia juga berhak mendapat bagian yang sama besar. Pertengkaran itu berakhir dengan perpecahan besar. Mereka membagi wilayah kekuasaan menjadi dua bagian, dan untuk mencegah salah satu dari mereka mengambil semua harta itu sendirian, mereka membuat perjanjian suci: gerbang tempat harta dan rahasia itu disembunyikan hanya bisa dibuka jika ada darah dari kedua keturunan mereka yang bersatu. Tidak boleh salah satu saja, tidak boleh orang luar. Harus gabungan darah Ardiansyah dan darah Handoko.”

Bu Sumi berhenti sejenak, menatap Lira dan Raga bergantian dengan pandangan sedih.

“Dari situlah asal mula semua dendam dan perpecahan ini. Dari generasi ke generasi, keturunan keduanya saling curiga, saling bersaing, bahkan saling bermusuhan. Ada yang ingin menjaga rahasia itu agar tidak jatuh ke tangan orang yang salah, ada yang ingin mengambil semua kekayaan itu sendirian. Dan Tuan Handoko… dia adalah orang yang paling terobsesi dengan kekayaan itu. Dia percaya, jika dia bisa membuka gerbang itu, dia akan menjadi orang paling berkuasa di seluruh negeri, dia akan bisa menguasai segalanya, dan dia akan membuktikan bahwa dialah keturunan yang paling pantas, bukan keluarga Ardiansyah.”

Raga mengerutkan keningnya dalam-dalam, tangannya mengepal erat karena rasa marah yang mulai membara di dadanya.

“Jadi semua kejahatan yang dia lakukan, semua orang yang dia bunuh, semua penderitaan yang dia timbulkan… semuanya hanya demi harta benda dan kekuasaan semata? Dia menghancurkan nyawa orang tua Lira, dia menyiksa orang tak berdosa seperti anakmu, dia bahkan rela membunuhku sendiri, anak kandungnya… hanya demi benda yang tidak punya nyawa itu?”

“Benar, Mas Raga. Baginya, kekayaan dan kekuasaan itu lebih berharga daripada apa pun di dunia ini, lebih berharga daripada keluarga, lebih berharga daripada kasih sayang, bahkan lebih berharga daripada nyawanya sendiri. Selama ini dia berusaha mendekatkan kalian berdua, bukan karena dia setuju atau menyukaimu, tapi karena dia butuh darah kalian berdua. Dia berharap kalian menikah, memiliki keturunan, sehingga gerbang itu bisa dibuka dengan mudah, dan dia bisa mengambil semua yang ada di dalamnya tanpa hambatan sedikit pun.”

Kalimat itu membuat Lira merasa mual dan muak seketika. Semua momen yang dulu ia kira sedikit manis, semua harapan yang dulu sempat ia miliki, ternyata hanyalah bagian dari sandiwara jahat yang panjang.

“Mengerikan… Sungguh mengerikan… Selama ini aku merasa bingung kenapa dia tidak langsung membunuhku begitu saja saat dia punya kesempatan, kenapa dia selalu berusaha menangkapku hidup-hidup, kenapa dia selalu menjaga keamananku meskipun dia membenci keluargaku… Ternyata alasannya hanya satu: aku adalah kunci yang belum bisa dia buang. Selama aku masih hidup, selama darahku masih ada, dia masih punya harapan untuk mendapatkan apa yang dia inginkan,” kata Lira dengan suara parau, rasa jijik dan rasa sakit bercampur menjadi satu.

“Dan sekarang?” tanya Raga tajam, pandangannya penuh kewaspadaan. “Sekarang dia sudah kabur, dia sudah bebas. Dia tahu dia tidak bisa lagi memaksakan kami menikah atau bersatu dengan cara halus. Apa rencana terakhirnya? Bagaimana caranya dia akan membuka gerbang itu tanpa persetujuan kami?”

Wajah Bu Sumi menjadi pucat seketika, rasa ngeri tampak jelas di matanya. Ia menelan ludah dengan susah payah sebelum menjawab.

“Aku sempat mendengar dia bicara pada orang suruhannya: jika cara halus gagal, dia akan menggunakan cara yang kejam. Darah tidak harus berasal dari persatuan cinta atau pernikahan. Darah yang tertumpah, darah yang bercampur karena pertempuran atau kekerasan, juga memiliki kekuatan yang sama. Dia tidak butuh kalian hidup-hidup lagi, dia hanya butuh darah kalian berdua, cukup setetes saja yang bercampur satu sama lain, dan gerbang itu akan terbuka lebar. Artinya… dia tidak akan segan-segan membunuh kalian berdua, lalu mencampurkan darah kalian, hanya untuk mencapai tujuannya.”

