Xian Yue tewas setelah bertahun-tahun menjadi seorang penyintas di dunia Distopia.
Tapi, bukannya bangkit di alam kubur dan menerima semangkuk sup reinkarnasi dari Meng Po, Xian Yue justru terlempar ke tanah antah berantah.
Dalam perjalanan menuju rumah mertuanya, Xian Yue tak tau tubuh yang dimasukinya ternyata sudah dijual sebagai menantu yang menumpang, pada keluarga miskin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15 Tamu dari Bukit
Pagi datang bersama kabut tipis. Embun bahkan masih menempel di daun-daun ketika Lian Yue membuka pintu belakang rumah.
Hal pertama yang dilakukannya bukan mengambil air, bukan pula menyiapkan sarapan. Melainkan berjalan menuju kebun kecil di belakang rumah. Sebuah rutinitas yang konsisten dia lakukan.
Langkahnya lalu berhenti di depan petak tanah yang ditanami kedelai. Kecambah yang kemarin hanya sebesar ujung jari kini sudah sedikit lebih tinggi. Dua daun kecil terbuka di atas batang hijau yang rapuh.
Lian Yue berjongkok dan menatapnya cukup lama.
"Bagus." Suaranya sangat pelan. Seolah takut suara yang terlalu keras akan membuat tanaman kecil itu kembali bersembunyi di dalam tanah.
Dari atas pagar, seekor burung pipit segera menyahut. ["Dia bangun!"]
Lian Yue mendongak. "Aku sudah bangun sejak tadi."
["Bukan kau."] Burung itu menunjuk menggunakan paruhnya ke arah kecambah. ["Anak tanah itu."]
Lian Yue menahan senyum. "Kalau begitu, jangan mengganggunya."
["Kami tidak mengganggu."]
["Kami hanya melihat."]
Tiga ekor burung lainnya segera ikut turun. Mereka mengelilingi petak kecil itu dengan rasa penasaran.
["Kemarin cuma satu."]
["Sekarang ada banyak!"]
["Manusia ini membuat tanaman tumbuh cepat."]
Lian Yue langsung mengangkat telunjuk. "Pelankan suara kalian."
Para burung mendadak diam. Lalu salah satu dari mereka berbisik, ["Manusia ini takut ketahuan."]
Lian Yue menghela napas. "Benar."
Ia kembali menatap tanaman kecil tersebut. Bukan karena takut orang lain mengetahui ia memiliki kemampuan. Ia hanya tidak ingin semua orang mulai mengandalkannya.
Kalau warga desa mengetahui bahwa ia mampu membuat tanah kembali subur dengan sentuhan tangannya, maka kehidupan sederhana yang baru saja ia bangun akan berakhir.
Orang-orang akan datang. Pasti ada yang meminta, entah dengan memaksa atau meratap. Pasti ada pula yang mungkin mencoba mengambil keuntungan.
Lian Yue tidak ingin itu terjadi. Karena itu...
Kemampuan tersebut harus menjadi rahasia.
.
.
Setelah sarapan, Han Zheng pergi ke ladang utama. Hari itu ia membawa cangkul dan beberapa ikat jerami kering.
Lian Yue mengikutinya. "Aku ingin membuat batas kecil di antara petak tanah."
Han Zheng menatapnya bingung. "Untuk apa?"
"Supaya air tidak langsung mengalir keluar saat hujan."
Han Zheng melihat ladang mereka. Memang selama ini air hujan sering mengalir begitu saja menuju bagian bawah bukit.
Tanah bagian atas justru cepat kering.
"Kalau begitu kita buat bersama saja." Keduanya lalu mulai bekerja.
Han Zheng menggali parit kecil dan Lian Yue menyusun tanah yang digali menjadi gundukan rendah.
Pekerjaan itu sederhana. Namun membutuhkan waktu. Hingga tak terasa matahari perlahan naik, membuat keringat mulai membasahi dahi Han Zheng.
Ia mengusapnya menggunakan lengan baju. "Kalau begini terus, kita benar-benar harus mengubah seluruh ladang."
Lian Yue mengangguk. "Jangan sekaligus."
"Kenapa?"
"Karena kalau kita mengubah semuanya sekaligus dan hasilnya gagal, kita tidak tahu bagian mana yang salah."
Han Zheng terdiam. Kemudian tertawa kecil. "Kau benar-benar suka mencoba sesuatu sedikit demi sedikit."
Lian Yue tersenyum. "Karena hidup kita tidak punya cukup uang untuk mencoba dua kali."
Han Zheng terdiam tapi tak lama kemudian tertawa lagi, "Kalimatmu kadang terdengar kejam."
"Karena memang kenyataannya begitu."
Keduanya saling memandang. Lalu tertawa kecil bersama. Sebuah pemandangan harmonis yang sangat manis.
.
.
Menjelang siang, sesuatu yang tidak mereka duga terjadi. Suara roda gerobak terdengar dari jalan utama desa.
Kuda meringkik. Dan beberapa anak kecil berlari menuju jalan.
"Orang kota!"
"Orang kota datang!" Seru meraka dengan heboh.
