NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Masuk ke dalam novel / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya

Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,

Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.

Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.

Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.

Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Rumah yang Bukan Karena Aku

“Ulangi.”

Suara Andreas rendah, tetapi cukup membuat seluruh ruangan menegang.

Belvina membuka mulut.

“Yah, aku—”

Namun Alden berdiri lebih dulu.

“Tidak perlu dibesar-besarkan.” Nadanya datar, terlalu cepat untuk disebut tenang. “Hanya sedikit salah paham.”

Semua kepala beralih kepadanya.

Andreas perlahan menurunkan tangan dari dadanya. Pandangannya kini tertuju pada putranya sendiri.

“Seburuk apa kau,” ucapnya dingin, “sampai wanita ini memilih pergi tepat saat akhirnya diterima di rumahku?”

Rahang Alden mengunci.

Belvina hendak bicara lagi.

“Yah, ini bukan—”

“Cukup.”

Kali ini Alden memotong lebih tegas. Ia meraih pergelangan tangan Belvina. Tidak kasar, tetapi juga tidak memberi ruang untuk menolak.

“Kami akan bicara berdua.”

“Al—”

Belvina belum sempat menyelesaikan kata-katanya ketika Alden sudah menariknya berdiri. Langkah pria itu mantap menuju koridor, memaksanya ikut.

Pintu kamar lantai atas tertutup tak lama kemudian.

Fransisca masih berdiri di dekat meja, satu tangan menekan dada sendiri.

“Ya Tuhan…”

Ia menatap ke arah tangga dengan wajah cemas.

“Kenapa caranya selalu begitu? Kalau bicara baik-baik apa sulitnya?”

Nada itu jelas ditujukan pada Alden.

Alena masih memegang sendok, belum sadar benda itu menggantung di udara.

“Kak Alden barusan panik?”

Ia menoleh pada Arsen.

“Dia panik, ‘kan?”

Suaranya campur aduk antara terkejut dan tak percaya. Selama ini, kakaknya selalu terlihat paling terkendali.

Arsen menyandarkan tubuh ke kursi.

“Gila…”

Ia terkekeh kecil, masih mencerna kejadian tadi.

“Berarti Kak Belvina benar-benar bikin dia kena.”

Ini kali pertama nada meremehkan itu hilang. Digantikan rasa hormat tipis.

Andreas menarik napas perlahan. Tatapannya tetap ke arah tangga.

“Ayah tak pernah ingin melihatnya seperti itu.”

Dahi Fransisca berkerut.

“Maksud Ayah?”

Andreas menjawab tanpa mengubah nada.

“Sama-sama terlambat sadar… lalu memilih memaksa.”

Kalimat itu terasa lebih berat daripada kemarahan.

 

Sementara itu di lantai atas—

Pintu kamar tertutup rapat. Bunyi klik kunci terdengar kecil, namun cukup mengubah udara.

Belvina langsung menarik tangannya dari genggaman Alden.

“Sekarang,” katanya rendah, “kau mau menjelaskan salah paham yang mana?”

Alden berdiri beberapa langkah darinya. Napasnya teratur, tetapi ketegangan masih jelas di wajahnya.

“Kau sengaja bicara di depan semua orang. Berharap mereka mendukungmu. Kau salah.”

“Benarkah?” Belvina melipat tangan. “Kupikir aku hanya jujur.”

“Itu bukan tempatnya.”

“Lalu kapan?” balas Belvina cepat. “Saat kita berdua dan kau mengabaikanku? Saat aku bicara lalu kau menganggapnya angin lewat?”

Bahunya menegang.

“Jangan memelintir keadaan.”

Belvina tertawa pendek. Tidak hangat.

“Keadaan?” Ia mengangkat tangan, menunjuk dada Alden dengan ujung jari. “Kau yang mengabaikanku sejak kita menikah. Sekarang saat aku ingin berpisah, kau bilang aku memelintir keadaan?”

Alden menunjuk pintu.

“Ayahku sampai menahan dada karena syok.”

Ekspresi Belvina berubah sesaat. Ia tahu itu benar.

“Jadi aku harus bertahan selamanya denganmu?” Ia maju selangkah. “Dalam pernikahan tanpa cinta?” Suaranya turun. “Sampai kapan aku harus pura-pura cukup hanya karena status?”

Alden menjawab tanpa ragu.

“Kau istriku.”

Belvina menggeleng pelan.

“Itu jawaban kepemilikan. Bukan jawaban perasaan.”

Kalimat itu menghantam tepat ke pusat egonya.

Alden meraih sisi pinggang Belvina. Tidak kasar, namun cukup menahan geraknya.

“Aku tidak bilang aku akan melepaskanmu.”

“Dan itu masalahnya.”

