Emma dan Ella Taylor, sepasang gadis kembar, terpisah sejak kecil akibat perceraian orang tua. Emma tumbuh di New York menjadi wanita pemarah dan sulit mengendalikan emosi, sementara Ella yang dibesarkan di Inggris justru bersifat pendiam, penakut, dan terbiasa mengalah.
Setelah dua puluh tahun, mereka bertemu secara tak terduga di atas kapal pesiar mewah.
Saling bercerita tentang beban hidup masing-masing, keduanya mengambil keputusan nekat untuk bertukar identitas dan menjalani hidup satu sama lain.
Akankah pertukaran ini menjadi jalan keluar, atau justru menjerumuskan mereka ke dalam masalah yang jauh lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raya Abc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunjungan Yang Jarang Terjadi.
Keesokan paginya.
Pukul tujuh lewat tiga puluh.
Kediaman mewah itu kembali dipenuhi rutinitas yang sama.
Ralph telah mengenakan setelan jas hitam dengan dasi abu-abu gelap.
Di tangannya terdapat sebuah tablet berisi jadwal hari itu.
Mr. Howard berdiri di sampingnya sambil membacakan agenda.
"Pukul delapan tiga puluh rapat dewan direksi."
"Pukul sepuluh penandatanganan kerja sama dengan Blackwood Holdings."
"Pukul satu makan siang bersama investor."
"Pukul tiga rapat proyek pembangunan kawasan komersial."
"Pukul lima pertemuan dengan tim hukum."
Ralph mengangguk singkat.
"Tidak ada perubahan?"
"Tidak, Tuan."
"Baik."
Emma yang baru turun dari tangga mendengar seluruh jadwal itu.
Ia langsung mengernyit.
"Jadwal yang sangat padat."
Ralph menoleh.
"Sudah biasa."
Emma menarik kursi dan duduk.
"Kupikir kau hanya duduk di rumah mengurus tamu bangsawan."
Ralph mengangkat sebelah alis.
"Itu hanya sebagian kecil pekerjaanku."
Emma mengangguk pelan.
Masuk akal.
Seorang pewaris keluarga Alexander tentu bukan hanya simbol keluarga.
Ia juga menjalankan perusahaan besar.
Setelah sarapan selesai...
Ralph berdiri.
"Aku berangkat."
Emma hanya mengangguk.
"Hati-hati."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Baik Emma maupun Ralph sama-sama sedikit terdiam.
Emma segera mengalihkan pandangan.
"Itu... hanya sopan santun dalam berumahtangga."
Ralph mengangguk tipis.
"Tentu."
Ia berbalik meninggalkan rumah.
Tak lama kemudian suara mesin mobil menghilang dari halaman.
Alexander Manor kembali sunyi.
Sangat sunyi.
Emma berjalan mengelilingi rumah.
Perpustakaan.
Sudah selesai ia jelajahi.
Taman.
Sudah ia kelilingi berkali-kali.
Ruang musik.
Tidak menarik.
Ruang teh.
Membosankan.
Emma akhirnya menjatuhkan tubuh ke sofa.
"Astaga..."
Ia memijat pelipisnya.
"Bagaimana Ella bisa bertahan hidup seperti ini selama lima tahun? Ini seperti penjara."
Baginya...
Duduk diam di rumah adalah siksaan.
Ia terbiasa bekerja sejak pagi.
Berdebat di ruang rapat.
Menyusun strategi.
Memecahkan masalah.
Sekarang...
Ia bahkan mulai menghitung jumlah lukisan di dinding.
"Kalau begini terus..."
"Aku bisa gila."
Satu jam kemudian.
Emma bangkit berdiri.
Keputusannya sudah bulat.
Ia mengambil tas.
Ponsel.
Dan kunci mobil.
Hannah yang melihatnya langsung mendekat.
"Nyonya? Anda punya janji temu dengan seseorang?"
"Tidak, Aku hanya ingin keluar."
"Apakah Tuan sudah mengetahuinya?"
"Tidak."
"Kalau begitu biar saya menghubungi beliau."
Emma langsung menggeleng.
"Tidak perlu."
"Tapi.."
"Aku hanya ingin berjalan-jalan melihat perusahaan."
Hannah tampak bingung.
"Nyonya... maksud Anda perusahaan Alexander?"
"Iya tentu saja."
"Sendiri?"
Emma menatap Hannah.
"Memangnya aku harus minta izin untuk keluar rumah?"
"Bukan begitu, Nyonya..."
"Kalau begitu siapkan mobil."
Hannah akhirnya mengangguk.
"Baik."
--------
Satu jam kemudian.
Mobil berhenti di depan gedung pencakar langit berlapis kaca.
