NovelToon NovelToon
TRANSMIGRASI AURORA: JERAT GAIRAH LIAR SANG TIRAN KAELEN AZRAEL

TRANSMIGRASI AURORA: JERAT GAIRAH LIAR SANG TIRAN KAELEN AZRAEL

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mafia / Mengubah Takdir
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: namice

Aurora—seorang montir bar-bar dan hacker genius dunia bawah—tewas mengenaskan lalu bertransmigrasi ke raga Aletheia Elixir. Aletheia adalah istri figuran yang diabaikan dan ditakdirkan mati di tangan suaminya sendiri, Kaelen Azrael—Raja Mafia bermata merah, penguasa dunia, sekaligus pria tertampan yang dirumorkan impoten.

​Enggan mati konyol, Aurora langsung menghapus riasan menor buruk rupanya, mengungkap kecantikan aslinya yang secantik Dewita malam, lalu menyodorkan surat gugatan cerai tepat di depan wajah sang tiran!

​Namun, Aurora salah perhitungan. Sifat bar-barnya yang menolak tunduk justru menyulut ego sang tiran. Dan yang paling mengerikan... tepat saat mata merah Kaelen menatap pesona Aurora yang mencoba menolaknya, penyakit impoten sang tiran sembuh.​

Gairah Kaelen yang telah mati bertahun-tahun meledak dengan begitu liar dan haus darah.
​Bukannya bebas, Aurora justru ditarik paksa ke atas sofa. Surat cerai terhempas berantakan, digantikan kukungan penuh kuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTEMUAN AURORA DAN KAELAN

​Tiga hari telah berlalu sejak Rae terbangun di raga Lethe. Selama tiga hari itu, Rae menggunakan waktunya untuk memulihkan luka cambuk di punggungnya secara maksimal. Berkat ramuan herbal yang dia minta secara rahasia lewat Cyra dan ketangguhan fisik yang dia miliki, luka-luka itu mulai mengering meskipun masih meninggalkan bekas kemerahan yang sensitif.

​Riasan wajah menor yang dibenci Kaelen telah sepenuhnya dia buang ke tempat sampah. Kini, tanpa bedak tebal yang menyerupai topeng badut, wajah asli Lethe memancarkan pesona yang sanggup menghentikan napas siapa pun yang melihatnya. Wajahnya murni, luar biasa cantik bagaikan seorang Dewita yang turun dari langit, sangat kontras dengan aura tiran Kaelen yang bagaikan Dewa kegelapan.

​Hari itu, sore menjelang malam. Rae sedang berdiri di depan cermin, mengenakan gaun sutra berpotongan sederhana namun elegan berwarna hitam pekat yang kontras dengan kulit putih porselennya. Dokumen perceraian sudah tercetak rapi di dalam laci mejanya, tinggal menunggu tanda tangan pria itu.

​Namun, ketenangan Rae tidak bertahan lama.

​GEMURUH!

​Tiba-tiba, kaca-kaca jendela besar di kamarnya bergetar hebat. Suara deru mesin yang sangat bising memecah keheningan mansion. Itu bukan suara mobil biasa. Itu adalah suara baling-baling helikopter militer yang mendarat di halaman luas mansion.

​Tak lama kemudian, terdengar suara raungan mesin belasan mobil SUV hitam antipeluru yang memasuki pekarangan rumah dengan formasi taktis.

​Rae membeku di tempatnya berdiri. Detak jantungnya langsung melompat drastis. Insting bertahan hidupnya berteriak kencang. "Dia... dia sudah pulang." Gumamnya gugup dan takut.

​Enam bulan tanpa kabar, dan sang Raja Iblis kembali secara mendadak tanpa peringatan apa pun.

​Dari atas balkon kamarnya, Rae mengintip ke bawah dengan hati-hati melalui celah gorden. Suasana di halaman mansion berubah menjadi sangat tegang. Ratusan pengawal berpakaian hitam-hitam dengan senjata api laras panjang langsung berbaris rapi membentuk pagar hidup, menundukkan kepala mereka dalam-dalam dengan rasa hormat yang bercampur ketakutan mutlak.

​Pintu helikopter terbuka yang berada di tengah-tengah iringan terbuka. Seorang pria melangkah keluar dari sana.

​Deg!

​Napas Rae seolah tercekat di tenggorokan. Pria itu luar biasa tinggi, dengan bahu lebar yang tegap dibalut kemeja sutra hitam murni yang kancing atasnya terbuka, menampilkan garis rahangnya yang tegas dan kokoh. Rambut hitam pekatnya sedikit berantakan karena angin dari baling-baling helikopter, membingkai wajah tampan yang sangat simetris namun dingin tanpa ekspresi.

​Namun, yang membuat seluruh tubuh Rae merinding adalah sepasang matanya. Mata itu berwarna merah gelap yang menyala—seperti permata rubi berdarah yang memancarkan aura kematian dan dominasi absolut. Dialah Kaelen Azrael.

​Kaelen berjalan perlahan memasuki mansion, setiap langkahnya terasa berat dan membawa tekanan psikologis yang kuat bahkan bagi Rae yang melihatnya dari lantai atas. Aura intimidasi pria itu begitu pekat hingga membuat udara di sekitar mansion terasa menipis.

