Selama tiga tahun Keyra berkorban demi mendukung karier Arkan dari nol hingga sukses menjadi CEO. Namun setelah berada di puncak, Arkan justru mencampakkannya demi wanita kaya. Di tengah keterpurukannya, Keyra dipertemukan dengan Devan, konglomerat papan atas yang mengubahnya menjadi wanita bersinar tak tergapai. Saat Arkan menyadari berlian yang telah dibuangnya kini milik pria yang paling ditakutinya, penyesalan pun tiba. Apakah pintu maaf Keyra masih terbuka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni Denara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Genggaman Sang Pelindung
Acara lelang amal terus berlangsung meriah, namun bagi Arkan, ruangan megah itu mendadak terasa seperti penjara yang mencekik. Matanya tidak bisa berhenti mencuri pandang ke arah meja VVIP di barisan depan. Di sana, Keyra duduk dengan anggun di samping Devan Alister. Pria berkuasa itu sesekali menuangkan minuman ke gelas Keyra dengan gestur yang sangat protektif, membuat para pengusaha lain berbisik-bisik iri.
Rasa tidak terima membakar dada Arkan. ‘Bagaimana bisa dia naik kelas secepat itu? Pasti wanita itu menggunakan cara kotor untuk merayu Devan Alister!’ tuduh Arkan dalam hati, mencoba menenangkan egonya yang terluka parah.
Saat melihat Keyra berdiri dan berjalan pelan menuju arah koridor toilet yang agak sepi, Arkan langsung melepaskan gelayutan tangan Mentari.
"Sayang, aku ke toilet sebentar ya," pamit Arkan terburu-buru.
"Jangan lama-lama, Arkan," sahut Mentari manja tanpa curiga.
Arkan melangkah cepat, membuntuti Keyra ke koridor belakang yang bernuansa marmer sepi. Begitu Keyra keluar dari toilet wanita dan sedang mengeringkan tangannya di wastafel, Arkan langsung masuk dan berdiri di ambang pintu, menghalangi jalan keluar Keyra.
"Keyra!" panggil Arkan dengan nada menuntut.
Keyra membalikkan badannya dengan tenang. Melihat wajah Arkan yang tampak frustrasi dan dipenuhi amarah, tidak ada lagi rasa takut di mata Keyra. Ia hanya menatap mantan kekasihnya itu dengan pandangan dingin yang datar.
"Singkirkan tubuhmu dari jalanku. Kamu menghalangi jalan," ucap Keyra, suaranya terdengar begitu berkelas dan asing di telinga Arkan.
"Oh, jadi sekarang kamu sudah pintar bicara ketus? Setelah dapat sandaran kaya, kamu lupa siapa dirimu yang sebenarnya, hah?!" bentak Arkan pelan namun penuh penekanan. Ia melangkah maju, mempersempit jarak mereka. "Katakan padaku, Keyra! Cara kotor apa yang kamu pakai untuk merayu Tuan Besar Devan Alister dalam waktu dua hari? Kamu sengaja menjual dirimu untuk membalas dendam padaku, kan?!"
Mendengar tuduhan murahan itu, Keyra justru tersenyum sinis. Ia tidak mundur selangkah pun. "Menjual diri? Arkan, jaga tokomu jika berbicara. Tidak semua orang memiliki otak dangkal yang hanya memikirkan harta dan status seperti dirimu."
"Lalu apa?!" Arkan mencengkeram pergelangan tangan Keyra dengan kasar, emosinya tersulut karena merasa diremehkan oleh wanita yang dulu selalu tunduk padanya. "Dua hari lalu kamu hanya pelayan toko kue miskin yang menangis memohon cintaku! Jangan berpura-pura menjadi ratu di sini! Kamu tidak pantas berdiri di samping Devan Alister! Kamu hanya akan mempermalukannya begitu dia tahu masa lalumu yang menjijikkan!"
"Lepaskan tangannya."
Sebuah suara dingin yang sarat akan ancaman mematikan tiba-tiba menggema dari arah pintu koridor.
Arkan seketika membeku. Rasa dingin yang menjalar dari punggungnya membuat bulu kuduknya berdiri. Ia perlahan menoleh dan mendapati Devan Alister sudah berdiri di sana. Kedua tangan Devan dimasukkan ke dalam saku celana, namun tatapan matanya begitu tajam menembus manik mata Arkan, seolah siap mencabik-cabik pria itu hidup-hidup.
Dengan gerakan cepat yang dipenuhi rasa takut, Arkan langsung melepaskan cengkeramannya dari tangan Keyra. Tubuhnya gemetar samar saat Devan berjalan mendekat dengan langkah berat yang penuh intimidasi.
Devan tidak memandang Arkan sama sekali. Ia langsung meraih pergelangan tangan Keyra yang memerah akibat cengkeraman Arkan, mengusapnya dengan ibu jarinya secara lembut seolah sedang menenangkan barang berharga yang tergores.
"Siapa yang memberimu izin untuk menyentuh wanitaku dengan tangan kotormu itu?" tanya Devan, suaranya sangat tenang namun justru hal itu membuat auranya seribu kali lebih menakutkan. Devan kini mengalihkan pandangan elangnya lurus ke wajah Arkan yang sudah pucat pasi.
"T-Tuan Alister... Maafkan saya. Ini... ini hanya kesalahpahaman," gagap Arkan, seluruh kesombongannya sebagai CEO baru runtuh seketika di hadapan sang penguasa sesungguhnya. "Wanita ini... Keyra, dia dulu hanyalah—"
"Aku tidak peduli siapa dia di masa lalu," sela Devan mutlak, memotong ucapan Arkan tanpa ampun. "Yang aku tahu, saat ini dia adalah wanita yang berada di bawah perlindunganku. Menyentuhnya, berarti menantang Alister Group."
Devan melangkah satu kali lagi, membuat Arkan terpaksa mundur hingga punggungnya membentur dinding marmer. Devan menatap Arkan dari ketinggian dengan pandangan meremehkan yang sangat menghancurkan harga diri Arkan.
"Kudengar perusahan otomotif tempatmu bekerja sedang mengajukan proposal investasi sebesar lima puluh miliar ke perusahaanku?" Devan tersenyum sinis, sebuah senyuman yang membuat Arkan merasa dunianya baru saja kiamat. "Besok pagi, aku akan memastikan proposal itu dibakar di tempat sampah. Dan posisi CEO-mu? Mari kita lihat seberapa lama kamu bisa bertahan tanpa suntikan dana dariku."
"Tuan Alister, tolong jangan lakukan itu! Saya mohon!" Arkan panik setengah mati. Jabatan yang ia kejar dengan mengorbankan ketulusan Keyra kini berada di ambang kehancuran hanya karena satu kalimat dari Devan.
Devan tidak memedulikan permohonan itu. Ia berbalik, melingkarkan tangan kekarnya di pinggang ramping Keyra dengan posesif. "Ayo kita kembali ke aula, Sayang. Udara di sini terlalu kotor karena ada sampah."
Keyra mengangguk patuh. Sebelum melangkah pergi, ia sempat menoleh ke arah Arkan yang kini terduduk lemas di lantai koridor dengan wajah frustrasi yang dipenuhi penyesalan awal. Keyra tersenyum penuh kemenangan dalam hati. Ini baru permulaan, dan kehancuran Arkan yang sesungguhnya baru saja dimulai.