Lianna "Lia" Souw punya satu rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun.
Sejak kecil, tubuhnya mengeluarkan wangi manis setiap kali ia kenyang — warisan ramuan turun-temurun dari neneknya. Wangi yang membuatnya terlalu "mengundang", terlalu berbahaya. Maka Lia belajar satu hal: **menahan lapar, menyembunyikan wanginya, dan tidak menarik perhatian siapa pun.**
Kabur dari ayah yang nyaris menjualnya demi melunasi utang, Lia mendarat di rumah megah Keluarga Wijaya di PIK — jadi pembantu tinggal-dalam yang memasak masakan rumahan dan mengurus cucu kesayangan Popo. Rencananya sederhana: kerja diam-diam, kumpulkan uang, lalu pergi.
Sampai ia bertemu **Sebastian Wijaya.**
Tuan muda keluarga konglomerat itu dingin, menahan diri, tak tersentuh — seperti puncak salju yang tak pernah mencair. Semua wanita ia tolak. Sampai malam itu, saat wangi manis Lia menguar di udara… dan pertahanan diri yang selama ini jadi kebanggaannya **retak untuk pertama kalinya.**
"Mulai sekarang," bisiknya rendah, mengurung Lia di antara dirinya dan pintu, "kamu hanya boleh makan sampai kenyang… di depanku."
Lia pikir ia hanya perlu bertahan sampai cukup uang untuk pergi. Ia tidak pernah menyangka pria sedingin es itu akan menuliskan rumah dan seluruh hartanya atas namanya, melepas mahkota pewaris demi merangkak naik dari nol bersamanya, dan berkata pada seluruh dunia dengan mata paling lembut:
*"Istriku manja. Memang harus dimanja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13: Utang yang Dijual
“Harga pengantin?”
Suara Sebastian begitu datar hingga Robby di ujung telepon ikut diam.
“Kirim semua yang bisa dipertanggungjawabkan ke kantor. Jangan lewat WhatsApp.”
“Gue sampai sana satu jam lagi.”
Sebastian memutus sambungan. Ketika kembali ke ruang makan, Lia sudah tidak ada. Hanya mangkuk kosong di kursinya dan cangkir kopi yang sengaja ia letakkan untuk menutupi aroma manis.
Ia seharusnya lega Lia telah menghabiskan sarapan.
Namun, tiga kata dari Robby terus menghantam kepalanya.
Harga pengantin Lia.
Satu jam kemudian, mereka bertemu di ruang rapat kecil kantor proyek Nara di SCBD. Robby membawa map cokelat tebal dan sebuah tablet. Tirai kaca ditutup, ponsel keduanya diletakkan menghadap bawah.
“Sebelum lo marah,” kata Robby, “semua ini didapat dari sumber terbuka, wawancara sukarela, dan salinan yang diberikan langsung oleh pihak terkait. Gue enggak akses data bank atau catatan pribadi ilegal.”
“Mulai.”
Robby membuka peta hubungan di tablet.
Herman, ayah Lia, tinggal berpindah antara Singkawang dan Pontianak. Ia punya utang kepada beberapa orang, sebagian berasal dari pinjaman pribadi dan sebagian lain dari kebiasaan berjudi. Jumlahnya cukup besar untuk lelaki tanpa penghasilan tetap.
“Dia sering pakai nama anaknya untuk meyakinkan orang,” kata Robby. “Katanya Lia kerja di keluarga kaya di Jakarta dan sebentar lagi akan dinikahkan dengan orang berduit.”
Sebastian menatap foto buram seorang pria berwajah sembap yang duduk di warung.
“Orang yang membayar?”
“Seorang perantara dari keluarga pedagang lokal. Mereka belum punya ikatan resmi dengan Lia. Tidak ada persetujuan Lia, tidak ada lamaran sah. Yang ada cuma tanda terima uang dari Herman.”
Robby menggeser salinan foto kertas. Pada bagian bawah terdapat tanda tangan Herman dan angka yang disebut sebagai uang kesungguhan untuk membicarakan pernikahan.
“Jadi dia menjual sesuatu yang bukan miliknya,” kata Sebastian.
“Secara sederhana, iya.”
“Lia tahu?”
“Sepertinya tahu bapaknya pernah berusaha menjodohkan dia demi uang. Itu alasan dia kabur ke Jakarta. Tapi soal pembayaran terbaru, gue enggak yakin.”
Sebastian berdiri dan berjalan ke jendela. Gedung-gedung SCBD memantulkan matahari pagi, rapi dan berkilau. Jauh dari sana, Lia mungkin sedang menyapu dengan satu tangan, khawatir gajinya dipotong karena tak bisa bekerja penuh.