Lian Yue mengangkat kepala dan Han Zheng juga menghentikan pekerjaannya. "Jarang sekali ada orang dari kota datang ke Qinghe."
Mereka berdiri di pinggir ladang. Sebuah gerobak kayu memasuki desa. Gerobak itu tidak besar. Namun berbeda dari gerobak milik petani biasa.
Kayunya kuat. Roda besinya masih baru. Di bagian belakang terdapat beberapa peti dan karung. Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun duduk di depan sambil memegang kendali.
Pakaiannya sederhana dan jauh dari kata mewah. Namun kainnya jelas berkualitas lebih baik dibanding pakaian warga desa. Di sampingnya duduk seorang pemuda membawa buku catatan. Gerobak itu berhenti tepat di depan rumah kepala desa.
Warga mulai berdatangan. Tapi berbeda dengan Lian Yue yang tidak ikut mendekat. Ia justru hanya memperhatikan dari kejauhan. Entah mengapa, bulu kuduknya sedikit meremang.
Dari atas pohon, burung gagak terbang turun.
["Orang asing."]
Lian Yue menatapnya dengan heran, "Apa?"
["Bukan orang desa."]
"Aku tahu."
Gagak itu menggeleng. ["Bukan itu."]
["Dia membawa bau kota."]
["Dan bau besi."]
Lian Yue mengernyit. "Besi?"
Gagak itu mengepakkan sayap. ["Aku tidak suka baunya."]
Sebelum Lian Yue sempat bertanya lagi, burung itu terbang menjauh.
.
.
Tak lama kemudian, kabar mulai menyebar. Pria yang datang itu bernama Qiao Ren. Seorang pedagang dari kota dan dia datang untuk membeli hasil bumi dan hasil hutan dari beberapa desa di sekitar pegunungan.
Mendengar hal itu, mata warga langsung berbinar. Terutama mereka yang sedang kesulitan membayar pajak.
Kalau hasil panen mereka bisa dijual dengan harga lebih tinggi, beban musim gugur mungkin sedikit berkurang.
Han Zheng juga tertarik. "Kalau benar dia membeli hasil hutan, kita bisa menjual jamur kering."
Lian Yue mengangguk. "Jangan menjual semuanya."
Han Zheng menoleh. "Kenapa?"
"Simpan sebagian."
"Untuk musim dingin?"
"Untuk berjaga-jaga."
Han Zheng tersenyum. "Kau selalu memikirkan hari berikutnya."
Lian Yue menatapnya. "Karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok."
Dan saat sore hari, keluarga Han membawa beberapa hasil hutan ke rumah kepala desa. Jamur kering, tanaman obat dan beberapa ikat sayuran liar.
Qiao Ren memeriksa semuanya satu per satu. Ketika melihat jamur kering, matanya langsung berbinar.
"Siapa yang mengeringkannya?"
Han Zheng menunjuk Lian Yue. "Istriku."
Qiao Ren memandang Lian Yue. Tatapannya membuat Lian Yue merasa sedikit tidak nyaman.
"Metode pengeringannya bagus." Ia mengambil satu jamur. "Warnanya masih cukup baik. Tidak terlalu banyak kehilangan bentuk."
Lian Yue hanya tersenyum. "Kebetulan."
Qiao Ren tertawa. "Orang yang mengatakan 'kebetulan' biasanya justru tahu apa yang sedang mereka lakukan."
Lian Yue tidak menjawab. Ia tetap tenang. Qiao Ren kemudian menawar harga dan jumlahnya cukup baik. Bahkan sedikit lebih tinggi daripada harga pasar desa.
Han Zheng hampir langsung setuju. Namun Lian Yue mengangkat tangan.
"Tunggu."
Han Zheng menoleh. Lian Yue mengambil beberapa jamur dari keranjang. "Yang ini tidak dijual."
Qiao Ren mengangkat alis. "Kenapa?"
"Jamur ini masih bisa menjadi bibit untuk tumbuh lagi."
Qiao Ren tertawa kecil. "Kau bahkan memikirkan itu?"
Lian Yue mengangguk. "Kalau semua dijual hari ini, kita harus kembali ke hutan untuk mencari lagi."
"Kalau sebagian dibiarkan..."
"Besok kita mungkin tidak perlu mencarinya."
Qiao Ren terdiam. Kemudian tersenyum. "Menarik."
Beruntung pria itu ridak memaksa, dan sebuah kesepakatan akhirnya terjadi. Keluarga Han mendapatkan uang yang cukup untuk membeli beberapa kebutuhan pokok.
Namun sebelum mereka pergi, Qiao Ren memanggil Lian Yue. "Nona Han."
Lian Yue berhenti. "Ya?"
"Apakah kau tahu tanaman obat?"
Lian Yue berpikir sejenak. "Sedikit."
"Aku sedang mencari seseorang yang bisa mengenali tanaman di sekitar pegunungan."
"Aku mungkin bisa membantu."
Qiao Ren tersenyum. "Kalau begitu, mungkin kita akan bertemu lagi."
