Vivian Winata mengidap sindrom lapar sentuhan. Saat kambuh, tubuhnya terbakar oleh hasrat menyiksa yang hanya bisa dipadamkan oleh satu pria: Sebastian Gunawan, suami kontraknya sekaligus taipan paling dingin di Jakarta.
Setiap malam, Vivian harus memohon dalam pelukannya. Sentuhan Sebastian membuatnya gemetar, basah, dan ketagihan. Namun pria itu selalu berhenti sebelum batas terakhir, seolah menginginkannya sekaligus membencinya.
Tak tahan lagi, Vivian berniat meminta cerai. Tiba-tiba ia teringat kehidupan pertamanya.
Dahulu, kata “cerai” membuat Sebastian kehilangan kendali. Ia mengurung Vivian, memisahkannya dari keluarga, lalu menguasai tubuhnya malam demi malam sampai kematian menjemputnya.
Kini Vivian kembali ke malam yang sama.
Ia ingin melarikan diri, tetapi tubuhnya tetap membutuhkan sentuhan Sebastian untuk bertahan hidup. Semakin ia menjauh, semakin posesif pria itu mengejarnya.
Barulah Vivian menyadari kebenaran yang mengerikan.
Sebastian tidak pernah jijik menyentuhnya. Selama ini, ia hanya menahan diri agar tidak melahap Vivian sampai habis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9
Aku Cuma Ingin Kamu Lihat
Beberapa menit sebelum ponsel Sebastian bergetar, Vivi sedang bersembunyi di balik tirai ruang ganti.
“Aku tidak mau keluar.”
“Kalau begitu aku masuk,” ancam Jocelyn dari luar.
Vivi langsung menahan tirai. “Jangan!”
“Pilih. Keluar sendiri atau aku buka.”
Seorang pramuniaga yang berdiri tak jauh dari sana menutupi senyum dengan punggung tangan. Butik pakaian renang itu sunyi, dengan cermin tinggi dan lampu hangat yang membuat setiap inci kulit terlihat jelas.
Vivi menatap bayangannya sekali lagi.
Pakaian renang biru tua yang dikenakannya sebenarnya tidak terlalu terbuka. Potongannya menutupi perut dan bagian bawah tubuh dengan baik. Hanya bahunya yang terlihat, serta sedikit garis punggung karena tali menyilang.
Namun, membayangkan foto ini masuk ke ponsel Sebastian membuat wajahnya terasa seperti direbus.
“Aku keluar,” katanya. “Tapi kamu tidak boleh tertawa.”
“Aku bersumpah atas harga tasku.”
“Itu bukan sumpah.”
Vivi membuka tirai perlahan.
Jocelyn yang duduk di sofa langsung menurunkan gelas minumannya. “Nah. Yang ini.”
“Terlalu terbuka?”
“Terlalu cantik.”
Pramuniaga ikut mengangguk. “Warnanya cocok dengan kulit Ibu. Model ini juga nyaman untuk berenang, bukan hanya berfoto.”
Vivi memandang cermin. Ia sudah menolak tiga bikini yang dipilih Jocelyn, satu pakaian dengan potongan dada terlalu rendah, dan sebuah model bertali tipis yang menurutnya lebih mirip teka-teki daripada pakaian.
Yang tersisa hanya tiga pilihan aman.
Putih dengan tali lebar dan rok pendek.
Biru tua yang sedang dipakainya.
Hijau muda dengan bagian depan tertutup, tetapi potongan kecil di kedua sisi pinggang.
“Aku akan ambil yang biru,” putus Vivi.
“Ambil semua.”
“Aku tidak butuh tiga.”
“Kamu akan pergi ke laut suatu hari nanti.” Jocelyn mengangkat bahu. “Lagi pula, kita belum tahu selera suamimu.”
Kalimat itu membuat Vivi memandang bayangannya lagi.
Apakah Sebastian menyukai warna biru?
Pikiran itu muncul begitu saja, memalukan dan sedikit manis. Dalam kehidupan pertama, Vivi tak pernah menanyakan kesukaan pria itu. Ia bahkan tak tahu warna favoritnya, makanan yang membuatnya nyaman, atau mengapa ia selalu memilih kemeja gelap.
Sekarang ia berdiri di butik, mencoba pakaian renang demi melihat reaksi seorang pria yang pernah mengurungnya.
Kalau dipikir-pikir, rencananya terdengar kurang seperti strategi dan lebih seperti keputusan orang yang kehilangan akal.
