NovelToon NovelToon
Harga Turun Sejuta Kali

Harga Turun Sejuta Kali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Kaya Raya
Popularitas:101
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad

Saldo rekening Rp 350000
Pacar selingkuh
Harga diri nol

Lalu dunia berubah

Seluruh harga turun 1000000 kali Rumah mewah jadi Rp 50000 Mobil sport Rp 5000 Tapi uang Raka Tidak berubah

Rp 350000 Rp 350 MILIAR

Dari pemuda yang diludahi dunia menjadi pria yang membeli kotanya sendiri

Sistem Ilahi sudah aktif
Misi pertama beli rumah paling mahal di kota ini tunai
Misi kedua hancurkan semua yang pernah menghinamu

Harga Turun Sejuta Kali update setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21: Lelang Permata Privat

"Anak muda, kamu anak siapa?"

Pria bertubuh besar dengan cincin berlian di tiga jari itu menghadang Raka begitu ia masuk ke ballroom tertinggi Grand Hotel Surabaya. Di tangannya ada gelas anggur, di wajahnya ada senyum orang yang merasa berhak menginterogasi siapa pun yang belum ia kenal.

Raka menatap undangan emas di tangan panitia, lalu kembali kepada pria itu.

"Saya datang atas undangan."

"Semua orang di sini datang atas undangan. Maksud saya, keluargamu siapa?"

Fajar yang berdiri di belakang Raka membisik, "Bos, di sini orang nanya marga kayak nanya password WiFi."

Raka hampir tertawa. "Keluarga saya menunggu di rumah. Saya datang untuk belanja."

Jawaban itu membuat beberapa kolektor di dekat meja minuman menoleh. Di ruangan ini, orang tidak mengatakan belanja dengan nada santai kalau barang yang dilelang bernilai miliaran rupiah. Mereka mengatakan akuisisi, koleksi, diversifikasi aset, atau warisan budaya. Raka sengaja memilih kata yang paling sederhana.

Panitia mempersilakan mereka ke meja nomor delapan. Fajar duduk kaku, dasinya miring sedikit meski sudah ia perbaiki tiga kali di mobil.

"Jar, bernapas."

"Aku bernapas, Bang. Cuma takut napasku kena biaya servis."

Lelang dimulai.

Pelelang memperkenalkan kalung safir Sri Lanka sebagai barang pertama. Batu biru di tengahnya bersih, potongannya rapi, dan Mimpi langsung menampilkan data kualitas.

[Nilai pasar stabil. Harga pembukaan Rp2.000.000.000. Harga sistem untuk tuan rumah mengikuti nominal lelang terkonversi.]

Penawaran bergerak cepat: dua miliar, tiga, tiga setengah. Orang-orang menaikkan harga dengan ekspresi seolah sedang memilih dessert.

Raka mengangkat papan.

"Lima miliar."

Ruangan langsung menurun suaranya.

Pelelang tersenyum lebih lebar. "Lima miliar dari meja delapan. Ada yang menawar lebih tinggi?"

Tidak ada.

Palu jatuh.

Fajar mencengkeram tepi kursi. "Bang, itu baru barang pertama."

"Mereka harus tahu kita bukan datang untuk lihat-lihat."

Barang kedua, cincin ruby pigeon blood dari Myanmar, membuat tiga kolektor tua langsung bertarung. Salah satunya sengaja menatap Raka ketika menawar lima miliar, seolah menantang anak baru itu membuktikan suara besarnya bukan kebetulan.

Raka menunggu sampai mereka saling menaikkan harga terlalu lama, lalu mengangkat papan.

"Delapan miliar."

Palu kembali jatuh untuknya.

Di meja depan, seorang wanita berbisik, "Siapa sebenarnya dia?"

Pria bertubuh besar yang tadi bertanya anak siapa mulai berhenti tersenyum.

Barang ketiga adalah chrysoberyl cat's eye. Cahaya di tengah batu bergerak seperti garis hidup yang sempit. Saat pelelang menyebutnya mahkota malam ini, ruangan berubah lebih serius. Tiga orang kaya lama langsung masuk. Harga naik sampai dua belas miliar.

Mimpi memberi peringatan.

[Penilaian Menengah: kualitas jauh di atas katalog. Potensi nilai lebih dari Rp50.000.000.000. Sinyal energi lemah terdeteksi, belum dapat dianalisis.]

Raka mengangkat papan.

"Dua puluh miliar."

Kali ini bukan hanya hening. Udara seperti berhenti.

Pelelang sampai mengulang, "Dua puluh miliar dari meja delapan."

Satu pesaing menurunkan papan. Yang kedua menggeleng sambil tertawa pahit. Yang ketiga menatap Raka, ingin menaikkan harga karena gengsi, tetapi istrinya menyentuh lengannya. Ia menyerah.

Palu jatuh.

Fajar menutup wajah dengan dua tangan. "Kita beli batu kayak beli kacang goreng. Aku butuh duduk padahal sudah duduk."

