Gadis polos yang dunia nya hancur, saat kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tua nya, di saat paling rapuh ia jatuh kedalam pelukan pria berkuasa sekaligus pemimpin gelap
Bagis pria itu gadis kecil ini adalah hak mutlak , satu satu nya obsession yang tak pernah ia lepas kapan pun
"Kau milik ku gadis kecil, selama nya semua yang ada padamu itu milik ku tidak akan pernah menjadi milik orang lain, sayang, " ucap nya dengan penuh obsession
Gimana kah cerita nya ,dari pada penasaran kuy baca novel aku 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurfazilah Cell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Obsesif
Suasana di dalam kamar terasa hening lagi setelah langkah Aiden menghilang di balik pintu, tapi kehadirannya seolah masih terasa menggantung di udara. Alesha tetap terduduk di tempatnya, jari-jarinya meremas ujung baju tidurnya yang lembut, air matanya sudah berhenti menetes tapi dadanya terasa sesak. setiap ia mengambil keputusan, tak ada satu pun yang bisa mengubahnya, sekalipun itu dirinya sendiri hanya hukuman yang akan selalu Aiden layang kan
Tak sampai sepuluh menit, pintu terbuka lagi. Kali ini Aiden kembali masuk sambil membawa nampan berisi sarapan lengkap: roti bakar selai stroberi kesukaan Alesha, segelas susu hangat, dan sepiring buah potong yang dipotong rapi. Begitu melangkah mendekat, sorot matanya sudah kembali lembut seperti tidak ada pertengkaran sedikitpun terjadi. Seolah-olah sikap dingin dan tajam tadi hanyalah bayangan sesaat yang tak pernah nyata.
"Lihat, sayang, Aku siapkan semuanya yang kamu suka," ucapnya lembut, lalu meletakkan nampan di meja samping tempat tidur. Ia duduk di tepi kasur, lalu mengulurkan tangan untuk menyeka sisa jejak air mata di pipi Alesha dengan ibu jarinya yang hangat.
"Makanlah perlahan, jangan biarkan perutmu kosong. Aku tidak suka melihat wajah pucat seperti ini."
Alesha hanya menunduk, suaranya nyaris berbisik,
"Apakah aku selamanya hanya akan tinggal di dalam Mansion saja? Tidak melihat dunia luar selain lewat jendela ini?"
Sekali lagi, kalimat itu seolah memutar saklar dalam diri Aiden. Dalam sekejap, senyum samar di bibirnya lenyap, tatapannya kembali mengeras dan tajam, meski tangannya masih tetap berada di pipi gadis itu.
"Kita sudah bahas ini, bukan?" jawabnya pelan tapi tegas, tak ada nada marah meledak-ledak tapi bobot kata-katanya jauh lebih menekan.
"Kenapa gadis manis ku ini tak bisa paham dan selalu menguji kesabaran ku hmm ? Di luar sana itu bukan dunia indah yang kamu bayangkan. Ada pandangan orang yang tak sopan, ada omongan yang bisa melukai hatimu, ada godaan yang bisa membuat kamu lupa siapa yang paling menyayangimu. Sekolah? Itu hanya alasan agar kamu bisa lepas dari pengawasan Aku, bukan? , Gadis manisku ini tidak pernah melihat kejahatan dunia luar itu seperti apa, karena Dedy mu begitu menjaga Mu , ujar Aiden
Aiden mengangkat sedikit dagu Alesha agar mata mereka bertemu, suaranya makin dalam dan terasa menguasai.
"Dengarkan Aku baik-baik. Selama kamu di sini, di bawah atap ini, Aku berikan segalanya makanan terbaik, pakaian terindah, kenyamanan tanpa kurang satu apapun, Aku bahkan bisa datangkan guru privat kalau kamu benar-benar ingin belajar pelajaran apa saja, kapan saja, tanpa perlu melangkahkan kaki keluar gerbang Mansion ini, Itu jauh lebih aman, bukan?, ujar Aiden
Ia tak merasa bersalah sedikitpun menawarkan jalan tengah ini dengan syarat ketat itu. Baginya, ini adalah bentuk pengorbanan dan kasih sayang yang sempurna. Mengurangi kebebasan sedikit demi sedikit itu tak seberapa dibandingkan dengan risiko kehilangan orang yang menjadi pusat dunianya.
Alesha tertegun, matanya terbuka sedikit terkejut mendengar usulan itu.
"Guru... privat? taya Alesha
"Iya, jawab Aiden cepat, sorot matanya melunak lagi sedikit karena melihat reaksi itu, tapi tetap tegas di ujung kalimatnya.
