NovelToon NovelToon
Liontin Dewi: Jalan Sang Raja Obat

Liontin Dewi: Jalan Sang Raja Obat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Rizky Pratama adalah lambang kegagalan; hidup miskin, sering dipecat, dan selalu sial, sampai sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Namun, maut justru membawakannya keajaiban berupa Liontin Dewi yang menyatu dengan tubuhnya, memulihkan lukanya secara instan dan melambungkan kecerdasannya di atas rata-rata manusia. Lebih gila lagi, liontin itu memberinya kemampuan mengendalikan tanaman, dari mempercepat pertumbuhan, menemukan herba langka, hingga menciptakan varietas obat ajaib yang belum pernah ada sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

BEEP BEEP BEEP.

​Suara mesin monitor jantung terdengar berirama dan konstan memecah kesunyian ruangan.

​Rizky perlahan membuka kelopak matanya yang terasa sangat berat bagai ditimpa batu.

​Cahaya lampu neon putih di langit-langit langsung menusuk pandangannya.

​Hal itu membuatnya secara refleks menyipitkan mata untuk beradaptasi.

​"Di mana aku sekarang?" gumam Rizky dengan suara serak dan parau.

​Tenggorokannya terasa sangat kering seperti padang pasir yang dilanda kemarau panjang.

​Rizky mencoba menggerakkan jari-jari tangannya secara perlahan.

​Dia terkejut karena sama sekali tidak merasakan rasa sakit yang diantisipasinya.

​"Bukannya semalam aku ditabrak mobil sport itu?" batin Rizky kebingungan.

​Dia ingat betul tubuhnya terpental tinggi dan menghantam aspal jalanan dengan sangat keras.

​Seharusnya saat ini seluruh tulang di tubuhnya hancur berantakan.

​CKLEK.

​Suara gagang pintu diputar terdengar jelas dari arah pintu masuk.

​Seorang perawat wanita berseragam putih masuk sambil membawa nampan berisi obat-obatan.

​Perawat itu melangkah masuk tanpa menatap ke arah ranjang tempat Rizky berada.

​"Waktunya ganti infus ya, Pak," kata perawat itu sambil sibuk melihat catatan medis di tangannya.

​Rizky langsung mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk bersila di atas ranjang.

​"Suster, ini rumah sakit mana ya?" tanya Rizky dengan nada suara santai.

​Perawat itu spontan mengangkat kepalanya dan matanya langsung membelalak lebar.

​"Astaga Tuhan!" teriak perawat itu dengan nada histeris.

​PRANG.

​Nampan besi beserta botol obat di tangannya jatuh berserakan ke lantai saking terkejutnya.

​"Dokter Herman! Dokter Herman cepat ke sini!" teriak perawat itu sambil berlari ketakutan keluar ruangan.

​Rizky hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat tingkah heboh perawat barusan.

​"Memangnya ada yang aneh kalau pasien bangun dari tidurnya?" keluh Rizky pada dirinya sendiri.

​Dia menyingkap selimut rumah sakit tebal yang menutupi separuh badannya.

​Rizky menunduk dan melihat tubuhnya kini mengenakan pakaian pasien berwarna biru muda.

​Anehnya tidak ada satu pun perban, gips, atau jahitan yang menempel di tubuhnya.

​Hanya ada beberapa kabel sensor pendeteksi detak jantung yang tertempel di dadanya.

​"Ini sangat tidak masuk akal," ucap Rizky sambil mencabut kabel-kabel itu dengan mudah.

​Dia lalu menurunkan kakinya dari tepi ranjang dan memijak lantai keramik yang dingin.

​Rizky berdiri tegak lalu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.

​"Tubuhku malah terasa jauh lebih bugar dari sebelumnya," gumamnya takjub.

​Bahkan rasa pegal kronis di punggung bawahnya akibat bekerja kasar bertahun-tahun kini hilang total.

​TAP TAP TAP.

​Terdengar suara langkah kaki terburu-buru dari lorong luar yang mendekati ruangannya.

​Seorang pria paruh baya memakai kacamata dan jas putih dokter masuk bersama perawat tadi.

​Pria itu adalah Dokter Herman yang menangani Rizky di ruang gawat darurat semalam.

​Dokter Herman menatap Rizky dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan rahang setengah terbuka.

​"Ini... ini sungguh mustahil dan di luar nalar medis manusia," ucap Dokter Herman terbata-bata.

​Rizky memiringkan kepalanya menatap bingung ke arah rombongan dokter tersebut.

​"Maaf Dok, tapi apa saya ini sebenarnya punya penyakit parah yang menular?" tanya Rizky jujur.

​Dokter Herman maju beberapa langkah dan langsung memegang kedua bahu Rizky dengan erat.

​"Anak muda, tahukah kamu bagaimana kondisi hancurmu saat dibawa ambulans semalam?" tanya sang dokter dengan nada bergetar.

