NovelToon NovelToon
Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:99
Nilai: 5
Nama Author: Galih Lestari

Bima Liem wakes in another's body—a young Chinese-Javanese man in Waringin, East Java, crushed by family pressure, insults, and silent injustice.

This time, he won't stay silent. A mysterious Golden Defiance System binds to him: every time he resists moral blackmail, social pressure, or unfairness, he earns points for extraordinary abilities—god-level legal skills, deadly combat, hacking, spy drones, and hidden wealth.

Armed with law and the system, he begins an unprecedented mission: send every wrongdoer to prison—one by one. Trolls, bullies, corrupt officials, fake doctors, campus thugs, cruel neighbors—none escape the People's Prosecutor.

Everyone sees a humble village youth, unaware behind that calm face lurks a hidden billionaire, national hero, and the most dangerous man in any courtroom. You can choose silence. But if you choose evil—don't expect me to choose good.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 012: Tidak Ada Kata Damai

"Berapa... berapa yang kamu mau supaya cabut laporan?"

Suara Darmawan di telepon tidak lagi seperti di restoran. Tidak ada tawa besar, tidak ada nasihat bisnis, tidak ada nada orang kaya yang merasa dunia bisa dibeli dengan senyum. Yang tersisa hanya napas berat dan kepanikan yang dibungkus rendah.

Bima menyalakan pengeras suara, lalu meletakkan ponsel di meja ruang tengah.

Pak Harto, Bu Sri, dan Ratna langsung diam.

"Om Dar," kata Bima, "kalau Om ingin bicara, bicaralah yang jelas. Keluarga saya ikut mendengar."

Di seberang, Darmawan terdiam beberapa detik. "Kamu sengaja mempermalukan kami lagi?"

"Tidak. Saya sedang memastikan tidak ada potongan suara yang bisa dipakai nanti."

Ratna cepat membuka aplikasi perekam di ponselnya. Bima melihat itu dan tidak melarang.

Darmawan menahan makian. "Dengar. Siska memang salah. Anak itu emosi. Tapi kamu juga tahu, kalau kasus ini jalan terus, masa depannya hancur. Dia masih muda."

"Cukup muda untuk memotong video," kata Bima. "Cukup muda untuk membuat akun palsu. Cukup muda untuk menyebar alamat rumah saya. Berarti cukup muda untuk belajar konsekuensi."

Bu Sri menggenggam ujung daster. Pak Harto menatap meja, wajahnya berat. Siska tetap keponakannya. Lina tetap adiknya. Telur di pagar belum hilang dari ingatan siapa pun.

Darmawan merendahkan suara. "Seratus lima puluh juta. Tunai. Saya datang malam ini. Kamu cabut laporan, unggah klarifikasi bahwa ini salah paham keluarga."

Darmawan mencoba jalur lain. "Saya bisa bantu warung Pak Harto. Saya tahu pemasok besar. Saya bisa masukkan modal. Kamu mau kerja juga bisa saya carikan. Jangan karena emosi sesaat kamu tutup semua pintu."

Bima menatap wajah Pak Harto. Kata modal menyentuh luka yang berbeda. Ayahnya tidak pernah meminta kaya. Ia hanya ingin warung kecilnya tidak terus kalah oleh harga grosir dan utang pemasok.

"Om Dar," kata Bima, "kalau Om benar mau membantu warung Papa, kenapa baru setelah Siska dilaporkan?"

Tidak ada jawaban.

"Kenapa bukan saat Tante Lina mempermalukan Papa dengan amplop? Kenapa bukan sebelum alamat rumah kami disebar? Bantuan yang muncul setelah laporan polisi bukan bantuan. Itu tanda panik."

Bu Sri mengangguk pelan. Kalimat itu mengunci sesuatu di ruang tengah. Uang besar tadi berubah bentuk menjadi umpan.

Angka itu membuat ruang tengah membeku.

Bagi keluarga Harto, Rp150 juta angka besar bagi keluarga Harto. Itu bisa memperbaiki warung, membayar utang pemasok, mengganti atap bocor, memberi Ratna biaya kuliah beberapa semester. Bu Sri menutup mulut. Pak Harto mengangkat kepala, lalu segera menunduk lagi seperti malu karena sempat memikirkan uang itu.

Bima tidak marah kepada ayahnya. Orang miskin tidak salah ketika matanya bereaksi pada uang besar. Yang salah adalah orang yang memakai uang untuk membeli luka.

"Om," kata Bima, "kalau harga diri keluarga saya bisa dibeli, dari dulu Tante Lina tidak perlu susah-susah bawa amplop lima ratus ribu ke restoran."

Darmawan menggeram. "Jangan sok suci. Semua orang punya harga."

"Benar. Harga Om malam ini seratus lima puluh juta. Sayangnya harga saya bukan uang."

"Kamu mau apa?"

"Proses hukum."

"Bima, jangan gila. Ini keluarga."

