Cuma niat periksa batu ginjal, si komandan dingin malah "salah dibuka celananya" oleh dokter magang sok berani.
Satu kalimat "saya tanggung jawab", dan Keisha resmi jadi istri kontrak Sang Komandan Meriam—pewaris konglomerat Prawira yang paling ditakuti.
Perjanjiannya: tidak boleh saling sentuh.
Kenyataannya: komandan berhati es itu **tak pernah tahan semalam pun**.
"Katanya kontrak, Pak?"
"Kontraknya," bisiknya sambil menariknya mendekat, "mulai malam ini kita tulis ulang."
Yang mereka kira dokter miskin, ternyata putri konglomerat Wijaya yang hilang.
Yang dikira pernikahan palsu, ternyata jerat paling manis.
**Nyonya Meriam sudah pulang—dan sang serigala tak akan melepasnya lagi.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13
Akad Nikah
Suara penghulu memenuhi ruang akad yang tenang.
Di balik kerudung putih, Keisha mendengar namanya disebut lengkap, diikuti nama Arya dan mahar yang telah disepakati. Seperangkat alat salat dan emas dua puluh gram tersusun di meja, jauh lebih nyata daripada angka dalam lampiran kontrak.
Dokumen KUA telah selesai diperiksa. Karena ayah biologis Keisha tidak diketahui dan ayah angkat tidak memenuhi syarat sebagai wali nasab, penetapan wali hakim telah dilakukan sesuai prosedur. Dua saksi duduk di sisi meja.
Tidak ada bagian yang palsu di mata hukum.
Hanya alasan kedua mempelai yang tidak diketahui orang lain.
Bu Sukma meremas jemari Keisha. "Masih bisa bilang kalau kamu tidak siap."
Keisha menarik napas. "Aku siap, Bu."
Di depan, Arya duduk berhadapan dengan wali hakim. Batik gelap membungkus bahunya, rambutnya tertata rapi, wajahnya serius tanpa jejak ejekan.
Penghulu memulai ijab.
Arya menjawab kabul dalam satu tarikan napas, menyebut nama Keisha dan mahar dengan suara mantap.
"Sah," jawab kedua saksi hampir bersamaan.
Ucapan syukur memenuhi ruangan.
Keisha menunduk. Dadanya terasa dipukul dari dalam.
Sah.
Satu kata mengubah Danendra Arya Prawira dari rekan kontrak menjadi suaminya secara agama dan hukum. Perjanjian mereka tetap dingin di dalam map notaris, tetapi ijab kabul barusan tidak terdengar dingin. Arya mengucapkannya seperti janji yang tidak boleh salah satu huruf pun goyah.
Ratna mengusap mata. Eyang Menur berbisik hamdalah berulang kali. Bu Sukma memeluk Keisha dan menangis tanpa suara.
"Seandainya Mama bisa lihat," bisik Keisha.
"Kita kirim foto ke kamar Mama," jawab Bu Sukma. "Kamu ceritakan semuanya di samping ranjang nanti."
Keisha mengangguk. Air matanya hampir jatuh, tetapi ia menahannya sampai prosesi penandatanganan selesai.
Buku nikah dan dokumen pencatatan diletakkan di meja. Keisha menandatangani di tempat yang ditunjukkan. Arya menandatangani sesudahnya. Ketika pena dikembalikan, jemari mereka bersentuhan.
Keisha segera menarik tangan.
Arya menatapnya sekilas. "Gugup?"
"Tangan saya dingin."
"Itu bukan jawaban."
"Kita sedang di depan penghulu. Jangan mulai mengganggu saya."
"Saya hanya bertanya."
Penghulu yang mendengar percakapan itu tersenyum. "Berdebat boleh, asal tetap saling menghormati."
"Insya Allah," jawab Arya.
Setelah doa pernikahan, Arya menyerahkan mahar secara simbolis. Keisha menerima kotak emas dan alat salat dengan kedua tangan.
"Ini milikmu sepenuhnya," katanya pelan. "Tidak masuk hitungan biaya kontrak."
"Saya tahu mahar hak istri."
"Saya memastikan Anda tidak mencatatnya sebagai utang."
Keisha menatapnya. "Terima kasih."
Kata itu terdengar terlalu kecil untuk sesuatu yang dibuat sangat khidmat.
Mereka melakukan sungkeman sederhana kepada Eyang Menur dan Ratna. Keisha kemudian mencium tangan Bu Sukma. Tidak ada kursi untuk Anindita, tetapi fotonya diletakkan dekat bunga putih, sama seperti saat lamaran.
Arya berhenti di depan foto itu. Ia menunduk sebentar.
"Saya akan memastikan Keisha bisa tetap menjenguk setiap saat," ucapnya, cukup pelan agar hanya Keisha dan Bu Sukma mendengar.
Kontrak memang memuat kalimat serupa. Namun mengucapkannya di depan foto Mama membuat janji itu terasa berbeda.