​Rizky menggelengkan kepalanya pelan karena dia memang langsung kehilangan kesadaran sesaat setelah kecelakaan.

​"Tulang rusuk kananmu patah lima bagian, tengkorak retak, dan terjadi pendarahan organ dalam yang masif," jelas Dokter Herman serius.

​"Kami para tim medis bahkan sudah berdiskusi untuk mencatat waktu kematianmu."

​Rizky menelan ludahnya dengan susah payah mendengar betapa mengerikannya kondisi tubuhnya semalam.

​"Tapi Dok, buktinya saya merasa sehat bugar seperti siap ikut lari maraton hari ini," balas Rizky sambil tersenyum canggung.

​Dokter Herman langsung mengeluarkan stetoskop dari saku jasnya tanpa membuang waktu.

​Dia menempelkan ujung stetoskop itu ke dada lalu berpindah ke punggung Rizky bergantian.

​"Coba tarik napas dalam-dalam lalu hembuskan," perintah Dokter Herman menginstruksikan.

​Rizky menuruti instruksi medis itu tanpa kendala sedikit pun.

​Setengah jam berikutnya dihabiskan dengan berbagai tes fisik dan cek refleks saraf yang dipandu oleh dokter.

​"Detak jantung stabil, tekanan darah sempurna, dan respon motorik seratus persen prima," gumam Dokter Herman sambil mencatat di papan jalannya.

​"Sepertinya alat CT Scan dan rontgen rumah sakit kita benar-benar rusak parah semalam, Suster."

​Perawat di sebelahnya hanya bisa mengangguk pasrah karena tidak tahu harus memberikan tanggapan apa.

​Rizky hanya diam duduk mendengarkan percakapan mereka dari atas pinggiran ranjang.

​Tiba-tiba Rizky merasakan ada sesuatu yang sangat berbeda bergejolak di dalam kepalanya.

​Pikirannya mendadak terasa sangat jernih dan tajam, sejernih air mata air pegunungan yang belum tersentuh.

​Matanya tanpa sengaja menatap fokus pada papan nama kecil yang tersemat di jas dokter tersebut.

​"Dr. Herman Susanto, Spesialis Bedah Umum, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 1998," ucap Rizky memecah keheningan.

​Dokter Herman langsung menoleh ke arah Rizky dengan dahi berkerut tajam.

​"Bagaimana kamu bisa tahu dari universitas mana saya lulus?" tanya Dokter Herman sangat keheranan.

​"Tulisan di papan namaku ini sangat kecil dan hanya mencantumkan nama beserta gelar, bukan detail tahun kelulusan."

​Rizky sendiri juga melotot terkejut dengan apa yang baru saja meluncur mulus dari mulutnya.

​"Tunggu, saya juga tidak tahu pasti dari mana saya tiba-tiba mengetahui informasi itu," jawab Rizky kebingungan sendiri.

​Matanya lalu beralih menyapu ruangan dan menatap tumpukan berkas rekam medis di meja perawat di sudut seberang.

​Jarak meja itu membentang sekitar enam meter dari tempatnya duduk santai sekarang.

​Ajaibnya Rizky bisa membaca tulisan tangan dokter yang terkenal super acak-acakan itu dengan sangat jelas tanpa rabun sedikit pun.

​"Pasien kamar 304 atas nama Bapak Budi, memiliki diagnosis gagal ginjal kronis stadium empat," baca Rizky dengan artikulasi lantang.

​"Tindakan medis darurat yang diperlukan adalah cuci darah atau hemodialisis minimal dua kali dalam seminggu."

​Dokter Herman dan perawat itu saling bertatapan kaku dengan wajah pucat pasi seperti melihat hantu.

​"Kamu benar-benar bisa membaca isi rekam medis rahasia itu dari jarak sejauh ini?" tanya perawat itu dengan bibir gemetar.

​"Bukan cuma sekadar bisa membaca Suster, rasanya saya juga langsung mengerti semua istilah medis yang rumit itu," jawab Rizky sambil memijat pelipisnya.

1
Abady Ehm
cerita sampah, seharusnya dia obati dulu ibunya yg sakit2an, habis beli lahan, carilah pekerja untuk dibersihkan dan dipagar keliling, lalu dibuatkan pondok untuk preman penjaga lahan tuh, jgn ngsal gitu ceritanya, baru bab 11 udah bosan bacanya,.....
Nissa Safira: Terima kasih atas kritiknya kak😅
Saya paham concern-nya soal ibu Rizky dan pengelolaan lahan.
Semua itu sengaja belum dieksekusi sekarang karena ada konflik dan konsekuensi yang mau saya bangun di bab-bab selanjutnya.
Kalau Rizky langsung "sempurna" dari awal, cerita dan pertumbuhannya jadi kurang greget.
Mohon bersabar ya, saya janji bakal dijawab semua di bab bab berikutnya 🙏😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!