Rangga Hidayat, anak tunggal konglomerat properti, kehilangan kedua orang tuanya dalam pembunuhan berencana yang dikamuflase sebagai kecelakaan. Ia sendiri hampir tewas, lalu dibuang di tepi hutan dekat Desa Sumbermulyo. Seorang nenek miskin, Saroh, menemukannya dan merawatnya dengan penuh kasih. Di desa terpencil itu, Rangga belajar hidup sederhana: bertani, beternak, bermain, dan berteman. Ia mengalami ejekan, candaan, persahabatan, dan cinta pertama. Perlahan ia tumbuh menjadi pemuda tang gigih. Ketika dewasa, ia merantau ke kota untuk bekerja, menyelidiki kematian orang tuanya, dan menghadapi konflik batin antara balas dendam dan pengampunan. Novel ini mengikuti perjalanan emosionalnya dari anak manja menjadi lelaki dewasa yang bijaksana, dengan latar pedesaan yang hangat dan intrik kota yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thomaz3235, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 : UJIAN MASUK SMP DAN KEPUTUSAN BESAR
Waktu terus berlalu tanpa terasa seperti angin yang membawa daun-daun kering. Rangga kini telah duduk di bangku kelas enam SD, usianya menginjak dua belas tahun. Tubuhnya yang dulu kecil dan kurus kini mulai tumbuh tinggi dan tegap, tanda-tanda masa remaja mulai terlihat di wajahnya. Tulang pipinya mulai menonjol, bahunya mulai melebar, dan suaranya yang dulu melengking kini mulai pecah menjadi nada yang lebih dalam. Wajahnya yang dulu polos dan lugu kini mulai menunjukkan ketampanan alami—kulit sawo matang hasil berjemur di sawah, mata cokelat gelap yang tajam dan penuh tekad, serta senyum yang mampu mencairkan hati siapa pun yang melihatnya. Namun di balik penampilannya yang dewasa, hati Rangga tetap sama: penuh cinta pada Nenek Saroh, penuh tekad untuk meraih mimpi, dan penuh rasa ingin tahu tentang masa depan yang masih samar di hadapannya.
Ujian Akhir Sekolah Dasar semakin dekat, hanya tinggal beberapa minggu lagi. Ini adalah momen yang sangat menentukan bagi Rangga. Jika ia lulus dengan nilai terbaik, ia berhak melanjutkan ke SMP Negeri terbaik di kecamatan dengan beasiswa penuh—beasiswa yang mencakup biaya pendaftaran, uang sekolah, buku, seragam, dan bahkan uang saku bulanan. Namun jika ia gagal atau hanya mendapatkan nilai pas-pasan, ia harus puas dengan sekolah biasa yang jauh di kecamatan dengan biaya yang harus ditanggung sendiri. Dan yang lebih menakutkan, jika ia tidak lulus sama sekali, ia harus berhenti sekolah dan bekerja membantu Nenek di ladang selamanya. Rangga tidak mau mengambil risiko sekecil apapun.
Setiap malam, setelah membantu Nenek Saroh di kebun dan menyelesaikan semua pekerjaan rumah tangga, Rangga duduk di bawah lampu minyak tanah yang redup, belajar dengan tekun. Buku-bukunya sudah usang dan robek di sana-sini, halaman-halamannya menguning karena usia dan sering terkena embun, tetapi baginya, setiap halaman adalah harta karun yang tak ternilai. Ia membaca tentang matematika, tentang sejarah perjuangan bangsa, tentang ilmu pengetahuan alam, dan tentang tata bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ia mencatat semua pelajaran di buku tulis bekas yang diberikan Bu Siti, menulis dengan rapi dan teliti agar mudah dipelajari kembali.
"Nak, sudah malam. Istirahatlah," kata Nenek Saroh suatu malam, suaranya lembut tetapi penuh kekhawatiran. Ia terbangun dari tidurnya dan melihat cucunya masih duduk di meja kayu dengan mata sembab karena kantuk. "Besok kau bisa belajar lagi. Otakmu butuh istirahat."
"Sebentar lagi, Nek. Aku mau selesaikan soal matematika ini. Hanya tinggal tiga soal lagi," jawab Rangga tanpa mengalihkan pandangannya dari buku. Tangannya terus menulis, meskipun matanya mulai terasa berat.
