NovelToon NovelToon
Pacar Gamerku Ternyata Bosku

Pacar Gamerku Ternyata Bosku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:591
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Suara riuh rendah khas jam kosong di kelas 10-MIPA 3 selalu didominasi oleh dua hal: gosip hangat di pojok belakang, atau teriakan frustrasi dari gerombolan siswa di baris tengah. Bagi Naomy, suara yang kedua jauh lebih mengganggu sekaligus memicu rasa penasarannya belakangan ini.

​"Kiri, kiri! Woy, lindungi gue! Ah, telat lo, mati kan gue!"

​"Sabar, cooldown skill gue masih jalan! Mundur dulu, mundur!"

​Naomy menghentikan goresan pulpennya di atas buku catatan Biologi. Ia menoleh ke arah meja milik Tasya dan sisa gengnya. Tiga gadis yang biasanya sibuk membahas drama Korea atau warna lipstik terbaru itu kini tengah menunduk dalam-dalam, menatap layar ponsel masing-masing dengan posisi lanskap. Ibu jari mereka bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal, sementara wajah mereka tampak sangat tegang, seolah-olah masa depan bangsa sedang dipertaruhkan di dalam layar berukuran enam inci tersebut.

​Rasa asing itu mulai merayap di dada Naomy. Fear of Missing Out. FOMO. Istilah yang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Garis Batas Realita

​Selepas insiden lift yang menegangkan itu, Naomy tidak membiarkan dirinya larut dalam fantasi. Di atas meja kubikelnya, jemarinya bergerak cepat di atas papan ketik dan tablet grafis. Ia membedah kembali setiap catatan revisi dari Raka dengan kepala dingin. Rasa kantuk yang menggelayutinya sejak pagi seolah terkikis oleh adrenalin baru. Kali ini, ia tidak mendesain dengan rasa takut, melainkan dengan pemahaman baru tentang apa yang diinginkan oleh pria di atas sana.

​Tepat pukul dua siang, draf final logo kosmetik itu selesai. Naomy merapikan pakaian kerjanya, mengambil napas dalam-dalam, lalu melangkah menuju lantai teratas tempat ruang eksekutif berada.

​Tok! Tok!

​"Masuk."

​Suara bariton yang berat itu terdengar dari dalam. Naomy membuka pintu kaca tebal dan melangkah masuk ke ruangan yang luas berlantai karpet beludru itu. Raka duduk di balik meja besarnya, sedang menatap beberapa dokumen. Begitu menyadari kehadiran Naomy, ia meletakkan pulpennya dan bersandar pada kursi kulitnya, menatap gadis itu dengan binar mata yang sulit diartikan.

​Naomy melangkah maju, meletakkan tablet digital dan beberapa cetakan draf di atas meja Raka. Ia berdiri dengan sikap tegap, menyilangkan tangan di depan tubuh dengan sopan.

​"Ini draf final untuk proyek kosmetik, Pak. Saya sudah menyesuaikan skema warna agar terlihat lebih berani namun tetap mempertahankan kesan elegan sesuai dengan catatan Bapak kemarin," ucap Naomy. Suaranya terdengar sangat stabil, formal, dan penuh percaya diri.

​Tidak ada panggilan "Rawwwrrr". Tidak ada gurauan tentang mesin fotokopi atau lift macet. Naomy benar-benar memasang dinding pembatas profesional yang sangat tebal.

​Raka menaikkan sebelah alisnya, sedikit terkejut dengan perubahan sikap Naomy yang begitu drastis. Ia mengambil cetakan desain tersebut, memeriksanya selama beberapa menit. Hasil kerja Naomy kali ini benar-benar luar biasa—melampaui ekspektasinya.

​"Kerja bagus, Naomy. Ini persis seperti yang saya mau. Kamu bisa serahkan ini ke divisi produksi sekarang," ujar Raka formal, namun matanya tetap menatap Naomy, mencoba mencari celah dari keprofesionalan gadis itu.

​"Baik, Pak. Terima kasih. Saya permisi kembali ke ruangan saya," jawab Naomy dengan anggukan hormat yang kaku. Ia berbalik dan melangkah keluar dari ruangan luas itu tanpa menoleh lagi.

