Pernikahan kami sempurna. Harta, takhta, dan sepasang anak kembar yang rupawan telah kami miliki. Sebagai sesama pemilik perusahaan, aku dan Mas Hanif adalah definisi pasangan ideal di mata dunia.
Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Mas Hanif meminta izin untuk menikah lagi. Didukung oleh ibu mertuaku, seorang wanita polos datang dan mengaku siap berjuang dari bawah bersamanya.
Dunia mengira aku akan mengamuk. Nyatanya, di balik anggunnya hijabku, aku justru tersenyum tenang. Aku mengiyakan, bahkan mengantarnya langsung ke pelaminan maduku.
Mereka pikir aku pasrah? Salah besar.
Sebelum melepasnya, sebuah perjanjian gono-gini rahasia telah kutandatangani bersama Mas Hanif. Lewat strategi bisnis yang rapi, perlahan akan kutarik semua aset dan kejayaan yang menyokongnya selama ini.
Katanya siap berjuang dari bawah? Silakan nikmati perjuangan itu tanpa sepeser pun sisa hartaku. Selamat datang di skenario dendam manisku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
Euforia pernikahan siri yang membubung tinggi di dalam masjid beberapa jam lalu perlahan mulai mendarat pada realitas yang mencemaskan bagi Hanif. Setelah prosesi akad nikah dan sesi foto-foto yang penuh kepalsuan itu selesai, rombongan pengantin baru tidak langsung menuju ke rumah mewah Hanum. Hanif memilih untuk membawa Sarah dan keluarga besarnya pulang terlebih dahulu ke rumah Ibu kandungnya, Ibu Rahma.
Di rumah bergaya klasik milik Ibu Rahma, sebuah pesta kecil-kecilan telah disiapkan untuk menyambut kedatangan Sarah sebagai menantu baru.
Saudara-saudara dan kerabat dekat Sarah dikumpulkan di sana untuk diperlihatkan bagaimana megahnya rumah milik ibunda Hanif. Ibu Rahma dengan sengaja memamerkan setiap sudut rumahnya, mencoba meyakinkan keluarga besarnya bahwa Sarah telah jatuh ke tangan pria dari keluarga terpandang. Namun, di balik senyum lebar Hanif saat menemani Sarah memotong tumpeng, nyali pria itu sebenarnya perlahan-lahan mulai menciut.
Setiap kali melihat jam di pergelangan tangannya bergerak maju, dada Hanif berdesir hebat oleh rasa cemas yang tak tertahankan. Dia tahu, sore nanti, dia harus menghadapi Hanum. Dia harus menepati janjinya pada ibunya dan Sarah untuk membawa istri mudanya itu tinggal di bawah atap yang sama dengan istri pertamanya. Membayangkan tatapan mata Hanum yang sedingin algojo seminggu terakhir ini membuat nyali kelelakian Hanif mendadak ciut hingga ke titik nadir.
Waktu menunjukkan pukul empat sore ketika pesta kecil di rumah Ibu Rahma akhirnya usai. Dengan mengendarai mobil sedan putih milik Ibu Rahma karena Hanif tidak berani membawa mobil sport yang secara hukum sudah beralih kepemilikan menjadi milik anak-anaknya mereka bertolak menuju kediaman Hanum. Di dalam mobil itu, Hanif menyetir dengan pikiran yang bercabang, ditemani oleh Ibu Rahma di kursi penumpang depan, serta Sarah dan Ibu kandungnya di kursi belakang.
Begitu mobil berbelok ke kawasan residensial elit dan berhenti tepat di depan gerbang besi hitam menjulang tinggi setinggi tiga meter, pemandangan itu seketika membungkam tawa renyah Sarah dan ibunya. Gerbang kokoh dengan ukiran klasik itu berdiri dengan begitu megah, membatasi sebuah dunia yang selama ini hanya bisa mereka lihat di layar televisi.
"Astaga, Mas Hanif... ini benar rumahnya Mbak Hanum?" bisik Sarah dari kursi belakang, matanya melebar takjub, menempel pada kaca jendela mobil. Detak jantungnya berdegup kencang oleh rasa kagum sekaligus iri yang luar biasa. Gengsi dan keserakahannya seketika membumbung tinggi. Dia benar-benar ingin sekali melangkah masuk, menguasai, dan tinggal di dalam rumah semegah ini seumur hidupnya.
Ibu Sarah pun tidak kalah melongo. Wanita paruh baya yang tadi siang bersikap sok berkuasa di kampungnya itu kini menelan ludah dengan susah payah. "Nif... besar sekali pagar rumahnya. Ini rumah atau istana kerajaan?"
