Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.
Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.
Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.
Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Ancaman Pengusiran
Vira memasukkan mobil pick up miliknya ke dalam garasi. Setelah memastikan pintu garasi terkunci, ia melangkah masuk ke rumah.
Yanti yang melihatnya langsung menghampiri. "Kamu dari mana, Ra? Pagi-pagi banget sudah pergi."
"Dari belanja stok toko," jawab Vira ringan.
"Oh..." Yanti mengangguk pelan. "Kenapa gak bilang? Kamu tetap bisa buka tokonya, biar aku yang jagain. Kasihan, lho, beberapa pelanggan tadi datang, tapi akhirnya pulang lagi."
Vira tersenyum tipis. "Makasih. Tapi kamu gak usah repot-repot jagain toko. Fokus aja sama pekerjaan rumah."
Dalam hati, Vira mendengus. "Kau pikir aku akan membiarkanmu menyentuh tokoku... lalu mengutil uangku? Jangan harap."
Yanti masih belum menyerah. "Melayani pembeli, 'kan, bisa sambil beres-beres rumah, Ra. Gak repot, kok. Kasihan juga pembeli jadi kecewa."
Vira menggeleng pelan. "Kamu belum tahu harga barang-barang di tokoku. Gimana mau melayani pembeli?"
Yanti terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Kamu tinggal kasih label harga di semua barang."
"Aku gak punya banyak waktu buat nempelin label satu per satu."
Yanti kembali mencari alasan. "Kalau begitu, kasih aja nota belanjanya. Di situ, 'kan, ada harga dari toko grosir."
Vira tersenyum kecil. "Memang ada. Tapi harga di nota itu belum tentu sama dengan harga jual di toko."
Yanti mengernyit. "Gimana maksudnya?"
"Gak semua barang dijual per bungkus. Ada yang aku jual dengan untung lima ratus, tiga ratus, bahkan seratus rupiah per sachet. Soalnya isi setiap pak beda-beda. Ada yang sepuluh, dua belas, dua puluh, bahkan tiga puluh sachet."
Vira melanjutkan, "Kalau kamu asal hitung dari harga grosir, nanti bisa salah. Ujung-ujungnya pelanggan yang komplain."
Yanti akhirnya kehabisan alasan. "Oh... gitu, ya."
"Iya."
Tak ada lagi yang bisa Yanti katakan. Dalam hati, ia mengumpat. "Sial. Ternyata gak semudah yang kupikir. Perempuan ini benar-benar gak kasih aku celah sedikit pun."
Tatapannya diam-diam beralih ke arah toko. "Tapi gak mungkin selamanya dia menjaga toko itu sendirian. Pasti suatu saat aku bakal menemukan kesempatan."
Vira yang melihat sorot mata Yanti hanya tersenyum tipis. "Teruslah mencoba. Aku sudah pernah mati karena terlalu mudah percaya pada orang. Kali ini, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."
"Kamu masak apa?" tanya Vira.
"Sup ayam," jawab Yanti santai. "Kamu makan aja. Aku sudah makan."
Vira mengangguk. Ia mencuci tangan di wastafel, lalu berjalan menuju meja makan.
Sementara itu, Yanti diam-diam tersenyum licik. "Setelah hari ini, kamu gak bakal nyuruh aku masak lagi."
Vira mengambil semangkuk kecil sup, meniupnya pelan, lalu menyuapkan sesendok ke mulut.
"Puh!"
Seketika ia memuntahkan kembali kuah yang baru saja dicicipinya.
"Yanti!"
Yanti buru-buru menghampiri ruang makan.
"Iya? Kenapa, Ra?" tanyanya pura-pura bingung.
"Memangnya bumbu di dapur habis?" Vira mengernyit. "Kenapa sup ini rasanya cuma asin doang? Kamu masak pakai garam sekilo, ya?"
Yanti menggeleng cepat. "Gak, kok. Bumbunya masih banyak."
Meski wajahnya tampak polos, di dalam hati ia sedang tertawa puas. "Memang sengaja kubikin asin. Biar kmau kapok nyuruh aku masak terus."
Vira menatapnya lekat. "Kalau masak yang benar. Kalau begini, makanannya jadi mubazir. Dimakan gak enak, dibuang sayang."
Yanti mengangkat bahu. "Kamu juga tahu sendiri aku memang gak terlalu bisa masak. Kalau gak suka sama masakanku, ya suruh orang lain aja."
Vira menarik napas panjang, berusaha meredam kesal.
Sejak Yanti mulai memasak, hasilnya hampir tidak pernah memuaskan. Kadang terlalu asin, kadang hambar, kadang malah gosong.