Setelah sesi utama selesai, staf membawa faktur. Bayu tidak hadir, tetapi ia sudah menyiapkan rekening dan batas dokumen. Raka membayar melalui jalur resmi. Di sistem bank, transaksi tercatat normal. Di saldo Raka, angka yang keluar tetap terasa tidak masuk akal kecil.

[Misi Kolektor Permata selesai.]

[Hadiah: 6.000 poin. Kemampuan Penilaian naik ke Menengah. Jangkauan 500 meter. Objek tambahan: antik dan seni dasar.]

Perubahan itu terasa seperti tirai kedua dibuka di depan mata Raka. Vas di sudut ruangan menunjukkan usia palsu. Jam dinding tua ternyata asli. Gelas anggur pria besar itu retak kecil di kaki, meski belum terlihat.

Satu per satu kolektor datang menyerahkan kartu nama. Nada mereka berubah dari bertanya anak siapa menjadi Pak Raka kapan ada waktu. Fajar akhirnya menjadi tempat penyimpanan kartu hidup; saku jasnya menonjol di kiri kanan.

Pria besar tadi datang paling akhir.

"Saya Hadi. Maaf kalau tadi terdengar kasar. Di tempat seperti ini, kami terbiasa bertanya silsilah."

"Saya terbiasa ditanya harga diri," jawab Raka. "Silsilah masih lebih sopan."

Hadi tertawa kaku, tidak yakin itu lelucon atau tamparan.

Di mobil, Raka memegang kotak cat's eye. Ketika lampu jalan lewat, garis cahaya di dalam batu itu bergeser seperti mata yang membuka.

[Mimpi: energi dalam batu belum dapat dipetakan. Disarankan simpan di Pocket Space sampai fitur analisis lebih tinggi terbuka.]

Raka menyimpannya.

Fajar tiba-tiba mengangkat ponsel. "Bang, Surabaya Auto Show minggu depan. Ada Lamborghini Aventador SVJ limited edition, cuma sembilan ratus unit di dunia. Juga Ferrari SF90 Stradale. Kita lihat?"

Raka menatap layar sebentar.

Sebelum pembayaran terakhir selesai, Ibu Kartini dari pihak penyelenggara menghampiri meja Raka. Ia tidak banyak bicara, tetapi caranya memegang map berubah. Pada awal malam, ia menyerahkan katalog seperti kepada tamu muda yang mungkin hanya ikut orang tua. Sekarang ia memastikan sendiri faktur, asuransi pengiriman, dan penyimpanan brankas.

"Pak Raka, untuk cat's eye, kami sarankan pengawalan khusus. Ada beberapa kolektor yang mungkin akan menghubungi Bapak langsung."

"Kalau mereka sopan, Fajar terima kartu nama. Kalau memaksa, abaikan."

Fajar menepuk saku yang sudah penuh. "Saku saya sudah seperti kantor pos, Bang."

Di meja sebelah, dua pengusaha tua berbisik tentang asal uang Raka. Satu menuduh ia pewaris tersembunyi. Yang lain menduga ia anak pejabat. Raka mendengar sebagian, tetapi tidak merasa perlu meluruskan. Di dunia seperti ini, misteri kadang lebih berguna daripada penjelasan.

Hendra mengirim pesan singkat setelah melihat daftar pembelian: Kamu baru masuk satu malam dan sudah membuat separuh ruangan merasa tua. Hati-hati, mereka akan ramah di depan, menghitung di belakang.

Raka membalas: Karena itu aku bawa Fajar dan Bayu punya nomor mereka.

Mimpi menandai beberapa nama yang terlalu lama menatap kotak cat's eye. Mereka belum menjadi musuh. Namun Raka belajar bahwa barang langka selalu punya bayangan. Ia meminta pengiriman dua batu pertama langsung ke brankas Menara Langit, sedangkan cat's eye tetap ia simpan sendiri. Malam itu ia tidak hanya membeli permata. Ia membeli perhatian kalangan yang lebih mahal daripada harga barangnya.

Ketika Raka keluar dari ballroom, satu staf keamanan hotel berjalan lebih dekat dari seharusnya, jelas diperintah untuk mengawal. Raka menolak pengawalan berlebihan, tetapi meminta jalur lift privat. Ia tidak takut, hanya tidak ingin kotak permata menjadi undangan bagi tangan iseng. Fajar mengecek koridor lebih dulu, kebiasaan yang kini terasa alami bagi tim kecil mereka.

Di lift, Raka membuka daftar poin sistem. Setelah beberapa misi, angka itu tidak lagi sekadar hadiah. Poin berarti kemampuan baru, perlindungan, obat, dan jalan pintas saat dunia luar mencoba membuat uang saja tidak cukup. Ia menyadari setiap pembelian harus punya tujuan. Permata malam itu memberinya jaringan. Cat's eye memberinya misteri. Dan misteri selalu menjadi pintu babak berikutnya.

"Lihat? Jar, kita bukan pergi untuk lihat. Kita pergi untuk beli."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!