NovelToon NovelToon
Nafas Yang Mencekik

Nafas Yang Mencekik

Status: sedang berlangsung
Genre:Enhypen / Romansa / Dark Romance
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: rerevana

Hubungan Serena dan Heeseung selalu berada di antara lembut dan mencekik.

Setiap kali badai berlalu, Heeseung datang membawa janji dan ketenangan yang membuat Serena ingin percaya lagi. Tapi di balik perhatian dan perlindungan itu, ada rasa memiliki yang terlalu kuat untuk diabaikan.

Serena terjebak antara takut kehilangan dan takut tinggal.

Cinta yang awalnya terasa aman, perlahan berubah menjadi sesuatu yang sulit untuk dilepaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jujur.

Pagi datang pelan.

Sinar matahari masuk lewat celah gorden, jatuh di atas meja makan yang sekarang tidak kosong lagi.

Serena bangun jam 7. Apartemen masih sepi.

Tapi dari dapur sudah tercium aroma kopi pahit dan roti bakar yang hampir gosong.

Revan ada di sana. Kemeja hitamnya dilipat sampai siku, rambutnya berantakan karena belum disisir.

Dia tidak terkejut waktu melihat Serena keluar. Seolah dia memang sengaja nunggu.

“Pagi,” katanya pelan.

“Pagi, kak,” jawab Serena. Suaranya masih serak karena baru bangun.

Revan mendorong satu piring ke arahnya. Telur mata sapi, roti bakar, sama kopi.

“Makan. Jangan cuma minum kopi.”

Serena duduk. Mereka makan dalam diam.

Tapi diamnya bukan canggung. Diamnya nyaman. Seakan seminggu yang kosong itu tidak pernah ada.

Setelah Serena selesai makan, Revan meletakkan cangkirnya dan bersandar di kursi.

“Jam 9 lo ada kelas kan?”

Serena mengangguk.

“Aku udah pesen ojek online.”

Alis Revan langsung nyatu.

“Ojek online?”

“Iya. Aku mau coba pergi sendiri, kak. Nggak apa-apa kan?”

Dalam dada Revan langsung terasa sesak.

Refleks ingin menolak. Mau mengatakan "biar gua anter". Mau bilang "macet, bahaya, banyak orang aneh di jalan."

Tapi dia ingat. Janji nya.

Gua nggak mau bikin dia takut lagi.

Revan diam. Tiga detik.

Lalu dia mengangguk pelan, walau rahangnya masih mengeras.

“Oke. Tapi kirim lokasi lo ke gua. Dan kabarin pas sampe.”

Serena senyum kecil. Lega.

“Siap, kak.”

Pukul 08.45, Serena keluar apartemen membawa tas kuliah.

Revan mengantarnya sampai depan lift. Tangannya tetap di saku. Tidak menggandeng tangan Serena. Dia tetap menahan.

“Cukup sampe sini,” katanya pelan.

“Gua ada rapat jam 9.”

Serena berhenti di depan pintu lift yang terbuka.

“Kak… makasih.”

“Buat apa?”

“Karena kamu udah percaya.”

Revan tidak menjawab. Hanya angguk sekali.

Lalu pintu lift menutup.

Di dalam apartemen yang kosong lagi, Revan berdiri di depan jendela.

Matanya ngikutin motor ojek online yang bawa Serena sampai belokan dan hilang.

Tangannya mengepal di sisi tubuh.

Rasanya seperti menyerahkan kendali yang sudah ia pegang dua tahun.

Tapi anehnya…

Dadanya tidak sakit seburuk yang dia kira.

Pukul 09.12, ponsel nya bergetar.

Serena: Udah sampai, kak.

Revan membaca pesan itu tiga kali.

Lalu dia meletakkan ponselnya di meja, duduk, dan membuka laptop, menyiapkan diri untuk rapat.

Untuk pertama kalinya dia ngerti.

Melepas bukan berarti kehilangan.

Kadang, melepas itu satu-satunya cara supaya tidak benar-benar kehilangan.

Tiga Hari Kemudian

Sudah tiga hari sejak Serena kembali.

Tiga hari Revan belajar melepaskan pelan-pelan.

Serena sudah mulai berangkat kuliah sendiri. Pulang jam 5 sore. Kadang membawa cerita tentang dosen killer atau temen kelompok yang suka terlambat.

Revan mendengarkan sambil duduk di sofa, laptop terbuka, padahal matanya tidak pernah lepas dari mulut Serena yang cerewet.

Malam itu jam 9.

Revan baru selesai rapat online. Saat keluar dari kamar kerja, ia mendengar suara tawa dari ruang tamu.

Serena sedang melakukan video call. Laptop terbuka, wajahnya terang terkena cahaya laptopnya.

“Eh iya sumpah, gue kira dia marah beneran. Ternyata cuma bercanda!” katanya sambil ketawa.

Revan memandangi Serena yang tertawa lepas seperti tidak ada beban di sana.

Di layar itu terdapat cowok. Teman kelompoknya. Namanya Jayrel.

Langkah Revan berhenti di ambang pintu.

Napasnya tertahan sedetik.

Jayrel juga tertawa. “Udah dibilang, jangan gampang percaya sama gosip, Ser.”

“Ya iya, tapi mukanya serius banget waktu itu!”

Jari Revan mengepal di sisi tubuh.

Darahnya naik. Bagian dari dirinya ingin masuk, menutup laptop itu, menarik Serena ke dalam kamar.

Tapi bagian lain bisik: Ingat janji lo.

Revan tetap berdiri di sana, tidak bergerak. Sampai Serena menyadarinya.

“Eh, kak Re udah selesai?” Serena langsung nutup laptop pelan.

“Udah,” jawab Revan. Suaranya datar.

Serena natap nya hati-hati.

“Kak… kamu kenapa?”

Revan menggeleng.

“Nggak apa-apa.”

Padahal rahangnya masih terkunci.

Revan melangkah masuk ke ruangan itu, meletakkan laptop meeting nya di meja, lalu duduk di seberang Serena. Menjaga jarak.

“Teman kelompok?” tanyanya pelan.

“Iya. Kita lagi bahas tugas besok.” Serena berusaha jujur. Tidak menutup-nutupi.

“Dia Jay. Anaknya rame, suka bikin orang ketawa.”

Revan mengangguk sekali.

“Oke.”

Satu kata. Tapi berat.

Serena menunduk.

“Kak, kalau kamu nggak suka aku video call sama temen kampus, bilang aja. Aku nggak akan marah.”

Revan natap nya lama.

“Gue nggak bilang nggak suka.”

“Terus?”

“Gue… lagi belajar.” Suaranya pelan. Jujur.

“Belajar buat nggak marah sama hal yang bukan salah lo. Belajar buat percaya kalau lo nggak akan pergi cuma karena ketawa sama orang lain.”

Serena diem.

Lalu pelan-pelan tangannya terulur, nyentuh punggung tangan Revan yang mengepal di meja.

Sentuhan itu membuat Revan memejamkan mata sebentar.

Saat dia membuka mata lagi, wajahnya kembali melunak.

“Kalau kakak merasa nggak nyaman, bilang,” kata Serena pelan.

“Aku mau kamu tau, orang yang bikin aku pulang ke sini itu cuma kamu kak.”

Revan tidak menjawab.

Dia hanya membalikan posisi tangannya, menggenggam tangan Serena. Pelan. seperti takut dia pergi.

Malam itu tidak ada pertengkaran.

tidak ada larangan.

hanya ada satu rasa cemburu kecil yang selesai sebelum sempat menjadi luka. Karena mereka memilih untuk berbicara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!