Demi membiayai pengobatan rumah sakit ibunya, Alya terpaksa mengambil keputusan paling nekat dalam hidupnya: menerima tawaran menjadi pengasuh sekaligus "Ibu Pengganti" rahasia. Tugasnya tidak mudah, ia harus menjinakkan Leon dan Lulu, sepasang anak kembar jenius berusia empat tahun yang terkenal super rewel dan selalu berhasil mengusir puluhan pengasuh sebelumnya.
Namun, sebuah keajaiban terjadi. Di hari pertama mereka bertemu, si kembar langsung memeluk Alya dan memanggilnya "Mama".
Hal itu membuat Adrian Vasillo, seorang CEO dingin, kejam, dan tidak tersentuh, terkejut setengah mati. Adrian yang selama ini menutup hatinya dari wanita, akhirnya menawarkan kontrak pernikahan demi kebahagiaan anak kembarnya. Alya mengira tugasnya hanya berpura-pura menjadi ibu yang baik di depan si kembar. Namun, ia keliru.
Di balik tatapan dingin Adrian, pria itu mulai menuntut hak-haknya sebagai seorang suami nyata. Di saat perasaan Alya mulai goyah, satu per satu rahasia masa lalu mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bbsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah di Luar Rencana
Suara langkah kaki Adrian yang berketuk di atas lantai kayu tua galeri terdengar bagai lonceng kematian bagi keheningan tempat itu. Rendra Aryasatya otomatis mundur satu langkah, wajahnya menyiratkan ketakutan yang nyata saat melihat kedatangan sang CEO Vasillo Group.
Alya masih berdiri mematung. Air mata yang menetes di pipinya terasa dingin, sekaku seluruh sendi tubuhnya yang mendadak mati rasa. Informasi yang baru saja kudengar dari Rendra berputar-putar di dalam otaknya bagai badai.
Wanita simpanan rekayasa. Alat penghancur rumah tangga.
"Adrian..." suara Alya tercekat di tenggorokan, nyaris berupa bisikan yang bergetar.
Adrian berhenti tepat tiga langkah di depan Alya. Ia sama sekali tidak melirik ke arah Rendra. Sepasang mata elangnya hanya terkunci pada wajah pucat Alya. Tatapan pria itu tidak lagi hanya dingin, melainkan dipenuhi oleh lapisan emosi yang pekat—kemarahan, kepahitan, dan sebuah rahasia besar yang kini telah telanjang di depan mereka.
"Malik, bawa Pak Rendra keluar. Pastikan galeri ini dikosongkan dari pengunjung lain sekarang juga," perintah Adrian, suaranya terdengar sangat rendah namun bergetar hebat oleh otoritas yang menekan.
"Baik, Tuan," Malik membungkuk kaku, lalu memberi isyarat kepada Rendra yang hanya bisa pasrah dituntun keluar bersama dua pengawal bertubuh tegap.
Kini, ruang pameran lantai dua yang luas itu hanya menyisakan mereka berdua. Cahaya lampu sorot kuning yang temaram di atas mereka membuat bayangan tubuh Adrian mengurung sosok Alya dengan sempurna.
"Jadi..." Alya membuka suara, napasnya tersengal seolah pasokan oksigen di ruangan itu mendadak habis. "Jadi ini alasan sebenarnya? Ini alasan kenapa kamu memilihku dari sekian banyak wanita di Jakarta untuk menjadi 'Mama' dari anak-anakmu?"
Adrian tetap diam, rahangnya mengatup rapat.
"Jawab aku, Adrian!" bentak Alya, air matanya kembali meluncur deras. Ia melangkah maju, memukul dada bidang Adrian dengan kedua kepalan tangannya yang gemetar. "Kamu tahu semuanya! Kamu tahu siapa aku sejak awal! Kamu tahu aku adalah wanita yang... yang menghancurkan pernikahanmu dengan Elena!"
Adrian tidak menghindar. Ia membiarkan pukulan lemah Alya mendarat di dadanya, sebelum akhirnya kedua tangan kekarnya bergerak cepat mencengkeram pergelangan tangan Alya, menghentikan gerakan wanita itu dan menguncinya dengan erat.
"Ya! Aku tahu!" balas Adrian dengan rahang mengeras, suaranya meninggi, menggema di seluruh sudut ruangan galeri yang sepi. "Aku tahu persis siapa kamu, Alya Adistia!"
Alya tersentak, tatapannya nanar menatap mata elang Adrian yang kini berkilat merah karena emosi yang meluap.
"Aku tahu kamu adalah wanita yang dibawa Elena ke hadapanku empat tahun lalu," lanjut Adrian dengan desisan rendah yang penuh dengan luka masa lalu yang membakar. "Aku tahu kamu adalah wanita yang sengaja dipasang di hotel malam itu agar aku tertangkap basah oleh kamera sewaan Anggoro! Aku tahu seluruh wajahmu, nama lengkapmu, bahkan aroma parfummu malam itu karena kamu adalah awal dari kehancuran sisa harga diriku sebagai seorang suami!"
"Lalu kenapa?!" tangis Alya pecah, ia berusaha menarik tangannya namun cengkeraman Adrian bagai borgol besi. "Jika kamu begitu membenciku, jika kamu tahu aku adalah bagian dari rencana busuk mantan belahan jiwamu, kenapa kamu justru membawaku masuk ke rumahmu?! Kenapa kamu membiarkanku menyentuh Leon dan Lulu?! Kenapa kamu menikahiku secara kontrak?!"
Adrian menarik napas dalam-dalam, dadanya naik turun dengan kasar. Ia menyentak pelan pergelangan tangan Alya, memaksa wajah wanita itu semakin dekat ke wajahnya hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan.
