NovelToon NovelToon
THE ORIGIN : ZERO

THE ORIGIN : ZERO

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:540
Nilai: 5
Nama Author: R14

Dunia pernah berjalan normal, tanpa adanya sihir, tanpa kekuatan di luar nalar. Hingga suatu hari, sebuah fenomena misterius membawa Mana ke bumi dan memutarbalikkan tatanan realitas umat manusia selamanya.

​Di tengah kekacauan era baru tersebut, Asosiasi hadir sebagai pilar keadilan. Mereka menertibkan dunia, melindungi yang lemah, dan dipuja sebagai pahlawan.

UNTUK: 13+

"MOHON DILAKUKAN"

-Like&Share
-Berkomentar
-Memberikan Bintang 5
-Favorit
-Follow Akun Pembuat Novel
-Memberikan Saran Untuk Mengembangkan Novel Atau Cerita Selanjutnya


~•KARYA: R14•~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 : UPACARA PENERIMA MURID BARU

ARC 1 : THE PARASITE PROJECT

BAB 12 : UPACARA PENERIMA MURID BARU

Esok harinya, tibalah acara puncak yang paling diantisipasi, Upacara Penerimaan Murid Baru Akademi Guardian angkatan tahun 2022.

​Sejak pagi buta, area depan akademi sudah dibanjiri oleh karpet merah, kilatan blitz kamera jurnalis, dan kendaraan mewah milik para petinggi Asosiasi yang datang sebagai tamu kehormatan.

Suasana begitu megah, seolah mereka sedang merayakan lahirnya pahlawan-pahlawan elit yang akan menyelamatkan dunia.

​Namun, bagi murid Kelas Reguler, kemegahan itu sama sekali tidak berlaku. Hari bersejarah mereka justru dimulai dengan pemanasan yang tidak terduga.

​"Luar biasa! Setelah seharian penuh otot-ototku dianggurkan dan dipaksa beristirahat di kasur UKS, pihak akademi ternyata berbaik hati memberikan sesi pemanasan pagi!" seru Raka dengan mata berbinar.

​Pemuda kekar itu menapaki puluhan anak tangga dengan semangat membara, seolah rasa ngilu dari siksaan tempo hari sudah menguap sepenuhnya. Ia bahkan melakukan sedikit regangan punggung di setiap langkahnya.

"Darahku kembali mendidih! Ini baru namanya sekolah Guardian!"

​Di belakangnya, Rico berjalan gontai sambil berpegangan erat pada railing tangga. Wajah kelelahan terlihat dari pemuda berkacamata itu.

​"Ini bukan pemanasan... hah... hah... ini murni diskriminasi spasial" napas Rico putus-putus, nyaris tak sanggup berdiri lurus menopang lututnya sendiri.

"Lantai satu hingga tiga untuk Kelas Khusus dan Unggulan. Sedangkan kita... kasta terendah... sengaja dibuang ke tingkat empat dan enam "

​Sementara itu, Rey menundukkan kepalanya dalam-dalam, memelintir wajahnya agar terlihat sama menderitanya dengan murid Reguler lain yang sudah bertumbangan di anak tangga. Padahal di dalam hati, ia sedang merutuk panjang pendek.

​Orang-orang Asosiasi ini benar-benar gila hormat, tapi yang paling gila di sini adalah si banteng raksasa di depanku ini, batin Rey sambil menghela napas panjang, menatap punggung Raka yang masih kegirangan. Bagaimana bisa ada manusia yang bahagia disuruh naik dua ratus anak tangga di pagi hari? Otaknya pasti terbuat dari serat protein murni.

Setelah perjuangan yang terasa seperti mendaki gunung tanpa tabung oksigen, seribu murid Kelas Reguler akhirnya tiba di tempat mereka yang paling atas Aula Utama Akademi Guardian.

​Pemandangan yang terhampar di bawah mereka langsung membuat napas siapa pun tercekat.

​Aula Utama itu didesain menyerupai amfiteater raksasa bergaya koloseum modern. Secara fasilitas fisik, tidak ada yang membedakan kursi antar kasta murid. Baik Kelas Khusus, Unggulan, maupun Reguler semuanya duduk di atas kursi teater lipat berlapis busa standar yang berjejer rapi melingkari ruangan.

​Namun, diskriminasi itu terlihat jelas dari tata letak dan pencahayaan.

