NovelToon NovelToon
PERMAINAN TAKDIR

PERMAINAN TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Nourayl

Ada pertemuan yang terjadi karena kebetulan.

Ada pula pertemuan yang telah direncanakan jauh sebelum kedua insan itu saling mengenal.

Aluna tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berubah sejak malam ketika ia bertemu seorang pria asing bernama Niel.

Di balik sosok pria yang tampak tenang itu, tersimpan rahasia yang mampu mengubah hidup banyak orang.

Namun, Niel bukan satu-satunya yang menyimpan masa lalu.

Ketika satu demi satu kebenaran terungkap, keduanya menyadari bahwa mereka bukan sekadar dipertemukan oleh takdir.

Mereka adalah bagian dari Permainan Takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senyum di Depan Kamera

Pagi itu, suasana ruang kendali terasa lebih sunyi dari biasanya.

Beberapa layar berukuran besar menampilkan rekaman kamera pengawas dari berbagai sudut kota. Di tengah ruangan, Darren berdiri di depan monitor utama sambil memperlambat tayangan dari galeri seni.

"Nona Aluna memasuki galeri pukul sepuluh lewat dua belas menit," ujarnya.

Niel tidak menjawab.

Tatapannya terpaku pada layar.

Rekaman terus berjalan hingga seorang pria berpakaian hitam memasuki area galeri. Topi yang dikenakannya menutupi sebagian wajah, sementara langkahnya terlihat santai, seolah ia hanyalah pengunjung biasa.

Pria itu berhenti di dekat bangku.

Ia meletakkan amplop putih, lalu berjalan beberapa langkah sebelum sengaja mengangkat wajahnya ke arah kamera.

Rekaman dihentikan tepat pada detik itu.

"Perbesar."

Darren menekan beberapa tombol.

Wajah pria tersebut memenuhi layar.

Rahang tegas.

Sorot mata yang tajam.

Dan sebuah senyum tipis yang nyaris terlihat mengejek.

"Dia tahu posisi kamera," kata Darren pelan.

"Bukan hanya tahu."

Niel menatap layar tanpa berkedip.

"Dia ingin kita melihat wajahnya."

"Apakah Anda mengenalnya?"

Niel menggeleng.

"Tidak."

"Itu berarti..."

"Dia baru."

Jawaban singkat itu membuat Darren berpikir.

Jika benar pria tersebut bukan bagian dari musuh lama mereka, berarti ada kelompok baru yang mulai bergerak.

Dan kemunculannya langsung mengarah kepada Aluna.

__________________________________________

Di rumahnya, Aluna masih memandangi kartu misterius yang diterimanya kemarin.

Ia telah membalik kartu itu berkali-kali.

Tidak ada sidik jari yang terlihat.

Tidak ada lambang.

Tidak ada petunjuk siapa pengirimnya.

Kalimat singkat itu justru menimbulkan lebih banyak pertanyaan.

"Jangan datang sendirian ke tempat yang terlalu tenang."

Bibi Mira datang membawa semangkuk buah yang baru dipotong.

"Kau tampak gelisah sejak kemarin."

Aluna tersenyum tipis.

"Mungkin hanya terlalu banyak berpikir."

"Itu tidak baik."

"Aku tahu."

Bibi Mira memperhatikan kartu di tangan Aluna.

"Apa itu?"

"Surat tanpa nama."

"Siapa yang mengirim?"

"Itulah yang belum kutahu."

Wanita itu tidak bertanya lebih jauh.

Ia mengenal Aluna dengan baik.

Jika gadis itu belum ingin bercerita, memaksanya hanya akan membuatnya semakin bingung.

__________________________________________

Siang harinya, Aluna memutuskan pergi ke sebuah toko bunga.

Ulang tahun ibunya tinggal beberapa hari lagi, dan ia ingin memesan rangkaian bunga lebih awal.

Begitu memasuki toko, aroma mawar dan lavender memenuhi udara.

"Selamat datang."

Pemilik toko menyambutnya ramah.

Aluna mulai memilih beberapa jenis bunga.

Tanpa disadarinya, sebuah mobil hitam berhenti di seberang jalan.

Di dalam mobil itu, dua orang pria mengamati setiap gerakannya.

"Dia masuk."

Lihat ke arah kanan."

"Masih ada tim lain."

Pria yang duduk di kursi penumpang menghela napas pelan.

"Orang-orang Niel rupanya cukup disiplin."

"Mau kita singkirkan?"

"Belum."

"Kenapa?"

"Perintahnya jelas."

Ia menatap pintu toko bunga.

"Jangan sentuh gadis itu."

"Lalu tujuan kita?"

Pria itu tersenyum tipis.

"Buat mereka terus bertanya."

_________________________________________

Di waktu yang sama, Niel sedang menghadiri rapat dengan beberapa orang kepercayaannya.

Namun pikirannya tidak benar-benar berada di ruangan itu.

Ponselnya yang diletakkan di atas meja bergetar pelan.

Sebuah pesan dari Darren muncul.