Suara petir kembali bergemuruh sangat keras, seolah langit ikut mengamarkan rasa ngeri yang melanda hati mereka semua. Ancaman itu kini bukan lagi sekadar ancaman kematian biasa, melainkan ancaman yang mengerikan dan kejam, yang merendahkan nyawa mereka hanya sebagai alat untuk mencapai ambisi jahat satu orang.

“Dia benar-benar gila…” geram Raga dengan suara rendah, matanya memancarkan kemarahan yang luar biasa. “Dia rela membunuh anak kandungnya sendiri, rela membunuh wanita yang tidak pernah berbuat salah padanya, hanya demi harta karun tua yang bahkan bukan miliknya sepenuhnya. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku akan menghentikannya, apa pun risikonya.”

“Tapi dia cerdas, kuat, dan punya banyak orang di pihaknya,” kata Lira dengan nada cemas, meskipun rasa takutnya perlahan digantikan oleh rasa tekad yang mulai tumbuh. “Dan dia tahu persis setiap sudut rumah ini, setiap jalan masuk, setiap tempat persembunyian. Dia pasti akan datang ke sini, ke tempat di mana gerbang itu berada. Kita tidak bisa lari terus-menerus, dan kita juga tidak bisa hanya diam menunggu dia datang membunuh kita.”

Bu Sumi tiba-tiba mengangkat kepalanya, matanya berbinar seolah teringat sesuatu yang penting.

“Tunggu dulu… Aku ingat satu hal lagi. Saat Bu Ratih meninggal, selain kunci kotak rahasia, dia juga memberikan sesuatu kepadaku dan berpesan agar hanya memberikannya kepadamu, Nona, saat waktunya benar-benar tiba, saat kamu sudah tahu tentang rahasia bawah tanah itu dan menghadapi bahaya terbesar. Dia bilang benda itu adalah satu-satunya senjata yang bisa melawan kekuatan jahat itu, satu-satunya cara untuk melindungi rahasia leluhur dari orang yang berniat buruk.”

“Benda apa itu, Bu? Di mana sekarang?” tanya Lira cepat, penuh harapan.

“Aku menyimpannya di tempat yang sangat aman, tersembunyi di ruang bawah tanah tua di belakang gudang, tempat yang sudah lama ditinggalkan dan hampir tidak ada orang yang ingat keberadaannya. Mari ikut aku, aku akan menunjukkannya pada kalian sekarang juga. Sebelum Tuan Handoko datang, sebelum semuanya terlambat, kalian harus tahu apa itu dan bagaimana cara menggunakannya.”

Tanpa membuang waktu lagi, mereka bertiga segera bergerak. Bu Sumi berjalan di depan membawa lampu minyak, memimpin jalan melewati lorong-lorong belakang rumah yang gelap dan jarang dilewati, lalu keluar lewat pintu samping yang tersembunyi menuju halaman belakang yang sudah basah kuyup terkena hujan. Di bawah guyuran air hujan yang deras, mereka berlari kecil menuju bangunan gudang tua yang dulu menjadi tempat persembunyian mereka. Di bagian paling belakang gudang, di balik tumpukan kayu lapuk dan puing-puing tua, Bu Sumi menggeser batu besar yang tertanam di tanah, dan di sana terlihat lubang kecil dengan tangga batu yang menurun ke bawah tanah, gelap gulita dan berbau lembab.

“Inilah jalan masuk ke ruang bawah tanah tertua keluarga kita, Nona. Hanya sedikit orang yang tahu tempat ini, dan Tuan Handoko pun belum pernah menemukannya meskipun dia sudah mencari bertahun-tahun,” kata Bu Sumi pelan. “Ikutlah aku, hati-hati dengan tangganya, licin dan tua.”

Satu per satu, mereka turun perlahan ke dalam kegelapan itu. Tangga batu itu panjang dan berkelok-kelok, semakin ke bawah semakin dingin, dan aroma tanah basah serta udara tertutup semakin terasa kuat di hidung. Setelah turun cukup dalam, mereka sampai di sebuah lorong batu lebar yang dindingnya dipahat rapi, dan di ujung lorong itu ada sebuah pintu batu besar yang dihiasi ukiran kuno rumit yang tampak megah namun juga mengerikan.

Di depan pintu batu itu, tepat di tengah lantai, terukir dua gambar tangan yang saling berhadapan: satu bergambar lambang keluarga Ardiansyah, satu lagi bergambar lambang keluarga Handoko. Di sanalah letak kunci gerbang itu berada, tepat seperti yang diceritakan Bu Sumi.