​Di bagian paling bawah, bermandikan cahaya terang benderang dan sorotan kamera televisi, duduklah murid-murid Kelas Khusus dengan layanan seperti bangsawan. Sedikit di atas mereka adalah barisan Kelas Unggulan.

​Sementara itu, Kelas Reguler benar-benar dibuang ke puncak amfiteater di tingkat empat hingga enam tempat yang nyaris tak tersentuh cahaya lampu sorot, terkurung di bawah bayang-bayang atap kubah raksasa.

Dari titik paling atas dan gelap ini, orang-orang di

panggung utama hanya terlihat sebesar ibu jari.

​Satu-satunya fasilitas mewah yang mencolok di aula itu hanyalah deretan sofa empuk berlapis beludru merah yang berada tepat di depan dan di atas panggung. Kursi-kursi VIP itu dikhususkan bagi para petinggi Asosiasi, jurnalis elit, tamu undangan kehormatan, serta dua kursi khusus untuk perwakilan murid baru.

​"Luar biasa," gumam Rey pelan saat ia menjatuhkan dirinya ke atas kursi teaternya. Ia menatap ke bawah sejenak ke arah panggung yang terang benderang, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan tersenyum tipis.

"Jauh dari sorotan kamera, dan tidak ada staf akademi yang peduli untuk mengawasi sampai ke atas sini. Tempat ini secara harfiah adalah sarang terbaik untuk kembali tidur."

​ Rey baru saja duduk di kursinya, saat suara dentuman bass yang lembut namun bertenaga bergema dari pengeras suara di seluruh penjuru aula, seketika membungkam ribuan mulut yang hadir.

​Lampu utama meredup. Sebuah lampu sorot tunggal yang menyilaukan jatuh tepat di tengah panggung podium.

Sebuah suara bariton pembawa acara menggema, memandu seluruh hadirin untuk berdiri.

​Lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang dengan iringan orkestra simfoni yang menggetarkan dada. Di tingkat enam, Rey membuang napas panjang, menatap langit-langit dengan pasrah. Ia baru saja menemukan lekukan kursi plastik yang pas untuk punggungnya, namun terpaksa harus kembali berdiri tegak menyanyikan lagu kebangsaan bersama ribuan orang lainnya.

​Setelah lagu kebangsaan selesai dan hadirin dipersilakan duduk kembali, kemegahan Asosiasi Guardian langsung dipamerkan.

Panggung utama diisi oleh pertunjukan seni yang luar biasa. Puluhan murid senior menampilkan tarian daerah kontemporer yang menggabungkan koreografi tradisional Nusantara dengan manipulasi Mana tingkat tinggi.

Aliran api, air, dan cahaya ilusi menari-nari di udara, membentuk siluet naga dan garuda raksasa yang meliuk di atas para penonton.

Ledakan kembang api sihir menutup pertunjukan itu, memicu riuh tepuk tangan yang menggema hingga ke sudut tergelap aula. Penguasaan sihir dan kontrol yang absolut.

​"Gila... kontrol Mana mereka sangat presisi. Tidak ada setetes pun api yang meleset," gumam Raka dengan mata berbinar kagum, mencondongkan tubuhnya ke depan.

Setelah panggung kembali bersih, tibalah saatnya untuk rangkaian acara utama.

​Orang pertama yang melangkah ke tengah panggung adalah Ketua OSIS. Pemuda berpostur tegap dengan tatapan setajam elang itu berdiri di depan mikrofon. Begitu ia menatap ke arah lautan penonton, gelombang Mana tak kasat mata menyebar ke seluruh penjuru aula, membuat tekanan udara terasa lebih berat.

​"Selamat datang, angkatan baru. Di akademi ini, hierarki adalah hukum mutlak. Patuhi aturan, atau aku sendiri yang akan memastikan kalian merayap keluar dari gerbang depan."

​Pidato ancaman yang sangat singkat itu membuat murid Kelas Reguler menelan ludah gugup.

​Di tempat paling atas, Rico membetulkan letak kacamatanya yang sedikit merosot akibat tekanan gravitasi barusan. Matanya memicing analitis ke arah panggung.

​"Itu Devan Lucas, Ketua OSIS kita," bisik Rico kepada Raka dan Rey, suaranya nyaris tenggelam oleh gema di dalam aula.

