Suaminya gugur di medan tugas. Belum genap setahun jadi janda, Laras sudah harus menelan pahit: ibu dan adiknya sendiri menguras habis santunan, sementara bayi perempuannya, Nala, cuma bisa disambung hidup dengan air tajin di kampung.
Satu-satunya yang ia punya hanyalah air susu—dan tangan yang bisa menyulap beras seadanya jadi masakan sewangi surga.
Maka ketika seorang Letnan Kolonel berwajah dingin membutuhkan **ibu susuan** untuk bayi yatim yang hanya mau menyusu padanya, Laras menelan semua gunjingan tetangga dan masuk ke rumah dinas Danyon Bima Prakoso.
Kata orang, Sang Danyon itu keras, irit bicara, tak tersentuh.
Hanya Laras yang tahu: setiap fitnah yang dilempar padanya, diam-diam sudah ditahan lelaki itu di belakang punggungnya.
Dari dapur umum yang bikin satu batalyon terpana, sampai piring-piring yang menaklukkan para jenderal—Laras membalikkan keadaan, satu masakan demi satu masakan, menampar semua mulut yang pernah memandangnya rendah.
Tapi bayi yang ia besarkan dengan air susunya sendiri… menyimpan sebuah rahasia yang dijaga negara selama bertahun-tahun.
Dan hati Sang Danyon yang dingin itu, ternyata sudah lama hangat—hanya untuknya.
*"Kamu boleh jaga nama baikmu. Tapi malam ini, biar aku yang jaga kamu."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20
Mulut Ember Iwan
Pukul tujuh pagi, Iwan datang membawa bohlam baru, gerendel besi, kotak perkakas, dan seorang teknisi jendela.
Laras berdiri di pintu dengan tangan bersedekap. “Cepat sekali.”
“Perintah Komandan.”
“Tentu.”
Iwan menaiki kursi untuk mengganti lampu. “Beliau bilang cahaya kamar terlalu redup, gerendel tidak aman, jendela bocor angin, sama air panas harus selalu tersedia malam.”
“Saya hanya dengar soal lampu dan gerendel.”
Tangan Iwan berhenti. “Yang lain juga perintah lama.”
“Perintah lama?”
“Waktu Mbak baru datang. Beliau suruh saya cek jendela, antar makan, siapkan air panas, pastikan obat Satya tidak habis.”
Laras memandangnya. “Semua itu bukan kebiasaan rumah?”
“Dulu rumah ini hidup seperti gudang. Komandan makan di kantor, jendela bocor dibiarkan, dapur hampir tidak dipakai.”
Iwan baru sadar terlalu banyak bicara ketika Laras tidak menjawab.
Ia buru-buru memasang bohlam. Cahaya putih memenuhi kamar, membuat setiap sudut terlihat jelas.
“Nah, terang.”
“Iwan.”
“Iya, Mbak?”
“Waktu kamu pergi ke Girisari, siapa yang menyuruh?”
Obeng jatuh dari tangannya.
Laras mengambilnya dan menyerahkan kembali. “Jawab.”
“Urusan satuan.”
“Satuan punya nama.”
Iwan menelan ludah. “Komandan.”
Satu kata itu membuat kamar sunyi.
“Susu?”
“Dari jatah dan uang Komandan.”
“Obat?”
“Beliau yang beli lewat poliklinik.”
“Amplop uang?”
Iwan menutup mata sebentar. “Juga.”
“Sejak kapan Komandan merencanakan itu?”
“Sejak malam beliau dengar Mbak menyanyi.” Iwan menyerah dan menceritakan semuanya. “Pagi-pagi saya dipanggil. Susunya sudah ada di meja. Beliau sendiri yang mengecek tanggal kedaluwarsa dan aturan takaran.”
“Dia tahu takaran susu bayi?”
“Beliau membaca petunjuknya tiga kali. Lalu menelepon poliklinik karena takut Nala belum boleh minum setelah diare.”
Laras menutup bibir dengan tangan.
“Uang itu juga bukan bantuan biasa,” lanjut Iwan. “Komandan meminta saya bawa ketua RT supaya Bu Jum tidak bisa mengambil. Nomor kantor satuan ditinggalkan kalau ada gangguan.”
“Kenapa sampai sejauh itu?”
“Saya tidak tahu.” Iwan menatap Satya, lalu Laras. “Tapi waktu saya pulang dan bilang Nala menggenggam jari saya, beliau baru bernapas lega.”
Laras teringat Bima di bawah jendela, mengatakan kabar dari Girisari akan datang. Jadi malam itu ia sudah tahu Iwan baru kembali. Ia sengaja memberi harapan tanpa mengambil pujian.
“Ada lagi?” tanya Laras.
Iwan menatap pintu, mungkin menghitung kemungkinan melarikan diri.
“Tunjangan pakaian kerja yang akan masuk bulan depan juga usulan Komandan. Beliau bilang peniti tidak aman dekat Satya.”
Wajah Laras langsung panas. “Dia cerita soal peniti?”
“Cuma bilang bajunya perlu diganti. Tidak cerita kenapa.”
“Bagus.”
“Terus jadwal pulang dua kali sebulan, tambahan makan, sama petugas perempuan pengganti kalau Mbak ke desa. Semua beliau yang dorong.”
“Cukup, Wan.”
“Mbak yang tanya.”
