bagaimana rasanya jika tubuh sendiri berada ditubuh orang lain, bahkan tau-tau sudah memiliki suami dan memperebutkan warisan dua ratus triliun?
Yuk ikuti kisah Warisan dua ratus triliun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lawa Amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
"Masuk," sahut Nadira, berusaha mengatur nadanya agar tidak pecah.
Arga mendorong daun pintu hingga membentur dinding. Suaminya itu tampak tinggi dan menakutkan di ambang pintu. Mengenakan kemeja setengah beres dengan dasi yang melilit kusut di lehernya. Wajah Arga merah padam karena amarah pagi itu.
Matanya menyapu isi kamar dengan tajam, mencari kesalahan yang bisa ia pakai sebagai alasan untuk berteriak.
Nadira menatap lantai, menundukkan kepala seolah-olah ia adalah istri yang patuh dan ketakutan.
"Kamu sengaja mengacaukan jadwal hari ini, ya?" Arga melangkah masuk. Aroma parfum
mahal dan kopi yang masam menyengat hidung Nadira. "Baju kerjaku tidak siap di
gantungan. Kamu tidur terus sampai lupa tanggung jawab? Dasar sampah."
Nadira menahan napas. Dalam benaknya, ia ingin menertawakan pria ini. Arga berpikir ia
masih berhadapan dengan wanita lemah yang selalu meminta maaf setiap kali disalahkan.
Namun, tubuh ini harus memainkan perannya sedikit lebih lama sampai warisan dua ratus
triliun itu resmi berpindah tangan.
Nadira mengangkat wajah, menarik sudut bibirnya membentuk senyum tipis yang kaku. Senyum itu terasa asing, seperti memakai topeng yang terlalu ketat di wajahnya.
"Maaf, Arga. Aku tidak enak badan," jawab Nadira pelan.
Suaranya sengaja dibuat serak dan lemah. Ia melangkah perlahan menuju lemari pakaian di sudut kamar, membelakangi Arga, agar pria itu tidak melihat kilatan dingin di matanya.
"Nanti aku setrika ulang bajumu. Atau, kalau tidak suka, aku bisa pergi sekarang juga."
Arga mendengus keras. Ia berjalan mendekat, langkah kakinya berat di atas karpet tebal.
Tangannya terulur, meraih dagu Nadira dan memaksanya menoleh hingga mereka
berhadapan sangat dekat.
Napas Arga membasahi wajah Nadira. Pria itu menatapnya curiga, seolah-olah sedang melihat hantu di mata istrinya sendiri. Perubahan sikap Nadira yang tiba-tiba pendiam dan tidak melawan ini membuat Arga merasa ada yang tidak beres.
"Kamu ini siapa sebenarnya?" bisik Arga, suaranya parau dan penuh ancaman. "Selama ini kamu selalu menjerit kalau aku sentuh. Sekarang kamu malah menatapku seperti orang bodoh yang kasihan."
Nadira menahan ludahnya. Jantungnya berpacu bukan karena takut, tapi karena adrenalin menahan amarah. Ia harus segera keluar dari ruangan ini sebelum Arga menyadari bahwa penghuninya sudah berganti.
Ia menepis tangan Arga dengan lembut, lalu melangkah menuju pintu kamar yang terbuka lebar. Nadira harus segera turun ke lantai bawah. Ia butuh waktu untuk memikirkan cara mengunci Arga keluar dari pencariannya, setidaknya sampai ia menemukan cara untuk mengklaim seluruh harta dalam waktu bersamaan.
Nadira mendorong pintu ruang makan dengan bahu karena kedua tangannya penuh
membawa piring berisi potongan buah segar. Arga sudah duduk di kursi favoritnya, siku
menekan meja, jari-jari sibuk menggesek layar ponsel dengan cepat.
Suara ketukan pelan dari permukaan meja terdengar seirama dengan detak jam dinding yang lambat. Ia meletakkan piring di atas meja dan duduk berhadapan langsung dengan pria itu.
Udara ruangan terasa dingin karena pendingin ruangan yang terlalu kencang, namun kening Arga tampak berkeringat. Pria itu bahkan tidak mengalihkan pandangannya untuk menyapa istrinya, seolah Nadira hanyalah bagian dari perabotan rumah tangga yang tidak perlu diperhatikan.
"Masakannya enak tidak malam ini," tanya Nadira, mencoba menyapa dengan nada suara yang dibuat sehangat mungkin.
Arga hanya mengangkat bahu tanpa menatapnya. "Hmm," jawabnya singkat.
Suaranya tertelan oleh bunyi notifikasi pesan masuk di ponselnya. Nadira menghela napas pelan. Ia meraih sendoknya dan mulai mengaduk sup di mangkuknya, suara gesekan logam dan porselen memecah kesunyian yang menyesakkan. Ia harus bersabar. Jika ia terlihat terlalu agresif atau kesal, pengawasan Arga akan beralih padanya, dan rencana mengamankan warisan dua ratus triliun itu bisa berantakan sebelum dimulai.
Tiba-tiba, ponsel Arga berdering nyaring. Pria itu langsung mengangkatnya dan berdiri,
berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke taman gelap.
Nadira mendengar potongan kata-kata kasar dan tertawaan pendek yang tidak wajar. Arga terdengar gelisah, jemarinya mengetuk-ngetuk kaca jendela dengan ritme yang tidak beraturan.
Nadira mencondongkan tubuh sedikit, berusaha menangkap percakapan itu tanpa terlihat mencurigakan. Matanya menangkap layar ponsel Arga yang tidak sengaja menyorot ke arahnya.
Ada sebuah nama yang ia kenal, sekutu lama keluarga yang seharusnya sudah tidak berhubungan lagi. Perut Nadira mual seketika. Jantungnya berdegup kencang saat menyadari Arga tidak hanya acuh, tapi sedang menyusun sesuatu di belakangnya.
Pria itu berbalik dan menatap Nadira dengan mata yang tiba-tiba tajam, seolah tahu ia sedang diperhatikan. Arga meletakkan ponselnya di meja dengan bunyi keras, lalu menyandarkan punggung sambil menatap tajam ke arah Nadira.
"Kamu mendengar sesuatu?"