​Rae mundur beberapa langkah dari jendela, memegangi dadanya yang naik turun tidak teratur. "Gila... auranya jauh lebih mengerikan daripada yang digambarkan di drama. Pria itu benar-benar monster." Gumamnya bergidik ngeri.

​Ada rasa takut yang nyata menyelimuti benak Rae. Dia tahu, satu kesalahan kecil dalam berbicara di depan Kaelen bisa membuat kepalanya terpisah dari tubuhnya. Namun, Rae menolak untuk tunduk. Dia menggertak kan giginya, memaksa kakinya yang sempat lemas untuk berdiri tegak kembali. Dia berjalan menuju meja, mengambil map berisi dokumen perceraian, dan memeluknya erat di dada.

​"Tenang, Rae. Tetap tenang. Dia cuma manusia, bukan hantu. Kau punya otak, kau punya rencana. Hadapi dia, dapatkan tanda tangannya, lalu pergi," bisik Rae pada dirinya sendiri untuk membangun benteng keberaniannya.

​​​Tak butuh waktu lama bagi kepala pelayan untuk mengetuk pintu kamar Rae dengan tangan gemetar. "N-Nyonya Muda... Tuan Besar Kaelen meminta Anda untuk menemuinya di ruang kerja sekarang juga."

​Rae menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan. "Baik. Aku akan segera ke sana."

​Dengan langkah yang diatur setenang mungkin, Rae berjalan menyusuri lorong mansion yang sepi. Setiap langkahnya mendekati ruang kerja Kaelen terasa seperti berjalan menuju tiang gantungan. Ketika dia sampai di depan pintu kayu ek besar yang kokoh, dua pengawal berbadan kekar yang berjaga di sana menatapnya dengan pandangan dingin, lalu membukakan pintu tanpa suara.

​Rae melangkah masuk. Ruangan itu luas, didominasi warna gelap dan aroma tembakau mahal bercampur parfum maskulin yang pekat. Di balik meja kerja mahoni yang besar, Kaelen sedang duduk sambil menyandarkan punggungnya, satu tangannya memegang segelas wiski.

​Mata merah Kaelen awalnya menatap malas ke arah pintu, bersiap untuk mengusir wanita menor haus harta yang dibencinya. Namun, begitu sosok Rae melangkah sepenuhnya ke dalam ruangan, gerakan tangan Kaelen yang hendak menyesap wiski langsung membeku di udara.

​Sepasang mata merah itu membelalak samar, memancarkan kilat keterkejutan yang luar biasa.

​Di depannya, tidak ada lagi wanita paruh baya tiruan dengan riasan badut menor. Yang berdiri di sana adalah seorang gadis muda yang luar biasa cantik dengan wajah polos tanpa make-up. Kulitnya seputih porselen, sepasang mata cokelat madunya menatap lurus ke arahnya dengan berani—sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Lethe yang penakut. Gaun hitam sederhana yang dikenakannya justru membuat kecantikannya tampak begitu murni sekaligus misterius, bagaikan seorang Dewita malam.

​Keheningan melanda ruangan itu selama beberapa detik yang menyiksa. Kaelen menatap Rae dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan tajam yang seolah menguliti wanita itu hidup-hidup.

​Di sisi lain, Rae berusaha keras menahan getaran di lututnya akibat tatapan mematikan Kaelen. Dia melangkah maju tiga langkah, menaruh map hitam di atas meja kerja Kaelen dengan suara plak yang memecah keheningan.

​Kaelen mengalihkan pandangannya dari wajah cantik Rae ke map tersebut, lalu menaikkan sebelah alisnya yang tebal. "Apa ini?" Suara Kaelen terdengar sangat rendah, berat, dan serak—mengandung getaran magnetis yang seksi namun berbahaya.

​Rae mengepalkan tangannya di balik gaunnya, mengumpulkan seluruh keberanian jiwa bar-barnya, lalu menjawab dengan suara yang lantang dan tegas.

​"Itu adalah surat gugatan cerai, Tuan Kaelen Azrael. Saya di sini untuk meminta perceraian dari Anda."

​BRAAAK!

​Gelas wiski di tangan Kaelen retak seketika akibat cengkeramannya yang tiba-tiba mengencang, membuat cairan amber itu tumpah di atas meja. Udara di dalam ruangan itu langsung turun drastis hingga ke titik beku, dan sepasang mata merah Kaelen menyala dengan kilat amarah yang luar biasa liar dan berbahaya. Sang Raja Iblis baru saja ditantang oleh istrinya sendiri.

1
Nur Janah
suka ceritanya.....👍👍Rea tangguh n bar bar,,
namice: 😘😘😘, terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku dan suka 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
namice
🤣🤣🤣🤣 terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
Sulati Cus
sekalinya hidup🤔
namice: 😘😘😘, terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Sulati Cus
hukuman ranjang yg extrem🤣
namice: 🤣🤣🤣... terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Sulati Cus
astaga kebayang nggak sih 10ronde🤔 pertama melakukan alamat ...
namice: 🤣🤣🤣 terimakasih banyak ya kak baca novel ku 🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Sulati Cus
lanjut langsung tak favorit
namice: 😘😘😘, terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku, aku sudah update satu bab lagi kak... 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!