Desi adalah seorang guru di sebuah sekolah negeri, saat ini ia memiliki 3 orang anak. Si sulung bernama Bagas, adiknya Rafi dan si bungsu bernama Aqilla. Jarak umur mereka rata-rata 2 tahun. Kehidupan rumah tangga Desi awalnya baik-baik saja. Namun, kebutuhan ekonomi yang kian mendesak membuat suami Desi mencoba mencari pekerjaan di luar kota. Suami Desi bekerja di luar kota demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, siapa sangka ternyata Ridwan menikah lagi diam-diam tanpa sepengetahuan Desi. Akibatnya, Ridwan menjadi abai dengan nafkah untuk anak-anaknya. Bahkan seringkali tidak memberi nafkah sama sekali, sehingga Desi harus berjuang seorang diri untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Ya, anak-anaknya memiliki ayah tapi nasib mereka tak jauh berbeda dari anak yatim yang tidak memiliki ayah. Bahkan terkadang untuk makan pun Desi harus berhutang. Sungguh menyedihkan kehidupannya. Pernikahannya bagai tergantung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yayuk riyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Mulai Berbohong
Hari demi hari Desi lewati dengan perasaan yang selalu was-was. Takut jika tiba-tiba ada pengeluaran mendadak, sementara uang yang dia pegang terbatas. Desi berusaha untuk mengirit pengeluaran. Namun, entahlah Desi tidak yakin apakah sisa uang nya cukup untuk satu bulan kedepan.
"Mama, aku mau beli mainan tembak-tembakan boleh ya ? Itu abang nya ada di depan. " , pinta Bagas.
"Aku juga mau ma." , Rafi ikut-ikutan.
Desi tidak sampai hati melihat anaknya begitu semangat meminta mainan padahal hanya mainan murahan. Akhirnya, Desi membelikannya.
"Yang ini ma yang warna merah.", pinta Bagas.
"Aku yang biru ma.", Rafi menimpali.
"Iya sayang. Berapa ini bang harganya?" , tanya Desi.
"15 ribu bu satunya." , jawab si Abang penjual mainan.
"Saya beli yang merah sama yang biru ini bang." , ucap Desi.
"Iya bu, semuanya jadi 30 ribu. " , jawab si Abang penjual mainan.
"Ini uang nya bang. Makasih. " ,ucap Desi.
Setelah itu, Bagas dan Rafi bermain tembak-tembakan dengan riang nya.
Malam hari, seusai makan malam, anak-anak tidak lupa belajar. Desi menemani anak-anaknya belajar sedangkan Aqilla bermain bersama ayahnya. Setelah belajar, anak-anak disuruh tidur agar besok tidak kesiangan. Selesai menidurkan Aqilla, Desi mengambil kotak perhiasan yang dimiliki. Desi berencana menggadaikan gelang emasnya besok untuk tambahan uang belanja.
"Lho, gelangku kok nggak ada ya, dimana ya, perasaan disini saya simpan. " , ucap Desi lirih pada dirinya sendiri.
"Mas, lihat gelang yang di dalam kotak ini nggak? " , tanya Desi pada suaminya.
"O itu, beberapa hari yang lalu, mas pinjam, mas gadai buat bayar ganti rugi motor orang. Mas nabrak orang, motornya rusak, minta ganti rugi. " , jawab Ridwan tanpa rasa bersalah.
Desi kaget dengan jawaban Ridwan.
"Kok nggak bilang mas ? ", ucap Desi.
"Kalau bilang pasti nggak dikasih. Bilang salah nggak bilang salah. Cuma gelang begitu aja. Nanti juga diganti. " , jawab Ridwan sambil marah-marah.
"Bukan begitu mas, tapi itu mau digadai juga buat kebutuhan. Kan bulan ini mas ngasih uangnya berkurang. " , jawab Desi sambil menahan tangis.
"Ya udah gadai aja cincin itu. Nih surat gadainya. " , ucap Ridwan sambil melempar kertas bukti pegadaian.
Desi berusaha menahan tangis, kalau dia menangis yang ada suaminya bertambah marah, Desi sudah hapal tabiat suaminya.
'Tidak mungkin mas Ridwan akan ganti tebus gelangnya.' , batin Desi di dalam hati. Desi sudah tau kebiasaan suaminya yang selalu berbohong. Kata-kata yang diucapkan tidak sesuai dengan kenyataannya. Dan Ridwan selalu menyepelekannya. Seolah-olah Desi mudah sekali dibohongi. Desi hanya tidak ingin bertengkar dengan suaminya, makanya dia memilih mengalah untuk kebaikan.
Keesokkan hari, sepulang sekolah Desi tetap pergi ke pegadaian. Namun bukan gelang yang dia gadaikan, tapi cincin yang dia pakai. Desi terpaksa menggadaikannya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
"Bu Desi, ini perkiraan hanya dapat 1 juta, mau bu ? " , tanya petugas pegadaian.
"Iya nggak papa pak. " , jawab Desi.
Setelah selesai Desi pun segera pulang bersama Bagas.
Saat pulang ke rumah, seperti biasa anak-anak menyambutnya dan menanyakan mamanya bawa jajan apa. Desi pun tak lupa sudah membeli jajan di sekolah tadi.