"Justru karena keluarga, saya beri pelajaran yang tidak bisa dilupakan." Bima menatap Pak Harto sebentar, lalu melanjutkan, "Memaafkan dia adalah tugas hakim. Saya hanya bertugas mengantarnya ke hadapan hakim."

Telepon putus.

Ruang tengah tetap sunyi. Bu Sri duduk perlahan. "Bima... uang sebanyak itu..."

"Bu, kalau kita terima, besok mereka bilang kita mengaku salah. Lusa mereka bilang keluarga miskin bisa diam kalau dibayar. Setelah itu, setiap kali mereka butuh panggung, mereka akan membawa amplop lebih tebal."

Pak Harto menutup wajahnya dengan kedua tangan, lalu mengusapnya kasar. "Papa sempat tergoda."

"Wajar, Pak. Yang tidak wajar kalau Bapak menjual nama Ratna demi menutup malu Siska."

Kalimat itu membuat Pak Harto lurus kembali. Ia menatap Ratna. Adiknya Bima mencoba tersenyum. Matanya basah.

"Tidak," kata Pak Harto pelan. "Tidak dicabut."

[Pemerasan moral melalui suap ditolak.]

[Poin +750]

Malam itu Darmawan tidak datang. Yang datang justru pukul sepuluh pagi keesokan harinya adalah lelaki tua berkemeja putih kusut, memakai peci hitam, dan membawa tongkat seolah tongkat itu adalah palu pengadilan.

Karso tidak datang sendirian. Di belakangnya ada sopir ojek yang mengantar, dua kerabat jauh dari pihak Darmawan, dan seorang perempuan yang terus merekam sambil berkata, "Kasihan orang tua, diperlakukan begini." Mereka tetap di luar pagar. Posisi mereka cukup untuk membuat gang terasa seperti ruang sidang kedua.

Bima mengenali polanya. Mereka tidak datang untuk bicara. Mereka datang untuk membuat gambar: lelaki tua berlutut, rumah sederhana, anak muda dingin, tetangga menonton. Kalau Bima salah memilih satu kalimat, malamnya potongan baru akan naik.

Karena itu ia tidak membuka pagar. Batas besi itu menjadi garis hukum sederhana: siapa yang berhak masuk, siapa yang hanya membuat keributan.

Ia berdiri di depan pagar rumah Bima dan langsung berteriak.

"Bima! Keluar! Kamu hancurkan cucu saya!"

Tetangga bermunculan seperti semut menemukan gula.

Pak Harto membuka pintu dengan wajah kaget. "Pak Tua Karso?"

Lelaki itu menunjuk Pak Harto. "Kamu ayahnya, kan? Ajari anakmu punya hati! Siska itu masih anak-anak. Salah sedikit masa langsung dipenjara?"

Bima keluar ke teras. Ia tidak membuka pagar.

"Pak Tua Karso," katanya, "Siska sudah dewasa. Dan laporan saya keluar karena akibatnya nyata."

Karso menghantam tongkat ke tanah. "Kamu kurang ajar! Kalau cucu saya masuk penjara, saya mati di depan rumahmu! Biar semua orang tahu kamu pembunuh orang tua!"

Beberapa tetangga mulai berbisik. Kata "orang tua" selalu mudah memancing belas kasihan. Satu ibu bahkan berkata, "Sudahlah, Mas Bima. Kasihan. Namanya juga keluarga."

Bima menatap ibu itu. "Bu, kalau besok ada orang memfitnah anak Ibu melakukan pelecehan dan alamat rumah Ibu disebar, Ibu mau dibayar berapa untuk diam?"

Ibu itu langsung menutup mulut.

Karso menjatuhkan diri berlutut di depan pagar. Tangisnya keras, terlalu keras untuk orang yang benar-benar patah. "Kamu tidak punya hati! Siska itu darah daging!"

Bima mengangkat ponsel. Kamera menyala.

"Pak Tua, saya sudah lapor polisi. Kalau Bapak datang untuk meminta maaf, saya dengar. Kalau Bapak datang untuk mengancam, saya rekam. Kalau besok Bapak masih di sini mengintimidasi saksi dan korban, saya laporkan juga."

Karso membeku setengah detik. Pembaca Mikro-ekspresi menangkapnya: itu bukan kesedihan. Ia sedang menghitung.

[Pemerasan moral lansia terdeteksi.]

[Poin +750]

Bima menurunkan suara. "Umur tua tidak menghapus konsekuensi. Kasihan bukan izin untuk menekan korban."

Di belakangnya, Pak Harto membuka pagar sedikit agar bisa berdiri di samping Bima.

"Pak Karso," kata Pak Harto, suaranya pelan namun jelas, "kami tidak cabut laporan. Tolong pulang."

Untuk pertama kalinya, keluarga Harto tidak meninggalkan Bima sendirian di depan pagar.

Karso menatap mereka berdua, lalu tangisnya berubah menjadi amarah. Ia menghantam tongkat lagi.

"Kalian akan menyesal!"

Bima tersenyum tipis. "Bapak salah alamat. Yang harus menyesal sedang diperiksa polisi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!