Sementara ayahnya memakai namanya seperti jaminan utang.
“Ada risiko mereka datang ke Jakarta?”
“Ada. Herman sudah tanya alamat kerjanya lewat kerabat. Bobby juga pernah teriak mau cari Lia kerja di rumah siapa. Belum ada bukti mereka terhubung, tapi risikonya tetap ada.”
“Pantau Herman dan perantara itu. Hanya lewat cara legal.”
Robby mengangguk. “Batasnya?”
“Kalau mereka cuma bicara, catat. Kalau mereka menghubungi atau mendatangi Lia, simpan bukti. Kalau ada ancaman, penipuan, pemerasan, atau upaya membawa paksa, laporkan.”
“Ke Lia kita bilang?”
Pertanyaan itu membuat Sebastian terdiam.
Ia ingin memberitahunya sekarang juga. Namun, Lia baru melewati serangan Bobby kemarin. Memberikan satu ketakutan baru tanpa rencana perlindungan hanya akan membuatnya berhenti makan dan mencoba kabur lagi.
“Belum,” katanya akhirnya. “Pastikan fakta lengkap dulu. Saya yang akan bicara dengannya.”
Robby menyandarkan punggung. “Gue mau memastikan satu hal. Lo melakukan ini sebagai pemberi kerja atau sebagai laki-laki yang suka sama dia?”
Sebastian menatapnya.
“Itu bukan urusan lo.”
“Berarti yang kedua.”
“Robby.”
“Oke.” Robby mengangkat kedua tangan. “Tapi kalau lo serius, jangan cuma pasang orang untuk mengawasi. Lia sudah lama hidup tanpa kuasa atas dirinya sendiri. Jangan sampai perlindungan lo terasa seperti kandang baru.”
Kalimat itu mengenai tempat yang tidak ingin Sebastian akui.
Kemarin ia memerintahkan Lia untuk tidak pergi sendirian. Maksudnya melindungi, tetapi ia tidak sempat bertanya apakah Lia merasa makin aman atau justru makin dikendalikan.
“Saya akan ingat,” katanya.
Robby menutup map, tetapi menyisakan satu lembar di meja. “Ada satu kabar lagi. Orang yang membayar uang muka mulai mendesak Herman. Kalau Lia tidak dibawa pulang, mereka mau minta uang kembali. Herman jelas enggak punya uangnya.”
“Berapa lama?”
“Sulit dipastikan. Tapi tekanan akan naik.”
Sebastian mengambil foto tanda terima itu. Ia tidak menyimpannya di ponsel. Ia memasukkannya kembali ke map bukti, memastikan tanggal dan sumbernya tercatat.
“Siapkan salinan untuk pengacara. Jangan hubungi Herman sebelum ada ancaman langsung.”
“Siap, Bos.”
Setelah Robby pergi, Sebastian akhirnya membuka laptop. Pesan dari Lia sudah menunggu.
Ko Sebas, obat pagi sudah dipakai. Saya juga makan siang. Tidak usah khawatir.
Foto semangkuk nasi dan tumis sayur menyertainya.
Sebastian menatap pesan itu lama. Lia bahkan melaporkan makan siang agar ia tenang, sementara ia sendiri sedang menyembunyikan bahaya yang bisa datang dari ayah Lia.
Ia mengetik, lalu menghapus tiga kali.
Akhirnya ia hanya mengirim: Bagus. Jangan kerja berat. Kalau perlu keluar, beri tahu saya.
Balasan datang cepat.
Baik, Ko Sebas.
Sebastian memperbesar foto makan siang yang dikirim Lia. Di sudut meja tampak buku catatan pengeluaran dan amplop gaji yang dilipat rapi. Bahkan setelah dipaksa bekerja dengan tangan cedera oleh rasa takutnya sendiri, Lia masih menghitung setiap rupiah seolah besok hidupnya bisa runtuh.
Ia memanggil bagian keamanan rumah, bukan untuk mengekang Lia, melainkan memastikan kamera sisi luar berfungsi dan semua tamu asing wajib dicatat. Ia juga meminta Pak Kelik selalu tersedia bila Lia perlu keluar. Tak satu pun perintah itu boleh menghalangi Lia pergi atas kehendaknya sendiri.
Di tempat lain, Lia tersenyum kecil melihat layar, sama sekali tidak tahu bahwa di atas meja Sebastian terdapat map bertuliskan nama ayahnya.