NovelToon NovelToon
Akar Yang Menembus Langit

Akar Yang Menembus Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: cldazxx

Cerita ini bukan tentang siapa yang tercepat menjadi terkuat, melainkan tentang bagaimana seseorang yang dianggap paling lemah belajar memahami kekuatan yang sesungguhnya: kesabaran, ketahanan, kemampuan menahan badai tanpa tumbang, dan perlahan tumbuh melampaui batas yang dianggap mustahil oleh semua orang. Ia akan bertemu teman yang setia, menghadapi musuh yang meremehkannya, dan akhirnya mengungkap mengapa jalan kuno itu dihapus dari sejarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cldazxx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Persekutuan Baru

Setelah kejadian di Arena Batu, suasana di Kota Batu Tengah berubah total. Tidak ada lagi yang berani menghina Lin Mo sebagai "sampah berinti kacau". Namanya kini dikenal sebagai satu-satunya orang yang sanggup menahan tekanan tingkat Kelahiran Roh dan membuat Kepala Keluarga Meng berlutut tanpa melukainya.

Namun Lin Mo tidak mencari kemasyhuran. Hari-harinya tetap sama: bangun sebelum fajar, berlatih di pinggir Hutan Batu Hitam, dan menghabiskan waktu luangnya untuk mempelajari gulungan kulit batu dari altar purba. Ia tahu, kemenangan hari itu masih mengandung keberuntungan—Meng Tianxiong meremehkannya, dan teknik akarnya memang memiliki keunggulan khusus dalam menahan beban. Jika bertarung secara serius, selisih tingkat kekuatan mereka masih sangat jauh.

Sore itu, saat ia sedang duduk di atas batu besar sambil memeriksa catatan tentang cara menyatu dengan aliran energi bumi, langkah kaki pelan terdengar mendekat.

"Kau tidak mau menikmati kemenanganmu? Semua orang di akademi sedang membicarakanmu."

Lin Mo menoleh. Itu Meng Chao. Wajahnya tidak lagi sombong atau penuh kebencian seperti dulu, melainkan rumit dan sedikit malu. Ia berdiri di jarak beberapa langkah, tidak berani mendekat seolah masih takut Lin Mo akan mengusirnya.

"Kemenangan hanya berarti aku masih punya waktu untuk berlatih lebih banyak," jawab Lin Mo tenang. "Apa tujuanmu ke sini?"

Meng Chao menghela napas panjang, lalu berlutut di hadapan Lin Mo dengan tulus. "Aku datang untuk meminta maaf. Ayahku juga menyadari kesalahannya. Selama ribuan tahun, nenek moyang kami salah paham—mereka mengira Jalan Akar adalah ancaman, padahal itu adalah fondasi yang melindungi kami semua. Keluarga Meng tidak lagi akan menghalangimu. Sebaliknya... kami ingin belajar."

Ia mengangkat kepalanya, matanya penuh harap. "Teknik kami hanya tahu cara menghantam dan menghancurkan. Akibatnya, tanah di sekitar kota semakin tandus, sumber energi semakin menipis. Jika kami terus begini, seratus tahun lagi wilayah ini akan berubah menjadi gurun batu. Ajari kami cara menyatu dengan bumi, bukan merampasnya."

Lin Mo terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis dan mengangguk. Ia tidak membalas dendam, karena benci tidak akan menumbuhkan apa pun. "Jalan Akar tidak ditutup bagi siapa saja yang mau berubah. Tapi ingat: tidak ada jalan pintas. Kalian harus membuang kesombongan, dan belajar untuk menjadi rendah seperti tanah itu sendiri."

Berita bahwa Keluarga Meng kini bersekutu dengan Lin Mo dan berhenti melarang Jalan Akar, menyebar seperti api kering. Tak hanya itu, keesokan harinya banyak orang yang datang mencarinya: Guru Yu, Kepala Sekolah, bahkan beberapa murid yang dulu sering menjauhinya—termasuk Zhang Hao.

Zhang Hao tampak sangat malu, tangannya mencengkeram ujung bajunya erat. "Lin Mo... aku minta maaf atas semua perbuatan bodohku dulu. Aku iri padamu, aku takut aku tertinggal, jadi aku malah menindasmu. Aku... aku juga ingin belajar. Aku tidak ingin lagi menjadi orang yang hanya mengandalkan bakat dan lupa berusaha dengan benar."

