NovelToon NovelToon
Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Dosen / CEO
Popularitas:30
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".

Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.

Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.

*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*

Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 32: Perhitungan

Kirana bangun dengan kepala seperti dipukul gong.

Cahaya pukul sembilan menyelinap dari tirai. Ia masih memakai pakaian semalam, hanya sepatu dan riasannya yang sudah dilepas. Di meja samping ranjang tersedia air, obat lambung, dan catatan tulisan tangan.

Minum pelan. Sarapan di 805 setelah kamu bisa berjalan lurus.

Ingatan datang dalam potongan: lampu lounge, jas Arya, leher pria itu di antara lengannya, lalu pertanyaan yang seharusnya tidak pernah ia ucapkan di depan orang banyak.

Kamu suka aku, kan?

Kirana menutupi wajah dengan bantal.

Ponselnya memiliki empat puluh tujuh pesan. Winda mengirim enam voice note. Ia menekan yang pertama dengan ketakutan.

“Selamat pagi, bintang utama. Untuk dokumentasi sejarah, tadi malam kamu bilang air putih tidak enak.”

Voice note kedua berisi tawa Bima. Yang ketiga menirukan Kirana meminta Arya memanggilnya Rana. Yang keempat jauh lebih kejam.

“Terus kamu peluk leher Prof dan tanya, kamu suka aku, kan?”

Kirana melempar ponsel ke ujung kasur.

Beberapa detik kemudian, ia mengambilnya lagi dan menelepon Feby.

“Aku harus pindah negara.”

Wajah Feby muncul dengan masker di dagu. “Pagi juga. Kenapa?”

Kirana menceritakan potongan yang ia ingat. Feby mendengarkan, lalu bertanya, “Dia melakukan apa saat kamu minta dicium?”

“Aku tidak tahu.”

“Pakaianmu utuh, kamu di kamar sendiri, ada air dan obat. Tanya dia. Jangan membuat kesimpulan karena malu.”

Pesan baru masuk dari Arya.

Bangun?

Kirana mengetik belum, kemudian menghapusnya.

Sudah.

Ke 805. Buburnya dingin.

Ia mandi cepat, mengenakan kaus longgar, lalu berdiri di depan pintu sebelah selama dua menit. Kode 0719 berbunyi. Arya menunggu di meja makan dengan kemeja abu-abu dan ekspresi terlalu tenang.

“Pagi,” katanya.

“Pagi.”

“Duduk.”

Di meja ada bubur ayam tanpa sambal, pisang, air kelapa, dan wedang hangat. Kirana duduk sejauh mungkin darinya.

Arya mendorong mangkuk. “Makan dulu.”

“Mas tidak tidur?”

“Sedikit.”

“Mas... menginap di kamarku?”

“Di kursi. Winda juga sudah pulang.”

Bel pintu berbunyi sebelum Kirana sempat bertanya lagi. Winda masuk tanpa menunggu izin, mengambil kopi dari meja, lalu menyerahkan sebuah kantong berisi sepatu Kirana.

“Aku cuma mengantar ini dan memastikan kamu belum kabur ke luar negeri.”

Kirana menatap tajam. “Hapus voice note.”

“Tidak. Itu aset persahabatan.”

Arya mengangkat alis. “Ada rekaman?”

“Cuma suara aku sendiri yang menceritakan. Tidak ada foto atau video Kirana. Semua orang sudah diperiksa sebelum pulang.”

Kirana sedikit lega. “Cindy?”

“Dia sempat kesal karena ponselnya dicek, tapi tidak ada file. Ko Ferdy juga akan menjaga rekaman CCTV internal.”

Winda lalu menurunkan suara. “Bima mengantar aku pulang. Dia tidak masuk kamar dan tidur di sofa lobi sampai aku sadar. Jadi kalian berdua ternyata sama-sama menyebalkan kalau sedang menjaga orang.”

“Kenapa Bima tidur di lobi?” tanya Kirana.

“Bukan topik kita.” Pipi Winda memerah. “Topik kita adalah kamu yang semalam hampir menjadikan lounge tempat lamaran.”

Arya berdeham. “Belum lamaran.”

“Saya tahu, Prof. Jangan terlihat kecewa.”

Setelah Winda pergi, keheningan di meja terasa lebih padat. Kirana mengaduk bubur meski tidak ada lagi yang perlu dicampur. Setiap bunyi sendok memanggil potongan ingatan baru: ia menyebut dirinya pacar Arya, mengeluhkan umur, bahkan mungkin menyatakan ingin pria itu selalu tinggal.

“Terima kasih,” katanya akhirnya.

“Untuk?”

“Menjagaku. Tidak... mengambil kesempatan.”

