Dia meninggal dalam kesengsaraan, dikhianati oleh suami dan sahabatnya sendiri. Tapi takdir memberinya tiket pulang ke masa lalu. Siren terbangun kembali di tubuh mudanya, lima tahun sebelum tragedi itu menghancurkan hidupnya. Kali ini, dia bukan lagi istri penurut yang naif. Dengan ingatan utuh tentang setiap kebohongan Fadli dan setiap rencana jahat Nia, Siren bersiap memainkan skenario baru. "Kalian pikir aku lemah? Tunggu saja sampai kalian melihat siapa yang sebenarnya memegang kendali." Di kehidupan barunya, Siren tidak hanya fokus menghancurkan karir dan rumah tangga Fadli, tetapi juga membangun imperiumnya sendiri. Di tengah permainan kucing-kucingan yang penuh sarkasme dan ketegangan ini, hadir Arya Wijaya—konglomerat dingin yang di kehidupan sebelumnya ia abaikan. Arya bukan sekadar pelarian. Dia adalah sekutu cerdas yang menyadari perubahan drastis pada Siren. Bersama Arya, Siren mengubah air mata menjadi senjata, dan rasa sakit menjadi bahan bakar untuk bangkit. Siap-siap m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMATIAN ADALAH AWAL YANG BARU
Rasa sakit itu bukan berasal dari luka fisik di pelipisku, melainkan dari hancurnya hati yang telah lama ku pendam. Aku terbaring di lantai kamar mandi mewah rumahku sendiri, darah merembes perlahan, membentuk genangan kecil di antara ubin putih yang dulu kubersihkan dengan bangga. Di luar sana, suara tawa renyah terdengar samar-samar. Tawa Fadli. Suamiku. Pria yang kucintai buta selama lima tahun. Dan di sampingnya, suara lembut Nia. Asisten pribadi yang selalu kuanggap seperti adik sendiri.
"Sudahlah, Li. Dia itu lemah. Jantungnya memang nggak kuat," kata Nia, suaranya penuh kepura-puraan sedih yang membuat perutku mual.
"Lagian, siapa suruh dia terlalu banyak tanya-tanya soal rekening perusahaan? Kan sudah dibilangin biar jangan ikut campur urusan bisnis."
" sudah Diam saja Nia. Biar kan dia mati di sini. Toh, asuransi jiwa atas namanya sudah cair bulan depan. Kita bebas," jawab Fadli dingin. Tanpa sedikit pun rasa bersalah. Tanpa sedikit pun sisa cinta. Hanya kalkulasi keuntungan.
Hati ku hancur lebih parah daripada tubuhku. Penyesalan terbesar dalam hidupku bukan karena akan mati, tapi karena telah membuang hidup ku untuk manusia sampah seperti mereka. Aku langsung teringat pada Arya.dia Pria baik yang selalu ada di sisiku saat aku susah, namun aku tolak karena kesetiaan buta pada Fadli.
andai saja aku bisa mengulang waktu... pikirku terakhir kali sebelum kegelapan total menelan segalanya.
"Glek!"
Aku tersentak bangun, napasku memburu seolah-olah baru saja lari maraton. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhku. Jantungku berdegup begitu kencang,rasanya hampir melompat keluar dari dadaku. Mataku terbuka lebar-lebar. Bukan langit-langit kamar mandi kotor itu yang kulihat, melainkan lampu kristal mewah di kamar tidur utama. Cahaya matahari pagi menyelinap lewat gorden putih, menciptakan suasana tenang dan damai.
"Ini... surga?" gumamku, dengan suara serak.
aku mulai Meraba-raba tubuhku. Tidak ada darah. Tidak ada rasa sakit. Kulitku masih terasa halus dan kencang. aku kemudian Bangkit dari tempat tidur dan berlari ke depan cermin besar di sudut kamar.disana aku melihat Wajahku yang menatap balik tapi disana adalah wajah Siren lima tahun lalu. Lebih muda, lebih bersinar, tanpa kerutan stres di dahi.
"Nona Muda? Apa Anda baik-baik saja?" suara Mbak Yati, dia adalah pembantu rumah tangga disini, suara iti terdengar dari balik pintu. "Sarapannya sudah siap. Tuan Fadli sudah menunggu di meja makan."
FADLI
Nama itu.
Jantungku serasa berhenti berdetak sesaat. Rasa marah, jijik, dan sakit yang tertahan bertahun-tahun di kehidupan sebelumnya meluap kembali. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada kejelasan.aku Melihat kalender di dinding. 17 Agustus 2021. Hari ulang tahun pernikahan ketiga. Hari di mana Fadli memberiku kalung palsu sambil berpura-pura romantis, padahal malam harinya dia pergi 'meeting' dengan Nia di hotel bintang lima.
