Hari harusnya menjadi hari bahagia tiba-tiba berubah menjadi hari duka. Pernikahan yang sudah berada di depan mata harus terkubur untuk selama-lamanya.
Tepat di hari pernikahannya Yudha mengalami sebuah kecelakaan dan tidak bisa terselamatkan. Namun, sebelum Yudha menghembuskan nafas terakhirnya dia berpesan kepada Huda, sang adik untuk menggantikan dirinya menikahi calon istrinya.
Huda yang terkenal playboy tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan berat hati dia pun menyanggupi permintaan terakhir sang kakak. Mampukah Huda menjadi pengganti kakaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teh ijo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikahi Calon Ipar ~ 14
Huda berjalan gontai menyusuri lorong kampus. Hatinya masih kesal dengan palang merah yang sedang menimpa istrinya. Gara-gara palang merah, Huda tidak bisa melakukan pelayarannya. Padahal Huda sendiri sudah terpancing dengan sebuah film yang ditontonnya.
"Argh .... sial! Kenapa juga mbak Husna pakai acara palang merah segala, sih? Kan jadi gagal total angan-angan gue!" gerutu Huda dengan kesal.
Namun, ditengah-tengah kekesalannya, ada sepasang sepatu yang menghadang langkahnya. Saat dilihat siapa pemilik sepatu itu, Huda langsung menelan kasar salivanya.
"Astaghfirullahaladzim ... Keisha," ujarnya dengan keterkejutan.
Ya, wanita yang saat ini sedang menghadang langkahnya adalah Keisha, salah satu pacar yang baru saja dia putuskan tadi malam.
"Kamu kenapa melotot kayak gitu? Kayak ngeliat hantu aja! Emang wajahku nyeremin?"
"Namanya orang kaget. Ya melototlah! Lagian kamu ngapain tiba-tiba muncul tiba-tiba kayak gitu?"
"Karena aku mau bicara sama kamu!" tegas Keisha.
Huda sudah bisa menebak jika Keisha ingin membahas masalah tadi malam. Sejujurnya Huda masih merasa kesal dengan Keisha yang sudah berani untuk menggambarnya. Padahal orang tuanya saja tidak pernah mencubitnya, apalagi menampar. Akan tetapi Keisha yang bukan siapa-siapa sudah berani untuk menamparnya.
"Kei, aku rasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, karena hubungan kita telah berakhir. Aku sudah punya istri, Kei!" Huda langsung menolak ajakan Keisha untuk berbicara.
Keisha yang tidak terima, terus tidak ingin menyerah begitu saja karena dia sangat mencintai Huda, sekalipun mereka mempunyai keyakinan yang berbeda.
"Gak, Hud! Sampai kapanpun aku enggak akan terima dengan keputusanmu! Aku enggak mau putus! Jika kamu menginginkan aku pindah keyakinan, aku rela, Hud! Tapi jangan akhiri hubungan ini! Aku sangat cinta sama kamu, Hud! Ya, meskipun aku tahu kamu itu adalah buaya darat, tapi aku udah ngerasa nyaman sama kamu, Hud. Please, tarik lagi ucapnmu tadi malam. Aku rela kok menjadi yang kedua." Keisha masih mengibah berharap Huda menarik ucapannya untuk mengakhiri hubungan mereka.
Huda hanya tersenyum kecil menatap wajah Keisha yang dulunya pernah dia puja. Namun, kejadian tadi malam membuatnya langsung melupakan semua rasa yang pernah dimilikinya. Huda yang tidak pernah mendapatkan kekerasan tiba-tiba harus ditampar oleh seorang wanita. Ya meskipun sebenarnya Huda memang pantas untuk mendapatkan tamparan itu tetapi, Huda tetap saja tidak terima.
"Sorry Kei, aku tidak bisa menerima keinginanmu, karena saat ini aku sudah membuang rasa cinta yang kumiliki padamu dengan alasan pertama, kamu sudah berani menampar aku di depan umum. Dan yang kedua saat ini aku sudah mempunyai seorang istri, jadi aku tidak bisa menjalin hubungan dengan wanita lain. Kei, tolong mengertilah jika hubungan kita sudah berakhir."
"Enggak, Hud! Aku tetap enggak terima! Aku enggak mau putus!" teriak Keisha.
Huda tak ingin berlama-lama untuk menanggapi Keisha. Tanpa peduli dengan perasaan Keisha, Huda pun memilih berlalu begitu saja dan terus mengabaikan panggilan Keisha.
"Huda .... ! Aku belum selesai berbicara!" teriak Keisha lagi.
Huda sama sekali tidak peduli, karena dia sudah berjanji pada dirinya sendiri ingin memutuskan satu persatu pacar yang dia miliki. Saat ini udah masih memutuskan dua orang pacarannya dan masih ada beberapa orang yang harus segera dia putuskan. Semua itu dilakukan demi perasaan pada Husna, istrinya.
Seperti inikah rasanya jatuh cinta pada istri sendiri? Ada debaran tak menentu yang susah diartikan saat sedang berduaan? Astaga Huda ... apa yang kamu pikirkan?
Huda tertawa sendiri ketika mengingat wajah istrinya yang terus-menerus terngiang-ngiang didalam kepalanya. Bahkan saat sosok mahasiswi yang bernama Ais melewati dirinya, dia hanya diam saja tanpa peduli. Padahal Ais lebih cantik daripada Keisha ataupun Miya. Namun, meskipun Ais terlihat sangat cantik tetapi tidak bisa mengalahkan kecantikan istrinya yang ada di rumah.
"Hud ... lo kesambet jin apa? Tumben senyum-senyum sendiri?" tanya Arul yag melihat Huda melamun sambil tertawa pelan. Huda yang merasa terkejut dengan pertanyaan Arul segera menetralkan dirinya
"Apaan sih, Rul! Ganggu imajinasi gue aja!" gerutu Huda.
"Pasti lagi berimajinasi tentang lo sama mbak Husna lagi naik kuda, Kan? Nyebut Hud! Ini masih pagi!"
"Suka-suka gue mau berimajinasi apa. Toh enggak ngerugiin lo, kan?"
Arul yang merasa sia-sia telah memberikan pernyataan hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Dah ah, serah lo aja!"
...***...
segala sesuatu memang harus dibiasakan kok
kak author beneran nih ditamatin,,,,,,,
astagfiruloh
torrr ini beneran tamat