Selama dua puluh tahun, Aisha mengira dia adalah gadis paling beruntung karena diadopsi oleh keluarga kaya. Namun, segalanya berubah saat anak kandung keluarga tersebut, Clara, yang sempat hilang, akhirnya ditemukan. Seketika, posisi Aisha bergeser menjadi "pembantu" tak kasat mata.
Puncaknya terjadi ketika Clara terjerat hutang miliaran rupiah pada jaringan mafia kejam akibat gaya hidupnya yang liar. Enggan mengorbankan putri kandung mereka, orang tua angkat Aisha tega menumbalkannya. Aisha dipaksa menikah dengan Devan Alister, putra mahkota dari keluarga mafia terbesar sekaligus CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Aisha mengira hidupnya akan berakhir di neraka. Devan menyambutnya dengan tatapan tajam dan peringatan keras agar Aisha tidak berharap lebih dari pernikahan kontrak ini. Namun, di balik sikap galak dan dinding es yang dibangun Devan, perlahan Aisha menemukan sisi lain dari sang CEO, kepedulian diam-diam yang mulai mengikis luka di hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arraziq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sangkar Emas
Aisha melaksanakan pernikahannya tidak dengan tangisan haru atau pelukan hangat layaknya pengantin baru. Sebaliknya, dia dilemparkan ke dalam sebuah kamar luas berdesain minimalis modern dengan dominasi warna abu-abu dan hitam yang kaku.
Kamar itu terletak di lantai dua paviliun belakang mansion mewah yang menyerupai benteng. Sunyi, dingin, dan mengintimidasi. Aisha duduk di tepi ranjang berukuran king size. Gaun pengantin yang indah namun menyiksa itu masih melekat di tubuhnya, kini terasa seperti pakaian tahanan.
Pipinya yang tadi ditampar oleh Sinta, wanita yang selama dua puluh tahun ia panggil 'Mama', masih menyisakan rasa panas dan perih, baik di kulit maupun di lubuk hatinya.
"Tok! Tok!" Ketukan di pintu mengejutkan Aisha.
Sebelum dia sempat menjawab, pintu terbuka dan menampakkan seorang wanita paruh baya berseragam pelayan rapi. Ekspresinya datar, tanpa keramahan yang biasa ditemukan pada pelayan rumah tangga biasa.
"Nona Aisha, saya Bi Sumi. Tuan Muda Devan meminta Anda untuk segera berganti pakaian dan menunggunya di ruang kerja di ujung lorong ini. Beliau tidak suka menunggu," ucap wanita itu tegas, lalu meletakkan sebuah gaun tidur berbahan sutra hitam di atas meja rias sebelum berlalu pergi.
Aisha menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Dengan tangan bergetar, dia melepaskan gaun pengantinnya dan menggantinya dengan gaun tidur hitam yang longgar namun sopan. Dia menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya pucat, matanya sembab. Dua puluh tahun hidup sebagai putri kesayangan keluarga terpandang, dalam sekejap mata runtuh menjadi barang jaminan akibat keserakahan dan pilih kasih.
Pikiran Aisha melayang ke kejadian beberapa jam lalu sebelum dia diseret ke altar. Wajah kecewa dan dingin dari Hendra, papa angkatnya, terus membayangi.
"Papa mohon, Aisha. Kali ini saja, bantulah keluarga kita," ucap Hendra malam itu saat Aisha bersujud di kakinya, memohon agar tidak dinikahkan dengan keluarga mafia Alister.
"Tapi kenapa harus Aisha, Pa? Clara yang berbuat, kenapa Aisha yang harus menanggungnya?" tangis Aisha pecah malam itu.
Hendra memalingkan wajah, tidak berani menatap mata anak angkat yang dulu ia timang.
"Clara adalah darah daging kami yang asli, Aisha. Dia baru saja kembali setelah belasan tahun hilang. Kami tidak bisa membiarkan masa depannya hancur atau nyawanya terancam oleh keluarga Alister. Selama dua puluh tahun ini, kami sudah memberikan kehidupan yang layak untukmu. Anggap saja ini saatnya kamu membalas budi."
