NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Awakener Terkuat Di Akhir Zaman

Kebangkitan Sang Awakener Terkuat Di Akhir Zaman

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Zombie / Misteri / Horor
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: novelisnewbie

Arga mati di tangan zombie Tier 7 setelah 10 tahun bertahan di kiamat. Namun, dia terbangun kembali ke 30 hari sebelum wabah Necrovirus Sapiens melanda dunia. Di tubuhnya yang masih muda dan lemah, dia membawa pengetahuan 10 tahun: lokasi kejadian penting, resep ramuan awakener, cara membuat senjata tier tinggi, dan nama-nama pengkhianat yang akan menghancurkan umat manusia.

Akankah Arga mampu mewujudkan impiannya? Ataukah Arga akan gagal kembali? Ikuti terus perkembangan ceritanya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novelisnewbie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1: Tiga Puluh Hari Sebelum Kiamat

Arga masih menggenggam ponselnya ketika air mata terakhir jatuh ke layar yang memantulkan wajahnya sendiri. Nama Sari masih terpampang di ruang obrolan, disertai pesan sederhana yang beberapa menit lalu nyaris membuat dadanya runtuh. Di kehidupan sebelumnya, pesan itu menjadi kenangan yang tak pernah bisa ia balas lagi. Kini, untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun penuh darah dan kematian, ia menyadari bahwa takdir benar-benar memberinya kesempatan kedua.

Tangannya perlahan menutup layar ponsel, tetapi jari-jarinya tetap bergetar. Ingatan tentang tubuh adiknya yang dingin, tangisan yang tak pernah sempat ia dengar untuk terakhir kalinya, dan penyesalan yang menemaninya selama bertahun-tahun datang silih berganti seperti ombak yang menghantam karang. Napasnya memburu, lalu ia memejamkan mata seraya mengepalkan kedua tangan hingga buku-buku jarinya memutih. "Cukup," bisiknya lirih. "Aku sudah menangis selama sepuluh tahun."

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi seolah menjadi garis pemisah antara dua kehidupan. Ketika Arga kembali membuka mata, tatapannya tidak lagi dimiliki seorang pria berusia dua puluh tiga tahun yang baru memulai hidup. Sorot matanya jauh lebih tua, lebih dingin, dan menyimpan ketenangan yang hanya bisa dimiliki seseorang yang telah berkali-kali melihat kematian menari di depan wajahnya. Sejak saat itu, Arga tahu bahwa dirinya bukan lagi orang yang sama. Ia adalah manusia yang telah hidup dua kali.

Ia berdiri perlahan dan berjalan menuju jendela kamar kos yang sempit. Di luar sana, Jakarta masih bernapas seperti biasa. Klakson kendaraan saling bersahutan, pedagang kaki lima mulai membuka dagangan, sementara para pekerja bergegas mengejar waktu yang mereka kira akan terus berputar selamanya. Tidak seorang pun menyadari bahwa tiga puluh hari lagi, jalanan yang ramai itu akan dipenuhi darah, jeritan, dan mayat hidup yang berburu tanpa mengenal lelah.

Sudut bibir Arga terangkat tipis, tetapi senyum itu sama sekali tidak mengandung kebahagiaan. Ia menatap langit biru yang cerah, mengingat bagaimana warna yang sama berubah menjadi merah darah ketika dunia runtuh. Dulu ia hanya bisa mengikuti arus, berlari tanpa arah, kehilangan keluarga, teman, dan harapan sedikit demi sedikit. Kali ini, ia tidak akan membiarkan masa depan menelan semua yang ia sayangi.

Ia menarik sebuah buku tulis lusuh dari laci meja belajar. Buku itu dulunya hanya dipenuhi catatan pekerjaan dan hitungan pengeluaran bulanan, tetapi sekarang lembaran-lembarannya akan menjadi peta perang terbesar dalam sejarah hidupnya. Begitu ujung pulpen menyentuh kertas, tangannya bergerak nyaris tanpa jeda, seolah seluruh ingatan yang tersimpan selama sepuluh tahun takut menghilang jika tidak segera dituliskan.

Tanggal pertama yang ia tulis adalah hari ketika wabah dimulai. Setelah itu, ia menggoreskan lokasi kemunculan gerbang zombie pertama di Jakarta, tempat ribuan manusia akan terjebak karena menganggapnya sekadar ledakan biasa. Di bawahnya, ia menuliskan gudang logistik yang dalam kehidupan sebelumnya baru ditemukan enam bulan setelah kiamat, ketika hampir seluruh persediaannya sudah dijarah orang lain.