Yang membuat Vira semakin curiga, Yanti tidak pernah ikut makan masakan yang dibuatnya. Ia selalu beralasan sudah makan lebih dulu.
Kini Vira mulai sadar, Yanti sengaja tidak menyentuh masakannya sendiri karena tahu rasanya memang tidak layak dimakan.
"Kalau begitu..." ujar Vira tenang. "Aku potong gajimu."
Mata Yanti langsung membelalak. "Hah?! Mana boleh begitu!"
"Tentu boleh." Nada suara Vira tetap datar. "Aku yang menggajimu."
"Tapi—"
"Kalau hasil kerjamu gak sesuai, ya ada konsekuensinya," tegas Vira.
Yanti langsung mengerucutkan bibir.
Vira melanjutkan, "Mulai besok, masak yang benar. Atau kalau memang merasa gak sanggup..."
Ia berhenti sejenak. "...berhenti kerja sama aku."
Yanti mendengus kesal. "Ya sudah! Kalau begitu aku gak kerja lagi!"
"Baik." Jawaban Vira begitu cepat hingga membuat Yanti terdiam. "Kalau begitu, bereskan semua barangmu."
Yanti membelalak. "Apa maksudmu? Kamu ngusir aku?"
Vira menatapnya tanpa berkedip. "Aku gak pernah bilang kamu harus tinggal di sini tanpa bekerja."
"Tapi aku sepupumu!"
"Justru karena kamu sepupuku, aku sudah memberimu tempat tinggal dan pekerjaan." Suara Vira tetap tenang. "Jangan salah paham. Itu bukan berarti kamu boleh hidup gratis di rumahku."
Yanti mulai kehilangan kata-kata.
"Kalau mau tetap tinggal di sini," lanjut Vira, "kerjakan tugasmu dengan baik. Bersihkan rumah sesuai yang aku minta dan masak makanan yang layak dimakan."
Vira menunjuk mangkuk sup di atas meja. "Bukan seperti ini. Kalau gak sanggup..." Ia menatap Yanti lurus. "...silakan pergi. Masih banyak orang yang mau bekerja denganku."
Ucapan itu membuat wajah Yanti berubah pucat. Ia tadi hanya menggertak, yakin Vira akan menahannya karena hubungan keluarga mereka. Namun ternyata dugaannya salah.
"Kalau aku benar-benar diusir..." pikirnya panik. "Aku mau tinggal di mana?"
Kepercayaan dirinya perlahan runtuh. Dengan suara yang mulai melemah, ia berkata, "Ra... aku tadi cuma keceplosan."
Vira tetap diam.
"Aku... aku bakal belajar masak yang benar."
Tatapan Vira belum juga melunak.
Yanti menelan ludah. "Gimana caranya membujuk dia? Aku gak boleh keluar dari rumah ini. Aku gak mau pulang kampung."
Yanti mendekat, lalu menarik ujung lengan baju Vira. "Ra, kasih aku kesempatan ya?"
...✨"Keluarga bukan alasan untuk memanfaatkan kebaikan. Kepercayaan harus dijaga, bukan disalahgunakan."...
..."Kesabaran ada batasnya. Saat batas itu terlewati, penyesalan tak lagi bisa mengubah keputusan."...
..."Bukan keras hati yang membuat seseorang tegas, melainkan pengalaman yang mengajarinya untuk tidak mengulang kesalahan."✨...
.
To be continued
Ayahnya sebagai penyebab dari penderitaan yang mereka alami.
Sebagai suami selingkuh, sebagai seorang Ayah perlakuannya sangat biadap.
Mereka diusir. Menghina Ibunya. Ayahnya membawa perempuan yang katanya istri barunya.
Ibunya kena mentalnya. Arvin menjadi pincang.
Arvin akan menjaga Ibunya, yang menjadi tameng hidup baginya ketika angkara murka merasuki Ayahnya.
Arvin pergi ke warung untuk membeli obat flu. Tiba di warung langkahnya terhenti ketika ia mendengar pembicaraan di dalam warung.
Lagi-lagi gosip tentang Vira ??
Hartato juga sudah mendengar. Dia tidak percaya. Vira bukan perempuan seperti yang digosipkan.
Pak Kades juga belum tentu percaya.
Mengingat Bapaknya Hartato masih menjabat sebagai kepala desa, setiap keputusan yang di ambil pasti menjadi perhatian banyak orang.
Kebenaran dari gosip itu belum terbukti. Niat lamaran di tunda.
Hartato hanya bisa berdoa, semoga gosip tentang Vira hanya fitnah. Dia lebih baik menunggu daripada mempercayai gosip tanpa bukti.