​Begitu kembali ke meja kerjanya di lantai tiga, Naomy menghempaskan tubuhnya ke kursi. Dadanya terasa sesak. Bersikap seolah tidak terjadi apa-apa di depan pria yang setiap malam menemaninya tertawa ternyata membutuhkan energi yang luar biasa besar.

​Ia meraih ponselnya yang tergeletak di samping monitor. Layarnya menyala, menampilkan lobi permainan Arena of Fate yang masih terbuka di latar belakang. Naomy menatap profil akun @Nao_mii miliknya, lalu beralih menatap nama @Rrrrarrkyyy di daftar teman.

​Pikiran Naomy berkecamuk. Logika realitanya bekerja dengan kejam. Dia adalah Raka. Anak konglomerat pemilik Apex Group. Berumur 26 tahun, berkuasa, dan berada di puncak dunia. Sementara dirinya? Hanya seorang Naomy, desainer junior yang tinggal di kosan sempit dan masih harus memikirkan biaya transportasi setiap bulan.

​"Rakyat jelata kayak gue nggak akan pernah cocok bersanding dengan CEO," bisik Naomy pada diri sendiri. Air matanya hampir saja menetes, namun ia dengan cepat mengedipkan mata untuk menahannya.

​Hubungan anonim di dunia virtual itu terasa indah karena mereka tidak tahu siapa siapa. Namun begitu topeng itu luruh, jurang pemisah di dunia nyata terlalu terjal untuk diseberangi. Naomy tidak ingin hidup dalam ilusi dongeng yang tidak realistis. Ia tidak ingin dicap sebagai karyawan yang memanfaatkan kedekatan virtual untuk mendekati bos besar.

​Dengan tangan yang sedikit bergetar, Naomy masuk ke menu pengaturan akun. Ia menggeser layar ke bawah, mencari tombol yang selama ini tidak pernah ia sentuh sejak kelas 10 SMA.

​[Apakah Anda yakin ingin menonaktifkan akun @Nao_mii?]

​Jari Naomy menggantung di atas layar selama beberapa detik. Kenangan saat pertama kali mengunduh game ini karena FOMO, saat mabar bersama teman-teman SMA, hingga malam-malam panjang yang ia habiskan bersama Rawwwrrr berputar seperti rol film. Namun, demi kebaikan hatinya dan masa depan kariernya, ia harus tegas.

​Jari itu menekan tombol: YA.

​Layar ponselnya seketika berkedip, kembali ke halaman awal masuk log yang kosong. Kotak piksel yang telah menemaninya selama bertahun-tahun itu kini mendadak gelap. Naomy menarik napas panjang, memasukkan ponselnya ke dalam laci meja kerja, lalu menguncinya. Ia memutuskan untuk berhenti bermain, mungkin untuk waktu yang sangat lama, atau bahkan selamanya. Ia harus melupakan Rawwwrrr dan fokus menjadi Naomy sang desainer junior.

​Di lantai atas, Raka baru saja membuka aplikasi game di ponselnya, berniat mengirimkan pesan singkat untuk menyemangati gadis itu. Namun, dahi Raka mendadak berkerut dalam. Nama @Nao_mii di daftar temannya telah hilang, berubah menjadi tulisan abu-abu: Akun Tidak Aktif.

​Raka tertegun, lalu menatap ke luar jendela kaca besarnya yang menampilkan pemandangan gedung-gedung bertingkat Jakarta. Ia langsung mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh gadis pemanah jitu itu. Panggilan formal di ruangannya tadi dan penonaktifan akun ini adalah cara Naomy untuk menarik diri dan menjaga jarak.

​Raka tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh tekad.

​"Lo pikir jurang pemisah itu bisa bikin gue mundur, Non?" gumam Raka dengan suara baritonnya yang mantap. "Kalau lo menutup jalan di dunia virtual, maka gue yang akan mendatangi dunia nyata lo."

​Raka meletakkan ponselnya, lalu kembali menatap berkas proyek kosmetik milik Naomy yang sudah ia tanda tangani. Permainan di dunia virtual mungkin telah berakhir, namun babak baru di dunia nyata, di mana Raka akan membuktikan bahwa status sosial bukanlah batasan untuk hatinya, baru saja dimulai.

1
dinda.glow
haloo izin mampir ya... saling mampir yuk
bsjelfjbrndsabdvr
nyimak😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!