Shen Yu hanyalah seorang pemburu yatim piatu dari desa terpencil yang setiap hari hidup dalam hinaan. Takdirnya berubah saat ia memperoleh warisan Menara Dewa Kuno, peninggalan terakhir Sekte Dewa Kuno yang telah dimusnahkan.
Di balik kekuatan itu tersembunyi rahasia kematian kedua orang tuanya dan konspirasi Dua Belas Sekte Besar yang menguasai dunia kultivasi.
Dengan tekad membalas dendam, membangkitkan kembali Sekte Dewa Kuno, dan mencapai puncak kultivasi, Shen Yu memulai perjalanan untuk menjadi True God.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aula Warisan Dewa Purba
DUUUM!
Pintu gerbang emas Aula Warisan Dewa Purba terbuka sepenuhnya, menyemburkan pendaran cahaya ilahi kuno yang menyilaukan ke sekeliling puncak Gunung Emas.
Yu Chen menggendong erat tubuh mungil Ling'er yang pingsan seraya melangkahkan kaki menembus ambang gerbang. Begitu tumitnya menapak permukaan lantai dalam...
WUUUNG!
Struktur dimensi di sekelilingnya terdistorsi seketika. Yu Chen kini berada di dalam sebuah aula mahaluas yang megah—begitu kolosal hingga ukurannya sanggup menampung sebuah kota metropolis. Pilar-pilar emas berdiameter puluhan meter menjulang tinggi menembus langit-langit berukir mahakarya purba.
Di sepanjang sisa lorong aula, berjejer ribuan patung zirah raksasa dari bangsa manusia, iblis, naga, phoenix, hingga ras purba yang tak dikenal. Semua patung itu membisu, menghadap lurus ke satu titik utama di ujung aula: sebuah Singgasana Hitam Keemasan yang megah namun tampak kosong.
Hawa dingin yang pekat mengusap tengkuk Yu Chen. "Tempat apa sebenarnya ini, Kakek?"
Roh Menara menyahut dengan nada khidmat dari balik kesadaran spiritualnya. "Ini adalah Aula Ujian tempat para Dewa Purba memilih calon penerus takhta mereka, Shen Yu... Namun sepanjang jutaan tahun peradaban, belum tentu ada satu entitas pun yang sanggup memperoleh pengakuan absolutnya."
Yu Chen berlutut perlahan, membaringkan tubuh mungil Ling'er di dekat pilar emas secara hati-hati. "Napas Ling'er sudah stabil. Aku akan segera menyelesaikan ini."
Tap... Tap... Tap...
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat dan teratur bergema memenuhi keheningan aula. Yu Chen refleks memutar tubuhnya, mencengkeram erat gagang pedang besi tuanya. "Siapa di sana?!"
Hening. Lalu... Sret!
Satu patung batu di barisan terdepan perlahan membuka sepasang matanya. Disusul patung kedua, ketiga, puluhan, hingga ribuan patung zirah di sekeliling aula mendadak hidup! Pendaran cahaya keemasan menyala di rongga mata mereka saat semuanya menoleh serentak mengunci pandangan ke arah Yu Chen.
Tekanan spiritual yang dipancarkan begitu masif hingga membuat udara di aula terasa berbobot ribuan jin.
"Hati-hati, Shen Yu! Mereka adalah para Penjaga Warisan Kuno!" pangkas Roh Menara cemas.
Sesosok patung zirah emas yang kusam dimakan zaman melangkah maju, memegang pedang batu sepanjang dua meter. Suara mekanis beratnya menggema:
"Penantang... sebutkan identitas nama aslimu!"
Yu Chen mendongak tegak. "Yu Chen!"
Patung batu itu menggelengkan kepalanya perlahan. "Nama samaran... mutlak tidak berlaku di hadapan hukum Aula Warisan!"
Atmosfer mendadak mencekam. Ribuan pasang mata Penjaga Warisan memancar tajam. Roh Menara berbisik cepat: "Di tempat ini, esensi jiwa seseorang tidak akan pernah bisa dimanipulasi oleh penyamaran apa pun. Sebutkan nama aslimu!"
Yu Chen menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan. Ia melepaskan rekayasa identitas luarnya, lalu mengucapkannya dengan nada suara mantap dan berwibawa:
"Namaku... adalah Shen Yu!"
Sesaat setelah nama itu terucap...
DUUUUMM!!
Seluruh Aula Warisan berguncang hebat. Ribuan Penjaga Warisan secara serentak menjatuhkan lutut kanan mereka, bersujud takzim seraya menghantamkan gagang senjata ke lantai batu secara sinkron.
DANG! DANG! DANG!
Suara benturan itu bergema bagai dentangan lonceng keabadian, disusul seruan gemuruh yang menggetarkan jiwa:
"Salam hormat tertinggi... kepada Pewaris Sah Menara Dewa Kuno!"
Namun... tepat pada detik kebersamaan fenomena tersebut, dari atas Singgasana Hitam Keemasan yang semula kosong, mendadak termaterialisasi sesosok figur pria berkaus jubah hitam. Pria itu mengapit sebilah pedang yang telah patah, sepasang kelopak matanya terpejam.
Riak tekanan aura yang dipancarkan wujud jiwanya begitu murni dan tirani—bahkan melampaui densitas energi milik Roh Menara!