Sembarangan Tari bicara dengan mengatakan Tuhan pun membantuku. Mana ada Tuhan membatu orang jahat.
Jadi orang jahat itu pilihanmu, Tari. Tuhan itu memberi pilihan - mau menjadi orang baik atau menjadi orang jahat. Nantinya tinggal menunggu mau mendapat karma baik atau karma buruk.
Jangan senang dulu Tari. Ditunggu saja karma menjemputmu.
Memang Daril ini tidak pantas menjadi suami Vira. Hidupnya seperti benalu, juga pengkhianat.
Di kesempatan kehidupan kedua Vira, jangan sampai menjalin hubungan dengan Daril lagi.
Terimakasih kak Nana...semoga sehat selalu
Yanti langsung tersedak mendengarnya.
Dia mengelak, tidak tahu.
Begitu Vira mau lapor polisi, Tari melarang. Vira tanya kenapa. Salah taruh katanya.
Tari mengelak tidak mengambil. Melarang Vira melihat lemarinya. Tetap kekeh tidak mengambil.
Tari langsung panik ketika Vira mau panggil Ketua RT. Baru mempersilahkan Vira mencari di lemarinya.
Vira nenemukan empat kotak skibcare miliknya.
Tari mengaku itu miliknya.
Ditanya beli di mana, harganya berapa.
Kebohongannya sudah tak ada obatnya ini Tari.
Tari menolak usulan salah satu ibu-ibu untuk melaporkan ke polisi. Ya jelas menolak. Orang dia berkata bohong.
Baru mendengar sepihak, semoga ibu-ibu itu ada yang bertanya baik-baik pada Vira kebenaran yang sesungguhnya. Benar menurut cerita bohong Tari atau benar Tari bohong 😄.
Es kelapa muda sudah di tangan masing-masing satu.
Bukannya merasa prihatin mendengar sepupunya di gibahin, ini bocah malah punya ide licik.
Waduuuuuh...Tari malah bikin fitnah, mengarang bebas tentang Vira. Berapa laki-laki yang tidur sama Vira, Tari ? Kok bisa ngomong suara laki-lakinya tidak sama. Fitnah yang sungguh amat kejam. Pakai nangis segala untuk meyakinkan kebohongannya.
Ibu-ibu, cari bukti dulu ya. Jangan percaya begitu saja.
Ucapan terima kasih cuma di bibir. Hatinya tetap busuk.
Naah ketahuan Tari telah mencuri krim siang, krim malam, pelembap, juga serum milik Vira.
Vira tidak sembarangan menuduh Tari yang mencuri. Dia butuh bukti.
Disuruhnya Tari membeli dua es kelapa muda.
Yanti pergi naik motor.
Vira masuk ke kamar Yanti. Ia menemukan barang-barang yang telah raib dari meja rias di kamarnya. Beberapa kotak skincare tersusun rapi di laci paling bawah lemari pakaian.
Vira masih bersabar untuk tidak menuduh Tari. Masih butuh bukti yang tidak bisa dibantah.
Sehat selalu untuk author, lancar rejekinya juga 😘🤲
Semangat selalu bikin karya² yang baru 💪
Ujung-ujungnya Yanti minta diberi kesempatan. Dia bakal belajar masak yang benar.
Di depan Vira memelas pasti wajahnya. Coba nanti di belakangnya Vira. Ngedumel.
Yanti dasar perempuan tidak tahu diri. Setiap masak disengaja tidak enak supaya Vira tidak menyuruhnya masak lagi.
Vira jadi curiga dengan Yanti yang tidak pernah ikut makan. Alasannya sudah makan lebih dulu.
Sukurin gajinya dipotong. Kalau tidak sanggup masak yang benar, berhenti kerja sama Vira. Dan pergi dari rumah Vira.
Sepupu mau enak numpang tanpa bekerja. Maunya jaga toko biar bisa ngutil uang. Itu maunya Yanti.
Vira tidak membiarkan Yanti hidup gratis di rumahnya.
Mirna langkahnya terhenti ketika mendengar dari dalam warung beberapa ibu sedang mengobrol tentang Hartato yang mau melamar Vira.
Dia mendengar semua pembicaraan ibu-ibu itu. Pikiran liciknya timbul demi kepentingan pribadi.
Mirna mulai beraksi dengan bicara bohong bahkan cenderung memfitnah Vira.
Mirna mengatakan Vira sudah tidak perawan. Itu terjadi sebelum pacaran sama Daril.
Gawat nih Mirna, cari masalah. Perlu di lakban sama Vira nih mulutnya.