Pulpen terus bergerak, meninggalkan jejak tinta yang semakin rapat memenuhi halaman. Nama ilmuwan misterius yang menyebarkan resep ramuan Awakener ia lingkari beberapa kali meski identitas asli pria itu masih menjadi teka-teki. Arga tidak mengetahui siapa sosok tersebut, tetapi ia tahu di mana jejak pertama penelitiannya muncul dan bagaimana informasi itu perlahan menyelamatkan umat manusia dari kepunahan total.

Keningnya berkerut ketika mulai menuliskan resep ramuan Awakener. Kristal zombie, daun mint, garam dapur, lalu proses perebusan selama satu jam. Di masa lalu, resep sederhana itu dipandang sebagai omong kosong sebelum akhirnya terbukti mampu mengubah manusia biasa menjadi petarung yang sanggup melawan para monster. Ia masih mengingat berapa banyak orang yang mati sia-sia karena terlambat mempercayainya.

Halaman berikutnya berisi sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada lokasi ataupun resep. Arga mulai menulis nama demi nama orang yang suatu hari nanti akan mengkhianati umat manusia demi kekuasaan dan keselamatan pribadi. Beberapa di antaranya kelak menjadi pemimpin kelompok besar, sementara yang lain menjual lokasi markas penyintas kepada gerombolan zombie demi mendapatkan perlindungan sementara. Ujung pulpen berhenti sejenak ketika satu nama muncul di benaknya, lalu ia menarik garis tebal di bawahnya.

"Kali ini..." gumamnya pelan sambil menatap nama itu. "Aku tidak akan membiarkan kalian hidup cukup lama untuk mengulang dosa yang sama."

Tanpa terasa, hampir seluruh isi buku telah dipenuhi tulisan. Ada lokasi kristal evolusi pertama, jalur evakuasi yang paling aman, hingga beberapa tempat yang kelak menjadi wilayah kematian karena munculnya zombie-zombie tingkat tinggi. Semakin banyak yang ia tulis, semakin ia menyadari bahwa pengetahuan adalah senjata paling mematikan yang ia miliki. Orang lain membutuhkan sepuluh tahun penuh darah untuk mempelajari semua itu, sedangkan ia telah membawanya kembali ke masa lalu.

Arga memandang kalender yang tergantung di dinding. Tanggal empat belas Juni ditandai lingkaran merah kecil, sementara pikirannya otomatis menghitung mundur menuju hari ketika dunia berubah menjadi neraka. Bibirnya mengeras. Tiga puluh hari terdengar panjang bagi orang biasa, tetapi bagi seseorang yang harus mengubah takdir seluruh umat manusia, waktu itu terasa lebih pendek daripada satu tarikan napas.

Saat hendak menutup buku, tiba-tiba sebuah sensasi aneh memenuhi kepalanya. Seolah ada ruang kosong yang terbuka jauh di dalam kesadarannya, sebuah tempat luas tanpa batas yang tidak memiliki cahaya maupun kegelapan. Arga terdiam cukup lama, lalu secara naluriah mengulurkan tangan ke arah botol air mineral yang berada di atas meja.

Botol itu menghilang.

Bukan jatuh.

Bukan hancur.

Benar-benar lenyap dari dunia nyata.

Detik berikutnya, Arga merasakan keberadaan botol tersebut berada di dalam ruang asing yang baru saja muncul di benaknya. Ia mencoba mengeluarkannya kembali, dan benda itu langsung muncul di telapak tangannya dengan suhu, isi, bahkan embun yang sama persis seperti sebelum menghilang.

Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia mengambil ransel yang tergeletak di lantai, memasukkannya ke dalam ruang itu, lalu mengeluarkannya lagi. Tidak ada perubahan sedikit pun. Resleting masih terbuka, posisi buku di dalam tas tidak bergeser, bahkan debu yang menempel di permukaannya tetap sama.

Rasa penasaran mulai mengalahkan keterkejutannya. Kali ini ia mendorong meja kecil di samping kasur sambil memusatkan pikirannya. Dalam sekejap, meja itu lenyap tanpa suara. Arga memanggilnya kembali beberapa detik kemudian, dan meja tersebut muncul tepat di tempat semula tanpa meninggalkan bekas sedikit pun pada lantai.