Senyum tipis ku terbentuk, tapi dibalik senyuman itu penuh tekad baja. Di kehidupan sebelumnya, aku menangis seharian karena merasa tidak dihargai. Kali ini? aku Akan membuat Fadli menyesal telah lahir ke dunia ini.
"Aku baik-baik saja Mbak Yati," jawabku dengan suara stabil yang mengejutkan diri sendiri. "Tolong siapkan baju kerja saya Yang merah ya."
"Yang merah, Nyonya? Bukannya Nyonya lebih suka warna pastel? Tuan Fadli kan bilang warna merah terlalu mencolok buat istri manajer," tanya Mbak Yati bingung.
"Hari ini aku ingin terlihat berani," jawab tegas.
aku Berjalan menuju lemari pakaian. Tanganku gemetar bukan karena takut, tapi merasa tegang,aki Membuka laci rahasia—laci yang di kehidupan sebelumnya baru ditemukan setelah Fadli meninggal. Di sana, tersimpan buku catatan kecil milik Fadli. aku Membukanya. Halaman pertama berisi daftar kode rekening bank rahasia Fadli. Halaman kedua berisi jadwal pertemuan rahasianya dengan Nia.
"Tidak kali ini," bisikku pelan. Mata ku menatap tajam ke arah foto pernikahan di dinding.
"Kali ini, akulah yang akan memegang kendali."
Ponsel ku tiba-tiba berdering. Nama Fadli ❤️ muncul di layar. Dulu, nama itu membuatku tersenyum. Sekarang, sudah membuatku ingin muntah. dengan perlahan aku Mengangkat telepon.
"Ya, Sayang?"
"Ren, kamu sudah bangun? Aku sudah di bawah. Cepat ya, nanti kita terlambat ke kantor," suara Fadli terdengar manis, manipulatif. Seperti racun yang dibungkus madu.
"Aku baru bersiap siap. Oh ya, Fadli," tambahkan, suara datar.
"Jangan lupa cek email pribadi kamu. Ada file penting yang mungkin... bocor."
Ada keheningan di seberang sana.
"Apa maksudmu, Ren? Kamu ngomong apa sih pagi-pagi?"
"Nggak apa-apa. cuma ber Canda Sampai jumpa di bawah." aku Menutup telepon. aku Tahu Fadli pasti sedikit panik. Karena pagi ini, di kehidupan sebelumnya, Fadli memang menerima email peringatan dari hacker anonim. Email itu berisi bukti awal perselingkuhannya.
Aku mulai Memakai gaun merah. Gaun yang dulu disimpan karena Fadli bilang
"terlalu mencolok".
Hari ini, aku akan memakainya sebagai armor. Sebagai simbol bahwa Siren yang lama telah mati, dan Siren yang baru telah lahir.
aku melangkah Turun ke ruang makan.di sana Fadli sudah duduk dengan wajah cemas. Matanya terus melirik ponselnya. Saat dia melihatku, matanya langsung membelalak kaget.
"Wah... kamu cantik sekali hari ini, Ren. Tapi...kenapa kamu pakai baju warna merah? Kamu yakin mau pakai baju warna merah? Nanti orang-orang di kantor ngomongin kamu lho," puji Fadli, mencoba mengalihkan perhatian sekaligus memberi kritik terselubung.
aku perlahan Duduk di hadapannya,dan menuangkan kopi dengan tangan stabil.
"Terima kasih, Sayang. Kamu juga terlihat... gugup. Ada masalah di kantor? Atau ada email masuk yang bikin kamu nggak bisa fokus makan?"
Fadli tertawa gugup, tangannya gemetar saat mengambil roti.
"Nggak kok,Kamu kok tiba-tiba nanyain email? Emangnya kamu tahu sesuatu ?"
aku menatap mata Fadli dalam-dalam.aku Bisa melihat kebohongan di sana. Bisa melihat ketakutan. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa berkuasa.
"Makanlah, Sayang," kata ku sambil menyodorkan piring roti bakar.
"Kita punya banyak hal untuk dibahas nanti. Tentang masa depan kita. Tentang... kejujuran."
Fadli menelan ludah nya keras. Dia tidak tahu bahwa "masa depan" yang dimaksud Siren adalah masa depan di mana dia tidak ada di dalamnya.
"Ren, kamu hari ini aneh banget. Biasanya kamu cuma diam saja kalau aku ngomong," keluh Fadli, mencoba mengembalikan dinamika lama di mana Siren adalah pendengar pasif.
