NovelToon NovelToon
Sistem Pekerja Super

Sistem Pekerja Super

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bulu-Halus

Adrian Wijaya hanya ingin mendapatkan uang tambahan sebelum kuliah dimulai. Namun sebuah sistem misterius tiba-tiba memberinya akses ke berbagai pekerjaan dengan bayaran luar biasa.

Setiap pekerjaan memberinya uang, kemampuan, dan pengalaman baru.

Dari pekerjaan biasa hingga tugas berbahaya di berbagai penjuru dunia, Adrian perlahan menyadari bahwa sistem ini bukan sekadar alat untuk mencari uang.

Ini adalah awal dari kehidupan yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulu-Halus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 — Menuju Markas Black Fox

Mulut Julukan Inggris itu bergerak-gerak, tetapi yang keluar hanya suara gelembung darah yang pecah.

“Aku…”

Adrian sudah kehilangan kesabaran.

Ia langsung merebut telepon dari tangan pria itu dan menempelkannya ke telinga.

“Halo, ini bos Black Fox?”

Suara di seberang telepon terdengar terdiam sesaat, kemudian berubah waspada.

“Siapa kau? Di mana dia?”

“Dia?”

Adrian melirik pria yang terkapar di tanah dan sudah mulai memutar bola matanya.

“Mungkin sedang merenungkan kehidupan.”

Adrian bersandar santai pada mobil.

“Aku pekerja musiman yang baru masuk malam ini. Nomor pekerja... belum punya.”

Ia berhenti sejenak.

“Aku sudah membereskan markas Black Mamba untuk kalian. Sekarang aku mau mengambil gajiku.”

Di seberang telepon, suasana mendadak sunyi.

Beberapa detik kemudian, suara bos Black Fox terdengar lagi, kali ini menahan amarah.

“Berapa yang kau mau?”

“Aku orangnya sangat masuk akal.”

Nada bicara Adrian terdengar santai, seperti seseorang yang sedang menawar harga di pasar.

“Seperti kesepakatan awal. Gaji harian sepuluh ribu dolar. Ditambah tiga kali lipat untuk kerja malam, lalu kompensasi kerugian mental.”

Adrian berpikir sebentar.

“Bulatkan saja menjadi seratus ribu dolar.”

“Kau sedang bermimpi?!”

Bos Black Fox langsung meledak.

“Seratus ribu dolar?! Kenapa kau tidak sekalian merampok bank?!”

“Aku memang sedang merampok sekarang.”

Nada Adrian tetap datar.

Telepon kembali hening selama beberapa detik.

Kemudian suara bos Black Fox berubah dingin.

“Berani sekali kau.”

“Aku akan segera mengirim kendaraan lapis baja ke sana. Akan kuhancurkan kau sampai menjadi genangan daging!”

Adrian mendengarkan semua ancaman itu, lalu menghela napas pelan.

Ia menjauhkan telepon dari telinganya dan mengarahkannya ke mulut pria yang terkapar di tanah.

“Sepertinya bos kalian tidak terlalu memahami hukum ketenagakerjaan.”

Adrian tersenyum tipis.

“Kalau cara baik-baik tidak berhasil, berarti kita hanya bisa menagih gaji dengan kekerasan.”

Selesai berkata demikian, Adrian tidak lagi ragu.

Kakinya yang mengenakan sandal jepit langsung terangkat.

Kemudian menghantam keras.

Krak!

Suara tulang patah terdengar jelas.

Kepala pria itu terkulai ke satu sisi dengan sudut yang mengerikan. Tubuhnya bergerak-gerak beberapa kali sebelum akhirnya benar-benar diam.

Adrian melempar telepon satelit ke tanah, lalu menginjaknya hingga hancur.

Ia berdiri dan mengamati beberapa mobil pikap yang masih dalam kondisi baik.

Tatapannya seperti seseorang yang sedang memilih kendaraan yang paling cocok untuk dibawa pulang.

“Main kotor, ya?”

“Mau menahan gajiku, ya?”

Untuk pertama kalinya, senyum Adrian terlihat sedikit menyeramkan.

Pikirannya bergerak.

Dalam sekejap, senapan mesin putar enam laras yang sebelumnya ia gunakan muncul begitu saja di atas pasir di hadapannya.

Disusul rantai-rantai peluru berat berkaliber besar yang jatuh dari ruang kosong seperti air terjun, menumpuk di tanah hingga membentuk gundukan kecil.

Adrian mengambil kunci salah satu mobil pikap.

Ia melompat ke kursi pengemudi.

Namun, ia tidak langsung menyalakan mesin.

Selama beberapa menit, ia menggunakan kunci pas dan kawat untuk memasang senapan mesin putar itu dengan kuat di atas bak kendaraan.

Setelah selesai, Adrian naik ke bak.

Ia memasang rantai peluru panjang ke mekanisme pemasok amunisi, lalu menarik pengunci senjata.

Klik!

Semuanya siap.

Adrian kembali ke kursi pengemudi dan menginjak pedal gas hingga mentok.

Vroooom!

Mesin pikap meraung seperti binatang buas.

Ban belakang berputar liar di atas pasir sebelum akhirnya mencengkeram permukaan tanah.

Kendaraan itu melesat menuju pusat Darsen.

