Enam tahun lalu, Kenzo Roman De Luca kehilangan seorang wanita yang tak pernah berhasil ia lupakan. Yang tak pernah ia ketahui, wanita itu pergi membawa dua kehidupan yang tumbuh menjadi anak-anak genius.
Takdir mempertemukan mereka kembali.
Namun, sebelum Kenzo mengetahui kebenarannya, seorang bocah laki-laki yang tak sengaja bertemu dengannya dengan berani menawari sesuatu padanya.
"Asal Anda siap menikah dengan Mommy kami. Maka saya siap bekerja sama dengan Anda," ujar Mateo enteng.
Kenzo terpaku, dia tak tahu anak yang sedang memohon kepadanya itu adalah putranya sendiri. Akankah, Kenzo setuju atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Tara memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. Panggilan dari Digo benar-benar menguras emosinya.
"Kenapa Mommy terus berteriak?"
Suara kecil itu membuat Tara tersentak. Ia menoleh dan mendapati Mateo berdiri di ambang pintu dapur sambil menatapnya penuh rasa ingin tahu.
"Mateo..." Secepat mungkin Tara memaksakan senyum.
"Tidak apa-apa, Sayang. Mommy hanya sedang membahas pekerjaan."
"Pekerjaan?"
"Iya, jadi kamu nggak usah memikirkannya."
Mateo mengamati wajah ibunya beberapa saat. Senyum Tara tampak dipaksakan, bahkan matanya masih menyimpan sisa amarah.
"Baiklah, Mommy." Bocah itu mengangguk pelan, tetapi dalam hati ia sama sekali tidak mempercayai penjelasan tersebut, dia berbalik menuju kamar.
Di dalam kamar, Alisya sedang duduk di atas ranjang sambil memainkan iPad.
"Cha, pinjam iPad-nya."
"Mau buat apa?"
"Aku mau cari tau kenapa Mommy berhenti kerja."
Alisya langsung menyerahkan iPad itu tanpa banyak bertanya. Mateo segera membuka aplikasi panggilan video dan menghubungi Maya. Tak lama kemudian, wajah wanita itu muncul di layar.
"Halo, jagoan."
"Bibi Maya, kenapa Mommy berhenti kerja?"
Pertanyaan itu membuat Maya terdiam sesaat.
"Siapa yang bilang begitu?"
"Aku dengar sendiri, jadi Bibi Maya nggak perlu cari alasan buat membohongi kami," pernyataan itu membuat Maya tersenyum canggung.
Maya menghela napas panjang. Dia tahu Mateo bukan anak yang mudah dibohongi.
"Dad ... maksud Bibi, perusahaan tempat Mommy bekerja bilang kalau Mommy mengundurkan diri sebelum kontraknya selesai."
"Terus?"
"Mereka meminta Mommy kamu membayar denda sebesar tujuh koma delapan miliar rupiah. Kalau tidak ... mereka akan menempuh jalur hukum."
Mata Mateo langsung membulat.
"Mereka mengancam Mommy?"
Maya tidak menjawab, keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban. Wajah bocah lima tahun itu berubah serius.
"Baik, Bibi. Aku mengerti, sampai jumpa."
Panggilan pun berakhir.
Alisya yang sejak tadi memperhatikan kakaknya bertanya pelan,
"Kak ... kita halus bagaimana?"
Mateo menatap layar iPad beberapa detik.
"Ya, kita harus lindungi Mommy lah."
"Hah?"
"Ada pria jahat yang berani mengancam Mommy. Sepertinya kita perlu menyapanya sebentar," Mateo tersenyum penuh arti, beberapa menit kemudian jari-jari kecil Mateo mulai menari di atas layar.
Dalam hitungan menit, ia sudah masuk ke sistem perdagangan saham yang selama ini diam-diam dipelajarinya. Dengan kecerdasannya yang jauh melampaui anak seusianya, ia menganalisis pergerakan pasar, antrean beli, dan likuiditas beberapa saham yang sedang dibidik oleh grup investasi milik Kenzo.
