NovelToon NovelToon
Dua Hati,Satu Pilihan

Dua Hati,Satu Pilihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:168
Nilai: 5
Nama Author: Azqia putri

Amira tiba-tiba diperhatikan Dimas — cowok paling populer di sekolah. Tapi di sisi lain, ada Farhan, sahabat sejak kecil yang diam-diam udah lama menyayanginya.

Dua hati sama tulus, dua cara beda sayang. Dan Amira harus memilih — tanpa menyakiti salah satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azqia putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Seseorang yang Baru Datang

Hari-hari mulai kembali teratur. Kita tetap sibuk, tetap jarang ketemu lama. Tapi sepuluh menit tiap pagi dan pesan singkat sebelum tidur gak pernah putus. Rasanya — walau jarak masih ada — hati kita tetap di tempat yang sama.

Sore itu, gue ke perpustakaan kampus Farhan. Bawa bekal makanan yang gue masak sendiri — walau gak terlalu enak, setidaknya gak instan kayak yang biasa dia makan.

Gue cari-cari di deretan meja panjang. Di sudut dekat jendela, gue lihat Farhan sedang serius baca buku. Tapi dia gak sendirian. Di sebelahnya duduk seorang perempuan — rambut panjang terurai, baju rapi, senyumnya manis banget sambil nunjuk buku di depan mereka.

Gue berdiri diam di lorong. Gak mendekat, gak pergi. Cuma natap dari jauh.

Farhan menyimak penjelasan perempuan itu, lalu mengangguk dan tersenyum. Bukan senyum yang biasa dia kasih ke gue — senyum yang sopan dan berterima kasih. Tapi tetap saja... gue merasa ada yang berdenyut nyeri di dada.

Gue mundur pelan, taruh bekal di meja resepsionis perpustakaan, tulis secarik kertas: "Makan dulu ya. Jangan telat. Gue pulang duluan." Lalu keluar tanpa menunggu dia sadar gue pernah datang.

Malamnya, HP gue berbunyi berkali-kali. Pesan, lalu telepon. Gue baru angkat setelah ketiga kalinya.

"Halo..." suaranya napas berat, sepanik itu. "Lo tadi ke perpustakaan? Kenapa gak panggil gue?"

"Ada yang sibuk," jawab gue pelan, berusaha tenang. "Gak mau ganggu."

"Ganggu? Mir, itu cuma teman sekelas. Namanya Sarah. Dia bantu gue pahami materi yang gue ketinggalan."

"Gue gak marah, Han. Beneran." Gue tarik napas dalam. "Cuma... gue lihat kalian dekat banget. Dan gue sadar — di sana, bareng orang yang sejurusan, satu tempat, tiap hari ketemu... pasti lebih gampang ya?"

Diam sejenak di seberang sana. Lalu suaranya terdengar jelas dan serius.

"Mir... gue paham perasaan lo. Dan gue gak akan bilang 'gak usah pikir yang tidak-tidak'. Karena kalau posisinya terbalik, gue juga bakal ngerasa sama." Dia berhenti sebentar, lanjut lebih lembut. "Tapi tolong percaya sama satu hal — gue belajar bareng dia karena materi. Tapi gue hidup untuk cerita semuanya sama lo."

Gue terdiam. Kata-katanya jujur, gak berusaha menyangkal atau marah.

"Besok gue jemput lo," lanjutnya. "Gue kenalin. Biar lo tau siapa dia. Dan biar lo tau — gak ada yang perlu lo takuti."

"Gak perlu..."

"Perlu. Bukan karena gue harus minta izin. Tapi karena gue mau lo tenang. Kalau lo tenang, gue juga tenang."

Besok paginya, Farhan datang lebih awal dari biasanya. Bersamanya ada perempuan yang kemarin gue lihat.

"Mir, ini Sarah. Sarah, ini Amira."

Sarah mengulurkan tangan duluan, senyumnya tulus dan terbuka. "Halo Amira. Farhan sering cerita tentang kamu. Maaf ya kalau kemarin bikin kamu salah paham."

Gue salam, sedikit malu. "Halo. Tidak apa-apa. Terima kasih sudah bantu Farhan."

