Malam itu, kampung Cikabuyutan hangus di bakar jadi abu.
Prajurit Kadipaten Ciaruteun datang.
Membakar rumah. Membunuh orang tua.
Atas perintah satu nama: Adipati Rangga sasmita
Mereka membalas dengan cara nya sendiri.
Istana bilang mereka penjahat.
Rakyat bilang mereka harapan.
Karena mulai malam ini...
Dua buronan akan merampok orang kaya.
Dan membagi-bagikannya ke orang miskin.
Satu anak panah untuk keadilan.
Satu tusukan pisau untuk membongkar kebusukan.
Ini bukan balas dendam.
Ini revolusi.
Dan apinya... baru saja mulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 : KETELEDORAN KARTA
Matahari merayap setinggi pohon kelapa. Cahaya hangat menyapu sisa embun di daun dan rumput pinggir jalan. Udara pusat Kerajaan Galuh pagi itu jauh berbeda dengan desa. Di kampung hanya ada kicau burung dan suara sungai. Di sini hiruk-pikuk sudah bergemuruh sejak dini hari. Jalan utama dari pasar ke gerbang istana penuh orang dari berbagai lapisan.
Pedagang menjajakan hasil bumi dan anyaman. Ada barang dari negeri seberang. Rakyat biasa mengurus keperluan. Rombongan pejabat lewat dengan iring-iringan tertib. Suasana hidup sekaligus penuh aturan membuat pendatang baru merasa kagum sekaligus segan.
Bayu melangkah tenang di tengah keramaian. Tangan menggenggam ujung ikat pinggang. Mata mengamati sekeliling tanpa rasa takut atau kagum berlebihan. Sikap rendah hati tetap dijaga. Langkah tidak mendahului orang. Ruang selalu diberikan bagi yang lewat.
Di sampingnya Karta melangkah pendek pendek tapi lebih cepat. Mata berputar ke segala arah. Takut ada pemandangan terlewat. Bagi bocah 13 tahun, kota seperti panggung tanpa henti.
“Kang Bayu, lihat! Gula merah dibentuk seperti patung kecil,” bisik Karta sambil menarik lengan baju kakaknya.
“Aroma rempahnya kuat sekali sampai ke sini.”
Bayu tersenyum tipis lalu mengangguk.
“Jangan melamun. Jalan hati-hati. Jalanan padat. Banyak gerobak dan orang orang. Jangan sampai terpisah.”
“Siap, Kang!”
Meski begitu mata Karta masih berpindah dari satu kios ke kios lain. Perhatian terbagi membuat langkah tidak teratur. Kadang berhenti melihat sesuatu. Lalu berlari kecil mengejar Bayu. Sesekali melangkah ke samping agar pandangan lebih luas.
Dari arah gerbang kediaman pejabat terdengar langkah beraturan. Disertai bunyi cincin kecil di ujung tongkat penjaga. Rombongan berjalan perlahan. Orang orang di pasar mulai menyingkir. Di tengah wanita muda berpakaian sangat rapi berjalan dengan anggun.
Selendang halus berwarna keemasan. Motif bunga ditenun rapi. Kain menjuntai sampai menyapu tanah. Gerak tenang dan terukur. Wajah tertutup kerudung tipis. Aura wibawa terpancar. Jelas bukan rakyat biasa. Pasti dari keluarga bangsawan atau kerabat istana.
Karta yang asyik mengamati tertuju pada rombongan itu. Rasa penasaran melonjak. Ingin melihat lebih jelas. Langkahnya tanpa sadar dipercepat. Mendekat ke sisi jalan menunggu rombongan lewat.
Bersamaan, dari arah berlawanan melaju gerobak kayu. Dua pedagang mendorongnya. Gerobak penuh karung beras. Didorong dengan cepat agar sampai sebelum panas meninggi.
“Awas! Minggir! Gerobak lewat!”
Orang segera menyingkir. Karta terkejut. Refleks ingin menghindar. Tapi mata masih tertuju pada rombongan wanita. Pijakan tidak diperhatikan. Dalam gerakan cepat ia melompat ke samping. Ujung sepatu kulit yang aus menginjak ujung selendang yang menjuntai.
Terasa tarikan ringan di kaki. Selendang tersangkut sebentar. Lalu terlepas dan melorot naik sedikit. Seketika kain penutup bahu wanita bergeser. Kulit bahu putih bersih terbuka sedikit. Kejadian berlangsung cepat. Suasana seolah berhenti.
Karta tertegun. Wajah pucat karena takut. Ia tahu adat Galuh. Menyentuh pakaian wanita terhormat kesalahan besar. Bisa dianggap penghinaan. Berujung hukuman berat.
Jantung berdebar. Mulut terbuka ingin minta maaf. Kata-kata macet. Sebelum sempat bersuara, rasa takut menguasai. Menoleh ke belakang. Orang mulai menoleh. Dalam panik naluri mendorong bersembunyi.
Tanpa pikir panjang badannya diputar. Menunduk. Menyelinap cepat di antara orang dewasa. Dalam hitungan detik sudah bersembunyi di balik punggung pedagang buah bertubuh besar. Hanya mengintip. Menahan napas. Berharap tidak ada yang melihat.
Peristiwa itu menarik perhatian semua. Gerakan selendang melorot terlihat jelas. Mata orang mencari siapa paling dekat. Saat itu satu-satunya yang terlihat berdiri di sisi jalan dekat wanita adalah Bayu.
Bayu sendiri terkejut. Baru ingin melangkah membantu merapikan selendang. Atau memberi hormat jika ada kesalahan. Tapi sebelum bergerak, tatapan tajam wanita sudah tertuju padanya.
