Kenzo yang keras dan Anisa yang berani selalu tak akur, saling berselisih setiap hari. Namun saat terpaksa bekerja sama, benci perlahan berubah menjadi cinta manis yang tak disadari keduanya. Dari yang saling menentang, kini berubah menjadi tak bisa berpaling satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14.Tatapan Mata yang Berubah
Sejak saat itu, hal kecil namun nyata mulai terjadi di antara Kenzo dan Anisa. Tak ada perubahan besar yang terlihat secara kasat mata. Mereka tetap duduk berdampingan, tetap bekerja sama dalam tugas, dan di depan umum pun masih terlihat saling menjaga jarak seperti sediakala. Namun ada satu hal yang perlahan berubah dan tak mampu disembunyikan sepenuhnya oleh keduanya—tatapan mata mereka.
Dulu, setiap kali mata Kenzo menatap Anisa, yang tampak di sana hanyalah ketegasan yang dingin, sedikit penilaian yang merendahkan, dan secercah rasa tak suka yang tak disembunyikan. Tatapan yang seakan berkata: “Kamu itu selalu menyusahkan.” Namun kini, perlahan namun pasti, tatapan itu berubah. Saat Kenzo melirik ke samping dan melihat Anisa yang sedang serius menunduk mencatat, alisnya tak lagi berkerut kesal. Matanya tak lagi menampakkan kedinginan yang dulu. Sebaliknya, ada sorot lembut yang perlahan menyelinap masuk, diam-diam memperhatikan garis wajah Anisa yang tampak tenang saat berkonsentrasi, bulu matanya yang panjang sesekali berkedip pelan, dan bibirnya yang sesekali bergerak lirih merapikan kalimat di dalam hatinya. Tatapan yang dulu penuh pertentangan itu kini perlahan berubah menjadi tatapan yang tak ingin terlewatkan satu hal pun.
Begitu juga sebaliknya. Dulu, setiap kali Anisa menatap mata Kenzo, ia selalu menyambutnya dengan pandangan yang menantang, siap membantah dan menolak setiap kali merasa tak adil. Namun kini, saat ia tanpa sengaja menangkap tatapan Kenzo yang sedang tertuju padanya, jantungnya tak lagi mendidih karena marah. Melainkan berdetak perlahan terasa lebih cepat dari biasanya. Ia mulai menyadari bahwa di balik sorot mata yang tegas itu, tak lagi tersimpan kebencian yang dulu. Di sana kini terlihat hal-hal lain yang samar—perhatian yang disembunyikan, kelembutan yang tak diucapkan, dan sesuatu yang membuat pipinya perlahan memerah saat tatapan mereka bertemu.
Suatu siang saat jam pelajaran berlangsung, guru yang sedang mengajar menuliskan penjelasan yang cukup rumit di papan tulis. Cahaya matahari yang miring menembus jendela jatuh tepat di wajah Anisa, membuatnya sedikit menyipitkan mata dan menunduk lebih dekat ke buku catatannya agar tulisan tetap terlihat jelas. Di sampingnya, Kenzo tanpa sadar berhenti mencatat. Matanya diam-diam menatap wajah Anisa yang tenang itu lebih lama dari yang seharusnya. Ia memperhatikan bagaimana jemarinya yang lentik bergerak lincah di atas kertas, bagaimana rambut hitamnya yang halus sedikit menjuntai jatuh ke pelipis, dan bagaimana sudut bibirnya sesekali terkatup rapat menahan diri agar tidak salah tulis.
Saat Anisa tiba-tiba merasa diperhatikan dan mendongak perlahan, tatapan mata mereka pun saling bertemu tepat.
Dulu, saat hal serupa terjadi, mereka pasti akan segera memalingkan wajah dengan kesal atau melempar tatapan penuh tantangan. Namun kali ini, keduanya diam di tempat. Tatapan itu tak segera berpaling. Mata Kenzo yang dulu tajam dan dingin kini menatapnya dengan lembut, dalam, dan penuh arti yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Di sana tak ada lagi kemarahan, tak ada lagi penghakiman. Yang tampak justru sepasang mata yang menatapnya seakan ingin menyampaikan ribuan hal yang tak mampu diucapkan lewat kata-kata. Tatapan yang seakan berkata: “Aku mulai mengenalmu. Dan ternyata kamu jauh lebih indah dari yang aku kira selama ini.”
Anisa merasakan napasnya tertahan sejenak. Tatapan itu menembus jauh hingga ke dalam hatinya. Ia tak sanggup berpaling, tak sanggup menyembunyikan debar jantungnya yang kini semakin nyata. Matanya yang dulu selalu menantang itu kini perlahan melembut, menatap balik tanpa rasa takut atau marah. Di dalam tatapan Anisa pun kini tersimpan hal serupa—rasa hormat yang tumbuh menjadi kekaguman, rasa terima kasih yang tak terucap, dan kesadaran perlahan bahwa sosok yang dulu ia benci itu kini justru menjadi sosok yang tak ingin ia lepaskan pandangannya.
Hening sejenak berlalu di antara mereka. Hanya sepasang mata yang saling berbicara dalam diam, menyampaikan hal-hal yang tak berani diucapkan oleh mulut. Perlahan, sudut bibir Kenzo terangkat sedikit membentuk senyum tipis yang sangat samar—senyum yang pertama kali ditampakkannya khusus untuk Anisa, tanpa keraguan, tanpa kepura-puraan. Anisa pun tak kuasa menahan rona merah yang menjalar ke pipinya, namun kali ini ia tak berpaling dengan kesal. Ia justru membalasnya dengan senyum tipis yang sama, lembut dan penuh makna, sebelum perlahan menunduk kembali ke buku catatannya dengan hati yang berdebar halus.
Sejak saat itu, tak ada pertengkaran hebat lagi yang terjadi di antara mereka. Karena kini, setiap kali mata mereka saling bertemu, yang tampak bukan lagi lawan yang saling menentang. Melainkan dua hati yang perlahan mulai saling mengenal, saling mengerti, dan saling menemukan makna baru dalam setiap tatapan yang kini penuh kehangatan. Tatapan mata mereka telah berubah, dan perubahan itu menjadi tanda paling jujur bahwa rasa benci yang dulu pernah ada kini perlahan sirna, berganti dengan sesuatu yang jauh lebih indah dan berharga.
BERSAMBUNG...