NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:812
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Keiko selalu menganggap legenda hanyalah cerita pengantar tidur.

Saat pulang ke desa terpencil tempat neneknya dimakamkan, ibunya memaksa ia membawa sebuah jimat pelindung dan memperingatkannya agar tidak mengucapkan sembarang permohonan selama Festival Dewa Kucing.

Bagi Keiko, semua itu terdengar konyol.

Di tengah festival yang dipenuhi lampion, topeng kucing, dan kisah-kisah tentang Bakeneko, ia hanya tertawa.

"Aku bahkan bersedia menikah dengan Bakeneko kalau memang mereka benar-benar ada."

Ia tak pernah menyangka, candaan itu didengar oleh sesuatu yang telah menunggu selama ratusan tahun.

Sejak hari itu, batas antara mitos dan kenyataan mulai menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Shiro jadi penurut

Bakeneko oranye-putih itu berlari tanpa pernah menoleh ke belakang, melompati atap demi atap dengan satu gerakan panjang. Napasnya memburu—bukan karena lelah, melainkan karena bayangan aura yang baru saja ia rasakan masih membuat sekujur tubuhnya gemetar.

"...Mustahil," gumamnya sembari mengepalkan tangan. Sudah lama sekali ia tidak merasakan tekanan sebesar itu.

Beberapa menit kemudian, ia berhenti di balkon sebuah apartemen. Lampu ruang tamu di dalamnya masih menyala. Dengan satu lompatan pelan, ia mendarat di balkon. Pintu kaca terbuka sedikit, seolah sang pemilik memang sudah menunggunya.

Di dalam ruangan, seseorang sedang duduk tenang membaca buku. Tanpa mengangkat kepala, ia membuka suara, "Laporkan!"

Bakeneko itu langsung menundukkan kepala. "Dia memang berada di Aoyama."

Hening sejenak.

"Dan..." ia menarik napas pelan, "Dia melindungi gadis itu."

Orang itu akhirnya menutup bukunya. "...Kau melihatnya sendiri?"

"Ya."

"Bagaimana?"

Bakeneko itu terdiam sesaat. "Aku... hanya merasakan auranya. Tapi itu sudah cukup membuatku tidak sanggup berdiri."

pria ini mengetuk jarinya pada cover buku yang tertutup. "...Jadi, ucapannya benar-benar telah terdengar."

Oyen mengangguk membenarkan.

"Bahkan sampai ke Distrik Yukishiro."

Ruangan kembali hening, menyisakan suara detik jam yang samar.

"Kupikir itu hanya candaan," gumam orang itu pelan. "Ternyata... ada yang menganggapnya sungguh-sungguh."

Ruangan kembali sunyi. Beberapa saat kemudian, orang itu membuka kembali bukunya. "...Baiklah."

Bakeneko itu memberanikan diri bertanya, "Semakin dekat bulan purnama, semakin banyak yang akan datang. Lalu... apa yang harus kami lakukan?"

"Awasi. Jangan bertindak."

"...Baik." Ia membungkukkan badan sekali lagi. Sebelum beranjak, ia berbisik pelan, "Selamat malam... Tuan Renji."

Dalam sekejap, sosok itu menghilang dari balkon. Ruangan kembali sunyi. Renji tetap duduk di tempatnya, tatapannya perlahan beralih ke arah jendela.

"...Jadi," gumamnya pelan, "Benar kau berada di Aoyama."

...----------------...

peristiwa tadi malam terlewati begitu cepat hingga Sinar matahari menerobos masuk melalui jendela rooftop. Gadis ini bangun kesiangan, Keiko mengucek matanya, lalu terduduk di atas kasur. Shiro tampak sudah terjaga, duduk tenang di dekat jendela.

"Selamat pagi shiro," sapa Keiko.

Shiro menoleh pelan. Keiko tersenyum kecil. "Kamu sudah bangun dari tadi, ya?"

Shiro hanya mengedipkan mata sebagai jawaban. Keiko kemudian turun dari tempat tidur dan meregangkan tubuhnya sejenak. "Hari ini semoga kerjaan dikantor tidak seramai kemarin," gumamnya.

Ia melirik mangkuk makan Shiro. "Eh? Makanannya habis." Keiko tertawa kecil. "Bagus, berarti alat makan otomatis itu benar-benar kepakai."

Shiro berjalan menghampirinya. Keiko mengusap kepalanya dengan lembut.