"Hari ini aku nggak akan biarkan dia mendapatkan apa yang dia inginkan."
Sementara itu, di sebuah perusahaan sekuritas, ruang perdagangan mulai dipenuhi kepanikan.
"Pak Digo!" Seorang sales trader berlari menghampiri.
"Seluruh saham yang ingin dibeli Tuan Kenzo pagi ini mendadak berubah!"
Digo langsung berdiri, "apa maksudmu?"
"Setiap kali kita memasukkan antrean beli, selalu ada investor lain yang bergerak lebih dulu."
"Siapa investornya?"
"Itu yang aneh, Pak. Akunnya terus berubah-ubah, tetapi polanya sama. Ada lebih dari lima akun, Pak."
Di layar monitor, harga beberapa saham bergerak jauh lebih cepat dari perkiraan. Investor misterius itu bukan sekadar membeli lebih dahulu. Ia juga menaikkan harga sehingga strategi akumulasi yang telah disusun tim Kenzo menjadi berantakan.
Saat Digo masih mencoba memahami situasi, ponselnya berdering.
[Tuan...]
"Ada apa?"
[Dari pembukaan pasar sampai sekarang, strategi pembelian kita gagal total.]
Kenzo yang sedang memeriksa berkas langsung mengernyit.
"Gagal lagi?"
[Iya, Tuan. Selalu ada investor yang lebih cepat.]
Kenzo terdiam, "itu bukan kebetulan."
Digo menelan ludah.
[Menurut analisis tim, orang ini seperti sudah mengetahui saham mana yang akan kita incar.]
Kenzo menyipitkan mata, "kalau begitu cari tau siapa dia."
Di sisi lain, Mateo tersenyum kecil sambil menatap layar iPad.
"Ada apa?" tanya Alisya.
"Satu langkah baru aja selesai,"
"Memangnya Kakak ngapain?"
Mateo menjawab dengan tenang,
"Aku cuma bikin orang yang mengancam Mommy kehilangan kesempatan membeli saham incarannya hari ini."
Alisya mengedip bingung.
"Kakak hebat!"
Mateo tersenyum tipis. "Belum, ini baru permulaan. Aku cuma baru kenalan denganya,"
Mateo masih memandangi layar iPad di pangkuannya. Tatapannya tenang, jauh berbeda dengan usianya yang baru lima tahun.
Bocah itu kemudian menarik napas pelan, lalu kembali mengetuk layar iPad. Di dunia kecilnya, ia hanya memiliki satu tujuan yaitu, melindungi ibunya.
Di gedung perusahaan De Luca Group, Kenzo sedang duduk di ruang kerjanya. Secangkir kopi di samping laptopnya mulai mendingin karena sejak tadi ia fokus memeriksa transaksi saham yang gagal diperolehnya pagi itu, setelah mendapat laporan dari Digo sang asisten.
"Aneh..." gumamnya.
Kenzo membuka beberapa laporan, mencoba mencari penyebab kekacauan strategi investasinya. Namun, tiba-tiba layar laptopnya berkedip dan muncul sebuah notifikasi error. Lalu, layar laptopnya berubah gelap beberapa detik sebelum menampilkan pesan lain. Terjadi kesalahan, silakan coba beberapa saat lagi.
"Apa?" Kenzo langsung mengernyit. Ia mencoba membuka kembali sistem internal yang biasa digunakannya. Namun, hasilnya sama, aksesnya ditolak sementara. Wajah Kenzo berubah, pria yang selama ini selalu tenang itu spontan berdiri dari kursinya.
"Apa yang terjadi?" Suara kursi berderit ketika ia mendorongnya ke belakang. Beberapa detik berlalu, ada panggilan masuk dari Digo.
[Tuan, semua akun sekuritas kita eror. Sistemku bermasalah,] Digo terus menatap layar iPad yang ada di tangannya.