Bu Sukma kemudian menghubungi perawat jaga melalui panggilan video yang sudah diatur. Layar menampilkan Anindita di ranjang, rambutnya telah disisir dan selimutnya dirapikan. Tidak ada respons, hanya dada yang naik turun perlahan.
Keisha berlutut agar wajahnya sejajar dengan layar.
"Mama, hari ini Icha menikah." Suaranya patah. Ia mengangkat buku nikah dan kotak mahar. "Semuanya resmi. Icha tidak dijual kepada siapa pun. Icha memilih jalan ini sendiri."
Ratna menunduk mengusap mata. Eyang Menur memegang bahu Keisha.
Arya ikut berjongkok di sampingnya. Keisha tidak meminta, tetapi ia masuk ke bingkai kamera tanpa ragu.
"Bu Anin," katanya, "nama saya Arya. Mulai hari ini saya suami Keisha. Saya belum meminta restu langsung karena Ibu belum bisa menjawab, tapi saya akan menjaga hak Keisha untuk tetap berada di sisi Ibu."
Keisha menoleh. Arya menatap layar, bukan orang-orang yang mulai terharu di sekelilingnya.
"Saya tidak bisa berjanji membuat semua masalah selesai dalam sehari," lanjutnya. "Tapi tidak ada keputusan tentang perawatan Ibu yang akan dibiarkan lewat tanpa diperiksa."
Monitor di layar tetap berbunyi dengan irama yang sama. Meski begitu, Keisha merasa jemari Mama yang jauh itu seolah masih menggenggam tangannya seperti saat pertama masuk sekolah.
"Terima kasih, Mas Arya," bisiknya.
Sapaan itu keluar tanpa latihan.
Arya menoleh perlahan. Sesuatu melintas di matanya sebelum ia menjawab, "Sama-sama."
Panggilan berakhir setelah perawat memastikan Anindita tetap stabil. Keisha mengusap air mata, lalu berdiri dengan bantuan tangan Eyang.
Seorang laki-laki tinggi berbatik abu-abu datang terlambat saat sesi ucapan selamat. Langkahnya cepat, bahunya tegak, dan caranya berhenti di depan Arya tampak terlalu rapi untuk sekadar teman lama.
"Maaf terlambat," katanya. "Ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan."
Arya menjabat tangannya. "Kamu tetap datang."
Pria itu menatap Keisha dengan rasa ingin tahu terang-terangan. "Jadi ini dokter yang berhasil membuat dia menikah?"
"Keisha, ini Reza," kata Arya. "Teman kerja."
"Kapten Reza Pradipta," pria itu memperkenalkan diri, lalu cepat menambahkan, "Tapi panggil Reza saja."
Kapten.
Keisha menyimpan kata itu, tetapi tidak sempat bertanya karena Reza sudah menepuk bahu Arya.
"Saya masih tidak percaya. Orang yang paling susah didekati akhirnya duduk di depan penghulu. Anak-anak pasti gempar kalau tahu."
"Jaga mulutmu," kata Arya.
"Tenang. Saya datang sebagai warga sipil yang sopan."
"Kamu tidak pernah sopan."
Reza tertawa. Keisha melihat keduanya memiliki bahasa yang hanya dipahami orang-orang yang pernah bekerja lama bersama. Arya yang biasanya beku tampak sedikit lebih manusiawi di sebelahnya.
Sesi foto dimulai. Ratna mengatur posisi. Eyang Menur berdiri di depan, Bu Sukma di sisi Keisha, sementara Reza diminta masuk ke baris belakang.
"Dekat sedikit," perintah Ratna kepada pengantin.
Arya berdiri di samping Keisha. Bahu mereka bersentuhan. Keisha menahan napas, sadar untuk pertama kali bahwa setelah hari ini kedekatan seperti itu akan dianggap wajar oleh semua orang.
"Senyum," kata fotografer.
Arya menunduk sedikit. "Kalau Anda terlihat ingin kabur, Bunda akan mengulang foto sepuluh kali."
"Berhenti memanggil saya Anda. Kita baru menikah."
"Lalu saya harus memanggil apa?"
Keisha berbisik, "Nanti saja."
Kamera berkedip.
Reza mengangkat dua jempol. "Selamat, ya, Ndan Meriam..."
Kalimatnya berhenti. Ia menutup mulut sendiri ketika tatapan Arya menyambar.
Keisha menoleh. "Meriam?"
"Nama panggilan bodoh," jawab Arya tenang.
"Siapa yang memanggil Anda begitu?"
Arya mengambil buku nikah dari meja dan memberi isyarat agar Keisha berjalan bersamanya. "Kita terlambat untuk doa keluarga berikutnya."
Ia tidak menjawab.
Keisha mengikuti sambil memegang buku nikah di dada. Mulai hari itu, mungkin ia harus memanggil laki-laki penuh rahasia itu Mas Arya.
Namun satu kata lain sudah lebih dulu menempel di kepalanya.
Meriam.