Hanif tidak menyahut. Dia hanya mencengkeram setir mobil dengan erat, mencoba menenangkan debaran dadanya yang kian tak menentu.
Sebelum roda mobil sempat menyentuh batas garis masuk, sosok Pak Joko, kepala sekuriti rumah, sudah melangkah keluar dari pos penjagaan dengan seragam safari hitam yang gagah. Sesuai dengan instruksi ketat dan briefing mendalam yang diberikan oleh Hanum beberapa jam lalu, Pak Joko tidak langsung menekan tombol otomatis untuk membuka pagar. Pria paruh baya itu berdiri tegak di samping jendela pengemudi, mengetuk kaca dengan gerakan yang sangat formal dan dingin.
Hanif menurunkan kaca mobilnya dengan dahi berkerut dalam. "Joko, buka gerbangnya. Saya mau masuk," perintah Hanif, mencoba mengembalikan wibawanya sebagai tuan rumah.
Namun, jawaban Pak Joko justru membuat atmosfer di dalam mobil seketika mendingin. "Mohon maaf, Pak Hanif. Sesuai dengan prosedur operasional dan aturan keselamatan terbaru di rumah ini, saya harus menanyakan terlebih dahulu: ada keperluan apa Bapak datang kemari sore ini? Dan siapakah orang-orang yang ada di dalam mobil bersama Bapak?"
Mendengar pertanyaan itu, darah Hanif seketika mendidih. Wajahnya memerah padam akibat rasa malu dan murka yang luar biasa yang mendadak menghentak dadanya. Bagaimana bisa seorang satpam yang selama bertahun-tahun ini dia gaji meskipun kenyataannya uang itu dari rekening Hanum berani mempertanyakan keperluannya masuk ke rumahnya sendiri?
"Joko! Kamu sudah gila, ya?!" bentak Hanif, suaranya meninggi hingga membuat Sarah di belakang tersentak kaget. "Kamu tidak tahu siapa saya?! Saya ini majikanmu! Saya suami dari Ibu Hanum! Buka gerbangnya sekarang juga, jangan banyak tanya!"
Ibu Rahma yang duduk di samping Hanif pun tidak kalah setir. Ego tuanya meradang hebat melihat anak laki-lakinya diperlakukan seperti orang asing.
"Heh, Satpam! Kamu itu cuma pekerja di sini ya! Berani-beraninya kamu menyetop mobil majikanmu sendiri! Mana si Hanum?! Suruh dia keluar! Kurang ajar sekali mendidik pekerja rumah sampai tidak punya sopan santun begini!"
Pak Joko tetap berdiri dengan kokoh, wajahnya datar tanpa ekspresi takut sedikit pun. "Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Ibu, Pak Hanif. Kami di sini hanya menjalankan tugas dan prosedur yang sudah disepakati bersama dengan Ibu Hanum selaku pemilik mutlak aset bangunan ini. Setiap tamu, tanpa terkecuali, harus didata keperluannya. Mohon Bapak dan rombongan menunggu di dalam mobil sebentar, saya harus mengonfirmasi hal ini terlebih dahulu," ucap Pak Joko dengan nada bicara yang sangat sopan namun tegas, sebelum berbalik kembali ke dalam pos sekuriti untuk menggunakan interkom.
"Kurang ajar! Benar-benar kurang ajar si Hanum itu!" maki Ibu Rahma sambil menggebrak dasbor mobil dengan gemas. "Nif, kamu lihat sendiri kan?! Belum juga kita melangkah masuk, dia sudah sengaja menggunakan satpamnya untuk menginjak-injak harga dirimu di depan istri mudamu! Ibu benar-benar ingin sekali memaki-maki perempuan ular itu sekarang juga!"
Hanif mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih, menahan emosinya yang sudah berada di ubun-ubun. Dia merasa terhina setengah mati di hadapan Sarah dan ibu mertua barunya. Di satu sisi dia ingin mengamuk dan mendobrak gerbang itu, namun di sisi lain dia teringat kata-kata Pak Baskoro seminggu lalu bahwa dia tidak memiliki hak hukum apa pun atas tanah ini lagi.
Dua menit kemudian, Pak Joko kembali keluar dari pos penjagaan. Kali ini dia tidak sendiri, dua orang satpam berbadan tegap lainnya ikut berdiri di belakangnya dengan posisi siap siaga.
"Bagaimana, Joko?! Sudah kamu buka gerbangnya?!" cecar Hanif dengan suara serak menahan amarah begitu jendela diturunkan kembali.