"Tapi dengan satu syarat ,tidak ada lagi permintaan untuk bersekolah keluar Semua pelajaran berlangsung di ruang belajar khusus, dan Aku akan selalu ada di dekatnya atau mengawasi lewat kamera. Kalau kamu terima aturan ini, Aku setuju, Kalau tetap menolak dan ngotot ingin keluar, maka lupakan saja urusan belajar itu sama sekali, ujar Aiden tetap pada pendiriannya
Ia menarik tubuh Alesha mendekat sampai bersandar di dadanya, memeluknya erat namun tetap nyaman, lalu berbisik di telinganya dengan nada yang manis sekaligus penuh peringatan halus:
"Pilihlah dengan bijak, sayang.Aku memberikan opsi ini hanya karena tak ingin melihatmu terus bersedih. Tapi jangan salah sangka, keputusan akhir tetap ada di tangan Aku. Kamu ini milik Aku seutuhnya, dan cara terbaik untuk menjagamu adalah dengan memastikan dunia yang kamu kenal hanya berputar di sekeliling Aku saja. Mengerti, gadis manis ku? ujar Aiden
Alesha memejamkan matanya, mendengar detak jantung Aiden yang terasa tenang namun kuat. Ia sadar tak ada jalan lain yang lebih baik selain menerima syarat itu. Sekolah di luar rumah sudah tertutup rapat, tapi setidaknya pintu untuk belajar masih terbuka sedikit ,dikunci rapat dan dijaga ketat oleh sosok yang mengaku sangat menyayanginya itu.
Di luar jendela, sinar matahari makin terang menyinari jalan raya yang ramai, tapi bagi Alesha, dunia itu kini terasa makin jauh dan terpisah oleh tembok tinggi yang dibangun bukan oleh musuh, melainkan oleh seorang Aiden,yang bahkan Alesha tidak tau seorang Aiden itu siapa,ia haya kenal dengan nama nya saja tampa tau gimana kehidupan Aiden beserta dengan sifat nya, Alesha pun juga bingung dengan kehidupan nya sekarang yang arah nya pun kemana ,atas nama cinta yang tak pernah ia mengerti sepenuhnya.
"Baiklah kak Aiden , Alesha terima. Kalau boleh punya guru privat, Alesha akan belajar dengan rajin di sini saja, jawabnya dengan suara lembut,
Begitu mendengar jawaban itu, rahang Aiden yang tadinya tegang langsung mengendur. Tatapan tajamnya lenyap seketika, berganti dengan sorot lembut dan senyum puas yang tipis namun jelas terlihat. Seolah-olah ia baru saja memenangkan sesuatu yang sangat berharga.
"Bagus, gadis manis ku. Itu baru keputusan yang bijak," ucapnya lembut sambil mengusap punggung kepala Alesha dengan penuh kasih sayang.
"Aku akan pilihkan guru yang terbaik, berpendidikan tinggi, dan pastinya sudah diperiksa latar belakangnya sampai ke akar-akarnya. Tidak ada orang asing yang masuk ke sini tanpa izin dan pengawasan ketat dari Aku , ujar Aiden
Alesha hanya tersenyum kecil sebagai balasan, tapi matanya yang menatap ke arah jendela memperlihatkan hal lain yang tak terucap. Saat Aiden sibuk menyusun kembali nampan sarapan dan bercerita ringan tentang kapan guru itu akan datang, pikiran gadis itu melayang jauh. Di dalam hatinya ia terus berbisik pelan: Alesha terima ini dulu saja, tapi bukan berarti Alesha berhenti ingin pergi ke sekolah yang sesungguhnya. Suatu hari nanti, pasti ada cara supaya kak Aiden mengerti atau setidaknya membolehkan Alesha
"Kenapa melamun begitu, sayang? Sudah tak sabar mau mulai belajar?" tanya Aiden tiba-tiba, menarik kembali kesadaran Alesha. Matanya mengamati wajah gadis manis nya itu dengan teliti, seolah mencoba menembus apa yang ada di balik pikirannya.
Alesha terkejut sesaat, lalu buru-buru menggeleng dan tersenyum lebih lebar agar terlihat meyakinkan.
"Tidak Alesha haya memikirkan pelajaran apa saja yang akan dipelajari nanti saja, kak Aiden . Alesha ingin bisa pintar lagi
"Baguslah kalau begitu, jawab Aiden puas, lalu mencium keningnya sekilas.
"Ingat saja apa yang sudah kita sepakati. Selama kamu patuh dan tidak ada hal yang mencurigakan, semuanya berjalan lancar. Tapi kalau sampai Aku dengar atau lihat ada keinginan lain yang menyimpang kesempatan ini bisa hilang begitu saja, ucap Aiden
Nada bicaranya kembali mengeras sedikit di akhir kalimatnya sebagai peringatan halus, lalu segera berubah lembut lagi saat ia berjalan menuju pintu.
"Sekarang habiskan sarapanmu. Aku akan urus semuanya hari ini juga. ujar Aiden
Begitu pintu tertutup rapat kembali, senyum di wajah Alesha langsung luntur perlahan. Ia berjalan mendekat ke jendela, menempelkan telapak tangannya di kaca dingin itu, dan memandang ke jalan raya yang terlihat dari kejauhan. Di sana ia melihat sekelompok anak sekolah berjalan beriringan dengan tas punggung di punggungnya, tertawa dan bercanda tanpa beban.
Alesha menghela napas panjang, lalu berbalik kembali ke tempat tidur untuk menyelesaikan sarapannya ,menyimpan rapat-rapat keinginan sejatinya di dasar hati,
Bersambung
Thank you yang sudah baca cerita oyen😊