“Kenapa senyum sendiri?” Jocelyn bertanya.
“Aku tidak senyum.”
“Cermin di belakangmu tidak setuju.”
Vivi cepat-cepat masuk kembali ke ruang ganti.
Setelah mencoba semua pilihan, Jocelyn menyuruhnya berdiri di depan cermin besar. Ia mengatur sudut foto dengan serius seperti fotografer kampanye mode. Vivi menolak ketika diminta berpose terlalu menggoda, tetapi akhirnya membiarkan tiga foto diambil.
“Selesai.” Jocelyn memperlihatkan hasilnya. “Sopan, cantik, dan cukup berbahaya untuk merusak konsentrasi rapat.”
Vivi melihat foto ketiga lebih lama. Potongan di pinggang memang kecil, tetapi ia tahu tatapan Sebastian selalu berhenti pada detail yang tak diperhatikan orang lain.
Ia memperbesar pantulan cermin, memastikan tak ada wajah pelanggan lain atau papan nama butik yang terlihat. Lalu ia menoleh kepada pramuniaga.
“Maaf, apakah kamera keamanan di area ini mengarah ke ruang ganti?”
“Tidak, Bu. Kamera hanya ada di pintu masuk dan kasir. Area cermin privat tidak direkam.”
Vivi mengangguk lega. “Joce, setelah dikirim, hapus salinannya dari ponselmu.”
Jocelyn berkedip. “Kamu takut bocor?”
“Aku cuma tidak ingin foto ini ada di mana-mana.”
“Jadi hanya Sebastian yang boleh menyimpan?”
Vivi menahan tatapannya selama dua detik, lalu mengambil ponsel sendiri. “Itu fotoku. Aku yang memutuskan siapa yang melihat.”
Senyum Jocelyn berubah lebih lembut. Ia langsung menghapus dua foto percobaan yang tidak dipakai. “Benar. Dan kalau gunung es itu berani menyebarkannya, aku sendiri yang melempar dia dari kantornya.”
“Kirim yang mana?”
“Tiga-tiganya.”
“Joce.”
“Tujuan kita memancing reaksi, bukan memberi ujian pilihan ganda dengan satu jawaban.”
Pramuniaga membawa kotak pakaian baru ke kasir agar barang yang dicoba tetap bisa diproses sesuai standar kebersihan. Vivi berganti kembali ke gaun siangnya, lalu duduk di bangku ruang ganti sambil memegang ponsel.
Jocelyn memilih tiga foto terbaik dan menaruhnya di percakapan WA dengan Sebastian.
“Tambahkan pesan suara,” katanya.
“Foto saja sudah cukup.”
“Suaramu senjata utama. Pakai.”
“Aku harus bilang apa?”
Jocelyn menurunkan nada suara, meniru gaya manja yang sama sekali tidak cocok dengannya. “Sebas, kamu suka yang mana?”
Vivi merinding. “Jangan bicara seperti itu lagi.”
“Bagus. Berarti kamu harus merekam sendiri.”
Ponsel disodorkan ke depan bibirnya.
Vivi menatap tombol mikrofon. Inilah langkah kecil yang tak pernah ia ambil dalam kehidupan pertama. Saat itu ia menunggu Sebastian membaca pikirannya, lalu terluka ketika pria itu tetap diam.
Sekarang ia sengaja mengetuk dinding di antara mereka.
Ia hanya belum tahu apa yang akan keluar dari sisi lain.
Vivi menahan tombol rekam.
“Sebas,” ucapnya lembut. Nada manja itu terasa seperti peran yang dipaksakan Jocelyn, bukan panggilan yang keluar dari hatinya. “Kamu suka yang mana?”
Ia langsung menutup wajah dengan telapak tangan.
“Aku terdengar aneh.”
“Kamu terdengar seperti istri yang sedang menggoda suaminya. Sangat legal.”
“Hapus.”
“Tidak.”
Jocelyn mengangkat ponsel di luar jangkauan. Ibu jarinya melayang di atas tombol kirim.
“Kukirim, ya?”
Jantung Vivi memukul tulang rusuk. Jika langkah ini mengubah Sebastian menjadi lebih berbahaya, ia sendirilah yang membuka pintunya.
Namun, jika ia terus melakukan hal yang sama, masa depan hanya akan mengulang akhir yang sudah dikenalnya.
Vivi memejamkan mata.
“Kirim.”
Jocelyn menekan tombol itu.