Jempol dan telunjuk Alden naik menahan dagunya, memaksa wajah itu terangkat.

Belvina menahan kesal, tetapi tidak mundur.

“Meski kau tak menyukaiku lagi,” katanya rendah, “setidaknya jangan egois sampai mengorbankan orang-orang yang menyayangimu.”

Alis Belvina berkerut.

“Maksudmu?”

“Bunda menyayangimu. Ayahku juga.”

Ia berhenti sejenak.

“Bahkan mereka… lebih menyayangimu daripada aku.”

Kali ini Belvina tidak langsung membalas.

Pandangannya bergeser tipis. Bahunya yang semula tegang sedikit turun, seolah kalimat itu menyentuh sesuatu yang tak ingin ia buka.

Dan Alden menangkapnya.

Perubahan kecil. Nyaris tak terlihat. Namun cukup untuk melahirkan kemungkinan yang langsung mengusiknya.

Jangan-jangan selama ini Belvina bertahan bukan untuk dirinya.

Ia tinggal di sisi pria yang dingin… karena di rumah ini ada kehangatan lain.

Garis rahang Alden menegang.

Entah kenapa, pikiran itu terasa lebih menusuk daripada jika Belvina membencinya.

“Kau masih ingin pergi dariku?”

Belvina mengalihkan wajah. Ia ingin meninggalkan pria ini, tetapi tidak ingin melukai dua orang yang justru menerimanya.

Alden menatapnya lama.

Dulu wanita ini mengejarnya tanpa henti. Sekarang satu-satunya alasan ia masih bertahan… bukan dirinya.

Ia menarik tubuh Belvina sedikit lebih dekat.

“Jangan harap bisa pergi dariku.”

Belvina tertawa kecil. Hambar.

“Itu solusi termalas yang pernah kudengar.”

“Aku serius.”

“Tidak.”

Kini ia menatap lurus padanya.

“Kau hanya takut kehilangan sesuatu yang baru kau lihat nilainya.”

Alden terdiam. Saat bicara lagi, suaranya jauh lebih rendah.

“Kalau begitu… biarkan aku membuktikan aku salah.”

Belvina sempat terpaku. Namun kewaspadaan cepat kembali.

“Masalahnya,” ucapnya tenang, “aku tidak tahu kau bicara sebagai suami… atau sebagai pria yang tak suka kalah.”

Jari Alden di sisinya mengencang.

“Apapun itu,” katanya pelan, “kau tidak bisa pergi dariku tanpa izinku.”

Belvina menatap tak percaya.

“Kau sudah gila.”

“Ya.”

Ia mencondongkan kepala mendekat.

“Dan sebaiknya kau tidak membuatku lebih gila.”

Belvina mengangkat dagu.

“Atau?”

Tak ada peringatan.

Alden menarik pinggangnya dan menutup jarak. Bibirnya menekan bibir Belvina singkat, tegas, tanpa kelembutan.

Bukan ciuman penuh hasrat. Lebih seperti pernyataan.

Belvina membeku.

Sepersekian detik, otaknya terlambat mencerna bahwa pria ini benar-benar menciumnya.

 

...✨"Dulu ia mengira dicintai....

...Malam itu, ia mulai curiga hanya sedang dilewati."...

..."Yang paling menyakitkan bukan ditinggalkan, tapi sadar kau bukan alasan seseorang bertahan."✨...

.

To be continued

1
anonim
Seraphina berulah, Alden mengambil langkah cepat dengan pemutusan seluruh kerja sama yang masih berjalan.

Semua proyek yang belum berjalan juga dihentikan.

Seraphina sudah terlalu lama menikmati hasil kelicikannya. Kini tinggal menunggu kehancurannya.

Sifat jahat Seraphina meronta tak mau kalah.

Semoga perbuatan nekatnya mau mencelakakan Belvina yang sedang mengandung tidak terlaksana.
anonim
Belvina lebih baik tidak usah keluar rumah sebelum Alden menemukan bukti-bukti kuat kejahatan Seraphina di perusahaan keluarga Alden.

Seraphina tidak sadar kalau perbuatannya pasti segera diketahui Alden.
anonim
Alden mendapatkan laporan dari Dimas tentang sepak terjang Seraphina yang menjadi pahlawan perusahaannya.

Kepala keuangan di perusahaannya terlibat kerja sama dengan Seraphina dengan membocorkan situasi internal perusahaan. Menjual data perusahaan kepada Seraphina.

Licik sekali Seraphina. Bertahun-tahun Alden baru mengetahui perbuatan jahat Seraphina. Bertahun-tahun pula Alden merasa berhutang budi pada Seraphina.

Menjadikan Seraphina sebagai pahlawan penyelamat perusahaan.

