"Demi menyelamatkan ayahnya, Alya setuju menggantikan kakaknya untuk memenuhi janji pernikahan dengan Mayor Damar. Namun, pada akhirnya semua hanyalah status dan diikat surat perjanjian yang berlaku selama tiga tahun. Di samping itu, Alya dan Damar menjalani kehidupan mereka masing-masing.
Namun, dua tahun kemudian, keduanya dipertemukan kembali di medan perang. Alya sebagai dokter ditugaskan ke perbatasan NTT, tempat Damar bertugas. Kontrak yang awalnya dianggap sebagai garis aman perlahan-lahan berubah menjadi bom waktu ketika cinta mengetuk hati Mayor Damar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24 - Wabah Setelah Gempa
Kata wabah tidak boleh diucapkan sembarangan.
Alya tahu itu.
Satu kata bisa membuat posko panik. Orang-orang yang sudah kehilangan rumah bisa kehilangan akal jika mendengar penyakit menyebar di tempat pengungsian.
Jadi Alya memakai kalimat lain.
"Kita atur ulang posko."
Bu Niken yang datang bersama rombongan bantuan Persit langsung menggulung lengan baju.
"Apa yang harus kami lakukan, Dok?"
"Pisahkan area anak demam dari balita sehat. Buat tempat cuci tangan di dekat dapur umum. Air minum harus direbus dulu. Luka kecil tetap dibersihkan. Jangan biarkan anak-anak main di genangan."
Bu Wati menatap genangan di halaman.
"Dok, anak-anak itu kalau lihat air seperti lihat kolam renang."
"Maka kita buat mereka takut sedikit."
"Takut apa?"
Alya menatap sekelompok anak yang mulai berlari dekat lumpur.
"Takut disuruh bantu cuci panci kalau main di sana."
Bu Wati mengangguk serius.
"Itu bisa."
Dalam dua jam, posko berubah. Terpal dipindahkan, tikar dibagi, dapur umum diberi jalur antre, ember cuci tangan dibuat dari galon bekas. Rina dan Dokter Nanda memeriksa anak demam. Joko mencatat siapa saja yang punya luka terbuka.
Damar mengatur prajurit untuk mengambil air bersih dari titik aman dan membuat pagar tali agar warga tidak masuk area genangan yang dicurigai tercemar.
Ketika seorang bapak memprotes karena keluarganya dipindahkan dari tempat tidur yang sudah nyaman, Damar hampir maju.
Alya lebih dulu datang.
"Pak, anak Bapak sehat?"
"Sehat."
"Mau tetap sehat?"
"Ya mau."
"Kalau begitu pindah. Area ini untuk yang demam. Kalau Bapak tetap di sini, risiko anak Bapak ikut sakit lebih besar."
Bapak itu menatap Damar, lalu Alya.
"Kenapa tidak bilang dari tadi?"
Bu Wati di belakangnya berbisik, "Tadi sudah dibilang, Bapak yang tidak dengar."
Bapak itu pindah sambil mengomel.
Damar menatap Alya dengan alis terangkat.
"Apa?"
"Tidak apa-apa."
"Wajah Anda bilang ada apa-apa."
"Kamu lebih menakutkan dari aku kalau menjelaskan penyakit."
"Bagus. Penyakit memang harus ditakuti secukupnya."
Hari itu berjalan tanpa jeda.
Menjelang sore, dua anak demam bertambah. Satu orang dewasa mengeluh nyeri otot hebat. Hasil lab sederhana belum keluar, tapi kecurigaan Alya makin kuat.
Dia menghubungi dokter di RSUD dan Dinkes kabupaten, meminta protokol penanganan pascabanjir. Obat yang dibutuhkan terbatas, jalur distribusi belum stabil.
"Kita prioritaskan yang gejala berat," kata dokter dari RSUD lewat telepon. "Sampel dikirim kalau jalur terbuka."
"Kalau terlambat?"
"Tangani klinis. Saya percaya penilaianmu."
Alya menutup telepon dengan napas berat.
Percaya terdengar bagus sampai keputusan itu menyangkut nyawa orang.
Malamnya, salah satu anak, Timo, mendadak memburuk.
Demam tinggi, muntah, mata makin merah, nyeri betis sampai tidak bisa berdiri. Ibunya panik.
"Dok, dia kenapa? Tadi masih bicara!"
Alya memeriksa cepat.
"Rina, cairan. Nanda, catat tanda vital tiap lima belas menit. Joko, hubungi kendaraan. Kita rujuk."
Damar yang baru masuk langsung mengerti dari wajah Alya.
"RSUD?"
"Iya. Sekarang."
"Jalur malam tidak aman."
"Dia tidak bisa tunggu pagi."
Damar mengangguk.
"Aku ikut."
"Anda perlu di posko."
"Rendra pegang posko."
Alya tidak berdebat.
Perjalanan malam ke RSUD setelah gempa adalah mimpi buruk. Jalan berlumpur, beberapa bagian retak, dan hujan rintik membuat pandangan pendek. Timo merintih di belakang, ibunya membaca doa tanpa henti.
Alya duduk di samping anak itu, memantau napas dan kesadaran.
Damar mengemudi dengan wajah seperti batu.
Di tengah jalan, pohon tumbang kecil menghalangi sebagian jalur. Damar turun bersama prajurit pengawal untuk menyingkirkan. Alya tetap di belakang, memegang tangan Timo.
"Dok..." anak itu berbisik.
"Iya?"
"Saya mati?"
Ibunya menangis lebih keras.
Alya menahan tangan kecil itu.
"Belum. Kamu masih harus dimarahi Bu Wati karena main di genangan."