Nona Aluna keluar rumah. Tim pengawas mengikuti sesuai jarak aman. Tidak ada kejadian mencurigakan.

Niel membaca pesan itu sekali, lalu menghapus notifikasi tersebut.

Salah seorang pria yang duduk di hadapannya menghentikan penjelasannya.

"Tuan?"

"Lanjutkan."

"Apakah ada yang perlu diubah dari rencana pengiriman besok malam?"

"Tidak."

"Tetapi wilayah pelabuhan mulai diawasi lebih ketat."

Niel menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Kalau begitu, ubah jalurnya."

"Hanya itu?"

"Ya."

Semua orang mengangguk.

Namun hampir tidak pernah salah.

__________________________________________

Setelah selesai memesan bunga, Aluna keluar dari toko.

Langkahnya terhenti ketika melihat seorang anak perempuan sedang menangis di tepi trotoar.

Anak itu tampak kebingungan.

"Kamu sendirian?"

Anak tersebut mengangguk sambil mengusap air mata.

"Aku kehilangan Ibu."

Aluna berjongkok agar sejajar dengannya.

"Jangan takut."

Ia tersenyum lembut.

"Kita cari bersama."

Beberapa menit kemudian, mereka berhasil menemukan ibu anak itu yang ternyata panik mencari putrinya di sisi jalan yang lain.

Wanita itu berkali-kali mengucapkan terima kasih.

Aluna hanya membalas dengan senyum.

Ia tidak menyadari bahwa seluruh kejadian itu diperhatikan seseorang dari dalam mobil

Pria yang duduk di kursi belakang menatapnya cukup lama.

"Laporanmu benar."

"Apa maksud Anda?"

"Gadis itu memang seperti yang mereka katakan."

"Baik hati?"

"Bukan."

Pria itu menggeleng pelan.

"Dia selalu menolong tanpa berpikir bahwa dirinya bisa berada dalam bahaya."

Tatapannya menyempit.

"Orang seperti itu... paling mudah dimanfaatkan."

__________________________________________

Sore mulai berganti malam.

Saat Aluna tiba di rumah, ia menemukan sebuah kotak kecil tergeletak di atas meja teras.

Tidak ada nama pengirim.

Tidak ada pita.

Hanya kotak kayu berwarna hitam.

"Bibi?"

"Ya?"

"Apakah ada tamu datang?"

Bibi Mira menggeleng.

"Tidak ada."

"Lalu siapa yang meletakkan ini?"

"Saat Bibi melihatnya, kotak itu sudah ada."

Aluna mengangkat kotak tersebut dengan hati-hati.

Kotak itu terasa ringan.

Perlahan ia membuka tutupnya.

Di dalamnya hanya terdapat satu benda.

Sebuah gantungan kunci berbentuk bunga lavender.

Persis seperti sulaman pada sapu tangan miliknya.

Di bawah gantungan kunci itu terselip secarik kertas.

Dengan napas yang mulai terasa berat, Aluna membuka lipatan kertas tersebut.

Hanya ada satu kalimat.

"Jangan terlalu percaya kepada orang yang datang setelah hujan."

Aluna membeku.

Kalimat itu langsung mengingatkannya pada satu orang.

Niel.

Dan untuk pertama kalinya...

ia mulai bertanya pada dirinya sendiri.

Apakah pertemuan mereka benar-benar hanya sebuah kebetulan?

__________________________________________

Aluna membaca kembali kalimat itu untuk kedua kalinya.

Tulisan tangan pada secarik kertas tersebut tampak rapi dan tegas, seolah setiap huruf ditulis tanpa sedikit pun keraguan.

"Jangan terlalu percaya kepada orang yang datang setelah hujan."

Ia memejamkan mata sejenak.

Kalimat itu jelas mengarah kepada Niel.

Namun mengapa seseorang yang tidak dikenalnya bersusah payah memperingatkannya?

"Apakah ini hanya lelucon?" gumamnya pelan.

Bibi Mira yang melihat Aluna terdiam menghampiri dengan wajah khawatir.

"Ada sesuatu yang terjadi?"

Aluna menggeleng pelan.

"Tidak... mungkin hanya kiriman yang salah."

Meski berkata demikian, ia melipat kembali secarik kertas itu dan memasukkannya ke dalam kotak kayu. Entah mengapa, nalurinya mengatakan bahwa benda-benda tersebut sebaiknya tidak dibuang.

Di tempat lain, Darren baru saja menerima laporan terbaru dari salah seorang anggota tim.

"Tuan Darren, ada seseorang yang memasuki area rumah Nona Aluna kurang dari tiga menit. Kamera luar tidak berhasil menangkap wajahnya."

Darren langsung menghubungi Niel.

"Sepertinya kita terlambat selangkah."

Suara Niel terdengar tenang dari seberang.

"Mulai sekarang, jangan hanya awasi rumahnya."

"Lalu?"

"Lindungi Aluna."

Perintah itu membuat Darren terdiam sesaat.

Selama bertahun-tahun, belum pernah ada seseorang di luar organisasi yang mendapat perhatian sebesar itu dari Niel.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!