Lian Yue membalas senyum tipis. Namun dalam hati, ia tidak merasa senang. Justru sebaliknya. Ia merasa pria itu terlalu memperhatikannya, dan itu meninggalkan perasaan tidak nyaman untuknya.
.
.
Setelah makan malam, Han Zheng menghitung uang hasil penjualan. Di sisinya, Nyonya Han tampak tersenyum.
"Kalau begini terus, kita bisa membeli lebih banyak benih."
Tuan Han mengangguk. "Dan mungkin memperbaiki atap sebelum musim dingin."
Suasana rumah terasa jauh lebih ringan. Lian Yue hanya tersenyum sambil mendengarkan. Namun ketika semua orang tidur, ia keluar ke halaman. Kebun kecil di belakang rumah kembali ia periksa.
Kecambah kedelai masih berdiri. Ia lalu berjongkok.
"Besok kita lihat lagi."
Tiba-tiba terdengar suara kepakan sayap. Seekor burung hantu turun ke pagar. ["Dia kembali."]
Lian Yue langsung mengangkat kepala. "Siapa?"
["Orang asing."]
"Qiao Ren?" tanya Lian Yue.
Burung hantu menggeleng. ["Bukan. Yang ini datang dari hutan."]
Lian Yue berdiri. "Apa yang dia lakukan?"
Burung hantu menatap ke arah bukit. ["Dia mencari sesuatu."]
"Di mana?"
["Bukit timur."]
Jantung Lian Yue berdegup sedikit lebih cepat. Bukit timur. Tempat pertama yang membawanya pada keberuntungan keluarga Han.
Tempat mata air. Tempat kelinci. Tempat hewan-hewan mulai mengenalnya.
Dan sekarang, ada seseorang yang mencari sesuatu di sana.
"Apa yang dia cari?"
Burung hantu terdiam cukup lama. Kemudian menjawab, ["Batu merah."]
Lian Yue mengerutkan kening bingung dan tak mengerti maksudnya, "Batu merah?"
["Benda itu berbau aneh."]
["Bau yang membuat hewan menjauh."]
Lian Yue menatap ke arah bukit timur. Ia belum pernah mendengar tentang batu merah. Namun jika hewan-hewan sampai takut mendekatinya, kemungkinan benda itu bukan batu biasa.
Belum sempat ia bertanya lebih jauh, burung hantu mengepakkan sayap. ["Aku harus pergi."]
["Ada sesuatu bergerak di sana."] Lalu burung itu menghilang dalam kegelapan.
Lian Yue tetap berdiri di halaman. Pandangannya tertuju ke arah bukit. Selama ini ia mengira hutan hanya menyimpan makanan. Ternyata mungkin ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang belum pernah ditemukan keluarga Han.
Sesuatu yang membuat orang luar datang diam-diam. Namun Lian Yue tidak berniat buru-buru mencarinya.
Ia telah belajar satu hal dari dunia sebelumnya. Harta yang terlalu mudah ditemukan...
Sering kali membawa masalah yang jauh lebih besar daripada manfaatnya.
.
.
Keesokan paginya, sebuah kabar mengejutkan menyebar ke seluruh Desa Qinghe. Seorang pemburu dari desa sebelah ditemukan pingsan di dekat Bukit Timur.
Tidak terluka parah. Namun sebelum kehilangan kesadaran, ia hanya mengucapkan satu kalimat.
"Jangan... pergi ke sana... Di dalam hutan... ada sesuatu."
Warga desa langsung panik. Beberapa orang menghubungkannya dengan monster. Sebagian lainnya menganggap pemburu itu hanya ketakutan. Namun ketika Lian Yue mendengar kabar tersebut, ia langsung terdiam.
Lian Yue menatap ke arah bukit timur. Di atas pohon, burung-burung juga tidak berkicau seperti biasanya.
Hutan terasa terlalu sunyi. Dan untuk pertama kalinya sejak datang ke Desa Qinghe...
Lian Yue merasa bahwa tempat yang selama ini memberinya makanan mungkin menyimpan rahasia yang seharusnya tidak disentuh sembarangan.
Sementara jauh di dalam hutan, di balik akar pohon tua yang menjulang. Sebuah batu kecil berwarna merah tua tergeletak di antara tanah basah. Permukaannya berdenyut sangat samar.
Sekali.
Kemudian dua kali.
Dan pada saat yang sama...
Seekor burung gagak yang terbang di atasnya tiba-tiba berbalik dan melarikan diri. Seolah-olah sesuatu di dalam tanah baru saja membuka mata.
di otak saya🤣🤣
sehingga apa yg membuat mereka ingin membuang mu jauh jauh dan dilarang kesana bertemu batu merah
dgn diatas
apakah mereka sengaja membuang kian Yue .agar tidak mampu membangkitkan ilmunya
makanya dia dilarang bertemu batu merah
sehingga para burung dan binantang lainnya sangat ketakutan
semoga kau bisa menyelamatkan keluarga han
mungkin terlalu tua 💪💪
disaat kemarau juga sama ya kadang tak kunjung datang hujan
sampai sampai mendoakan kejayaan untk mereka
saling bertanya
deep talk gitu😁😁🤔
bisa mendengar BHS binatang