Tatapan Arya menjadi serius. “Itu bukan sesuatu yang perlu kamu syukuri. Persetujuanmu bukan hadiah yang boleh saya ambil ketika kamu tidak bisa memberikannya.”

Kalimat itu menenangkan sekaligus mempermalukannya karena sempat takut pada kemungkinan buruk. Arya tidak menuntut kepercayaan. Ia membuktikannya lewat tindakan.

“Aku melakukan sesuatu yang lebih memalukan daripada voice note Winda?”

“Definisikan memalukan.”

Kirana memejamkan mata. “Lupakan aku bertanya.”

“Tidak bisa. Saya punya catatan panjang.”

Arya menunggu sampai ia makan setengah mangkuk. Setelah warna wajahnya membaik, pria itu menyandarkan punggung dan membuka perhitungan.

“Pertama, kamu menyebut saya wangi.”

“Itu bukan kejahatan.”

“Kedua, kamu mengaku sebagai pacar saya, lalu marah karena belum resmi.”

Sendok Kirana berhenti.

“Ketiga, kamu meminta saya mencium kamu.”

“Cukup.”

“Keempat...”

“Mas Arya!”

“Kamu bilang selalu menginginkan saya.”

Wajah Kirana panas sampai telinga. Ia berdiri, tetapi Arya menahan pergelangan tangannya tanpa menarik.

“Duduk. Kamu masih pusing.”

“Aku mau pulang.”

“Rumahmu tiga langkah dari sini. Kamu tetap harus menjawab.”

Kirana duduk lagi dengan kesal. “Orang mabuk bicara sembarangan.”

“Sebagian. Tapi orang mabuk juga sering kehilangan keberanian untuk berbohong.”

Arya memutar gelas air di tangannya. Nada menggoda menghilang. “Saya tidak menyentuhmu selain untuk membuatmu aman. Saya menolak ciumanmu. Dan saya berjanji akan menanyakan ini saat kamu sadar.”

Kirana menatapnya.

“Jadi saya tanya sekarang,” lanjut Arya. “Semua yang kamu katakan tadi malam, itu suara alkohol atau suara kamu?”

“Aku tidak ingat semuanya.”

“Saya bisa mengulang.”

“Jangan.”

Kirana meminum air untuk membeli waktu. Di kepalanya, ia membuat daftar bantahan seperti sedang menyiapkan presentasi. Arya adalah dosen pengganti. Mereka berbeda delapan tahun. Kampus sudah menghukumnya hanya karena sebuah poster. Diana juga benar bahwa dunia Arya mungkin jauh lebih rumit daripada yang terlihat.

Namun daftar lain muncul tanpa diminta. Arya mengangkatnya saat sakit, membeli apartemen sebelah, meminta izin sebelum menyentuh, menjaga nilainya tetap dapat diaudit, dan semalam memilih kursi sempit daripada mengambil apa yang ditawarkan Kirana dalam keadaan mabuk.

Ketakutan menjelaskan kenapa ia ragu. Ketakutan tidak bisa lagi membuktikan bahwa perasaannya salah.

“Kamu takut jawabannya apa?”

Pertanyaan itu terlalu tepat. Kirana bangkit lagi dan berjalan ke dapur, pura-pura hendak mencuci mangkuk. Arya menyusul, tetapi tetap memberi jarak.

“Mas sudah bilang suka aku,” katanya sambil membelakangi pria itu.

“Ya.”

“Kenapa masih tanya?”

“Karena saya tidak ingin membangun hubungan dari jawaban orang yang mabuk.”

“Kalau jawabanku bukan yang Mas mau?”

“Saya akan menerimanya. Tapi saya tetap perlu mendengar kebenaran.”

Kirana berbalik. Arya tidak sedang bermain. Tidak ada senyum menang, tidak ada tekanan tersembunyi. Hanya seorang laki-laki yang sudah menyatakan perasaannya dan memberi seluruh keputusan kepada Kirana.

“Aku...” Suaranya tertahan.

Arya melangkah mendekat. “Kamu apa?”

Kirana mundur sampai punggungnya menyentuh dinding dapur. “Mas sengaja mendesak.”

“Saya menunggu sejak Singapura.”

“Itu baru beberapa bulan.”

“Bagi saya terlalu lama.”

Tangannya bertumpu di dinding, tidak mengurung, tetapi cukup dekat untuk membuat napas Kirana berubah.

“Saya tanya sekali lagi,” kata Arya. “Waktu kamu memeluk saya dan bertanya apakah saya menyukaimu, itu alkohol yang bicara atau kamu?”

Kirana tidak punya ruang untuk mundur, dan kali ini bukan dinding yang menahannya. Itu adalah kebenaran yang sudah terlalu lama ia hindari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!