"Aneh? Mungkin karena aku sadar kalau diam itu nggak menyelesaikan masalah, Fadli. Lagian, aku kan istrimu. Harusnya aku peduli sama apa yang kamu lakukan, kan?" balas Siren dengan senyum manis yang menyembunyikan racun.
Fadli mengerutkan kening, jelas tidak nyaman dengan perubahan ini.
"Oke, oke. Terserah kamu deh. Eh, btw, malam ini aku ada meeting penting sama klien. Jadi nggak bisa rayain anniversary kita secara proper. Kamu ngerti kan?"
"Meeting?" Siren pura-pura berpikir sejenak. "Oh, meeting di Hotel Grand Mercure ya? Sama Nia? Atau ada klien lain yang namanya Nia juga?"
Wajah Fadli langsung pucat pasi. Roti di tangannya hampir jatuh.
"K-Kamu tahu dari mana?! Ren, jangan ngaco! Itu meeting beneran!"
Siren tertawa kecil, tawa yang terdengar renyah tapi membuat bulu kuduk berdiri.
"Aku cuma asal nebak, Sayang.reaksi Kamu kok berlebihan gitu? Apa... ada yang kamu sembunyikan?"
"T-Tidak! Aku cuma kaget kamu bisa nebak lokasi meeting-ku!" Fadli membela diri, keringat dingin mulai muncul di dahinya.
"Yah, kalau begitu, selamat meeting-nya, Sayang. Jangan lupa pakai pengaman. Bukan kondom, tapi pengaman data perusahaan. Siapa tahu ada yang iseng kirim email aneh ke laptop kamu,"
goda Siren sambil berdiri, mengambil tasnya.
"Aku duluan ya. Mobil jemputan sudah di depan."
"Ren! Tunggu! Kita belum bahas soal hadiah anniversary!" seru Fadli panik, berusaha menahan Siren pergi.
aku berhenti sejenak, menoleh dengan tatapan dingin.
"Hadiah? Oh, kalung emas palsu yang kamu beli di pasar gembrong itu? Simpan saja buat Nia. Aku nggak butuh barang murahan lagi, Fadli. Aku butuh kejujuran. Dan sayangnya, stok kejujuran di rumah ini sepertinya habis."
Fadli terpaku, mulutnya terbuka tapi tak ada suara yang keluar. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun pernikahan, dia kehilangan kendali atas istrinya.
aku berjalan keluar rumah dengan langkah tegap. Udara pagi terasa segar di paru-paru. Di mobil, sopir pribadi membuka pintu.
"Selamat pagi, Nyonya Siren. Ke kantor seperti biasa?" tanya sopir.
"Bukan, Pak Budi. Antar saya ke Wijaya Tower," perintah ku dengan suara mantap.
"Wijaya Tower? Itu kantor PT Wijaya Group, Nyonya. Bukannya Nyonya nggak punya urusan bisnis di sana?" Sopir terlihat bingung.
"Sekarang ada," jawab Siren singkat.
"Dan Pak Budi, tolong jangan bilang Tuan Fadli kemana saya pergi. Anggap saja ini urusan pribadi."
"Baik, Nyonya."
Mobil melaju mulus menuju pusat bisnis Jakarta. Siren menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung pencakar langit. Di kehidupan sebelumnya, dia hanya menjadi pajangan di rumah Fadli. Kali ini, dia akan menjadi ratu di dunianya sendiri.
Ponsel ku kembali bergetar. ada Pesan masuk dari nomor tak ku kenal.
"Nyonya Siren, saya Arya Wijaya. Saya menerima permintaan pertemuan mendadak dari Anda jam 9 pagi ini. Saya harap ini bukan lelucon. Waktu saya sangat berharga."
aku pun tersenyum. Arya adalah Pria yang di kehidupan sebelumnya aku abaikan. Pria yang ternyata telah lama memperhatikan kecerdasan dan ketangguhan ku dari jauh.
aku langsung Membalas pesan itu dengan cepat
"Bukan lelucon, Tuan Arya. Ini adalah proposal bisnis yang akan mengubah hidup Anda. Dan saya jamin, waktu Anda tidak akan terbuang sia-sia. Sampai jumpa jam 9."
setelah membalas pesan itu aku Meletakkan ponselku kembali. Jantungku terasa berdegup kencang, tapi bukan karena aku takut.namun Karena excited. Permainan baru saja dimulai. Dan kali ini, aku tidak akan kalah.
Di luar jendela, seekor burung gereja terbang bebas ke angkasa. Siren tersenyum. Dia juga akan segera terbang bebas. Tapi sebelum itu, ada beberapa ekor kucing licik yang perlu dijebak. Dan Arya Wijaya mungkin adalah kunci untuk semua itu.
