Violet adalah gadis desa yang diusir oleh pacar setelah melahirkan bayinya, dia yang Luntang lantung dijalan tepaksa menjadi ibu susu seorang CEO tampan yang mendapatkan kutukan. Ternyata CEO itu adalah paman dari mantan pacar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20.
Pagi ini kedatangan Violet di SMA Taruna yang terkenal akan kemewahannya sudah cukup membuat gelombang kecil di antara para murid, namun kehadiran Romeo, sang penguasa kota sekaligus pemilik saham terbesar di sekolah, membuat suasana menjadi lebih riuh.
Para siswa berbisik-bisik, tatapan mereka penuh kekaguman sekaligus iri hati melihat Violet yang biasa saja bisa begitu dekat dengan Romeo.
Di tengah perhatian yang menggoda itu, Violet merasa canggung.
Langkah kakinya yang semula mantap, kini terasa berat dan ragu.
Romeo yang menyadari hal ini, memperlambat langkahnya untuk tetap berada di sisi Violet.
"Vio... Kenapa berjalan menjauh?" tanya Romeo dengan suara yang lembut.
Violet menundukkan kepala, merasakan jantungnya berdegup kencang.
"Tuan maaf, saya gak pantas!" ucapnya dengan suara yang nyaris tidak terdengar, terbata-bata karena perasaan rendah diri yang mendalam.
Romeo berhenti berjalan dan menghadap Violet.
Dia menggelengkan kepala, matanya menatap gadis itu dengan penuh pengertian dan kelembutan.
"Violet, tidak ada yang lebih pantas di sini selain kamu," ujar Romeo, mengangkat dagu Violet agar matanya bertemu dengan pandangannya.
Sejenak, koridor sekolah yang ramai itu seakan berhenti bergerak.
Romeo tersenyum, memberikan dukungan dan kepercayaan yang Violet butuhkan.
Dengan langkah yang lebih pasti, mereka berdua melanjutkan langkah kakinya.
Bahkan tanpa sadar, tangan kanan Violet memegang dadanya, karena jantungnya sekarang ini berdetak begitu kencang.
Romeo memperlakukan dirinya dengan sangat baik, dia malah merasa jatuh cinta kepada Romeo.
Romeo memimpin langkah dengan mantap, tangannya yang besar menggenggam erat tangan Violet, menarik gadis itu melewati koridor sekolah yang ramai.
Violet, yang terpesona oleh kehadiran Romeo yang begitu dominan, hanya bisa menatap samping wajah Romeo yang terlihat sempurna bagaikan patung dewa Yunani.
Cahaya matahari dari jendela koridor menyinari wajah Romeo, menambah kilau pada kontur wajahnya yang tegas.
Tanpa sadar, Violet tidak memperhatikan tatapan tajam dan kebencian dari beberapa teman sekolahnya yang memandang mereka berdua dengan rasa iri dan tidak suka.
Bisikan-bisikan kecil dan tajam terdengar di antara derap langkah siswa lain, namun Violet terlalu terhanyut dalam dunianya bersama Romeo untuk menyadarinya.
Tiba-tiba, Romeo menghentikan langkahnya tepat di depan pintu ruang komite sekolah.
Pengereman yang tiba-tiba itu membuat Violet, yang masih terpaku pada wajah Romeo, tersandung dan tubuhnya tanpa sengaja menabrak dada Romeo.
Romeo dengan cepat menangkap bahu Violet, menstabilkan dirinya sebelum dia jatuh.
Mata mereka bertemu, dan ada kilatan yang tidak terdefinisi—sebuah momen yang singkat namun intens.
"Maaf Tuan, aku tidak sengaja," ucap Violet dengan nada yang sedikit gemetar, tersipu oleh kedekatan fisik mereka yang tiba-tiba.
"Tidak apa-apa, Violet," Romeo menjawab dengan suara yang rendah dan menenangkan, matanya tidak beranjak dari wajah Violet.
Dia tersenyum, sebuah senyum yang lembut namun memiliki kekuatan untuk membuat jantung Violet berdebar lebih kencang.
Di ambang pintu ruang komite, dengan siswa lain yang melintas dengan tatapan penasaran atau iri, Romeo dan Violet berdiri seperti dua tokoh dalam cerita romansa, terisolasi dalam gelembung mereka sendiri yang penuh dengan ketegangan yang manis dan tidak terucapkan.
Romeo akhirnya melepaskan genggamannya, mengulurkan tangannya untuk membuka pintu, mempersilakan Violet untuk masuk terlebih dahulu.
"Ruang komite sekolah?" celetuk Violet, nada bicaranya sarat akan pertanyaan.
"Iya, sekarang kamu ikut aku masuk ke dalam ruang komite sekolah untuk rapat," sahut Romeo.
Violet mengangguk, tatapannya tanpa sadar menyapu ke arah sekeliling.
Dia akhirnya tersadar kalau sekarang ini menjadi pusat perhatian seluruh SMA Taruna.
Banyak sekali murid yang mengrubung dan melihat dari kejauhan.
Violet yang memang tidak pernah suka menjadi pusat perhatian hanya bisa menunduk.
Sementara Romeo dengan wajah yang sangat acuh berkata, "ayo kita masuk! Ada banyak hal yang akan aku bicarakan dengan pihak sekolah. Jangan pedulikan hal yang tidak perlu."
Violet pun mengangguk dan ikut masuk.
Marina dari kejauhan nampak mengepalkan tangannya, "sialan! Selain bisa mendekati Felix, Violet juga berhasil mendekati Romeo."
Dia merasa tidak adil, karena baginya Violet hanya lebih cantik sedikit dibandingkan dengan dirinya.
Tapi Violet tidak sekaya dirinya dan hanya berasal dari kampung.
Kenapa bisa orang yang paling berkuasa dikota ini dan orang yang paling berkuasa disekolah ini bisa sangat menyukai Violet?
Tiara yang dari dulu mengagumi Romeo juga tidak terima, Violet yang berasal dari kampung bisa begitu dekat dengan Romeo.
Lantas Tiara yang menjadi teman dadakan Marina berkata dengan nada provokasi, "Selain mendekati kak Felix dengan tubuhnya, Violet juga mendekati Tuan Romeo. Aku gak menyangka, jika Tuan Romeo juga mau barang bekas milik keponakannya."
"Kalau menurutku, Tuan Romeo hanya memanfaatkan Violet. Nyatanya Felix selama ini juga hanya memanfaatkan Violet, melihat Violet hamil. Bukanya tanggung jawab, si Felix malah tunangan sama Marina," timpal teman Marina yang lain.
"Iya juga ya ... Palingan gak lama lagi, susuk yang dipakai Violet itu hilang fungsi. Dan Tuan Romeo juga akan meninggalkan Violet seperti Felix," sahut yang lain.
"Apa bagusnya Violet selain memanfaatkan tubuhnya. Berbeda dengan Marina yang berasal dari keluarga kaya bahkan bagiku Violet itu seperti itik jelek dan kamu Marina seperti angsa yang cantik," ucap teman Marina untuk menjilat Marina yang terkenal akan keroyalannya.
Marina tersenyum puas, melihat seluruh sekolah yang membicarakan Violet ke arah yang buruk.
Semua teman-teman Marina terus memprovokasi yang lain, agar semua orang membenci Violet.