Wanita itu berhenti. Awalnya kaget. Lalu berubah dingin dan kecewa. Merapikan selendang dengan gerakan anggun namun tegas. Menutup seluruh bahu dan dada. Setelah itu menatap Bayu dengan pandangan tajam.
Bagi wanita itu yang terlihat hanya pemuda sederhana berdiri di tempat kejadian. Pelaku sudah menghilang. Posisi Bayu paling dekat membuat semua menyimpulkan dialah yang menginjak selendang.
“Berani sekali tindakanmu, kisanak,” ucap wanita itu lembut namun tegas.
“Di tempat umum begini berani berbuat tidak pantas.
Tidak paham tata krama, atau sengaja ingin menghinaku?”
Bayu tertegun. Mata melebar. Tidak mengerti mengapa dituduh. Wajah menunjukkan kebingungan. Tangan terangkat sedikit.
“Tuan Putri… saya tidak melakukannya…”
“Jangan beralasan!” potong pengawal di belakang. Maju sambil menggenggam gagang keris.
“Semua melihat kau berdiri di sampingnya! Siapa lagi kalau bukan kamu? Berani mengganggu rombongan dan melukai kehormatan wanita!”
Suasana langsung tegang. Orang berbisik. Menatap Bayu dengan prasangka. Ada penasaran. Ada kasihan tapi takut bersuara. Semua mata tertuju padanya.
Dari balik pedagang buah Karta mengintip. Perasaan campur aduk. Awalnya bersalah. Melihat Bayu kebingungan, sudut bibir sempat terangkat. Menahan napas agar tidak tertawa. Tapi rasa itu hilang. Berganti sesak. Ingat pesan Mbah Karsa. Ingat Bayu selalu melindunginya. Rasa malu karena bersembunyi lebih berat dari takut.
Bayu berdiri tegak. Tidak menunduk mengaku. Tidak menantang. Menatap wanita dengan pandangan jujur dan tenang.
“Saya mengerti Tuan Putri merasa terganggu,” ucap Bayu pelan. Suara tidak bergetar.
“Namun sungguh bukan niat saya. Tidak tahu bagaimana kejadiannya. Hanya melihat selendang bergeser tiba-tiba. Jika ada kesalahan, saya mohon maaf. Tapi bersumpah bukan saya yang melakukannya.”
Penjelasan itu membuat pengawal semakin geram.
“Lihat! Masih membela diri! Jika tidak salah, kenapa tidak minta maaf dari awal? Ayo ikut kami ke penjaga pasar!”
Beberapa orang mendekat. Bayu tidak melawan. Mengangkat tangan sedikit untuk menunjukkan tidak berniat jahat. Hati gelisah memikirkan nasib selanjutnya.
Saat pengawal hendak mendekat, Karta memberanikan diri keluar. Langkah gontai. Berdiri di samping Bayu. Kepala tertunduk. Tangan meremas ujung baju.
“Maafkan saya… Tuan Putri, kakang Pengawal… Sesungguhnya sayalah yang melakukannya. Bukan Kang Bayu.”
Semua terkejut. Air mata menetes di pipi Karta.
“Tidak sengaja menginjak selendang saat menghindari gerobak. Lalu takut dan lari. Saya pengecut. Itu kesalahan besar. Membiarkan Kang Bayu dituduh padahal tidak tahu apa-apa. Saya siap dihukum. Jangan salahkan Kang Bayu.”
Membungkuk dalam. Wanita itu menatap Karta yang gemetar namun berani mengaku. Lalu menatap Bayu yang diam tanpa mencela adiknya. Perlahan wajah melunak.
“Angkat kepalamu,” ucapnya lembut.
“Kesalahanmu karena tidak sengaja, bukan niat jahat. Kesalahan lain adalah bersembunyi dan membiarkan orang lain dituduh. Tapi keberanian mengaku sudah memperbaiki sebagian.”
Menoleh ke Bayu.
“Dan kepadamu, maafkan saya yang terlalu cepat menuduh. Sikapmu tenang, jujur, dan tidak menjatuhkan orang lain adalah keluhuran budi yang jarang ada.”
Bayu tersenyum tipis lalu mengangguk hormat.
“Tidak apa-apa, Tuan Putri. Wajar ada salah paham di keadaan mendadak. Yang penting kebenaran sudah terungkap.”
Pengawal yang tadi marah menurunkan tangan dari keris. Kerumunan berbisik lagi. Kali ini memuji kejujuran Karta dan ketenangan Bayu.
Sebelum pergi wanita itu menoleh sekali lagi.
“Ingat pesan ini,” katanya pada Karta.
“Setiap kesalahan ada jalan memperbaikinya. Jalan paling benar adalah berani mengaku dan bertanggung jawab, bukan melarikan diri.”
“Baik, Tuan Putri! Saya akan ingat.”
Setelah rombongan berlalu dan kerumunan bubar, Bayu menepuk bahu adiknya.
“Sudah selesai. Tidak ada yang perlu ditakuti. Yang penting kau berani jujur.”
Karta mendongak. Mata masih basah. Memeluk lengan baju Bayu erat.
“Maafkan aku, Kang… aku merasa takut tadi. Janji tidak akan terulang.”
Bayu mengusap kepala adiknya.
“Kita belajar dari kesalahan, bukan dihukum selamanya. Ayo lanjut sebelum matahari semakin tinggi.”
Keduanya kembali melangkah di jalanan ramai. Karta melangkah dengan kepala tertunduk. Tapi hatinya terasa lega. Di tengah hiruk-pikuk kota raja, peristiwa singkat itu jadi pelajaran. Kebenaran dan keberanian bertanggung jawab jauh lebih mulia daripada melarikan diri.
---