"Mohon maaf, Pak Hanif. Atas perintah dari Ibu Hanum, mobil milik Ibu Rahma dilarang keras untuk memasuki pekarangan dalam rumah," ujar Pak Joko dengan tenang.
"Apa?!" Hanif terbelalak. "Kamu mau saya memarkir mobil di pinggir jalan raya seperti pengemis?!"
"Mobil bisa diparkir di area luar pos, Pak. Ibu Hanum menyampaikan, jika Pak Hanif dan rombongan memang memiliki keperluan penting yang ingin disampaikan, Bapak dan para tamu diminta untuk turun dari mobil dan berjalan kaki masuk ke dalam," lanjut Pak Joko tanpa beban.
"Sialan! Rumah ini halamannya luas sekali, Joko! Kamu menyuruh ibuku yang sudah tua dan istriku yang sedang memakai gaun pengantin untuk berjalan kaki sejauh itu ke dalam?! Di mana otak kalian?!" amuk Hanif, suaranya menggelegar, urat-urat di lehernya menonjol tegang.
Ibu Sarah di kursi belakang mulai merasa ketakutan melihat intensitas kemarahan Hanif, sementara Sarah meremas jemarinya dengan cemas, tidak menyangka bahwa sambutan dari istri tua suaminya akan sekejam dan sedingin ini.
Pak Joko tidak bergeming oleh bentakan Hanif. "Kami hanya menyampaikan pesan, Pak. Kebetulan saat ini Nyonya Hanum sedang berada di halaman taman samping lantai satu, sedang merawat tanaman-tanaman beliau. Jika Bapak ingin menemuinya, silakan berjalan kaki lewat jalur taman samping. Terima kasih."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Pak Joko memberikan kode kepada rekannya. Pintu gerbang besi yang besar itu perlahan terbuka otomatis, namun hanya menyisakan celah selebar satu meter hanya cukup untuk akses orang berjalan kaki, sama sekali tidak bisa dilewati oleh moncong mobil sedan mereka.
"Nif... bagaimana ini? Masa kita harus jalan kaki?" tanya Ibu Rahma dengan napas memburu karena dongkol. Gengsinya runtuh seketika.
Hanif memejamkan matanya, napasnya naik turun tidak teratur. Rasanya dia ingin memutar balik mobil ini dan pergi sejauh mungkin dari istana Hanum. Namun, jika dia pergi sekarang, dia akan dicap sebagai pengecut di depan keluarga Sarah, dan rencana ibunya untuk merongrong rumah ini akan gagal total sebelum dimulai.
Di saat kondisi sedang buntu dan tegang, Sarah perlahan memajukan tubuhnya. Wanita muda itu menyentuh pundak Hanif dengan lembut, memainkan perannya sebagai sosok istri yang pengertian, teduh, dan manipulatif.
"Mas Hanif... Mas yang sabar, ya," bisik Sarah dengan suara manjanya yang teramat lembut, seolah-olah dia adalah korban yang paling tabah di sini. "Jangan emosi dulu, Mas. Mungkin Mbak Hanum cuma mau menguji kesabaran kita. Sarah tidak apa-apa kok kalau harus berjalan kaki demi menemui Mbak Hanum. Gaun Sarah juga tidak akan rusak hanya karena berjalan sedikit. Ayo, Mas, kita turun saja. Kita tunjukkan pada Mbak Hanum kalau kita datang dengan niat baik untuk membicarakan masalah keluarga ini secara kekeluargaan."
Mendengar bisikan lembut dari Sarah, ego Hanif yang tadinya terbakar amarah mendadak mendingin oleh rasa haru yang semu. Dia menatap Sarah lewat spion tengah dengan pandangan penuh rasa terima kasih. Lihatlah, Hanum... wanita yang kamu sebut perampas ini justru jauh lebih beradab dan berhati lembut daripada kamu yang berhati batu! batin Hanif bodoh.
"Baiklah. Kita turun," ucap Hanif akhirnya dengan suara berat.
Pintu mobil terbuka. Hanif, Ibu Rahma, Sarah, dan ibunya melangkah keluar dari mobil. Mereka melangkah melewati celah gerbang besi yang hanya terbuka sedikit itu di bawah tatapan waspada dan dingin dari empat orang satpam yang berjaga.
Begitu kaki mereka menapak di atas jalan setapak berbatu sikat yang membelah halaman depan, satu kata yang bisa menggambarkan ekspresi Sarah dan ibunya adalah melongo.