Nenek Saroh menghela napas, tetapi ia tidak memaksa. Ia hanya duduk di samping Rangga, mengusap rambutnya dengan lembut. "Nak, Nenek tahu kau berusaha keras. Tapi ingat, kesehatan lebih penting dari segalanya. Tanpa kesehatan, kau tidak bisa belajar dengan baik."
Rangga menoleh, menatap neneknya dengan penuh kasih. "Aku tahu, Nek. Tapi aku tidak mau mengecewakan Nenek. Aku ingin membuat Nenek bangga. Aku ingin mendapatkan beasiswa itu agar Nenek tidak perlu bekerja keras lagi."
Nenek Saroh menangis mendengar kata-kata itu. Ia memeluk cucunya erat-erat. "Nak, kau sudah membuat Nenek bangga sejak kau pertama kali datang ke desa ini. Kau tidak perlu membuktikan apa pun. Nenek sudah sangat bangga padamu."
Rangga memeluk kembali, merasakan hangatnya pelukan nenek yang selalu memberinya kekuatan. "Terima kasih, Nek. Aku janji, aku akan berusaha yang terbaik."
Hari-hari menjelang ujian, Rangga belajar dengan lebih giat lagi. Ia bahkan mengurangi waktu bermainnya dengan Ucok dan teman-teman lainnya, meskipun Ucok terus memprotes dengan keras. "Rangga, kau sudah gila belajar! Kau akan lulus kok, aku yakin! Kau kan anak pintar!" kata Ucok suatu sore saat mereka bertemu sebentar di bawah pohon beringin. Wajah Ucok tampak cemberut karena merasa diabaikan.
"Aku tidak boleh lengah, Ucok. Ini adalah kesempatan emas dalam hidupku. Aku tidak boleh menyia-nyiakannya. Kalau aku gagal, aku tidak tahu harus bagaimana lagi," jawab Rangga serius, matanya menatap Ucok dengan penuh tekad.
Ucok menggelengkan kepala, tetapi ia tersenyum. "Baiklah, kalau begitu aku akan menemanimu belajar. Aku mungkin bodoh di pelajaran, tapi aku bisa jadi pengawas agar kau tidak terlalu capek. Dan aku bisa bawakan singkong rebus untukmu."
Rangga tersenyum, merasa hangat di hatinya. Ucok memang sahabat yang setia. Meskipun ia tidak bisa membantu secara akademis, ia selalu ada untuk memberi semangat dan dukungan. "Terima kasih, Ucok. Kau sahabat terbaik yang pernah aku miliki."
Hari ujian tiba dengan matahari yang bersinar cerah. Rangga berangkat pagi-pagi sekali ke SD Negeri Kedungwungu, tempat ujian diadakan untuk seluruh siswa se-kecamatan. Ia membawa pensil, penghapus, penggaris, dan bekal nasi bungkus yang disiapkan Nenek dengan penuh kasih sayang—nasi putih, telur dadar, dan sayur bayam dari kebun mereka. Hatinya berdebar-debar seperti genderang perang, tetapi ia berusaha tenang. Ia mengingat semua pelajaran yang telah ia pelajari, semua latihan yang telah ia kerjakan berulang-ulang, dan semua doa yang telah ia panjatkan setiap malam.
Soal-soal ujian terasa menantang tetapi tidak mustahil bagi Rangga. Ia menjawab semuanya dengan teliti dan penuh pertimbangan, memeriksa ulang setiap jawaban berkali-kali sebelum mengumpulkan lembar jawabannya. Ia tidak ingin membuat kesalahan sekecil apapun. Ketika bel berbunyi menandakan waktu habis, ia menghela napas panjang lega. Ia sudah melakukan yang terbaik yang ia bisa.
Beberapa minggu kemudian, hasil ujian diumumkan di sekolah. Rangga dipanggil ke kantor Bu Siti dengan perasaan campur aduk antara harap dan cemas. Bu Siti tersenyum lebar saat melihatnya masuk, matanya berbinar-binar penuh kebanggaan. "Rangga, selamat! Kau lulus dengan nilai tertinggi di seluruh kecamatan! Nilaimu sempurna untuk semua mata pelajaran. Kau berhak mendapatkan beasiswa penuh ke SMP Negeri 1 di kecamatan. Ini adalah prestasi yang luar biasa, Rangga. Aku sangat bangga padamu!"