"Kekuatannya adalah sihir elemen langkah yaitu Gravity. Pantas saja rasanya paru-paru kita seperti ditimpa karung pasir saat dia menatap ke atas sini. Dan menurut analisis data dari bursa taruhan akademi dan grafik pertumbuhannya, dia diprediksi kuat akan langsung menembus tingkat Beta, atau bahkan tingkat Alpha, begitu ia lulus nanti. Singkatnya, dia adalah monster. "

Mendengar penjelasan Rico, alih-alih menciut, mata Raka justru berbinar buas. Pemuda kekar itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menahan tekanan gravitasi dengan urat leher yang menegang keras. Senyum menantang terukir di wajahnya.

​"Tingkat Beta atau Alpha, ya?" gumam Raka, mengepalkan kedua tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih dan berbunyi gemeretak.

"Pantas saja auranya luar biasa berat. Darahku sampai mendidih merasakannya. Hah! Kira-kira, apa ada aturan akademi yang memperbolehkan murid baru menantang Ketua OSIS untuk latih tanding?"

​Rico memijat pangkal hidungnya yang tiba-tiba berdenyut nyeri mendengar pertanyaan di luar nalar itu.

​"Secara harfiah, tindakan itu sama saja dengan meminta tulang belulangmu dipres menjadi bubur daging, Raka," balas Rico datar.

"Tolong gunakan persentase logikamu sedikit saja. Peluangmu menang saat ini adalah minus nol koma persen."

​"Biarkan saja," sahut Rey dengan rasa kesel, karena waktu tidur dia di ganggu oleh kebisingan Raka.

"Kalau si otak otot ini mati gepeng jadi dendeng karena gravitasi, setidaknya ruang gerak di kamar asrama kita jadi lebih luas."

​Raka hanya mendengus geli mendengar ejekan kedua temannya, matanya masih menatap tajam ke arah punggung Devan yang berjalan turun dari panggung.

Setelah Ketua OSIS itu turun meninggalkan aura ketegangan yang masih membekas di udara, pembawa acara segera mencairkan suasana dengan memanggil bintang utama angkatan tahun ini.

​"Selanjutnya, mari kita sambut perwakilan dari murid baru. Dua talenta paling bersinar tahun ini, Arjuna Dirgantara dan Valeria Larasati dari Kelas Khusus!"

​Dua sosok remaja bangkit dari barisan terdepan sofa VIP. Arjuna melangkah naik dengan postur arogan, percikan petir hitam tipis menari liar di sekitar jari-jarinya. Di sebelahnya, Valeria berjalan sedingin mayat hidup, udara di sekitarnya tampak mengembun saking dinginnya.

​Saat mereka berbalik menghadap lautan murid, Arjuna sama sekali tidak menatap ke arah kamera wartawan. Pemuda itu justru mendongak, menatap lurus ke tingkat teratas aula tempat Kelas Reguler berada. Bibirnya menyunggingkan senyum miring yang penuh dengan rasa jijik.

​Melihat tatapan merendahkan itu, fokus Raka yang tadinya tertuju pada Ketua OSIS langsung beralih. Rahangnya kembali mengeras.

"Brengsek... tatapan matanya benar-benar minta dihancurkan," desis Raka tertahan, tangannya mengepal kuat di atas lutut.

​"Tahan emosimu, Raka. Secara statistik, melawannya saat ini juga murni tindakan bunuh diri," cegah Rico cepat, kacamatanya memantulkan cahaya redup dari panggung.

"Dia Arjuna Dirgantara. Kalau kau mengikuti berita ekonomi dan militer, kau pasti tahu seberapa besar pengaruh keluarganya. Kakak laki-lakinya adalah Guardian tingkat Alpha yang menduduki peringkat ke-35 di seluruh Indonesia."

Raka mendecak sebal, tapi ia tidak menyela.

​"Dan yang lebih mengerikan bukan sekadar kekuatan tempur keluarganya, tapi aset finansial mereka," lanjut Rico dengan nada datar.

"Ayahnya adalah penguasa monopoli batu kristal Mana. Mereka memiliki dua tambang batu kristal terbesar di negara ini. Dan keluarga Daff aja tidak secara gegabah Menyinggungnya, sementara kamu menyinggung Arjuna sama dengan memutus jalur kariermu di Asosiasi bahkan sebelum dimulai."

​Mendengar fakta itu, Raka hanya bisa mendengus kasar, membuang muka dari panggung.