Sarah tertawa pelan. "Sama-sama. Farhan pintar, cuma telat masuk. Sebenarnya aku yang terbantu banyak. Oh ya..." Dia menatap gue terus terang. "Aku jujur sama kamu. Saat pertama kenal, aku sempat berpikir — mungkin ada peluang. Tapi Farhan yang langsung bilang: 'Aku punya seseorang yang aku sayang sepenuh hati. Kalau kamu mau teman belajar, silakan. Kalau yang lain, maaf.' Jadi..." Sarah tersenyum lebar. "Kamu jangan khawatir. Dia yang jaga jarak duluan."

Gue menatap Farhan kaget. Dia menunduk sedikit, pipinya kemerahan.

"Gue gak mau lo mendengar dari orang lain dulu," katanya pelan setelah Sarah pamit. "Gue mau lo dengar dari gue duluan. Sejak awal gue kenal dia, gue bilang — gue milik orang lain. Bukan karena gue hebat. Tapi karena gue sudah memilih. Dan pilihan itu gue jaga."

Mata gue terasa panas. "Kenapa lo gak bilang dari kemarin?"

"Karena gue mau lo dengar langsung dari Sarah. Bukan dari gue saja. Biar lo yakin sepenuhnya." Dia pegang kedua tangan gue. "Mir... di kota ini, gue ketemu banyak orang baru. Ada yang pintar, baik, menyenangkan. Tapi gue sadar satu hal — yang gue butuhkan bukan orang yang gampang ditemui. Yang gue butuhkan adalah orang yang gue perjuangkan untuk ketemu."

Dia menatap gue dalam-dalam.

"Sarah dekat secara fisik. Tapi lo dekat di hati. Dan jarak di hati itu yang menentukan. Gue bisa jauh dari lo di peta, tapi hati gue tetap di tempat yang sama. Sedangkan kalau gue pilih yang dekat mata... gue takut hati gue perlahan ikut berpindah."

Gue menahan air mata, senyum pelan. "Han... makasih. Bukan karena gak ada yang lain. Tapi karena lo memilih tetap sama walau ada yang lebih gampang."

"Karena yang gampang belum tentu yang benar." Dia mengusap pipi gue pelan. "Gue belajar satu hal — cinta itu bukan soal tidak ada godaan. Tapi soal tetap memilih orang yang sudah kita janjikan, walau ada pilihan lain yang berdiri di depan mata."

Malam itu, gue tulis di buku catatan:

"Hari ini gue belajar hal penting. Bukan soal cemburu. Bukan soal curiga. Tapi soal kepercayaan — percaya bahwa pilihan yang kita buat bersama itu dijaga oleh dua hati, bukan satu. Farhan tidak menolak orang lain karena dia sempurna. Tapi karena dia sadar — hatinya sudah punya tempat pulang. Dan tempat itu bukan di mana pun dia berdiri. Tapi di mana pun gue berada."

Tak lama kemudian, pesan masuk dari Dimas:

"Kabari kalau ada apa-apa. Jangan pendam sendiri. Kalau dia jujur dan jaga jarak... itu tanda dia layak dipercaya. Yang berbahaya bukan orang baru yang datang. Tapi orang lama yang mulai menyembunyikan sesuatu."

Gue senyum, balas pesan Dimas: "Dia jujur, Dim. Dan itu yang bikin gue tenang."

Lalu gue lihat ke jendela. Di lantai atas, lampu kamar Farhan menyala. Sebuah pesan masuk:

"Malam, Mir. Sekarang tenang ya. Gue milik lo. Hanya lo. Dan gue akan selalu jaga diri supaya gue pantas dipercaya. Tidur nyenyak."

Gue ketik balas:

"Malam, Han. Makasih sudah jujur. Makasih sudah menjaga jarak demi kita. Tidur nyenyak juga. Besok kita mulai lagi."

Gue taruh HP di samping bantal. Hati gue tenang sepenuhnya. Ternyata ujian terberat bukan saat kita jauh. Bukan saat kita sibuk. Tapi saat ada orang lain yang berdiri di depan dia — dan dia memilih tetap memegang tangan kita, walau kita berdua terpisah jarak ratusan kilometer.

Dan di saat itulah gue yakin sepenuhnya.

Pilihan yang kita buat dulu... bukan sekadar perasaan sesaat. Itu janji yang dijaga setiap hari. Di setiap pertemuan baru. Di setiap godaan yang datang. Di setiap jarak yang memisahkan.

Dan Farhan... dia menjalankannya dengan jujur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!