Sekarang tinggal penyesalan yang sangat terlambat Alden sadari. Istrinya banyak terluka karena dirinya lebih membela Seraphina.
anonim
Orang suruhan Seraphina ini apa tidak punya istri dan anak. Mau-maunya menerima pekerjaan mencelakakan Ibu hamil.

Orang-orang yang mengawasi Belvina mestinya siaga tidak jauh dari Belvina berada.
anonim
Seraphina penjahat terselubung, melakukan kejahatan dengan membayar seseorang.

Alden sudah memilih Balvina, Seraphina tidak terima.

Jelas Alden akan marah kalau Belvina sampai kenapa-napa. Apalagi karena ulah Seraphina.
SediaKala
Bukannya ponselnya di tinggal d rumah ya?🤏
anonim
Alden benar-benar marah kepada Seraphina yang telah mencoba menghancurkan rumah tangganya.

Kalimat-kalimat selanjutnya yang terucap dari Alden membuat Seraphina terdiam. Seperti tak percaya.

Seraphina telah meninggalkan ruangan Alden.

Dimas takut Seraphina berbuat nekat.

Alden pun berpikiran sama. Bahkan takut kalau Belvina yang akan jadi sasaran.
anonim
Seraphina datang ke gedung Astera Group memenuhi panggilan dari Alden.

Seraphina sudah berada diruang kerja Alden.

Alden tanpa basa basi bicara soal kejadian di klub malam. Tentang foto-foto mereka berdua kepada Belvina.

Seraphina pura-pura terkejut mendengarnya. Dan berkata tidak tahu soal itu.

Tapi tak lama kemudian, pura-pura terkejut itu menjadi benar-benar terkejut.

Masih pura-pura tidak mengerti dengan rekaman yang sudah Alden lihat.

Seraphina mau mengelak apa lagi. Alden mempunyai bukti rekaman.
anonim
Seraphina menghancurkan gelas wine yang isinya sudah tandas dia teguk dengan emosi tinggi

Kata-kata Belvina terus terngiang di telinganya.

Seraphina menahan amarah.

Seraphina menghubungi seseorang, dengan ponselnya.

Dia menyuruh orang tersebut menjatuhkan Belvina. Tidak peduli dengan Belvina yang diawasi cukup ketat oleh Alden.
anonim
Belvina tidak mau membantu Alden lepasin baju.

Kalau Belvina sudah mode datar, Alden merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Alden baik. Maunya, Belvina terus terang bicara apa yang menjadikan kesal terhadap dirinya. Biar dia tahu kesalahannya.

Omongan Seraphina yang bikin Belvina kesal, ditanyakan pada Alden.

Belvina setelah mendengar penjelasan dari Alden, mestinya sadar kalau omongan Seraphina itu supaya Belvina terpancing kemarahannya.

Kemarahan Ibu hamil bisa membahayakan bayi dalam kandung. Itu yang dikehendaki Seraphina.
beybi T.Halim
setelah mood yg up & down baca cerita ini akhirnya kelar juga,happy ending buat semuanya,semangat buat penulisnya,sehat2 sll💝
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
anonim
Keren juga Belvina dalam menghadapi Seraphina yang dengan sengaja bicara tentang perlakuan Alden yang sudah berlalu.

Sayangnya Belvina tak terpengaruh dengan Seraphina. Tidak terpancing untuk marah.

Kalimat demi kalimat yang terucap dari mulut Belvina membuat Seraphina tak berkutik.

Kebanggaannya diperlakukan istimewa oleh Alden, tak ditanggapi Belvina sesuai harapannya.

Belvina tak bisa diremehkan. Pasti akan mekawan dengan cara yang elegan. Seperti saat ini.

Tidak perlu marah pakai teriak-teriak.
anonim
Seraphina sengaja mengikuti Belvina kah ?

Belvina mesti hati-hati kalau dekat Seraphina. Mesti waspada terhadap gerak-gerik Seraphina. Jangan sampai membahayakan kehamilannya.
Nurlaila Hidayah
gmna Lo mau tahu sama istri Lo aja cuek lbih perhatian sama cwek lain, mka'a aneh kan sama istri sndri, kerasa kan skrg keadaan'a di balik, emg enak, sangka thor
RusNa ANtox DEwi
baguss
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Bakulgeblek
keren2... bakal saya lahap habis ini karya2mu...
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Bakulgeblek
home sweet home...
Bakulgeblek
nha... senyum2 besoknya pasti ini pak COD koplak...
Bakulgeblek
titik terendah harga diri laki2 di depan istri, sekaligus puncak kelaki2an utk menahan dan hanya melepas kepada istri...💪💪💪
Bakulgeblek
"sudah boleh?" 🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!