"Nanti aku pulang sedikit terlambat, Shiro... enggak apa-apa, kan?"

Shiro menatapnya tanpa berkedip. Keiko terkekeh melihat tatapan itu. "Iya, iya. Aku juga maunya cepat puLang."

Ia melirik jam dinding sudah lewat sepuluh pagi, lalu menepuk dahinya pelan. "Oh! Hari ini jadwal kontrolmu, ya. Hampir saja lupa."

Shiro memiringkan kepala. Keiko berjongkok di depannya. "Ayo. Mandi dulu. Kalau ketemu dokter, harus wangi."

Shiro menghela napas pelan, lalu berjalan mengikuti Keiko ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian, suara gemericik air memenuhi ruangan.

"Bentar... jangan kabur," ucap Keiko diselingi tawa kecil saat melihat Shiro berusaha melangkah mundur. "Aku tahu kamu enggak suka mandi."

Shiro hanya menatapnya datar.

"Tapi ini cuma sebentar," bujuk Keiko.

Keiko membasahi bulu abu-abu Shiro dengan air hangat. "Nah... pelan-pelan."

Shiro diam sejenak, lalu berusaha memanjat ke badan keiko yang sedang berjongkok

—Braaak!

keiko jadi terduduk karena shiro tampak panik, Ia mengibaskan seluruh tubuhnya dengan kuat.

"Aah! Shiro!"

Air muncrat ke mana-mana. Dalam sekejap, bagian depan baju Keiko basah kuyup. "Kamu sengaja, ya?"

Shiro hanya berkedip pelan dengan wajah tetap datar. Keiko menghela napas sambil tertawa kecil. "Ya sudah... basah sekalian."

Ia berdiri lalu melepaskan seluruh pakaiannya dan meletakkan pakaian basahnya di keranjang cucian, lalu kembali mengambil shower untuk membilas tubuhnya sendiri.

Untungnya, kamar mandi di rooftop tersebut cukup hAngat.

"Aah Shiro..shiro...Jadinya aku ikut mandi deh" gumam Keiko.

Shiro yang sedari tadi duduk di bak kecil tiba-tiba membeku. Tubuhnya kaku. Pandangannya lurus beralih ke lantai kamar mandi, tepat ke arah aliran air yang menuju saluran pembuangan. Ia bahkan tidak lagi menoleh ke arah Keiko.

Keiko sama sekali tidak menyadari perubahan sikap itu. "Wah..." ia tersenyum geli. "Kirain bakal susah. Ternyata kalau begini, kamu malah anteng."

Shiro tetap diam. Tidak bergerak, tidak mengibaskan ekor, dan tidak berusaha kabur. Keiko tertawa kecil sambil perlahan membilas bulu abu-abu kucing itu.

"Bagus...jadi cepat selesai.. "

"Ternyata selama ini aku salah teknik. Begini toh cara memandikan kucing."

Keiko terkekeh riang sambil menggosok badan shiro dengan sabun lalu membilasnya, Sementara itu, di dalam kepala Shiro, ia hanya berusaha keras mengabaikan segala sesuatu yang ada di belakangnya.

Fokus...

Lihat air...

Lihat lantai....

Jangan menoleh....

Apa pun yang terjadi.....Jangan Menoleh.... !!

Selang beberapa menit kemudian, Keiko selesai mandi dan segera melilitkan handuk. Sementara itu, Shiro sudah dibungkus handuk tebal dan masih diam mematung.

"Hm?" Keiko tersenyum kecil. "Hari ini benar-benar anteng."

Di luar kamar mandi, Keiko mengeringkan bulu Shiro dengan pengering hingga setengah kering. "Nah... sudah lumayan." Ia laLu mengangkat Shiro dan meletakkannya di atas meja kecil di rooftop yang mulai disinari matahari pagi. "Sekarang kamu berjemur dulu. Aku mau berpakaian sebentar."

Shiro hanya diam. Keiko pun masuk kembali ke dalam rumah, dan menutup pintu perlahan.

Shiro melirik ke arah pintu yang baru saja tertutup. Beberapa detik berlalu, ia memastikan Keiko benar-benar sudah masuk. Barulah...

"...Haaah."

Napas panjang akhirnya keluar dari mulutnya. Tubuhnya yang sedari tadi kaku langsung lemas. Ia kehilangan keseimbangan dan

—Bruuuuk

Shiro terguling pelan dari posisi duduknya hingga rebah di atas meja. Satu kaki depannya menutupi wajah.

"......"