"Karena anak-anakku tidak pernah melupakanmu, Alya!" bisik Adrian dengan suara yang mendadak serak dan sarat akan frustrasi yang mendalam.
Alya tertegun, tangisnya mereda sesaat karena kebingungan. "Apa maksudmu?"
"Kecelakaan empat tahun lalu... kamu pikir kenapa kamu bisa berada di mobil yang sama dengan Elena malam itu?" tanya Adrian, matanya menyipit perih. "Malam setelah rencana rekayasa itu gagal karena aku menolak menyentuhmu, Elena panik. Dia menyeretmu masuk ke dalam mobilnya dalam kondisi hujan badai, berniat menyingkirkanmu atau membawamu pergi dari Jakarta agar tidak bisa bersaksi di depan pengacara. Dan di kursi belakang mobil itu... ada Leon dan Lulu yang saat itu masih bayi."
Jantung Alya seolah berhenti berdetak. Kilatan memori yang tadi sempat membuat kepalanya sakit kini perlahan mulai menyambung. Suara tangisan bayi... bau minyak telon yang bercampur dengan anyir darah... dan benturan keras.
"Mobil Elena kehilangan kendali dan menabrak pembatas jalan dengan kecepatan tinggi," lanjut Adrian, suaranya merendah, dipenuhi getaran emosi yang mengerikan. "Elena tewas di tempat. Tapi kamu... sebelum kamu kehilangan kesadaran dan mengalami amnesia akibat benturan di kepala, tim penyelamat menemukan tubuhmu sedang mendekap boks bayi Leon dan Lulu di kursi belakang. Kamu menggunakan tubuhmu sendiri sebagai tameng untuk melindungi anak-anakku dari reruntuhan besi mobil yang hancur."
Napas Alya tertahan. Air matanya terus mengalir, namun kali ini bukan karena amarah, melainkan karena rasa haru dan ngeri yang luar biasa.
"Itulah alasan mengapa Leon dan Lulu memiliki trauma berat pada wanita asing, namun langsung tenang saat pertama kali melihatmu di restoran itu," bisik Adrian, cengkeramannya di tangan Alya perlahan melonggar, berubah menjadi pegangan yang lembut seolah ia takut menyakiti wanita itu. "Ingatan visual mereka mungkin kabur, tapi alam bawah sadar mereka mengenali pelukan hangat yang menyelamatkan nyawa mereka empat tahun lalu."
Adrian mundur satu langkah, membuang muka sejenak untuk menguasai dirinya yang hampir runtuh di depan Alya.
"Saat Malik menemukan datamu di rumah sakit, aku bersumpah ingin menghancurkan hidupmu sebagai bentuk balas dendam atas apa yang kamu lakukan bersama Elena," aku Adrian jujur, suaranya terdengar dingin namun ada kejujuran yang telanjang di sana. "Tapi melihat bagaimana Leon dan Lulu mendadak bisa tertawa lagi karena kehadiranmu... aku sadar, kontrak ini adalah satu-satunya cara. Aku memanfaatkan kebutuhan finansialmu untuk mengobati ibumu, dan sebagai gantinya, kamu harus membayar utang masa lalumu dengan menjadi ibu sejati bagi anak-anakku."
Alya melangkah mundur hingga punggungnya membentur tiang penyangga galeri. Ia menatap Adrian dengan pandangan yang kosong. Kebenaran ini terlalu besar, terlalu kelam, dan terlalu rumit untuk dicerna dalam sekejap.
"Jadi... ini semua adalah transaksi penebusan dosa?" tanya Alya dengan senyum getir yang dipaksakan di sela isak tangisnya.
Adrian kembali menatap Alya, ekspresi wajahnya kembali mengeras menjadi topeng es yang kaku. "Ya. Ini adalah transaksi, Nyonya Vasillo. Kamu memberikan kasih sayangmu pada anak-anakku, dan aku memberikan nyawa serta fasilitas terbaik untuk ibumu. Anggap saja ini sebagai lembaran kontrak baru yang sudah dibersihkan dari darah masa lalu."
Alya menghapus air mata di pipinya dengan punggung tangan. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menegakkan kembali bahunya yang sempat lunglai. Di dalam hatinya, ada rasa lega karena ia akhirnya tahu ia bukan wanita jahat yang dengan sengaja merusak rumah tangga orang lain—ia hanya korban manipulasi Elena demi pengobatan ibunya. Dan naluri pelindungnya pada si kembar ternyata sudah ada sejak empat tahun lalu.
Alya menatap Adrian dengan pandangan mata yang kini tidak lagi rapuh, melainkan penuh dengan ketegasan yang baru.
"Baik, Adrian. Jika ini adalah penebusan dosa... maka aku akan menjalaninya sampai akhir," ucap Alya dengan suara yang mantap dan jernih. "Aku akan tetap menjadi 'Mama' yang terbaik untuk Leon dan Lulu bukan karena kontrak sialanmu ini, tapi karena jiwaku memang sudah memilih untuk melindungi mereka sejak malam kecelakaan itu."
Alya melangkah melewati Adrian, menuju arah tangga untuk pulang. Namun, saat tubuhnya sejajar dengan tubuh tegap sang CEO, ia berhenti sejenak tanpa menoleh.
"Tapi ingat satu hal, Tuan Vasillo..." bisik Alya dengan nada yang dingin namun tajam. "Jangan pernah berharap aku akan kembali menaruh rasa hormat atau percaya padamu sebagai seorang suami. Di mataku, kamu tetaplah pria kejam yang menggunakan penderitaan orang lain untuk kepentingan bisnismu."