Selama dua tahun Luna Inara Jasmine hidup dalam kebohongan sang suami, Raka Alvaro Mahendra. Sang suami mengatakan jika dirinya impoten.
Suatu hari Luna justru mengetahui kenyataan pahit jika sang suami sebenarnya tidak impoten dan memiliki hubungan dengan sahabatnya, Vanessa. Bahkan mereka sudah memiliki anak dari hubungan gelap itu.
Namun di tengah rasa sakit itu, ayah mertuanya memberikan kehangatan yang tak bisa ia tolak. Membuat Luna memutuskan untuk melepaskan status istri dan menjadi ibu tiri dari mantan suaminya.
Bagaimana kisah mereka? Yuk lanjut baca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perceraian telah diputuskan
TAP!
Bara melemparkan sebuah map berisi berkas ke atas meja di hadapan Raka. Map itu meluncur beberapa senti sebelum berhenti tepat sebelum di depan sang putra.
Ruangan kerja yang luas itu seketika dipenuhi keheningan. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar.
Raka menatap map itu dengan kening berkerut. Perlahan ia mengambilnya, membuka lembar demi lembar isinya. Semakin jauh ia membaca, semakin berubah pula ekspresi wajahnya.
"Apa ini, Pa?" tanya Raka pelan.
Bara menyandarkan tubuhnya ke kursi kebesarannya. Tatapannya tajam, tetapi wajahnya tetap tenang.
"Kamu masih bisa membaca, kan?" tanya Bara sarkas. "Luna memintaku mengurus perpisahan kalian."
Setelah mendengar kalimat yang lolos dari mulut ayahnya, jantung Raka seolah berhenti berdetak sesaat.
"Papa sudah tahu masalah kami?" tanya Raka dengan nada tidak percaya. "Dia mengadu sama Papa?"
Bara terkekeh pelan, tetapi sama sekali tidak terdengar hangat.
"Kamu pikir aku tidak tahu apa yang kamu lakukan dengan wanita yang kamu tunjuk sebagai desainer utama itu?"
Sorot mata Raka langsung berubah. Jadi sebenarnya sang ayah sudah tahu dari awal.
"Papa yang beritahu Luna tentang hubunganku dengan Vanessa?"
Bara menggeleng.
"Aku tidak pernah memberitahunya secara langsung," jawab Bara tenang. "Tapi … aku menuntunnya hingga dia menemukan kebenarannya sendiri."
Mendengar itu, Raka mengepalkan kedua tangannya. Rahangnya mengeras menahan emosi.
"Pa —"
"Shut up." Suara Bara terdengar datar, tetapi cukup untuk membuat seluruh ruangan kembali sunyi. "Tanda tangani berkas itu."
"Aku tidak mau kehilangan apa yang harusnya menjadi milikku."
Bara mengangkat sebelah alisnya. Senyum sinis tergambar jelas di wajahnya.
"Kamu pikir Luna peduli dengan hartamu yang tidak seberapa itu?" ucap Bara dingin. "Sekarang tanda tangan. Jangan membuang waktuku."
Raka menarik napas panjang. Ia sadar tidak ada gunanya berdebat dengan ayahnya.
"Baiklah."
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia mengambil pena di atas meja. Tangannya sempat berhenti beberapa detik sebelum akhirnya membubuhkan tanda tangannya pada berkas perceraian itu.
Selesai mendatangani, ia menutup map tersebut lalu menggesernya kembali ke arah Bara. "Aku sudah menandatanganinya."
Bara mengambil map itu, menatap tanda tangan Luna dan Raka dengan senyuman tipis. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sulit untuk diartikan.
Setelahnya Bara memberikannya kepada Ares yang sejak tadi berdiri di sampingnya. "Simpan. Pastikan semuanya segera diproses."
"Baik, Tuan," sahut Ares cepat. Setelah itu keluar dari ruangan itu.
Hening kembali mengambil alih suasana setelah Ares pergi. Raka lantas memandang Bara beberapa saat sebelum kembali membuka suara.
"Luna sekarang di mana?" tanya Raka.
Bara tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Raka dengan sorot mata datar.
"Apa pedulimu?"
"Hanya bertanya."
Suasana kembali hening, Bara memilih untuk membuka berkas pekerjaannya di atas meja. Tidak memperdulikan sekitarnya. Seolah pembicaraan tadi sama sekali tidak penting baginya.
Sementara Raka masih berdiri di tempat yang sama.
"Kenapa masih berdiri di sini?" tanya Bara tanpa mengangkat kepalanya. "Kamu tidak membutuhkan izinku untuk pergi."
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan Papa."
"Katakan dan cepat pergi," ucap Bara tanpa melihat ke arah Raka.
Raka menghela napas pelan untuk mengumpulkan keberaniannya.
"Karena Papa sudah tahu hubunganku dengan Vanessa … aku ingin meminta restu dari Papa untuk menikahi Vanessa secara resmi."
Untuk pertama kalinya sejak tadi, Bara menghentikan aktivitasnya.