Logo besar Alexander Group terpampang di bagian atas gedung.
Emma mendongak.
"Setidaknya..."
"...akhirnya ada sesuatu yang bisa kulihat."
Ia turun dari mobil.
Begitu memasuki lobi...
Seluruh pegawai langsung berdiri.
"Selamat pagi, Lady Alexander."
Emma sedikit mengangguk.
"Pagi."
Ia memperhatikan suasana di sekelilingnya.
Lobi luas.
Modern.
Jauh lebih mirip kantor di New York daripada rumah bangsawan yang penuh aturan.
Tanpa sadar...
Sudut bibirnya sedikit terangkat.
"Ini lebih menarik."
Resepsionis segera menghampiri.
"Apakah Lady Alexander memiliki janji dengan Tuan Ralph?"
Emma menggeleng.
"Tidak."
"Lalu..."
"Aku hanya ingin melihat-lihat perusahaan milik suamiku. Apa aku harus ijin bertamu terlebih dahulu?"
Resepsionis tampak kebingungan.
Selama hampir lima tahun...
Lady Alexander tidak pernah sekalipun menginjakkan kaki di gedung ini.
Bahkan sebagian pegawai baru hanya mengenalnya dari foto.
Sementara itu...
Di lantai tiga puluh dua.
Ruang rapat utama.
Ralph sedang memimpin rapat dengan para direktur.
Suasana tegang.
Semua orang fokus mendengarkan.
Tok.
Tok.
Pintu diketuk.
Asisten pribadinya masuk dengan wajah sedikit bingung.
"Maaf mengganggu, Tuan."
Ralph mengangkat kepala.
"Ada apa?"
Pria itu mendekat lalu membisikkan sesuatu.
Ekspresi Ralph yang semula datar berubah tipis.
"Siapa?"
"Lady Alexander, Tuan."
"Beliau berada di lobi."
Ralph benar-benar terdiam beberapa detik.
Lima tahun.
Selama lima tahun pernikahan mereka...
Ella tidak pernah datang ke kantornya.
Tidak pernah bertanya tentang pekerjaannya.
Tidak pernah menunjukkan ketertarikan sedikit pun pada Alexander Group.
Dan hari ini...
Istrinya tiba-tiba muncul tanpa pemberitahuan.
Para direktur mulai saling berpandangan.
Mereka jarang melihat perubahan ekspresi sekecil apa pun pada Ralph Alexander.
"Batalkan istirahat rapat."
Ralph menutup map di depannya.
"Aku turun sebentar."
"Baik, Tuan."
Beberapa menit kemudian, pintu lift terbuka.
Ralph melangkah memasuki lobi.
Dari kejauhan...
Ia melihat Emma berdiri di depan maket gedung proyek terbaru Alexander Group.
Wanita itu memperhatikan setiap detail dengan penuh minat, seolah sedang menganalisis sebuah proyek.
Ralph menghentikan langkahnya.
Untuk sesaat...
Ia hanya memandang dari jauh.
Lagi-lagi...
Wanita yang mengaku sebagai istrinya itu melakukan sesuatu yang sama sekali tidak pernah dilakukan selama lima tahun terakhir.
Dan entah mengapa...
Rasa penasarannya kembali tumbuh.
Semakin hari...
Semakin besar.
Ralph akhirnya menghampiri Emma.
"Kenapa tidak memberi tahu kalau ingin datang?"
Emma masih memperhatikan maket gedung itu.
"Kalau memberi tahu, pasti kau melarang."
"Aku tidak mengatakan begitu."
"Tapi wajahmu tadi mengatakan sebaliknya."
Ralph menghela napas pelan.
"Tadi kami sedang rapat."
Emma akhirnya menoleh.
"Aku bosan di rumah."
"Aku ingin melihat bagaimana seorang CEO bekerja."
Ralph menatapnya beberapa detik.
"Lalu?"
"Kalau tidak mengganggu..."
Emma menyilangkan tangan.
"...aku ingin melihat-lihat."
Belum sempat Ralph menjawab, seorang wanita berusia sekitar dua puluh delapan tahun berjalan cepat menghampiri mereka.
Ia mengenakan setelan jas krem dengan rambut hitam yang disanggul rapi.
Di tangannya terdapat tablet dan beberapa berkas.
"Maaf, Tuan Ralph."
Wanita itu berhenti di depan mereka.
"Para direktur sudah menunggu."
Tatapannya kemudian beralih kepada Emma.
"Selamat pagi, Lady Alexander."
Nada suaranya sopan.
Namun senyumnya terasa dibuat-buat.
Emma hanya mengangguk singkat.
"Pagi."
Ralph mengambil berkas dari tangan wanita itu.
"Terima kasih, Christina."