Ia mengulang percobaan berkali-kali menggunakan benda yang berbeda. Gelas, pakaian, sendok, hingga kipas angin kecil yang biasa ia gunakan saat listrik padam. Hasilnya tidak pernah berubah. Tidak ada kerusakan, tidak ada penyusutan, bahkan waktu seolah benar-benar berhenti begitu benda memasuki ruang tersebut.

Arga mengembuskan napas panjang sambil menyandarkan tubuh ke kursi. Perlahan senyum kecil muncul di wajahnya, senyum yang jauh lebih tulus dibandingkan sebelumnya. Kemampuan ini jauh melampaui sekadar tempat penyimpanan biasa. Di dunia yang sebentar lagi dipenuhi perebutan makanan, obat-obatan, senjata, dan bahan bakar, ruang tanpa batas itu sama berharganya dengan kehidupan itu sendiri.

"Kalau begitu... tidak ada alasan bagiku untuk miskin sebelum kiamat."

Ucapan itu memunculkan ide yang membuat matanya perlahan berbinar. Jika waktu benar-benar berhenti di dalam ruang tersebut, maka makanan tidak akan basi, obat tidak akan kedaluwarsa, bahan bakar tidak akan rusak, bahkan persediaan apa pun bisa disimpan selama bertahun-tahun tanpa kehilangan kualitasnya. Untuk pertama kalinya, Arga melihat peluang yang bahkan tidak pernah ia bayangkan pada kehidupan sebelumnya.

Ia segera mengambil dompet dan membuka aplikasi perbankan di ponselnya. Saldo yang tersisa tidak seberapa, hanya cukup untuk menjalani hidup sederhana selama beberapa bulan. Arga tersenyum tipis. Jumlah itu memang kecil, tetapi uang hanyalah alat. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana mengubah setiap rupiah menjadi peluang bertahan hidup.

Ia membuka laci dan mengeluarkan beberapa barang yang masih memiliki nilai jual. Laptop lama, kamera yang jarang dipakai, koleksi jam tangan pemberian rekan kerja, hingga motor yang selama ini menjadi kendaraan hariannya. Semua itu tidak akan berarti apa-apa ketika kiamat tiba. Sebaliknya, makanan, obat, logam, dan bahan bakar akan menjadi mata uang baru yang menentukan siapa hidup dan siapa mati.

Beberapa menit kemudian Arga sudah berdiri di depan pintu kamar kos. Setelah memastikan buku catatan tersimpan aman di dalam ransel, ia melangkah keluar menuju tangga dengan wajah tenang. Matahari pagi menyinari jalanan Jakarta yang masih dipenuhi tawa anak-anak, aroma sarapan dari warung pinggir jalan, dan orang-orang yang sibuk mengejar rutinitas mereka.

Arga menghentikan langkah sejenak sebelum menatap keramaian di depannya. Dalam benaknya, semua pemandangan damai itu perlahan bertumpuk dengan bayangan masa depan yang dipenuhi kobaran api, reruntuhan gedung, dan lautan zombie yang tak berujung. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berjalan menuju bank dengan langkah mantap sambil bergumam pelan, "Nikmatilah kedamaian ini... karena tiga puluh hari lagi dunia akan berakhir."

1
arya_v2
lanjutkan terus ceritanya💪🏻
Rene
kalo dia mau jadi Awakener seharusnya gak terlalu butuh obat"an biasa kan?
Rene
ada cctv🤭
Rene
harusnya dikutil aja dikit dikit🤭 kan punya ruang dimensi
novelisnewbie: sikap macam apa itu, nanti kena pelanggaran kalo ngutil barang umum, tapi kalo ngutil punya villain gpp sih🤣
total 1 replies
Rene
kalo ngomong paling dibilang orang gila🤣
Rene
buat top up🤭
Rene
jelas lah bjir, cuma sebulan, bisa apa🤭 apalagi posisinya kismin
Rene
nah, mending bantai aja mereka dulu, mumpung masih jadi cunguk🤭
Rene
ya gak papa mau nagis lagi juga🤭
Rene
subrek, mungkin aku bakal ngikutin seri ini, soalnya lagi nulis genre kiamat juga🤭 semangat thor
Rene: siap💪
total 2 replies
Rene
mampir dulu🤭
Blueria
mantap, latar Indonesia 💪
novelisnewbie: iyaa karena saya udah muak sama pemerintah jadi saya buat aja genre kiamat biar kalang kabut tuh pemerintahnya wkwk, btw terimakasih banyak semoga betah👍
total 1 replies
adib
bagus..
novelisnewbie: terimakasih banyak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!