……

Pusat Kota Darsen — Markas Black Fox

Bangunan tiga lantai yang tampak biasa saja berdiri di antara deretan bangunan kota.

Namun bagi dunia bawah tanah, tempat ini merupakan salah satu markas yang paling ditakuti.

Malam itu, belasan anggota elit Black Fox yang dilengkapi persenjataan lengkap sudah berjaga di depan markas.

Mereka baru saja menerima perintah langsung dari bos.

Seorang pemuda yang dianggap tidak tahu diri akan datang untuk mencari kematian.

“Siapkan diri kalian!”

Seorang pria yang tampak seperti pemimpin regu berteriak keras.

“Bos sudah bilang! Siapa pun yang berhasil membawa kepala orang itu, akan mendapatkan hadiah seratus ribu dolar!”

Mendengar jumlah hadiah tersebut, keserakahan langsung muncul di mata semua orang.

Tiba-tiba—

VROOOOM!

Suara mesin yang menggelegar terdengar dari kejauhan.

Semua orang spontan menoleh.

Di ujung jalan, sepasang lampu kendaraan terlihat semakin besar.

Kendaraan itu melaju dengan kecepatan yang mengerikan.

“Dia datang!”

“Siapkan senjata!”

Pemimpin regu mengangkat tangan dan hendak memberikan perintah untuk menembak.

Namun sesaat kemudian, ia sadar bahwa perintah itu sama sekali tidak diperlukan.

Karena kendaraan tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengurangi kecepatan.

Di bawah tatapan ngeri semua orang, sebuah pikap yang telah dimodifikasi melaju seperti binatang baja yang kehilangan kendali.

BRAK!

Kendaraan itu langsung menghantam gerbang besi tebal markas.

Suara logam yang terpelintir terdengar memekakkan telinga.

Pikap tersebut menerobos masuk ke halaman.

Para penjaga bahkan belum sempat bereaksi.

Di atas kendaraan, enam laras senapan mesin mulai berputar perlahan.

Adrian duduk di kursi pengemudi.

Ia menatap para anggota Black Fox yang berdiri terpaku di depannya.

Sebuah senyum ramah muncul di wajahnya.

Tangannya menekan tombol merah yang terhubung dengan senapan mesin di atas kendaraan.

“Menagih gaji secara fisik. Semoga kalian semua tercerahkan.”

Detik berikutnya—

DUAR!!!

Badai peluru langsung merobek keheningan malam.

Kaca-kaca jendela bangunan hancur menjadi serpihan dalam hitungan detik.

Dinding beton yang kokoh dihantam rentetan peluru berdaya rusak tinggi hingga pecah dan runtuh.

Belasan anggota elit yang berjaga di depan bahkan tidak sempat berteriak sebelum tubuh mereka dihantam badai logam tersebut.

Adrian tidak berhenti.

Ia mengemudikan pikap berputar mengelilingi halaman sambil mengarahkan senapan mesin di atas kendaraan ke bangunan tiga lantai itu.

DARRR! DARRR! DARRR!

Bangunan tersebut bergetar hebat.

Dindingnya mulai runtuh sedikit demi sedikit.

Kertas, dokumen, komputer, dan berbagai benda di dalamnya terlempar keluar melalui jendela yang telah hancur.

Ini bukan lagi pertarungan.

Ini adalah pembantaian sepihak.

Tidak ada strategi.

Tidak ada teknik rumit.

Hanya kekuatan brutal yang menghancurkan segala sesuatu di hadapannya.

Beberapa saat kemudian, rantai peluru pertama habis.

Adrian menghentikan kendaraan.

Ia turun dengan santai, naik ke bak, kemudian mengganti rantai peluru dengan yang baru.

Setelah selesai, ia kembali menekan pedal gas.

Dan pembantaian berlanjut.

Ketika rantai peluru ketiga akhirnya habis, bangunan tiga lantai itu sudah berubah menjadi reruntuhan yang nyaris roboh sepenuhnya.

Adrian melepas senapan mesin yang sudah memerah karena panas dari atas kendaraan.

Ia mengangkatnya dengan satu tangan, seolah-olah benda itu hanyalah tongkat besi biasa.

Dengan sandal jepit masih melekat di kakinya, Adrian berjalan melewati puing-puing dan selongsong peluru yang berserakan.

Ia menuju lantai paling atas.

Brak!

Adrian menendang pintu kantor yang sudah hampir roboh.

Debu memenuhi ruangan.

Di dalamnya, seorang pria gemuk berusia paruh baya mengenakan jas mahal dan rambut disisir rapi sedang bersembunyi di bawah meja kayu besar.

Mendengar suara pintu dihancurkan, pria itu mengangkat kepala dengan ketakutan.

Dan tepat di hadapannya berdiri Adrian.

Senapan mesin masih mengeluarkan asap.

Pakaian Adrian penuh noda darah.

Namun yang paling tidak masuk akal adalah penampilannya.

Kaos putih, celana pendek bermotif, dan sandal jepit.

Adrian memberikan senyum cerah yang terlihat sama sekali tidak berbahaya.

“Bos.”

Ia mengangkat senapan mesin di tangannya sedikit.

“Bayar gajiku.”

1
Aisyah Suyuti
seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!