"Jadwal setelah rapat sudah saya susun ulang."
"Baik."
Emma diam-diam memperhatikan.
Cara Christina menatap Ralph.
Cara ia berdiri sedikit lebih dekat dibanding yang diperlukan.
Cara ia langsung mengerti apa yang dibutuhkan Ralph tanpa harus diminta.
Insting Emma langsung bekerja.
"Wanita ini menyukai Ralph."
Bukan sekadar kagum kepada atasan.
Tatapan itu terlalu mudah dikenali.
Christina kembali berbicara.
"Tuan, kopi favorit Anda juga sudah saya siapkan di ruang rapat."
"Terima kasih."
"Dan makan siang nanti saya sudah.."
"Tunda dulu."
Ralph memotong.
"Aku akan mengantar istriku berkeliling."
Untuk sepersekian detik...
Senyum Christina tampak menghilang.
Meski hanya sesaat.
Emma menangkapnya.
"Benar."
"Dia memang menyukai suami Ella."
ucapnya dalam hati.
Mereka berjalan menuju lift pribadi.
Christina ikut masuk sambil membawa tablet.
Emma berdiri di samping Ralph.
Lift mulai bergerak naik.
Suasananya sunyi.
Emma melirik Christina melalui pantulan pintu lift.
Wanita itu sesekali mencuri pandang ke arah Ralph.
Emma hampir tersenyum.
"Menarik."
Tanpa mengatakan apa pun...
Emma tiba-tiba melangkah lebih dekat kepada Ralph.
Lengan kirinya dengan santai menyelip ke lengan pria itu.
Ralph sedikit menoleh.
Tatapan matanya berubah.
Emma justru bersikap seolah itu hal yang biasa.
"Aku bosan sendirian di rumah."
ucapnya datar.
"Mulai hari ini mungkin aku akan sering datang."
Ralph dapat merasakan lengan Emma yang menyentuh jasnya.
Tubuhnya mendadak menegang.
Selama lima tahun...
Ella tidak pernah sekalipun melakukan kontak fisik seperti ini atas keinginannya sendiri.
Jantung Ralph berdetak sedikit lebih cepat.
Namun wajahnya tetap tenang.
"Kalau memang itu yang kau inginkan."
Emma mengangguk.
"Iya."
Lalu, tanpa melepas lengannya, Emma menoleh kepada Christina.
"Sepertinya pekerjaan sekretaris cukup berat."
Christina tetap tersenyum profesional.
"Itu memang tanggung jawab saya, Lady Alexander."
Emma mengangguk pelan.
"Bagus."
"Tapi mulai sekarang..."
Ia melirik Ralph sekilas.
"...jangan terlalu memanjakannya."
Christina sedikit terdiam.
"Maksud Lady?"
Emma menjawab santai.
"Kalau semua hal sudah kau siapkan, nanti suamiku jadi terlalu bergantung padamu."
Suasana lift mendadak menjadi canggung.
Christina mempertahankan senyumnya.
"Tuan Ralph memang memiliki jadwal yang sangat padat."
Emma mengangguk.
"Aku tahu."
"Itulah sebabnya sekarang aku ingin lebih sering menemaninya."
Kalimat itu membuat Christina kehilangan kata-kata.
Sedangkan Ralph...
Masih diam.
Tatapannya perlahan beralih kepada Emma.
Ia tahu.
Wanita ini sengaja melakukan semua itu.
Entah karena iseng.
Atau karena alasan lain.
Namun yang paling mengganggunya...
Ia sama sekali tidak merasa terganggu ketika Emma menggandeng lengannya.
Sebaliknya...
Ada sensasi aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Lift akhirnya berhenti.
Pintu terbuka.
Emma baru melepaskan tangannya.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Ia berjalan keluar lebih dulu.
Meninggalkan Ralph yang masih berdiri sesaat di dalam lift.
Christina memperhatikan atasannya.
"Tuan?"
Ralph baru tersadar.
"Ya."
"Kita terlambat rapat."
Ralph mengangguk pelan.
Namun pikirannya masih tertinggal pada sentuhan singkat beberapa detik yang lalu.
Sementara Emma yang berjalan beberapa langkah di depan hanya menyimpan senyum tipis yang nyaris tak terlihat.
Ia tidak sedang cemburu.
Sama sekali tidak.
Ia hanya ingin mengingatkan satu hal kepada Christina.
Selama pertukaran ini berlangsung...
Ralph Alexander tetap berstatus suami Ella.
Dan Emma tidak akan membiarkan siapa pun bersikap terlalu dekat dengan pria itu di depan matanya, meski semua itu ia lakukan tanpa sedikit pun melibatkan perasaan cinta.
mulai ngikuti sepertinya menarik