Demi melunasi utang keluarga dan menyelamatkan ayahnya dari kehancuran, Laras terpaksa menerima pernikahan yang dipaksakan—menjadi istri Arga Pratama, pewaris konglomerat yang dingin, angkuh, dan memandang pernikahan ini sekadar kewajiban bisnis semata. Tidak ada restu hati, tidak ada janji manis; hanya kesepakatan: hidup bersama, tapi tak perlu saling mencintai.
Awalnya, rumah tangga mereka bagai dua kutub yang bertabrakan. Arga bersikap dingin bagaikan es, sementara Laras berusaha menjaga harga diri di tengah cemoohan lingkungan dan tekanan keluarga besar. Namun seiring berjalannya waktu, di balik sikap kasarnya, Laras mulai melihat sisi lain Arga—rasa tanggung jawab, perlindungan diam-diam, dan luka masa lalunya yang tersembunyi. Sebaliknya, ketulusan serta ketabahan Laras perlahan mencairkan hati beku Arga.
Apa yang dimulai dari keterpaksaan dan permusuhan, perlahan berubah menjadi getaran rasa yang tak terduga. Ketika ancaman luar dan rahas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Jejak yang Menghilang
Hari berganti hari, namun tak ada kabar sedikit pun dari Daffa. Tempat pertemuan mereka, pasar, hingga rumah sakit tempat Sari dirawat sudah dikunjungi Laras satu per satu, namun hasilnya tetap sama—tidak ada yang tahu ke mana perginya kakak beradik itu.
Di rumah sakit, perawat yang biasa merawat Sari hanya memberikan selembar kertas yang terlipat rapi.
"Ini ditinggalkan khusus untukmu, Nona. Pemuda itu meminta agar diserahkan jika ada gadis bernama Laras yang datang menanyakan kabar mereka."
Tangan Laras gemetar saat menerima kertas itu. Begitu sampai di sudut taman yang sepi, ia segera membukanya perlahan. Tulisan tangan yang rapi namun terlihat sedikit tergesa tersusun di atasnya:
"Laras yang baik,
Maafkan aku karena pergi tanpa berpamitan. Bukan karena aku melupakan janji kita, atau karena aku takut menghadapi segala hal. Aku hanya sadar, saat ini aku belum memiliki apa-apa untuk bisa berdiri tegak di hadapan keluargamu dan meminta hak untuk menemanimu.
Dengar aku baik-baik: jangan kau paksakan hatimu demi menentang keputusan keluargamu. Terimalah semua itu dengan lapang dada, dan hiduplah dengan tenang. Namun ingatlah satu hal—aku tidak akan pernah menyerah. Aku akan pergi mencari jalan, berjuang hingga aku menjadi seseorang yang pantas berdiri di sampingmu.
Tunggulah aku. Suatu hari nanti aku pasti kembali.
Daffa."
Air mata Laras jatuh membasahi kertas itu. Ia akhirnya mengerti segalanya. Daffa tidak pergi karena melupakannya, melainkan pergi demi sebuah perjuangan yang jauh lebih besar. Meski begitu, rasa sepi dan kehilangan tetap terasa begitu berat menyelimuti hatinya.
Sementara itu, persiapan pertunangan semakin dipercepat oleh keluarganya. Rian pun sering datang berkunjung ke kediaman Pratama. Ia adalah pemuda yang sopan, tampan, dan berbicara dengan sangat halus—sesuai dengan apa yang diharapkan oleh semua orang. Namun bagi Laras, kehadirannya tidak pernah mampu mengisi ruang kosong yang ditinggalkan Daffa.
Suatu sore, saat mereka sedang duduk berdua di teras, Rian berbicara dengan nada lembut.
"Aku tahu mungkin perjodohan ini terasa tiba-tiba bagimu, Laras. Tapi aku berjanji akan berusaha sebaik mungkin membuatmu bahagia kelak. Katakanlah apa yang kau inginkan, aku akan berusaha memenuhinya."
Laras hanya tersenyum tipis tanpa rasa bahagia. "Terima kasih atas kebaikanmu, Rian. Namun hati manusia tidak bisa dipaksa untuk memilih, bukan?"
Rian terdiam sejenak, lalu mengangguk paham. "Aku mengerti. Aku tidak akan memaksamu untuk segera menerimaku. Aku akan menunggu sampai waktunya tiba."
Di sisi lain, jauh dari hiruk-pikuk kota tempat Laras berada, Daffa kini berada di sebuah pelabuhan besar. Ia telah diterima bekerja sebagai pekerja di kapal barang yang akan berlayar ke berbagai pulau. Pekerjaannya sangat berat dan jauh dari kenyamanan, namun ia tidak peduli. Yang terpenting baginya adalah ia bisa mengumpulkan uang serta mempelajari banyak hal baru demi membangun masa depan yang lebih baik.
Setiap kali rasa lelah hampir mengalahkannya, bayangan wajah Laras dan janji yang terucap di tepi sungai itu kembali terbayang di benaknya. Itulah yang menjadi kekuatan terbesarnya untuk terus melangkah maju tanpa pernah menoleh ke belakang.
Berbulan-bulan pun berlalu. Kabar tentang Daffa tetap tak kunjung terdengar. Namun Laras tidak pernah berhenti berdoa dan menanti. Ia menjalani hari-harinya dengan sabar, tetap menyelesaikan pendidikannya dan membantu kakeknya dalam berbagai kegiatan sosial, sambil menyimpan harapan yang tak pernah pudar di dalam hatinya.
Hingga suatu hari, sebuah kabar tak terduga datang dari arah yang tidak pernah disangka-sangka. Kabar itu perlahan mulai mengubah segala hal yang sudah disusun sedemikian rapi oleh takdir.
(Bersambung ke Bab 30) ✨