Timo membuka mata sedikit.
"Galak..."
"Memang. Jadi bertahan, ya."
Damar mendengar dari luar pintu yang terbuka.
Dia menyingkirkan batang pohon lebih cepat.
Timo sampai di RSUD dalam kondisi berat, tapi masih sadar. Tim IGD mengambil alih. Alya menyerahkan laporan, lalu keluar ke lorong dengan tangan dingin.
Damar datang membawa dua gelas kopi dari vending machine.
"Ini mungkin buruk."
Alya menerima satu.
"Kopinya atau situasinya?"
"Dua-duanya."
Dia mencicipi. Benar. Kopinya buruk.
Mereka duduk di kursi lorong yang sama seperti malam Maria.
Terlalu banyak malam mereka habiskan di depan pintu tindakan.
"Kamu sudah makan?" tanya Damar.
"Pertanyaan itu mulai menjadi salam Anda."
"Kamu belum jawab."
"Belum."
Damar mengeluarkan roti dari saku jaket.
Alya menatapnya.
"Anda membawa roti ke operasi lapangan?"
"Aku belajar dari pola."
"Pola apa?"
"Kamu lupa makan, lalu hampir jatuh, lalu menyangkal."
Alya mengambil roti itu.
"Analisis Anda makin tajam."
"Terima kasih."
Dia makan setengah tanpa banyak protes.
Beberapa menit kemudian, Damar berkata, "Kamu takut?"
Alya menelan roti.
"Iya."
Damar menoleh.
Dia mungkin tidak menyangka jawaban sejujur itu.
Alya menatap lantai.
"Bencana seperti ini melelahkan, tapi jelas. Ada rumah runtuh, kita cari korban. Ada luka, kita jahit. Ada patah, kita stabilkan. Penyakit setelah bencana lebih licik. Kalau kita terlambat melihat pola, korban bisa banyak."
"Kamu sudah melihatnya."
"Mungkin."
"Alya."
Dia menatap Damar.
"Kamu melihatnya lebih cepat daripada siapa pun di posko."
Kalimat itu bukan rayuan. Bukan hiburan kosong. Damar mengatakannya seperti laporan.
Justru karena itu, Alya percaya sedikit.
"Saya hanya tidak mau salah."
"Tidak ada komandan yang masuk operasi tanpa kemungkinan salah."
"Saya bukan komandan."
"Di posko medis, kamu komandan."
Alya tersenyum tipis.
"Kalau begitu Anda harus patuh."
"Aku sudah mulai."
Mereka saling menatap.
Kali ini tidak ada yang memalingkan wajah terlalu cepat.
Pintu IGD terbuka. Dokter keluar.
"Kondisi Timo stabil sementara. Kami rawat inap dan lanjut antibiotik. Keputusan rujuk cepat tadi tepat."
Alya mengembuskan napas panjang.
Ibunya Timo menangis lega.
Damar berdiri di samping Alya.
"Satu lagi hidup," katanya pelan.
Alya menutup mata sebentar.
Satu lagi hidup.
Untuk malam itu, kalimat itu cukup.
Mereka kembali ke posko menjelang subuh. Damar memaksa Alya tidur dua jam. Kali ini Alya tidak punya tenaga menolak.
Saat dia bangun, posko sudah lebih rapi. Air bersih tersedia. Anak-anak tidak lagi bermain di genangan karena Bu Wati benar-benar menyuruh mereka mencuci panci.
Damar duduk di luar balai desa, memegang radio, mata merah karena kurang tidur.
Alya duduk di sampingnya.
"Anda belum tidur."
"Sebentar lagi."
"Bohong."
"Belajar dari dokter."
Alya menatap matahari yang mulai naik.
"Damar."
"Hm?"
"Terima kasih sudah patuh."
Damar menoleh.
"Sebagai komandan medis, kamu memberi pujian?"
"Jangan terbiasa."
Dia tersenyum kecil.
Damar melihat senyum itu, lalu menatap langit.
Di antara puing, lumpur, dan ancaman penyakit, sesuatu di antara mereka tumbuh dengan cara yang aneh.
Tidak lembut.
Tidak mudah.
Tapi hidup.
Sore itu, ketika laporan pasien mulai rapi, kepala puskesmas Fatukoa datang dengan wajah malu. Ia sempat menuduh Alya membuat warga panik karena membahas penyakit terlalu cepat. Sekarang ia berdiri di depan meja triase sambil meremas topi.
"Dokter Alya," katanya, "kalau tadi kita terlambat, mungkin anak-anak itu sudah kejang di rumah."
Alya tidak mengangkat dagu. "Pak, nanti setelah posko stabil, kita butuh daftar sumur yang terendam. Jangan tunggu warga datang sakit."
"Saya siapkan."
Damar melihat lelaki itu pergi tanpa membantah. Ia baru sadar, Alya tidak menang dengan mempermalukan orang. Ia menang karena masalahnya lebih penting daripada harga diri siapa pun.
Saat malam datang, Timo akhirnya sadar sebentar di ruang observasi RSUD. Ia membuka mata, melihat Alya, lalu berbisik, "Saya belum mati?"
"Belum. Tapi kalau nanti main air banjir lagi, saya yang marah duluan."
Anak itu tersenyum lemah.
Di belakang Alya, Damar mengusap wajahnya. Lelahnya tampak jelas, tapi matanya tidak lepas dari Alya. Seolah ia sedang belajar bahasa baru, bahasa tentang mencintai seseorang tanpa menyuruh orang itu mengecil.
Alya merasakan tatapan itu.
Kali ini, ia tidak menghindar.
Di koridor, suara monitor Timo berdetak stabil.