Sudah ratusan tahun..

Sudah melewati begitu banyak musim. Menghadapi siluman, pendeta, pemburu, bahkan kematian. Tak satu pun pernah membuat pikirannya sekacau ini.

"...Apa yang kulakukan," gumamnya.

Ia memejamkan mata semakin erat. Seharusnya sejak awal ia keluar saja dari kamar mandi. Kenapa malah bertahan sampai selesai?

"......"

Memalukan. Sangat memalukan.

Saat itu, pintu geser kembali terbuka.

-Clek.

Shiro refleks langsung bangkit, duduk tegak dengan ekor melingkar rapi, seolah sejak tadi tidak terjadi apa-apa. Keiko keluar sambil merapikan rambutnya.

"Nah, sudah selesai," ucap Keiko sembari tersenyum melihat Shiro. "Wah, cepat sekali bulumu kering."

Keiko menghampiri lalu mengusap pelan kepala Shiro. "Hari ini kamu baik sekali. Enggak kabur, enggak berantem, enggak bikin aku basah lagi."

Shiro memalingkan wajah.

"Lho, kok enggak mau lihat aku?" Keiko memiringkan kepala. Ia tertawa kecil, "Masih ngambek karena dimandikan, ya?"

Ia menggaruk pelan bagian bawah dagu Shiro. "Maaf... Tapi nanti kita mau ketemu dokter, harus kelihatan ganteng."

Shiro menutup matanya. "........"

Kalau saja Keiko tahu alasan sebenarnya ia tidak berani menoleh sama sekali.

Keiko Lalu menggendong Shiro "Ayo. Semoga hari ini dokter bilang kamu sudah benar-benar sembuh."

Shiro hanya memejamkan mata. Lebih tepatnya... ia memang tidak ingin membuka mata.

Beberapa menit kemudian, mereka tiba di klinik hewan. "Selamat pagi," sapa suster di meja resepsionis dengan senyum ramah. "Selamat pagi, Nona Keiko. Wah, Shiro kelihatannya makin sehat."

Keiko tersenyum bangga. "Iya, makannya lahap sekali sekarang."

"Syukurlah," balas suster itu. Tak lama kemudian, suara dokter memanggil dari ruang pemeriksaan, "Shiro."

Keiko mengeluarkan Shiro dari tasnya. "Nah, ganteng, ya. Ayo."

Shiro melompat turun ke meja periksa. Dokter tersenyum kecil melihatnya. "Masih setenang biasanya."

Keiko mengangguk. "Dia memang enggak pernah ribut."

Kalau saja mereka tahu, Shiro sedang berusaha memikirkan apa pun selain kejadian di kamar mandi tadi pagi.

Dokter mulai memeriksa bekas luka di kaki depan Shiro. "Hm... sudah bagus." Beliau meraba perlahan bagian yang dulu terluka. "Tidak ada pembengkakan. Lukanya juga menutup dengan sangat rapi."

Dokter tersenyum. "Kalau begini, sepertinya ini pemeriksaan terakhir."

Mata Keiko langsung berbinar. "Benarkah?"

Dokter menyerahkan kartu pemeriksaan kepada Keiko. "Mulai sekarang, Shiro hanya perlu dijaga seperti kucing pada umumnya."

Keiko menghela napas lega. "Syukurlah..." Ia memeluk Shiro dengan hati-hati. "Kamu dengar itu? Kamu sudah sembuh."

Tubuh Shiro kembali menegang. Dokter terkekeh pelan. "Sepertinya dia malu dipuji."

Keiko ikut tertawa. "Mungkin."

Beberapa menit kemudian, mereka keluar dari klinik. Udara pagi terasa hangat. Keiko menggendong Shiro sambil berjalan santai di trotoar.

"Hmm... karena kamu sudah resmi sembuh, kita rayakan, yuk."

Shiro mengangkat kepala.

"Kita beli camilan favoritmu."

Telinga Shiro bergerak pelan. Keiko terkekeh. "Nah... baru dengar kata camilan saja sudah semangat."

Shiro memalingkan wajah, seolah berusaha menjaga wibawanya. Keiko tersenyum semakin lebar. "Shiro...Kamu sudah jadi keluarga bagiku...mulai kedepannya kita akan selalu berasama...yaahh"

Shiro terdiam. Untuk sesaat, ia melupakan rasa malunya. Tatapannya tertuju pada punggung gadis yang menggendongnya.

Hangat. Begitu hangat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!