Lin Mo menepuk bahunya pelan. "Kesalahan adalah guru terbaik. Selama kau mau berubah, tidak ada yang terlambat."

Bersama-sama, mereka mulai melakukan hal yang belum pernah terjadi sebelumnya di wilayah ini:

- Menggunakan teknik penyerapan energi yang lembut, sehingga tanah tidak rusak.

- Mengajarkan murid akademi untuk tidak hanya mengejar kekuatan serangan, tapi juga memperkuat fondasi tubuh.

- Mengatur kembali penambangan batu dan kristal agar tidak merusak lapisan batuan dasar.

Setiap hari, Lin Mo membagi waktu: sebagian untuk melatih dirinya menuju tingkat Menyatu dengan Aliran, sebagian lagi untuk membimbing mereka yang mau belajar. Ia tidak menjadi guru yang kaku. Ia hanya berbagi apa yang ia pahami, dan membiarkan mereka menemukan cara yang paling pas bagi diri mereka sendiri—seperti akar yang tumbuh sesuai kondisi tanahnya masing-masing.

Kemajuan Lin Mo sendiri berjalan pesat. Dengan dukungan energi yang lebih seimbang di sekitar kota, dan dengan pemahaman yang semakin dalam tentang hakikat bumi, ia kini bisa merasakan aliran energi yang bergerak di dalam tanah: seperti urat nadi yang membawa kehidupan dari satu tempat ke tempat lain.

Suatu malam, saat ia sedang berlatih di dalam Hutan Batu Hitam, lencana akar di dadanya berdenyut kencang sekali. Ia menutup mata, menyebarkan kesadarannya sejauh mungkin, dan tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh: di sebelah timur, di wilayah pegunungan yang jauh, ada getaran yang sama persis dengan energi altar purba—namun terasa lemah dan kesakitan.

"Itu... jejak pengikut Jalan Akar yang lain?" bisiknya pelan.

Bersamaan dengan itu, gulungan kulit batu di sakunya terbuka sendiri, menunjuk ke arah timur. Ternyata ada kelompok sisa pengikut yang bersembunyi di sana, namun belakangan ini mereka terancam oleh kekuatan gelap yang ingin membasmi mereka sampai ke akar terakhir.

Lin Mo tahu ini saatnya melangkah lebih jauh. Ia sudah menanam akar kuat di sini, tapi ia tidak boleh berhenti di satu tempat saja. Ia harus pergi, menyambungkan kembali cabang-cabang pohon yang dulu terputus.

Keesokan paginya, ia menyampaikan rencananya kepada teman-teman barunya.

"Aku harus pergi ke timur," katanya. "Ada saudara seperjuangan yang membutuhkan bantuan. Kalian tetaplah di sini, rawatlah tanah ini, dan teruslah berlatih. Suatu hari nanti kita akan bertemu lagi."

"Kami ikut denganmu!" seru Zhang Hao segera. "Kami sudah cukup kuat untuk melindungi diri dan membantumu!"

Meng Chao juga mengangguk mantap. "Ayahku sudah mengizinkanku pergi. Aku ingin melihat dunia luar, dan membuktikan bahwa perubahan yang kita mulai di sini benar-benar bisa menyelamatkan banyak tempat lain."

Lin Mo tersenyum bahagia. Dulu ia berjalan sendirian, dianggap sampah di mana pun ia melangkah. Kini ia memiliki teman yang setia, sekutu yang tulus, dan tujuan yang jelas di depan mata.

Mereka berangkat keesokan harinya. Di balik mereka, Kota Batu Tengah perlahan mulai berubah—tanah yang dulu tandus mulai tumbuh rumput hijau, sumber energi menjadi lebih melimpah, dan orang-orang mulai hidup dengan lebih damai dan saling menghargai.

Di depan mereka terbentang perjalanan panjang menuju wilayah yang lebih luas, lebih berbahaya, namun juga menyimpan lebih banyak kebenaran. Lin Mo tahu: semakin jauh ia melangkah, semakin dalam akarnya harus menembus, dan semakin kokoh tekadnya harus berdiri tegak.

Karena pohon besar tidak tumbuh sendirian. Ia membawa hutan bersama dirinya.

 

1
Anime aikō-kā
Akar Yang Menembus Langit
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!