Ditinggalkan tanpa harta yang sebenarnya adalah haknya, membuat Shella tidak mempunyai apapun, tapi siapa sangka, dia malah di dekati oleh pria yang lebih berkuasa dari suami lama nya, yang sudah ditemani nya sejak NOL..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Pipin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lebih Memilih Ular
"Coba saja angkat gagang telepon itu sekali lagi, dan saya pastikan kamu angkat kaki dari gedung ini siang ini juga."
Mendengar ancaman itu, resepsionis menelan ludah dan mengangguk gemetar, membiarkan Shella berlalu menuju lift eksklusif.
Firasatnya berteriak keras menuju ruangan suaminya. Tiba di depan ruangan suaminya, langkah Shella terhenti. Daun pintu kayu jati itu tidak tertutup rapat—menyisakan celah kecil yang sialnya cukup untuk menghancurkan sisa-sisa kewarasannya. Dari balik celah itu, terdengar suara lenguhan menjijikkan.
"Mas Bram... aku mencintaimu... aaah..."
Shella melihat Melalui celah tersebut, matanya menangkap pemandangan yang membuat perutnya mual. Di atas meja kerja—meja tempat Shella dulu menyusun proposal bisnis mereka hingga larut malam—suaminya tengah beradu peluh dengan seorang wanita muda. Kemeja Bramantyo berantakan, dan pria itu memberikan hentakan kasar dengan raut wajah penuh nafsu yang buta.
Hasrat dan gairah menggebu itu... dulu milik Shella. Kini, wanita asing itu merebutnya dengan murah di atas meja kantor.
Shella mengusap kasar air mata yang sempat lolos di sudut matanya. Tanpa peringatan, ia menendang pintu itu hingga terbuka lebar.
BRAAAK!
Bramantyo yang terkejut setengah mati nyaris tersungkur. Pria itu buru-buru menarik ritsleting celananya dengan wajah pias, sementara sang wanita muda gelagapan menarik kerah kemejanya yang terkoyak.
"Kak... Kak Shella..." gumam wanita itu dengan suara bergetar dan mata membola.
Wanita setengah telanjang itu bukan orang asing. Dia adalah Saskia, sepupunya sendiri.
Tawa getir meluncur dari bibir Shella. "Jadi seleramu sekarang jatuh pada wanita murahan ini, Mas?" tunjuk Shella dengan jijik. "Dari sekian banyak perempuan di luar sana, kamu memilih ular ini?"
Saskia segera merangkul lengan Bramantyo, bersembunyi di balik tubuh besar pria itu sambil memasang wajah pias yang menyedihkan. Air mata buaya menetes dari sudut matanya. "Kak Shella, maafkan aku... ini salahku, aku yang menggoda Mas Bram..."
"Tutup mulutmu, Saskia!" potong Shella tajam. Ia menatap Bramantyo yang kini berdiri tegap melingkarkan tangan protektif di pinggang Saskia tanpa ada sedikitpun rasa bersalah di wajahnya.
"Kamu tahu masa lalunya, Mas?" Shella tersenyum sinis. "Di usianya yang bahkan belum menginjak tujuh belas tahun dulu, dia sudah menyerahkan tubuhnya pada pacarnya. Dan kamu tahu? Dia menggugurkan kandungannya diam-diam karena takut diusir dari keluarga! Wanita ini sudah busuk dari dalam, dan kamu mau menjadikannya ratu di atas penderitaanku?!"
Bramantyo mendecih keras, tatapannya merendahkan Shella. "Lalu kamu kira aku peduli dengan masa lalunya?" balas Bramantyo dingin. "Tanpa kamu bersusah payah memburukkannya, Saskia sudah menceritakan semuanya padaku. Dia jujur. Dia bukan gadis munafik sepertimu yang berlindung di balik kata 'pengorbanan'."
Shella terhenyak. Bodoh. Betapa bodohnya pria di hadapannya ini. Bramantyo mengira ia sedang melindungi seorang malaikat yang jujur, padahal ia baru saja tertipu oleh manipulasi tingkat tinggi seorang wanita licik. Saskia sengaja membeberkan masa lalunya lebih dulu dengan versi 'korban' agar Bramantyo merasa menjadi pahlawan yang menyelamatkannya.
