"Saya terima nikahnya Yuna bin Adnan..."
Suara berat Labib saat mengucapkan kalimat itu tadi malam masih terngiang jelas di telinga Yuna. Pernikahan mendadak ini adalah wasiat terakhir almarhum ayahnya, sahabat karib Labib meskipun usia mereka terpaut jauh. Ayah Yuna tahu hidupnya tak lama lagi karena sakit, dan ia memercayakan putri tunggalnya pada satu-satunya pria yang ia tahu punya integritas tinggi: Labib.
"Yuna Anindya."
Suara berat itu memecah lamunan Yuna. Ia tersentak, mendongak, dan mendapati seisi kelas kini tengah berbalik menatapnya. Di depan sana, Labib sedang memegang daftar absensi, menatapnya lurus tanpa ekspresi ragu sedikit pun. Profesional. Seolah tadi malam ia tidak menyematkan cincin di jari manis Yuna.
"Ya, Pak. Hadir," sahut Yuna pelan, mengangkat tangannya sedikit.
Labib mengangguk sekilas, lalu beralih ke nama berikutnya tanpa jeda. Tidak ada perlakuan khusus. Memang itu yang Yuna inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lampu hijau Untuk Malam Ini
Yuna melangkah setapak lebih dekat, menatap wajah suaminya yang tampak tegang setiap kali topik tentang sang ibu mencuat. Rasa ingin tahunya mengalahkan rasa canggung yang sejak tadi menahannya.
"Ada urusan apa di sana, Mas?" tanya Yuna pelan, tersirat nada khawatir dalam suaranya.
Labib menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, lalu memijat pangkal hidungnya perlahan. "Aku kurang tahu juga. Tapi jangan menungguku pulang ya, mungkin aku akan pulang agak malam," ucap Labib, menatap lurus ke dalam netra Yuna seolah meminta pengertian atas situasi rumit ini.
Mendengar kalimat terakhir Labib, mata Yuna seketika berbinar pelan di balik ketegangannya. Pulang agak malam?
Artinya, ini adalah kesempatan emas. Ia tidak perlu lagi menyusun alasan berbelit-belit atau bernegosiasi panjang lebar demi mendapatkan izin ke pesta ulang tahun Meysa. Labib sendiri yang memintanya untuk tidak menunggu.
"Okee," ucap Yuna dengan nada suara yang berusaha ia jaga agar tetap terdengar datar dan biasa saja, menyembunyikan rasa lega yang mendadak membuncah di dadanya.
Tanpa membuang waktu lebih lama sebelum suaminya menyadari perubahan ekspresinya, Yuna langsung berbalik. Ia berjalan cepat menuju tangga dan naik ke lantai dua menuju kamar utama mereka.
Begitu pintu kamar tertutup rapat, Yuna langsung melempar tas ranselnya ke atas kasur dan mengembuskan napas panjang. Beban di pundaknya mendadak terangkat. Malam ini, ia bisa datang ke acara Meysa bersama Dinda tanpa harus memikirkan tatapan menginterogasi dari sang suami galak.
Yuna segera mengeluarkan ponsel dari dalam saku kemejanya dengan gerakan cepat. Wajahnya yang semula tegang kini dipenuhi binar kegirangan. Sambil mendudukkan diri di tepi ranjang, jemarinya dengan lincah membuka aplikasi pesan singkat dan mengetikkan untaian kalimat untuk sahabatnya.
Yuna: Dindaa! Aku udah dikasih izin dong. Nanti aku langsung ke kosmu yaaa, kita berangkat bareng dari sana!
Setelah menekan tombol kirim, Yuna melempar ponselnya ke atas kasur empuk dan merebahkan tubuhnya sejenak. Ia berguling ke kanan dan ke kiri sambil tersenyum lebar. Baginya, ini adalah sebuah kemenangan kecil. Tidak perlu ada perdebatan, tidak perlu ada interogasi dingin dari dosen killer yang menjadi suaminya itu.
"Untung Mas Labib ada urusan di rumah ibunya," gumam Yuna lega, menatap langit-langit kamar dengan perasaan plong.
Meskipun hatinya sedikit dicubit rasa bersalah karena memanfaatkan situasi, rasa penasaran dan keinginannya untuk berkumpul bersama teman-teman kuliahnya jauh lebih besar. Lagipula, ia tidak sepenuhnya berbohong; Labib sendiri yang memintanya untuk tidak menunggu di rumah malam ini.
Yuna melirik jam di ponselnya. Masih ada beberapa jam sebelum jam delapan malam. Ia harus segera mandi, merapikan diri, dan memilih pakaian terbaik agar tidak terlihat lusuh di pesta ulang tahun Meysa nanti. Semangatnya yang sempat meredup gara-gara kelas struktur bangunan tadi pagi, kini kembali membara sepenuhnya.
Jarum jam dinding di kamar utama telah bergeser menunjukkan pukul 07.15 malam. Yuna berdiri di depan cermin besar, mematut penampilannya untuk terakhir kali. Ia mengenakan pakaian kasual namun tetap modis, riasan wajahnya tipis dan natural, sangat kontras dengan penampilannya saat ke kampus pagi tadi.
Labib sendiri sudah pergi sejak satu jam yang lalu dengan setelan rapinya, menyisakan keheningan di rumah mewah ini. Begitu memastikan suaminya benar-benar telah melesat jauh menuju rumah ibu mertuanya, Yuna bergegas merapikan tas kecilnya.
Dengan gerakan cepat namun waspada, jemarinya membuka aplikasi dan memesan ojek online dengan titik jemput sedikit di luar pagar komplek agar tidak memancing perhatian satpam. Begitu motor yang dipesannya tiba, Yuna langsung naik dan meminta sang driver melaju cepat menuju area lingkar kampus, tempat kos Dinda berada.
"Gila ya, tumben banget lo dapet golden ticket keluar malem gini dari nyokap lo, Yun!" seru Dinda begitu Yuna turun dari motor di depan gerbang kosnya. Dinda sudah siap dengan gaun kasualnya yang senada.
Yuna hanya bisa meringis canggung, membetulkan posisi tasnya untuk menyembunyikan detak jantungnya yang berdegup agak kencang karena beralibi. "I-iya, kebetulan Ibu lagi ada urusan di luar juga malam ini, jadi aku dibolehin. Udah yuk, keburu telat nanti diamuk Meysa!"
Tanpa curiga sedikit pun, Dinda mengangguk ceria. Kedua sahabat itu pun segera memesan taksi daring bersama. Di dalam mobil yang membawa mereka membelah lampu-lampu kota menuju kafe tempat pesta Meysa, Yuna menatap keluar jendela. Ada secercah rasa senang karena bisa bebas berkumpul bersama teman-temannya, namun di sudut hatinya yang paling dalam, bayangan wajah tegas Labib dan urusannya di rumah sang ibu malam ini tetap membayangi pikirannya.