​Rico kemudian mengalihkan pandangannya pada gadis berambut biru pucat yang berdiri di sebelah Arjuna. Kening pemuda berkacamata itu berkerut dalam. Jari-jarinya bergerak gelisah.

​"Tapi... yang aneh adalah gadis di sebelahnya itu," gumam Rico, suaranya terdengar bingung.

"Valeria Larasati."

​"Kenapa dengan Dia? Dan tidak biasanya kamu binggung." sahut Rey asal, mencoba mencari posisi tidur yang enak.

Rico menggeleng pelan.

"Tidak. Masalahnya adalah aku tidak menemukan apa pun. Nol besar. Aku sudah mencoba meretas sebagian kecil database akademi dan arsip pendaftaran murid baru semalam, dengan bantuan tim ku, tapi tidak ada satu pun latar belakang keluarga atau riwayat pendidikan masa lalunya yang tercatat. Informasinya diklasifikasikan dengan enkripsi tingkat militer. Gadis itu... eksistensinya di atas kertas seperti hantu."

​"Oh," balas Rey singkat, matanya perlahan menutup, mencari posisi sandaran yang pas untuk lehernya.

​Namun di balik mata yang terpejam itu, Rey bergumam pelan, terlalu pelan hingga nyaris terdengar seperti embusan napas.

"Tentu saja datanya kosong, dia hanya anak dari panti asuhan. Tapi bakat alaminya yang tertidur itu cukup mengerikan. Mungkin sedikit melebihi dua orang itu."

​Raka yang duduk paling dekat dan samar-samar mendengar gumaman itu menoleh bingung. Keningnya berkerut.

"Anak panti? Dua orang itu apa maksudmu, Rey? Kau menyinggung kita?" tanya Raka heran.

Rey perlahan membuka sebelah matanya, menatap Raka dengan pandangan datar dan malas.

​"Tolong jangan terlalu narsis, Raka," sahut Rey santai.

"Otakku belum cukup gila untuk repot-repot membandingkan gadis jenius di bawah sana dengan dua ampas Kelas Reguler. Aku cuma mengigau. Sedang memikirkan karakter novel yang kubaca semalam. Jangan ganggu waktu tidurku lagi."

​Mendengar itu, Raka mendengus kesal merasa dituduh kegeeran, sementara Rico hanya menggelengkan kepala pelan melihat kelakuan teman sekamarnya.

​Keluarga elit yang arogan dan gadis panti asuhan tanpa rekam jejak, batin Rey sebelum benar-benar mematikan fungsi sosialnya hari itu. Kombinasi klasik. Aku berani taruhan, mereka pasti akan jadi pusat masalah yang merepotkan di masa depan.

​Setelah sesi unjuk gigi perwakilan murid baru selesai, suasana kembali dikendalikan oleh pembawa acara. Kini giliran sang tuan rumah yang sesungguhnya untuk mengambil alih panggung.

​Dari balik tirai beludru merah, melangkahlah Kepala Akademi, Baskora Wibowo. Pria paruh baya itu mengenakan setelan jas putih kebesaran dengan jubah beraksen emas berlambang Asosiasi. Wajahnya keras, namun memancarkan kehangatan yang aneh.

​"Selamat pagi, calon-calon pahlawan masa depan," suara Baskora menggema dalam dan berwibawa.

"Dunia di luar sana masih dipenuhi oleh ancaman. Binatang-binatang liar yang bermutasi lepas kendali akibat anomali Mana, serta makhluk-makhluk buatan keji dari eksperimen gelap para kriminal yang terus meneror warga sipil. Namun, kalian ada di sini untuk ditempa. Untuk menjadi tameng bagi mereka yang lemah! Ingatlah, keringat yang kalian cucurkan di akademi ini adalah harga untuk kedamaian umat manusia besok!"

​Riuh tepuk tangan meledak. Raka kembali mencondongkan tubuhnya, bertepuk tangan dengan penuh semangat patriotik hingga telapak tangannya memerah.

​Namun, Rey hanya menopang dagu dengan mata setengah terbuka. Matanya dengan mudah menembus wibawa palsu itu. Di balik kehangatan suaranya, Rey melihat Pria tua itu berbicara manis soal 'melindungi yang lemah', padahal dari awal acara, matanya tak menatap sedetik pun ke arah balkon tempat Kelas Reguler berada.