Namun mata mereka semua tertuju pada benda yang tergeletak di atas alas batu di sebelah pintu itu. Sebuah kotak batu berbentuk persegi, berukuran sedang, dengan ukiran daun dan bunga yang indah, tertutup rapat dan masih terlihat kokoh meskipun sudah ratusan tahun lamanya.

“Ini dia, Nona. Ini benda yang ditinggalkan Bu Ratih untukmu,” kata Bu Sumi sambil menunjuk kotak batu itu. “Benda ini berisi kunci pelindung, aturan, dan bukti asli milik leluhur kita. Isinya akan menjelaskan segalanya, dan akan memberimu kekuatan untuk melindungi tempat ini dari tangan orang jahat.”

Lira melangkah maju dengan hati-hati, jantungnya berdebar kencang. Ia mengulurkan tangannya perlahan, menyentuh permukaan batu kotak itu yang dingin dan halus. Tepat saat kulit tangannya menyentuh ukiran di atasnya, tiba-tiba ukiran itu bersinar redup dengan cahaya keemasan yang lembut, dan pintu kotak itu terbuka perlahan dengan bunyi halus, seolah kotak itu mengenali darah keturunan yang menyentuhnya.

Di dalam kotak itu, terdapat tiga benda: sebuah gulungan kulit tua, sebuah liontin emas yang bentuknya sama persis dengan yang dipakai Lira sekarang namun ukurannya lebih besar, dan sebilah belati kecil yang gagangnya dihiasi permata berkilau, tajam dan indah namun memancarkan aura yang tegas dan kuat.

Lira mengambil gulungan kulit itu terlebih dahulu, membukanya perlahan, lalu mulai membaca tulisan tangan kuno yang tertulis di sana, dibantu oleh Raga yang berdiri di sebelahnya sambil memegang lampu minyak agar cahayanya cukup terang. Semakin mereka membaca, semakin wajah mereka berubah serius dan penuh keterkejutan.

Gulungan itu ternyata adalah perjanjian asli dari kedua leluhur mereka, yang menjelaskan secara rinci tentang harta yang tersembunyi, aturan pembagiannya, dan peringatan yang sangat keras: “Harta ini bukan milik pribadi satu orang pun, bukan milik satu keluarga pun. Harta ini adalah milik bersama seluruh keturunan, milik tanah dan rakyat di sekitar sini, disimpan untuk menjaga kesejahteraan dan keamanan semua orang. Barang siapa yang mencoba mengambilnya untuk kepentingan pribadi, untuk kekuasaan jahat, atau untuk menghancurkan sesama, maka dia akan terkena kutukan leluhur, kehilangan segalanya, dan binasa dalam kesengsaraan selamanya. Gerbang ini hanya boleh dibuka untuk melindungi, bukan untuk menghancurkan. Hanya hati yang bersih, niat yang tulus, dan cinta yang sejati yang akan diizinkan masuk.”

Di bagian paling bawah tertulis kalimat yang membuat Raga dan Lira saling pandang dengan pandangan penuh makna: “Kekuatan darah bukan berasal dari pertumpahan darah, bukan dari paksaan atau kekerasan. Kekuatan darah yang sesungguhnya hanya ada pada persatuan yang didasari cinta, kepercayaan, dan kesetiaan. Tanpa itu, darah yang bercampur hanyalah darah yang sia-sia, dan gerbang ini akan menjadi perangkap maut bagi orang yang berniat buruk.”

Jadi itulah sebabnya. Selama ini Tuan Handoko salah paham, atau sengaja memutarbalikkan arti dari pesan leluhur itu. Ia mengira darah apa saja, darah yang dipaksakan atau ditumpahkan dengan kekerasan, akan bisa membuka gerbang itu. Padahal kenyataannya justru sebaliknya. Cara yang dia pilih, cara kekerasan, kejahatan, dan dendam, justru akan membuatnya tidak akan pernah bisa mendapatkan apa yang ia inginkan, dan malah akan menjerumuskannya ke dalam kebinasaan sendiri.

“Ini luar biasa…” bisik Raga dengan suara terharu. “Ternyata semua yang dia perjuangkan selama ini sia-sia belaka. Semua kejahatan yang dia lakukan, semua orang yang dia sakiti, semuanya tidak akan membuahkan hasil apa pun. Dia salah jalan dari awal sampai akhir.”

Lira mengangguk, air mata bahagia dan lega menetes di matanya. Akhirnya mereka tahu kebenaran yang sesungguhnya, dan akhirnya mereka punya senjata terkuat untuk melawan musuh mereka: kebenaran itu sendiri.

Namun di saat itu, suara langkah kaki berat dan banyak terdengar dari atas tanah, disertai suara benturan pintu yang pecah dan teriakan orang-orang. Suara itu terdengar jelas sampai ke lorong bawah tanah, membuat mereka bertiga seketika menegang dan waspada.