"Saskia adalah pilihanku," lanjut Bramantyo. "Bahkan keluarga besarnya sudah merestui hubungan kami. Tahu kenapa? Karena wanita yang kamu sebut murahan ini, sekarang sedang mengandung anakku. Ahli waris perusahaan ini."
Shella menatap Saskia yang terlihat menyembunyikan senyumnya,seolah berkata: Aku menang, dan hidupmu sudah hancur.
"Oh, bagus." Shella tersenyum. "Baiklah, kalau itu jawabanmu, Mas. Lagipula, sampah memang paling pantas berdampingan dengan sampah lainnya, bukan? Bau kalian sangat serasi."
Tanpa sudi menatap wajah dua pengkhianat itu lebih lama, Shella memutar tubuh nya menuju parkiran.
Sesampainya di dalam mobil di area parkir, tawa sinis dan sumbang dan sinis meledak dari bibirnya. "Ya ampun, pria bodoh. Anaknya? Apa dia benar-benar yakin itu benihnya?" gumam Shella, menggelengkan kepala tak percaya. "Saskia memiliki lusinan lelaki hidung belang di luar sana yang bergantian mensponsori gaya hidup mewahnya. Ular itu memang ahli membuat pria bertekuk lutut. Selamat bermimpi indah, Mas. Aku ingin lihat, sebesar apa 'cinta' yang kamu agungkan itu saat kamu sadar sedang membesarkan anak orang lain."
Menjelang malam, mobil Shella sudah sampai dirumah keluarga besarnya. Begitu kakinya melangkah masuk ke ruang keluarga, hawa dingin dan permusuhan langsung menyambutnya.
"Ma..." sapa Shella tertahan, menatap wanita berusia 55 tahun yang duduk di sofa utama.
Helena, ibu kandungnya, langsung mendengus sinis. "Berani pulang juga kamu akhirnya? Kenapa? Apa sekarang Bram kesayanganmu itu sudah terlihat busuknya, sampai kamu sadar kalau selama ini kamu memilih jalan yang salah dan mempermalukan keluarga?"
Di sekeliling ruangan, tatapan merendahkan menghujani Shella. Ayah tirinya membuang muka dengan ekspresi masam. Dua kakaknya, Gladis dan Vino, tersenyum mengejek, tampak menikmati penderitaannya. Tidak ada pelukan hangat. Tidak ada tempat untuk bersandar.
"Aku tidak pulang untuk membahas masa laluku, Ma," sela Shella menolak untuk terlihat hancur di depan mereka. Matanya beralih menatap tajam ke sisi lain sofa. "Aku datang untuk bicara dengan Tante Sekar dan Om Galuh."
Semua mata kini tertuju padanya.
"Duduk, Sayang," ujar Tante Sekar memecah ketegangan. Di rumah neraka ini, Sekar adalah satu-satunya sosok yang terkadang masih memperlakukannya layaknya manusia. Sementara suaminya, Om Galuh—ayah kandung Saskia—hanya duduk bersandar acuh tak acuh sambil menyesap cerutunya.
"Tidak perlu, Tante. Aku cuma mau tanya satu hal," ucap Shella. "Kenapa Om dan Tante membiarkan Saskia merusak rumah tanggaku? Sejak kapan kalian merestui hubungan Saskia dengan suamiku?"
Mendengar hal itu suasana mendadak hening. Cerutu di tangan Galuh tertahan di udara, sementara wajah Sekar berubah pias seketika. Tantenya itu berdiri dari sofa dengan tubuh bergetar.
"Apa?! Saskia... dan Bram?!" pekik Sekar, matanya membelalak kaget. "Hubungan apa maksudmu, Shella?! Merestui apa?!"
Melihat reaksi keluarga Saskia, Shella bisa menyimpulkan. "Keluarga besarnya belum tahu apa-apa. Saskia tidak hanya menipu Bram, tapi juga memanipulasi keadaan dengan sangat sempurna. Gadis ular itu menyuapkan kebohongan manis bahwa 'keluarga sudah merestui mereka karena ia hamil' untuk membuat Bramantyo merasa aman menceraikannya. Dan pria bodoh yang dulu menjadi suaminya itu menelan semuanya mentah-mentah." Batin Shella. "Kasian sekali kamu mas."