Rangga tidak bisa berkata-kata. Air mata haru mengalir di pipinya tanpa bisa ia tahan. Ia memeluk Bu Siti dengan penuh syukur, tidak peduli jika air matanya membasahi bahu gurunya. "Terima kasih, Bu. Terima kasih atas semua bimbingan dan dukungan Ibu selama ini. Tanpa Ibu, aku tidak akan bisa mencapai ini."
Bu Siti mengusap air matanya sendiri, terharu melihat murid kesayangannya berhasil. "Ini semua karena usahamu sendiri, Rangga. Kau anak yang istimewa, anak yang pantang menyerah. Jangan pernah berhenti belajar, ya. Nenekmu pasti sangat bangga padamu. Kau harus segera memberi kabar baik ini padanya."
Rangga berlari pulang ke gubuk dengan secepat mungkin, memegang erat surat pengumuman beasiswa di tangannya. Kakinya melesat melewati sawah-sawah yang menguning, melewati sungai yang mengalir deras, dan melewati pohon beringin tempat ia biasa bermain. Nenek Saroh sedang duduk di teras gubuk, menjemur cabe di bawah sinar matahari sore dengan tangannya yang gemetar karena usia. Melihat Rangga berlari dengan wajah berseri-seri, Nenek tersenyum.
"Nek! Aku lulus! Aku dapat beasiswa ke SMP Negeri 1! Nilai ku tertinggi se-kecamatan!" seru Rangga, napasnya tersengal-sengal karena berlari begitu cepat. Ia langsung berlutut di hadapan neneknya, menyerahkan surat itu dengan tangan gemetar.
Nenek Saroh membaca surat itu perlahan, matanya berbinar-binar. Air mata mengalir di pipi keriputnya, jatuh ke surat yang ia pegang. "Nak… Nenek tidak bisa berkata-kata. Nenek sangat bangga padamu. Nenek selalu tahu kau bisa." Ia memeluk cucunya erat-erat, menangis bahagia. "Kau adalah anugerah terbesar dalam hidup Nenek."
Malam harinya, Rangga dan Nenek merayakan dengan makan malam istimewa—nasi goreng dengan telur dan sayuran dari kebun, plus sepotong ikan asin yang sudah disimpan Nenek untuk acara spesial. Mereka duduk di teras gubuk, menikmati angin malam yang sejuk dan langit yang dipenuhi bintang-bintang gemerlap. Namun di balik kebahagiaan itu, ada kesedihan yang mulai merayap di hati Rangga. Ia akan pergi ke kecamatan untuk sekolah, dan itu berarti ia harus meninggalkan Nenek sendirian di desa.
"Nek," kata Rangga pelan, suaranya bergetar. "Aku akan pergi ke kecamatan untuk sekolah. Aku akan tinggal di asrama sekolah. Aku… aku tidak akan bisa pulang setiap hari. Aku akan merindukan Nenek setiap saat."
Nenek Saroh tersenyum, tetapi matanya berkaca-kaca. "Nenek juga akan merindukanmu, Nak. Tapi ini adalah jalanmu. Kau harus pergi dan mengejar mimpimu. Kau tidak bisa tinggal di desa ini selamanya. Dunia di luar sana menunggumu dengan segala peluang dan tantangannya. Dan Nenek akan dengan senang hati melepasmu, meskipun Nenek akan merindukanmu setiap hari dan setiap malam."
Rangga memeluk neneknya erat-erat, air mata mengalir di pipinya. "Aku janji, Nek. Aku akan pulang setiap akhir pekan. Aku akan menulis surat setiap minggu. Aku akan menelepon kalau ada telepon umum di kecamatan. Aku tidak akan melupakan Nenek. Aku akan selalu mendoakan Nenek."
"Nenek tahu kau anak yang baik," bisik Nenek Saroh, tangannya yang keriput mengusap rambut Rangga dengan lembut. "Pergilah, Nak. Raih mimpimu. Dan ingatlah, Nenek akan selalu mendoakanmu, di mana pun kau berada dan apa pun yang kau lakukan."
Rangga menangis di pelukan neneknya, dan untuk pertama kalinya, ia merasakan kesedihan yang pahit manis—kesedihan karena harus berpisah dari orang yang paling ia cintai, tetapi juga kebahagiaan karena akan memulai babak baru dalam hidupnya yang penuh harapan.
---
[Bersambung...]
---