"Darimana saja, kok baru pulang jam segini ? " , tanya Ridwan begitu Desi sampai di rumah.
"O dari pegadaian mas, habis gadai cincin. Buat tambahan uang belanja. Semalam kan mas sendiri yang nyuruh gadai cincin. " , jawab Desi.
"Baguslah kalau begitu, pinjam dulu seratus buat beli bensin." , pinta Ridwan.
"Tapi, mas kan sudah megang uang sendiri buat beli bensin dan rokok, bahkan lebih besar dari yang mas kasih. Mas sudah megang 3 juta. " , jawab Desi. Dalam hati tidak akan mungkin diganti walaupun suaminya bilang pinjam. Entahlah, Desi sudah jenuh sebenarnya dengan kebohongan-kebohongan yang Ridwan ucapkan.
"Pelit amat sih, cuma seratus aja. Emang berapa dapat? " , tanya balik Ridwan.
"Dapat 1 juta mas. " , jawab Desi.
"Nah, banyak kan dapat nya. Sini pinjam seratus nanti mas ganti bulan depan. Nggak ada bensin nie, nanti mogok di jalan. " , Ridwan tetap memaksa.
'Astagfirullah hal 'adzim' , ucap Desi dalam hati.
'Memang kemana saja uang nya yang 3 juta, tidak mungkin sudah habis jika hanya untuk membeli bensin dan rokok. Kalau makan, sudah dapat jatah makan dan di rumah juga sudah makan. Belum lagi uang hasil gadai gelang itu. ' , ucap Desi dalam hati.
Tidak mungkin Desi bertanya langsung, bisa-bisa habis dimarahin nanti. Desi jadi suudzon dengan suaminya. Walaupun akhirnya dia tetap memberikan uang yang Ridwan minta.
"Ini mas, jangan minta lagi ya, sisanya buat belanja sampai akhir bulan. " , ucap Desi.
"Iya iya bawel banget. Emang makan apa sih saya ? Sisanya masih banyak itu. Paling masak ikan teri juga. " , jawab Ridwan kesal.
Desi hanya bisa bersabar melihat tingkah suaminya. Seharusnya suaminya yang berusaha mencukupi kebutuhan keluarga dengan mengurangi rokok nya mungkin, tapi ini, entahlah buat apa Ridwan menghabiskan uang nya. Kadang muncul pikiran-pikiran buruk, apa mungkin suaminya punya wanita lain ? Setiap bulan jatah nya selalu dikurangi, Desi harus benar-benar berhemat.
Malam hari, sehabis maghrib Ridwan bersiap-siap berangkat kerja. Hr ini Ridwan kebagian shift malam. Kebetulan jarak tempat kerjanya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 3 kilometer. Tadi sebelum maghrib, Ridwan sudah makan. Sengaja supaya tidak terburu-buru. Habis solat maghrib, Ridwan langsung berangkat. Alhamdulillah, Ridwan masih mau melaksanakan solat maghrib, kalau solat yang lain tidak dikerjakan. Hanya solat maghrib yang selalu dikerjakan Ridwan. Sehari cuma sekali. Desi sudah seringkali mengingatkan, tapi sulit untuk berubah. Desi hanya bisa pasrah.
"Ma, berangkat dulu. Hati-hati di rumah jaga anak-anak. Jangan lupa kunci pintunya. " , ucap Ridwan mengingatkan.
"Iya mas, tenang aja. Hati-hati di jalan, jangan ngebut. " , balas Desi. Desi salim dengan suaminya, begitupun dengan anak-anak. Mereka semua salim dengan ayahnya.
"Iya, anak-anak, ayah berangkat dulu ya, Assalamu'alaikum. " , ucap Ridwan.
"Wa 'alaikumsalam. " , jawab Desi.
"Dadah ayah. " , ucap anak-anak serempak.
Setelah Ridwan berangkat, Desi segera menyuruh anak-anaknya untuk belajar. Sambil menemani anak-anak belajar, Desi juga mengajarkan Aqilla membaca. Setelah selesai belajar, Desi segera menyuruh anak-anak nya untuk tidur supaya tidak kesiangan besok.
Malam ini, Desi tidak bisa tidur. Dia kepikiran dengan suaminya. Akhir-akhir ini, sikapnya mulai berubah, dari mengurangi jatah bulanan nya juga kemarin menggadaikan gelang nya tidak bilang-bilang. Seringkali juga Ridwan telat pulang. Apa mungkin suaminya punya wanita lain di luar sana? Desi berusaha membuang jauh-jauh pikiran buruk itu.
'Tidak mungkin mas Ridwan begitu.' , pikir Desi.
'Sudahlah, lebih baik aku tidur saja. Besok pagi harus bangun pagi supaya tidak terlambat ke sekolah.' , ucap Desi pada dirinya sendiri.
Akhirnya, Desi pun memejamkan matanya berusaha untuk tidur.
pulang juga desi masih mau di tiduri ma laki nya pdhl laki nya gk peduli ma mereka kerja jauh krn punya gundik. desi tau tp masih mau berarti desi yg kecintaan ma lakinya. pdhl anak anak juga dia ngurus sendiri masih hrs kerja juga.
kl aku juga ogah jd desi.
kl Aku mnding cerai toh anak juga gk di nafkahi. cerai lbih jos bhgia walau tanpa suami.