Secara perlahan, sosok pria itu membuka matanya. Sepasang manik mata keemasannya mengunci lurus pada Shen Yu, sebelum akhirnya ia melontarkan sebaris kalimat datar yang membekukan darah di dada Shen Yu:
"Aku telah menantikan kedatangan jiwamu... selama tiga puluh ribu tahun, Anak Muda."
Atmosfer Aula Warisan mendadak hening total. Ribuan Penjaga Warisan masih bersujud tanpa berani menggerakkan satu jari pun.
Meskipun eksistensi pria berjubah hitam itu hanyalah wujud peninggalan Fragmen Jiwa (Soul Fragment), namun densitas tekanannya sanggup meremukkan struktur ruang di sekitarnya. Roh Menara yang selama ini berwatak angkuh, bahkan tampak membungkukkan wujud jiwanya penuh takzim.
"Salam hormat... kepada Kaisar Dewa Purba..." bisik Roh Menara dengan suara bergetar.
Shen Yu membelalakkan matanya. "Kaisar Dewa...?"
Pria berjubah hitam di atas singgasana menyunggingkan senyum tipis. "Sudah terlalu lama tidak ada makhluk yang memanggilku dengan sebutan agung itu..."
Ia bangkit berdiri perlahan. Pedang patah di tangannya berkilau keemasan redup. Setiap pijakan kakinya memicu denyut getaran hukum langit di dalam aula. "Nama asliku adalah... Gu Tianxuan. Penguasa terakhir yang bertakhta di Dunia Dewa Purba ini."
Shen Yu mengepalkan tinju kanannya kuat-kuat. Ia bisa merasakan secara intuitif bahwa wujud peninggalan Gu Tianxuan di hadapannya berada di kasta kekuatan yang tak terukur—bahkan jauh melampaui kengerian milik Penguasa Iblis Langit sekalipun.
Gu Tianxuan menatap Shen Yu lekat-lekat. "Warisan Menara Dewa Kuno telah memilihmu, dan resonansi Dunia Dewa Purba ini turut memanggil jiwamu... Namun, semua itu masih belum cukup."
Shen Yu menyipitkan matanya tajam. "Apa maksud Senior?"
Gu Tianxuan mengangkat pedang patahnya lurus ke depan. "Eksistensi yang memiliki hasrat untuk menduduki takhta Dewa... mutlak harus memiliki kapasitas untuk memikul beban kehancuran seluruh dunia! Mari kubuktikan padamu."
WUUUNG!
Seketika itu juga, pemandangan aula melenyap. Shen Yu mendadak terlempar berdiri di tengah-tengah hamparan Medan Perang Purba yang teramat kelam. Langit di atasnya pecah berantakan, lautan darah mengalir di antara gunung-gunung bangkai manusia, iblis, naga, hingga phoenix.
Di pusat pertempuran, berdiri sesosok pria berkaus jubah emas yang bertarung seorang diri menghadapi kepungan puluhan ribu monster iblis. Shen Yu mengenali garis wajah itu—itu adalah wujud masa muda dari Gu Tianxuan saat masih bernapas di duniaku!
"Ini bukan ilusi, Shen Yu," bisik Roh Menara khidmat. "Ini adalah manifestasi proyeksi memori nyata dari sejarah peperangan masa lalu."
Dalam memori tersebut, suara raungan Pasukan Iblis menggema dari langit: "Wahai Gu Tianxuan! Serahkan [Jantung Dunia] itu sekarang juga, maka kami akan mengampuni sisa nyawa rakyatmu!"
Gu Tianxuan yang berlumuran darah memejamkan matanya sejenak, lalu menggelengkan kepala dengan dingin. "Jika Jantung Dunia ini jatuh ke tangan kalian... bukan hanya duniaku yang musnah, melainkan seluruh Tiga Ribu Alam akan ikut runtuh menjadi abu. Aku memilih bertarung hingga tetes darah terakhir!"
BOOOOM!
Proyeksi ingatan itu meledak dalam pertempuran brutal sebelum akhirnya memudar perlahan. Shen Yu kembali tersentak berdiri di Aula Warisan.
Gu Tianxuan menatap Shen Yu dengan sorot mata yang teramat tenang dan dalam. "Kini kau mengerti, Anak Muda... Menjadi seorang Dewa bukan sekadar tentang seberapa mutlak kekuatan yang kaupikirkan... melainkan seberapa besar keberanian jiwamu untuk melindungi apa yang kausayangi, meski harus mengorbankan segalanya."
Gu Tianxuan mengangkat satu jarinya. Sret! Sebuah peti batu hitam mendadak termaterialisasi melayang di depan Shen Yu. Di atas permukaan peti itu, tergeletak tiga buah objek pusaka kuno:
Sebilah Pedang Hitam yang tidak memiliki mata pedang tajam.
Setetes Darah Emas murni yang berdenyut melayang di udara.
Sebuah Gulungan Kitab Kuno yang terkunci rapat oleh sembilan rantai besi.
"Pilihlah salah satu dari ketiga objek ini," ucap Gu Tianxuan dengan nada suara yang teramat sakral. "Hanya satu pilihan... dan pilihanmu hari ini akan menentukan takdir serta arah jalur kultivasimu untuk selamanya!"