Ia menutup map di tangannya perlahan, lalu mengangkat pandangannya ke arah Raka. Tatapannya begitu tenang, tetapi justru membuat Raka merasa tertekan.
"Aku tidak peduli kamu mau melakukan apa."
Raka menundukkan kepalanya tanpa sadar tangannya kembali menggenggam erat. Ayahnya benar-benar dingin padanya dari dulu hingga saat ini.
"Aku berharap Papa mau bertemu dengan Vanessa. Dia sebenarnya wanita yang baik." Raka berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Papa juga harus bertemu dengan cucu Papa."
Bara terdiam sesaat. Tak seorang pun tahu apa yang sedang dipikirkannya. Beberapa saat kemudian Bara akhirnya mengangguk.
"Urus dulu perceraianmu dengan Luna. Setelah resmi baru kita bicarakan lagi."
Raka sedikit tersenyum. "Baik, Pa."
Raka membungkukkan badan singkat lalu meminta izin untuk pergi.
"Kalau begitu aku permisi dulu."
Bara mengangguk tipis tanpa mengalihkan pandangannya.
Pintu ruangan tertutup pelan setelah Raka pergi.
KLIK
Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Bara meletakkan berkas di tangannya, lalu mengarahkan pandangannya ke pintu yang baru saja tertutup. Wajahnya kembali datar, ekspresinya sulit ditebak.
Namun jauh di dalam benaknya, ia telah menyusun rencana berikutnya. Ia membiarkan Raka merasa semuanya berjalan sesuai keinginannya, padahal permainan sesungguhnya baru saja akan dimulai.
Bara menghela napas panjang sebelum melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Jarum telah menunjukkan pukul dua siang.
Tanpa sadar, pikirannya melayang pada Luna yang sedang berada di vila pribadinya. Sudut bibir pria itu terangkat tipis. Ia bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan wanita itu.
"Ck." Bara berdecak. Semakin memikirkan Luna ia justru semakin merindukan dirinya.
Tanpa banyak berpikir, Bara menghubungi Ares, meminta mengosongkan jadwalnya sampai sore. Ia ingin menemui wanita kesayangannya itu.
"Siapkan mobil," perintah Bara pada Ares di sambungan telepon.
Setelah itu Bara menutup sambungan telepon secara sepihak. Ia kembali mengenakkan jasnya lalu keluar dari ruangan kerjanya, melangkah menuju lobi. Sepanjang perjalanan banyak kaum hawa yang memandangnya penuh minat, tetapi Bara tak sedikitpun peduli.
Sesampai di lobi, Ares sudah rupanya sudah menunggu. Ia membuka pintu penumpang belakang. Namun Bara mengatakan ingin mengemudikan mobilnya sendiri. Dirinya tidak ingin ada yang mengganggu waktunya bersama Luna.
Kini Bara duduk di balik kemudi lalu melajukan mobilnya meninggalkan vila.
-
-
Setelah berkendara selama lebih dari dua jam, Bara tiba di vila pribadinya. Ia turun lalu disambut oleh anak buahnya yang ia tugaskan untuk berjaga di tempat itu.
"Di mana Nyonya?"
"Ada di kebun buah, Tuan."
Bara mengangguk. Tanpa bicara apa pun lagi, ia melangkah menuju kebun buah diikuti dua orang pengawal.
Sampai di kebun buah, ia melihat Luna sedang memetik beberapa buah anggur dengan keranjang buah tergantung di tangannya. Terlihat Luna sesekali tersenyum saat menikmati buah itu.
Seorang pelayan yang bersama Luna melihat kedatangannya, tetapi Bara memberikan isyarat padanya untuk diam.
"Hmmm, manisnya," gumam Luna.
Bara terkekeh pelan melihat reaksi Luna yang menurutnya sangat menggemakan.
Setelah itu ia memerintah pada semua orang untuk pergi. Ia mulai mendekat tanpa Luna ketahui.
"Kamu begitu suka anggur hingga tidak memperdulikan aku, mmm?" ucap Bara seraya memeluk Luna dari belakang.
Luna yang benar-benar tidak mengetahui kedatangan Bara cukup dibuat terkejut dengan sentuhan itu.
"Kamu kapan datang?" tanya Luna.
"Cukup lama untuk melihatmu menikmati buah-buah di sini."
Luna terkekeh pelan lalu berbalik ke arah Bara, menatap pria itu secara langsung.
"Mau coba?"
Bara membuka mulutnya, mengisyaratkan pada Luna untuk menyuapinya.
Dengan senang hati Luna menyuapkan satu butir anggur ke mulut Bara. "Bagaimana? Manis sekali, kan?"
Bara tidak menjawabnya secara verbal, hanya anggukkan kecil.
"Mau lagi?"
Bara mengangguk lagi.
Luna kembali menyuapkan sebutir anggur ke mulut Bara. Namun, sebelum sempat menarik tangannya, Bara meraih tengkuk Luna dan, dalam satu gerakan cepat, memindahkan anggur dari mulutnya ke mulut Luna.
mereka ayah dan anak ga sih aku curigooong kaya tom and Jerry ga akur