​Sebagai penutup dari panggung sandiwara hari itu, pembawa acara mempersilakan tamu kehormatan tertinggi untuk memberikan pidato pamungkas.

"Dan kini, mari kita dengarkan sambutan dari Ketua Asosiasi Guardian Pusat!"

​Seorang pria dengan rambut hitam pendek yang rapi dan tongkat emas di tangannya berjalan perlahan ke mimbar. Kehadirannya membuat seluruh staf, guru akademi, dan bahkan Baskora menunduk hormat.

​"Anak-anakku," suara Ketua Asosiasi terdengar berat dan penuh kesedihan buatan.

​"Kita merayakan penerimaan kalian hari ini dengan hati yang menangis. Beberapa hari yang lalu sebuah tragedi kemanusiaan yang keji terjadi di ibu kota. Organisasi kriminal sayap kanan, Black Cross, meledakkan sebuah fasilitas pengolahan limbah dan merenggut ribuan nyawa pekerja sipil yang tak bersalah."

​Hening merayap di seluruh aula. Para wartawan dari lantai bawah memajukan lensa kamera mereka, mengabadikan momen dramatis tersebut.

​"Mereka menyebar teror dan ketakutan! Asosiasi Guardian tidak akan pernah tunduk pada terorisme!" Nada suaranya meninggi, dipenuhi kemarahan yang sengaja dikobarkan untuk membakar semangat.

"Kalian, para murid baru, adalah ujung tombak kami untuk memberantas hama seperti Black Cross hingga ke akar-akarnya! Keadilan akan ditegakkan, walau langit harus runtuh!"

​Seluruh aula meledak dalam sorakan heroik yang memekakkan telinga. Hampir semua murid berdiri dari kursi mereka dan bersorak mendukung Asosiasi. Teriakan kebencian terhadap Black Cross menggema membahana di seluruh penjuru amfiteater.

Rey, yang masih duduk diam di kursinya, hanya bisa menggelengkan kepala pelan. Rey melirik ke sekelilingnya, menatap Raka yang ikut berdiri mengepalkan tinju ke udara, lalu menatap wajah-wajah polos ribuan murid lain yang dengan mudahnya menelan mentah-mentah kebohongan Asosiasi.

​"Doktrin pencucian otaknya benar-benar menjijikkan." bisik Rey pada dirinya sendiri, sama sekali tak terdengar di tengah gemuruh sorakan.

​Ia kembali menyandarkan kepalanya ke kursi dan perlahan memejamkan mata.

​"Pahlawan yang menutupi kebusukannya sendiri, dan penjahat yang disalahkan atas segalanya. Cih... panggung sandiwara ini benar-benar merepotkan. Aku tidur saja."

BAB 12 SELESAI.

~•TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA •~

~•DITUNGGGU BAB SELANJUTNYA •~

~•KARYA : R14•

1
Aegis
Btw per bab rata-rata berapa kata bang?
Aegis
ya kerna si anak sering disiksa emaknya makanya tatapannya kosong, kerna mentalnya udah rusak🥴
Aegis
langsung teleport ae, terus ringkus
Aegis
ini juga kurang spasi
Aegis
harusnya pake jari aja🥴
Aegis
kurang spasi, dan kelebihan spasi
Aegis
ya, itukan mau lo sendiri
Aegis
dan itu kata penghubung, jadi ditempatinya habis koma, cmiw
Aegis
jangan-jangan sifat ibunya udah diutak atik rey biar sesuai selera🥴
R14: Hmmmm, bisa jadi 🤔
total 1 replies
Aegis
di rumah
Aegis
mau sendiri, orang-orang malah pada nempel🥴
Aegis
Yo Aibo ...🤣🤣
Aegis
beliau berniat untuk ngenolep🥴
Aegis
prolognya kepanjangan bang, harusnya cukup sampe pas rey lahir ae, selebihnya udah masuk episode satu, cmiw
R14: Terimakasih sarannya bro.
total 1 replies
Aegis
harusnya dinolin aja kalo gak mau ribet
Aegis
jadinya kaya saiki, bisa semua kekuatan esper berati
Aegis
enak gajinya doang, kerjanya yang gak enak🥴
Aegis
iya, gwe mau menyembunyikan kekuatan😎
Aegis
ini bapaknya ke aman pas dia lahir🥴
Aegis
404 not found, anonim, kekuatan tersembunyi, rank f, aslinya rank sss🥴
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!