Kenzo ikut melihat layar laptopnya sendiri.
"Itu ... tidak mungkin."
Selama bertahun-tahun, sistem milik Kenzo terkenal sangat ketat. Bahkan, tim teknologi perusahaan berkali-kali mengatakan bahwa tidak pernah ada orang yang berhasil mengganggu akses akun investasinya. Namun, kini melihat layar penuh pesan galat seperti ini membuat Digo ikut terkejut.
"Digo, hubungi Kenzi! Minta Kenzi untuk membantu mengembalikan akun sekuritas kita, ada banyak saham di sana!" Kenzo terlihat panik untuk pertama kalinya, akun sekuritasnya berhasil di bobol orang lain.
[Baik, Tuan.]
Kenzi yang mendapat kabar itu dari Digo, menghubungi Kenzo, dia mencoba memeriksa server, jaringan, dan seluruh sistem dari jarak jauh.
Tetapi, kemudian Kenzi terkejut melihat pola yang dia temukan. Dia sendiri ahli IT, tetapi tak menyangka ada yang lebih hebat darinya.
[Kak ... aku belum menemukan tanda-tanda kerusakan pada server. Ini normal,]
"Kalau begitu kenapa sistemku tidak bisa diakses?"
[Itulah yang sedang aku cari tahu, aneh banget nggak sih? Masak kamu nggak bisa sadar kak, ini bukan hacker biasa, kalau hacker Indonesia nggak akan paham kode seperti ini, sial! Aku nggak bisa menemukan kunci masuknya,] Kenzi sampai frustrasi karena sudah mencoba tetapi malah terus gagal.
Kenzo menyipitkan matanya.
"Lakukan sesuatu! Kau biasanya bisa mendapatkannya dalam hitungan menit, ini kenapa kau terlihat susah?" Kenzo terlihat benar-benar marah, dia tidak tahu siapa yang bisa masuk akun sekuritas De Luca, padahal sudah berapa dekade akun sekuritas De Luca yang paling sulit dibobol.
"Siapa pun orangnya," ucap Kenzo dengan suara rendah, "dia cukup cerdas untuk membuatku memperhatikannya."
Di sisi lain kota, Mateo menutup iPad dan tersenyum tipis.
"Mari kita berbagi sedikit," gumam Mateo dengan nada mengejek, lalu menekan tombol, jual saham yang tersimpan.
Sontak di tempat lain, Digo terkejut melihat layar besar di dalam ruangan sekuritas di mana akun De Luca terlihat melelangkan sebanyak sepuluh saham dalam waktu lima menit.
Oh, Tuhan!" teriak Digo. Ponselnya berdering, Kenzo memanggil.
[Digo, apa yang kau lakukan di sana?! Apa kau nggak bisa membuat orang sekuritas menghentikan itu semua! Jika itu tidak berhenti, perusahaan akan rugi banyak!] teriakan Kenzo memekakkan telinga Digo.
"Tuan, tenang sedikit. Kami semua sedang berusaha,"
[Tenang kata mu?! Kita hampir bangkrut dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Jika mereka nggak bisa menghentikan semua itu, akan ku pastikan gedung sekuritas hancur malam ini!] ancam Kenzo tak main-main, tangan Digo sampai keringat dingin. Tidak hanya itu orang sekuritas bahkan mondar-mandir menghentikan aksi itu, tetapi semua akun mereka ikut berhenti, tidak bisa masuk.
"Ya ampun..." Digo terduduk lemas di kursi sembari menatap saham milik De Luca yang terus di promosi.
diumumkan begitu aja
anugerah apa bencana yaaa?😱🤣🤣🤣
Kenzo nih tipe orang yg GK suka basa basi muter muter,, cus pokoknya lgsg beres ya kan 🤭
Setuju,,... pengumuman pernikahanmu harus segera d sebar luaskan ....,, biar ga ad yg berani godain mommy Tara 😅