Sepasang mata mereka berputar liar, memandang takjub arsitektur rumah megah lantai tiga bergaya klasik modern yang berdiri kokoh di hadapan mereka. Dindingnya yang terbuat dari batuan alam premium, pilar-pilar besar yang menjulang tinggi menopang balkon lantai dua dan tiga, serta jendelanya yang besar-besar seperti yang sering mereka lihat di dalam sinetron televisi atau majalah arsitektur kelas atas.
Bukan hanya bangunan rumahnya saja yang membuat mereka terpana, melainkan halaman rumahnya yang tampak luar biasa luas. Di sisi kiri terdapat hamparan rumput hijau yang dipotong sangat rapi bak lapangan golf, dihiasi oleh beberapa pohon palem hias berukuran besar yang harganya pasti puluhan juta rupiah. Di bagian tengah, sebuah air mancur marmer bertingkat tiga mengalirkan air yang jernih, menimbulkan suara gemercik yang menenangkan di sore yang cerah itu.
Sarah menelan ludah, tangannya mencengkeram lengan ibunya dengan erat. Rasa takjub di hatinya perlahan berubah menjadi ambisi yang meletup-letup. Rumah ini... harus bisa menjadi milikku juga. Aku adalah istri sah Mas Hanif sekarang. Aku punya hak yang sama untuk menikmati semua kemewahan ini, batin Sarah dengan keserakahan yang kian menggelapkan mata dan hatinya.
"Nif... luas sekali ini halamannya. Capek juga ya kalau jalan kaki," keluh Ibu Sarah, meskipun matanya tidak bisa berhenti mengagumi setiap detail tanaman hias yang berjejer rapi di sepanjang jalan setapak.
Hanif tidak merespons keluhan ibu mertuanya. Langkah kakinya memimpin rombongan itu memutari jalur setapak menuju ke arah taman samping, sesuai dengan petunjuk dari Pak Joko tadi. Semakin dekat mereka dengan area taman, detak jantung Hanif terasa semakin berdentum keras di dalam dada.
Begitu mereka berbelok di sudut paviliun, pemandangan berganti menjadi sebuah taman bunga anggrek dan tanaman hias monstera langka yang tertata sangat estetis di bawah naungan atap kaca minimalis.
Di tengah-tengah taman yang asri itu, berdiri sosok wanita yang selama seminggu ini memenuhi mimpi buruk Hanif dengan ketakutan.
Hanum tampak berdiri membelakangi mereka. Sore ini, dia tidak lagi mengenakan abaya sutra hitam mahal seperti di masjid tadi pagi. Hanum hanya mengenakan pakaian santai rumahan berupa setelan tunik berbahan linen longgar berwarna krem polos, dengan hijab instan yang kelihatan cantik di wajahnya. Di tangan kanannya, Hanum sedang memegang selang air panjang berujung kuningan, dengan santai menyiram barisan tanaman anggrek bulan koleksinya yang sedang mekar sempurna. Gerakannya begitu tenang, anggun, seolah-olah kedatangan empat orang di belakangnya tidak lebih penting daripada butiran air yang jatuh menyiram dedaunan.
Hanif menghentikan langkah kakinya tepat lima meter di belakang punggung Hanum. Dia menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh sisa-sisa keberanian kelelakiannya yang telah terkoyak, lalu membuka suaranya dengan nada yang dipaksakan terdengar tegas.
"Hanum!" panggil Hanif dengan suara berat yang menggema di keheningan taman sore itu.
Tepat setelah nama itu diucapkan, gerakan tangan Hanum yang memegang selang air mendadak terhenti di udara.
blng aja pgn d tmani mkn gt,ga ush ngeles sna sni....gengsi aja d gdein.....🙄🙄🙄
kalo mau ngajak makan bareng lngsung aj ngomong ,, gx usah gengsi gtuuu🤣🤣🤣🤣
Yg gengsiny stnggi gunung.....kt tau lh kl situ holang kaya,ya kali kelaparan.....🤣🤣🤣....
bkannya bruntung pnya istri cntik,mndiri,kaya raya pula...d tmbh kluarga yg mau nrima dia...
ni mlah ngelunjak...d kira dnia bkln kiamat kali kl hanum ga sm dia....
ccckkk.....🙄🙄🙄
udh emnk si hanif ,, seharusny tnggal di tempat yg skrang ,, gx cocok dy tnggal di rumah mewaah ,,
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
aku setuju banget klo mereka bersatu, biar Hanif semakin merana....
semangat thor, ceritanya bagus banget
Dr kulkas 6 pntu,jd cair kl sm ponakannya....