Mobil berhenti di depan lobby Wijaya Tower yang megah. Aku turun, mengenakan gaun merah yang kini terasa seperti jubah kebesaran. Security langsung sigap membukakan pintu.
"Selamat pagi, Nyonya. Tuan Arya sudah menunggu di lantai 45," ucap security dengan hormat.
aku mengangguk dan melangkah masuk ke lift dengan kepala tegak. di sana aku melihat diri ku di cermin lift menunjukkan wanita yang berbeda. Wanita yang tahu persis apa yang diinginkan. Wanita yang siap menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya.
Lift perlahan naik. Setiap lantai yang dilewati adalah satu langkah menjauh dari masa lalu yang menyakitkan. Dan satu langkah mendekat ke masa depan yang penuh kekuasaan.
Pintu lift terbuka. Seorang sekretaris cantik langsung menyambut.
"Nyonya Siren? Silakan, Tuan Arya sudah menunggu di ruang rapat utama."
Aku berjalan menyusuri koridor mewah. Langkah kakiku bergema di lantai marmer. Di ujung koridor, pintu ruang rapat terbuka. Dan di sana, berdiri seorang pria tinggi dengan jas hitam sempurna, wajah tampan namun dingin, tatapan tajam yang seolah bisa membaca pikiran.
Arya Wijaya.
Dia menatap ku dari ujung kepala sampai ujung kaki, ekspresinya sulit dibaca. Lalu, bibirnya membentuk senyum tipis yang jarang terlihat.
"Jadi, Anda benar-benar datang," ucap Arya, suaranya berat dan berwibawa. "Dan Anda memakai merah. Berani."
aku membalas tatapannya tanpa gentar.
"Saya selalu berani, Tuan Arya. Terutama ketika menyangkut masa depan saya. Dan mungkin... masa depan Anda juga."
Arya mengangkat alis, tertarik. "Menarik. Silakan duduk, Nyonya Siren. Mari kita lihat seberapa berani Anda sebenarnya."
aku duduk di kursi di depan Arya. Meja rapat di antara mereka terasa seperti medan perang. Tapi aku tidak takut. Karena aku tahu setiap kartu yang dimiliki Arya. Dan aku tahu cara memainkannya agar menang.
"Sebelum kita mulai," ucap ku, meletakkan tasnya di atas meja.
"Saya ingin Tuan Arya tahu satu hal. Saya bukan datang untuk meminta bantuan. Saya datang untuk menawarkan kemitraan. Dan saya jamin, ini adalah kesempatan terbaik yang pernah Tuan Arya dapatkan."
Arya menyandarkan punggung ke kursi, menatap ku dengan intens.
"Anda sangat percaya diri untuk seseorang yang suaminya baru saja mencoba menipu Anda lima tahun lalu."
Mata ku menyipit.
"Tuan Arya tahu tentang itu?"
"Saya tahu banyak hal, Nyonya Siren. Termasuk fakta bahwa Anda seharusnya sudah mati tiga hari yang lalu di versi waktu yang lain," jawab Arya tenang, seolah membicarakan cuaca.
aku tertegun sejenak. Lalu tersenyum lebar. "Kalau begitu, kita memang cocok bekerja sama, Tuan Arya. Karena saya juga tahu banyak hal. Termasuk fakta bahwa Tuan Arya membutuhkan seseorang seperti saya untuk menyelesaikan masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh tim hukum atau detektif swasta manapun."
Arya terdiam sejenak. Lalu mengangguk perlahan.
"Baik. Mari kita bicara soal bisnis. Tapi ingat, Nyonya Siren. Di ruangan ini, tidak ada ruang untuk emosi. Hanya fakta dan strategi."
"Saya setuju sepenuhnya, Tuan Arya," jawab ku.
"Karena emosi adalah kelemahan. Dan saya sudah meninggalkan kelemahan itu bersama mayat Siren yang lama."
Pertemuan pun dimulai. Dan di sanalah, aku menyadari bahwa Arya Wijaya bukan sekadar sekutu. Dia adalah cermin dari kekuatan yang ingin ku bangun dengan adil
Dan bersama Arya, aku akan pastikan bahwa Fadli, Nia, dan semua yang pernah menyakitiku akan merasakan betapa pedihnya kehilangan segalanya. Tepat seperti yang mereka lakukan padaku.
Permainan baru saja dimulai. Dan aku siren siap menang.
BANTU LIKE, KOMENT, DAN FOLLOW YA KALAU SUKA DENGAN NOVEL NYA AGAR KARYA NUNA PENA BISA BERKEMBANG BAIK. MAKASI😘