Pada malam Tahun Baru 2035, seluruh manusia di bumi menerima sebuah notifikasi misterius yang muncul tepat di depan mata mereka.
【Integrasi Dunia akan dimulai dalam 365 hari.】
Tak ada yang tahu siapa pengirimnya. Tak ada yang mampu menjelaskan bagaimana layar itu muncul. Setelah berbulan-bulan tanpa kejadian apa pun, dunia mulai melupakannya dan menganggapnya sebagai fenomena aneh semata.
Namun, tidak dengan Leon.
Di malam yang sama, ia menerima notifikasi kedua yang hanya bisa dilihat olehnya.
【Sistem Simulasi Satu Tahun berhasil diaktifkan.】
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 — Kawanan Dire Wolf (Bagian 2)
Langkah kaki itu semakin dekat.
Dum...
Dum...
Dum...
Tidak secepat Dire Wolf biasa.
Namun setiap pijakannya memancarkan tekanan yang membuat udara di sekitar terasa berat.
Leon menelan ludah.
Semak-semak di hadapan mereka perlahan terbuka.
Sesosok serigala raksasa keluar dengan tenang.
Tubuhnya hampir dua kali lebih besar daripada Dire Wolf yang mereka hadapi sebelumnya. Bulu hitam keperakannya berkilau diterpa cahaya matahari yang menembus sela pepohonan. Di dahinya terdapat tanda berbentuk bulan sabit berwarna putih, sementara kedua matanya memancarkan warna emas yang tajam dan penuh wibawa.
Ia tidak menggeram.
Tidak memperlihatkan taring.
Namun kehadirannya saja sudah cukup membuat seluruh hutan menjadi sunyi.
Kesepuluh Dire Wolf langsung menundukkan kepala.
Bahkan pemimpin kawanan yang sebelumnya begitu garang kini melangkah mundur dengan ekor merunduk.
Leon merasakan telapak tangannya mulai berkeringat.
"Itu..."
"Alpha Dire Wolf."
jawab Rowan pelan.
"Pemimpin seluruh kawanan di Hutan Greenwood."
Untuk pertama kalinya sejak Leon mengenalnya, Rowan benar-benar tampak waspada.
Ia mengambil satu langkah ke depan, berdiri di antara Leon dan Alpha Dire Wolf.
"Leon."
"Ya?"
"Apa pun yang terjadi..."
"...jangan menyerangnya."
Leon mengangguk tanpa berpikir.
Instingnya sudah mengatakan bahwa monster di depannya berada di tingkat yang berbeda.
Alpha Dire Wolf menatap Rowan selama beberapa detik.
Kemudian...
Tatapannya beralih kepada Leon.
Mata emas itu menyipit perlahan.
Seolah sedang memastikan sesuatu.
Lyra yang berdiri di samping Leon mendadak memucat.
"Itu tidak bagus..."
Leon berbisik.
"Apa lagi?"
"Aku tidak tahu pasti."
"Tapi..."
"...ia tidak melihatmu sebagai mangsa."
Leon semakin bingung.
"Lalu sebagai apa?"
Lyra menggeleng.
"Itulah yang membuatku khawatir."
Keheningan kembali menyelimuti hutan.
Tidak ada satu pun monster yang bergerak.
Bahkan angin seolah berhenti berembus.
Beberapa detik kemudian, Alpha Dire Wolf mengangkat kepalanya ke arah langit.
Ia mengeluarkan lolongan panjang.
Awooooo...!
Namun lolongan itu terdengar berbeda.
Tidak mengandung amarah.
Melainkan...
Sebuah perintah.
Seluruh Dire Wolf segera mundur beberapa langkah secara bersamaan.
Pemimpin kawanan Forest Gob pun memberi isyarat kepada anak buahnya untuk menghilang ke balik pepohonan.
Leon membelalakkan mata.
"Mereka..."
"...mundur?"
Rowan sendiri tampak tidak percaya.
Hal seperti ini belum pernah terjadi.
Alpha Dire Wolf kembali menatap Leon.
Tatapan itu berlangsung cukup lama.
Kemudian, tanpa diduga, monster tersebut memutar tubuhnya.
Ia berjalan perlahan memasuki hutan.
Kesepuluh Dire Wolf langsung mengikuti di belakangnya.
Dalam waktu kurang dari satu menit...
Seluruh kawanan menghilang di antara pepohonan.
Hutan Greenwood kembali sunyi.
Leon masih berdiri mematung.
"Kenapa mereka pergi?"
Rowan mengembuskan napas panjang.
"Aku juga tidak tahu."
"Biasanya Alpha Dire Wolf tidak akan melepaskan mangsa yang sudah dikepung."
Ia memasukkan pedangnya kembali ke sarung.
"Tapi hari ini..."
"...sesuatu membuatnya berubah pikiran."
Lyra menatap ke arah hutan dengan wajah penuh kekhawatiran.
Hanya Leon yang bisa melihatnya.
"Administrator?"
Lyra tidak langsung menjawab.
Beberapa saat kemudian ia berkata pelan.
"Leon."
"Mulai hari ini..."
"...jangan pernah pergi sendirian ke Hutan Greenwood."
"Naluri Alpha Dire Wolf tidak pernah salah."
"Kalau ia memutuskan untuk mengingat seseorang..."
"...berarti ada alasan yang bahkan sistem belum bisa jelaskan."
Ucapan itu membuat Leon kembali mengingat kata-kata Lyra sebelumnya.
Alpha Dire Wolf bukan hanya mengenali aromanya.
Monster itu...
Seolah mengenal dirinya.
Di kejauhan, suara langkah kaki mulai terdengar dari arah Desa Aster.
Belasan pemburu datang dengan senjata lengkap.
Daren berada di barisan paling depan sambil membawa kapak besar di pundaknya.
"Rowan!"
"Apa kalian baik-baik saja?"
Rowan mengangguk.
"Sudah selesai."
Daren melihat bekas jejak kaki Dire Wolf yang memenuhi tanah.
Wajahnya langsung berubah pucat.
"Ini..."
"...jejak Alpha?"
Rowan hanya menganggukkan kepala.
Suasana mendadak hening.
Para pemburu saling berpandangan.
Bagi mereka, bertemu Alpha Dire Wolf lalu kembali hidup-hidup adalah kejadian yang hampir mustahil.
Daren menatap Leon cukup lama.
Ia lalu tertawa kecil sambil menggelengkan kepala.
"Pendatang baru..."
"...kau benar-benar membawa keberuntungan atau justru masalah besar."
Leon hanya tersenyum kecut.
Ia sendiri belum tahu jawaban dari pertanyaan itu.
Namun jauh di kedalaman Hutan Greenwood, Alpha Dire Wolf berhenti di atas sebuah tebing batu.
Ia menoleh ke arah Desa Aster yang terlihat sangat kecil dari kejauhan.
Mata emasnya memancarkan cahaya redup.
Di belakangnya, seekor Dire Wolf muda mendekat lalu menundukkan kepala.
Alpha Dire Wolf mengeluarkan geraman pelan.
Bukan perintah untuk berburu.
Bukan pula perintah untuk menyerang.
Melainkan sebuah perintah untuk...
Mengawasi.
Sejak hari itu, tanpa disadari Leon, setiap langkahnya di Hutan Greenwood akan selalu berada dalam pengawasan sang Raja Serigala.