Suara teriakan keras yang mereka kenal sangat baik terdengar membelah kegelapan, bergema sampai ke bawah tanah.

“KALIAN ADA DI BAWAH SANA, KAN?! AKU TAHU KALIAN BERSORAK GEMBIRA DI SANA, BERPIKIR KALIAN SUDAH MENGETAHUI SEGALANYA! TAPI KALIAN SALAH BESAR! AKU TIDAK AKAN MENYERAH, AKU TIDAK AKAN PERCAYA PADA OMONGAN LELUHUR LEMBEK ITU! APA YANG MENJADI MILIKKU, AKU AKAN AMBIL DENGAN CARAKU SENDIRI, APA PUN YANG TERJADI!”

Itu suara Tuan Handoko! Dia sudah datang! Dia sudah masuk ke dalam rumah, dan dia sudah menemukan jalan masuk ke ruang bawah tanah itu!

Suara langkah kaki berat semakin mendekat, disertai suara besi yang berbunyi dan bunyi senjata yang diayunkan. Di ujung tangga batu, cahaya obor yang menyala merah menyala perlahan muncul, dan sosok Tuan Handoko tampak berdiri di sana, wajahnya penuh noda lumpur dan kemarahan yang meledak-ledak, matanya melotot penuh kebencian, diikuti oleh belasan orang bersenjata yang masih setia padanya, wajah mereka keras dan kejam.

Di belakang mereka, terlihat dua orang pekerja rumah yang terikat dan mulutnya disumpal, tampak babak belur dan lemas, jelas mereka sudah dikalahkan dan ditangkap oleh orang-orang Tuan Handoko saat berusaha melindungi rumah itu.

Tuan Handoko melangkah turun perlahan ke dalam lorong bawah tanah, menatap Lira, Raga, dan Bu Sumi dengan pandangan yang mengerikan, senyum jahat mengerikan terukir di bibirnya.

“Akhirnya kita bertemu lagi… Di tempat yang paling tepat, tepat di depan harta karun yang selama ini aku cari. Sekarang tidak ada lagi polisi, tidak ada lagi orang yang melindungi kalian, tidak ada lagi alasan untuk lari. Kalian ada di tanganku, dan hari ini, semuanya akan berakhir. Hari ini aku akan mendapatkan apa yang menjadi hakku, dan kalian semua akan menjadi pengorbanan terakhirku.”

Raga segera melangkah maju, berdiri di depan Lira dan Bu Sumi, melindungi mereka dengan tubuhnya sendiri, tangannya mengepal erat siap bertarung meskipun jumlah musuh jauh lebih banyak dan lebih kuat.

“Kamu tidak akan mendapatkan apa pun, Ayah! Kamu sudah salah jalan dari awal, dan semua yang kamu lakukan sia-sia belaka. Bahkan jika kamu membunuh kami semua, kamu tidak akan pernah bisa membuka gerbang itu, karena niatmu jahat, hatimu penuh dendam, dan kamu tidak punya cinta sedikit pun di hatimu. Kamu hanya akan menghancurkan dirimu sendiri saja!” bentak Raga dengan suara keras dan tegas.

Tuan Handoko tertawa keras, suara tawanya terdengar mengerikan dan gila di dalam lorong batu yang sempit itu.

“Cinta? Hati yang bersih? Omongan kosong yang tidak ada gunanya itu tidak berlaku di dunia nyata, Nak! Di dunia ini, kekuatan dan kekuasaan adalah segalanya! Dan hari ini, aku akan membuktikannya padamu!”

Dengan gerakan cepat, Tuan Handoko mengangkat senjata tajam di tangannya, memberi isyarat pada orang-orangnya untuk menyerang.

“Tangkap mereka! Campurkan darah mereka berdua di depan pintu batu itu, sekarang juga! Jangan biarkan satu pun dari mereka lolos hidup-hidup!”

Pertarungan terbesar, paling berbahaya, dan paling menentukan akhirnya pun dimulai. Di lorong sempit bawah tanah itu, di depan gerbang rahasia yang sudah menjadi sumber semua perpecahan selama ratusan tahun, pertarungan antara kejahatan dan kebenaran, antara dendam dan cinta, antara ambisi pribadi dan keselamatan bersama, pecah dengan hebatnya.

Hujan di luar masih turun lebat, petir masih terus bergemuruh, dan nasib semua orang yang ada di sana kini digantungkan pada seutas benang yang sangat tipis. Siapa yang akan menang? Siapa yang akan kalah? Dan apakah rahasia leluhur itu akan terlindungi, atau akan jatuh ke tangan orang yang salah dan menghancurkan segalanya selamanya?

 

(Bersambung ke Episode 15)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!