“Kalau kamu terus bicara, saya tidak tahu harus marah kepada siapa.”
Iwan mengencangkan sekrup terakhir dengan sangat serius. “Marah ke saya saja. Komandan kalau marah lebih menakutkan.”
Laras duduk di sisi kasur karena lututnya mendadak lemah. Selama ini ia menduga, tetapi mendengar seluruhnya tetap terasa seperti sesuatu menekan dada dari dalam.
“Kenapa tidak bilang?”
“Karena Komandan bilang jangan.”
“Lalu kenapa sekarang bilang?”
“Karena Mbak bertanya terlalu rapi.”
Satya yang bermain dengan kaus kaki kecil mengeluarkan suara. Laras mengambil kaus itu dan menggenggamnya.
Iwan turun dari kursi. “Nala sudah lebih baik, Mbak. Waktu saya ke sana matanya terang. Dia kurus, tapi kuat. Mbah Inah menjaga uangnya. Ketua RT juga tahu.”
Air mata menggenang di mata Laras. “Kamu melihatnya sendiri?”
“Iya. Dia menggenggam jari saya.”
“Dia menangis?”
“Sedikit. Setelah susu, tidur lagi.”
Laras menunduk pada kaus kaki Satya agar Iwan tidak melihat wajahnya.
“Terima kasih.”
“Jangan ke saya.”
“Saya tahu.”
Teknisi jendela selesai memasang karet penahan. Iwan memperbaiki gerendel sampai pintu bisa dikunci tanpa kursi. Setelah pekerjaan selesai, Laras menggoreng tempe tipis untuk mereka.
Laras mencoba gerendel itu dua kali. Besinya masuk rapat dan tidak bergoyang ketika pintu didorong dari luar. Jendela yang biasanya bersiul saat angin datang kini diam.
“Komandan minta semua diperiksa sebelum malam,” kata teknisi. “Katanya kamar ibu dan bayi tidak boleh punya celah.”
Kalimat itu sederhana, tetapi Laras teringat berapa malam ia menaruh kursi di belakang pintu dan tidur dengan satu telinga terbuka. Bima rupanya memperhatikan rasa aman yang bahkan tidak pernah ia minta dengan kata-kata.
“Tulis biayanya,” kata Laras kepada Iwan.
“Sudah masuk pemeliharaan rumah dinas.”
“Kalau bohlam tambahan?”
“Pemeliharaan.”
“Air panas?”
“Kalau Mbak terus bertanya, sebentar lagi saya masukkan tempe goreng ini ke laporan pemeliharaan.”
Laras akhirnya tertawa dan mendorong piring ke arahnya.
“Makan dulu,” katanya.
Iwan mengambil satu, lalu dua. Laras menuangkan teh dan mulai bertanya seolah santai.
“Kolonel Sutrisno benar akan makan malam?”
“Iya. Beliau mantan atasan Pak Sudibyo. Katanya kalau ada rendang, bisa lupa pulang.”
“Suka pedas?”
“Bumbu kuat, tapi bukan cabai yang membakar. Beliau dari kampung, suka masakan yang santannya matang.”
“Siapa bilang?”
“Sopirnya pernah cerita. Dulu Pak Kolonel sampai bungkus rendang dari acara Korem.”
Laras menyimpan informasi itu.
“Rapat Persit?”
Iwan mengunyah lebih lambat. “Bu Ratna sudah siapkan enam orang bicara. Sudibyo membiarkan. Bagian perbekalan bingung karena rapatnya berdekatan dengan persiapan makan.”
“Bima akan hadir?”
Itu pertama kalinya Laras menyebut nama tanpa gelar di depan Iwan. Prajurit muda itu mengangkat alis.
Laras segera memperbaiki, “Komandan akan hadir?”
“Beliau akan ada di aula.”
“Baik.”
Setelah Iwan pergi, Laras duduk sendiri. Cahaya lampu baru jatuh terang di atas map menu, gerendel kuat terpasang di pintu, jendela tidak lagi bergetar.
Setiap benda di kamar itu ternyata menyimpan tangan Bima.
Makanan yang sampai tepat waktu. Air panas. Obat Satya. Susu Nala. Uang yang dijaga RT. Bahkan hak pulang yang ditulis ke surat kerja.
Laras menekan kaus kaki kecil di telapak tangannya.
Ia tidak bisa membalas semua itu dengan ucapan terima kasih yang canggung. Namun ia bisa memastikan syukuran berhasil. Jika dapur Parjo menang, tidak ada lagi orang yang mudah menyebut Laras hanya beban atau pengganggu rumah seorang Danyon.
Lebih dari itu, ia ingin Bima duduk di meja tamu tanpa harus menahan malu karena orang yang dilindunginya gagal.
Laras membuka menu. Rendang harus dimulai malam sebelumnya. Bumbu diperbanyak, santan dimatangkan sampai minyak keluar, daging tidak boleh hancur. Tumpeng harus berdiri rapi. Ayam kremes dibuat terakhir.
Satu demi satu hidangan bergerak di kepalanya.
Kaus kaki Satya masih tergenggam saat Laras mengambil keputusan.
Syukuran ini bukan hanya pekerjaan dapur.
Ini adalah pertarungan untuk tempatnya sendiri, untuk Nala yang harus ia bawa pulang, dan untuk laki-laki yang diam-diam telah berdiri di belakangnya jauh sebelum Laras menyadarinya.