Kata-kata 'membalas budi' itu terus terngiang, berputar-putar di kepala Aisha bagai kutukan. Senyum sinis Clara dan tamparan keras dari Sinta mempertegas kenyataan bahwa di mata mereka, dia tidak lebih dari sebuah ban serep. Ketika ban utama yang hilang telah kembali, ban serep itu harus dibuang ke tempat terasing demi melindungi sang ban utama.
Aisha menghapus setitik air mata yang kembali lolos. Dia tidak boleh terlihat lemah di depan pria yang kini menjadi suaminya secara hukum. Devan Alister bukan pria biasa. Di siang hari, dia adalah CEO muda jenius yang memimpin Alister Group, sebuah konglomerat yang menguasai sektor properti dan finansial negeri ini.
Namun di malam hari, atau di balik pintu-pintu tertutup, dia adalah tangan besi yang mengendalikan jaringan bisnis bawah tanah yang ditakuti.
Dengan langkah perlahan, Aisha keluar dari kamar dan menyusuri lorong yang remang-remang. Karpet tebal yang membentang di sepanjang lantai meredam suara langkah kakinya. Di ujung lorong, sebuah pintu kayu jati besar berdiri kokoh.
Aisha mengetuknya dengan ragu.
"Masuk."
Suara bariton yang berat dan dingin terdengar dari dalam. Aisha memutar knop pintu dan melangkah masuk. Ruangan itu sangat luas, dikelilingi oleh rak-rak buku menjulang tinggi hingga ke langit-langit.
Di balik sebuah meja kerja marmer hitam yang besar, duduk Devan Alister. Pria itu sudah menanggalkan jas tuksedonya, kini hanya mengenakan kemeja hitam dengan dua kancing teratas terbuka dan lengan yang digulung hingga siku, menampilkan lengan kokoh dengan jam tangan mewah berdesain tegas.
Dia sedang memeriksa beberapa berkas di bawah temaram lampu meja. Aisha berdiri diam di dekat pintu, tidak berani melangkah lebih dekat. Aura intimidasi yang dipancarkan Devan begitu kuat hingga membuat atmosfer di sekitar ruangan terasa tipis dan menyesakkan.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti keabadian, Devan meletakkan penanya. Dia bersandar pada kursi kebesarannya dan menatap Aisha. Tatapan matanya tajam bagai elang, menguliti setiap gerak-gerik gadis di depannya.
"Kemari," perintah Devan singkat.
Aisha melangkah maju dengan ragu-ragu, menghentikan langkahnya sekitar dua meter di depan meja kerja Devan. Devan memperhatikan penampilan Aisha dari ujung kepala hingga ujung kaki. Gaun tidur hitam yang melekat pada tubuh mungil Aisha membuat kulit gadis itu terlihat sangat kontras dan putih bersih.
Devan juga menyadari mata sembab dan bekas kemerahan samar di pipi kiri Aisha, bekas tamparan Sinta yang belum sepenuhnya hilang.
Kilatan aneh sempat melintas di mata gelap Devan, namun dengan cepat digantikan oleh tatapan sedingin es.
"Siapa namamu?" tanya Devan, meskipun dia tentu sudah tahu jawabannya dari laporan para anak buahnya.
"A-Aisha, Tuan," jawab Aisha dengan suara bergetar kecil.
Devan mendengus pelan, sebuah senyuman sinis terukir di sudut bibirnya yang tipis.
"Jangan panggil aku Tuan di rumah ini. Mulai hari ini, secara hukum, aku adalah suamimu. Panggil aku Devan." Aisha hanya mengangguk pelan, tidak berani membantah.
"Aku memanggilmu ke sini untuk memperjelas posisi kita," kata Devan sambil memajukan tubuhnya, menumpukan kedua tangannya di atas meja marmer.
"Jangan pernah membayangkan pernikahan ini seperti dongeng-dongeng romantis. Kamu berada di sini karena orang tua angkatmu, Hendra dan Sinta, tidak becus mendidik putri kandung mereka yang bodoh itu. Clara berhutang lima puluh miliar di kasino milik keluargaku, dan mereka menyerahkanmu sebagai jaminan hidup agar hutang itu dianggap lunas." Setiap kata yang diucapkan Devan bagai garam yang ditaburkan di atas luka menganga di hati Aisha.
Gadis itu mengepalkan tangannya di balik lipatan gaunnya, menahan rasa sesak yang luar biasa.
"Aku tahu," cicit Aisha lirih.
"Bagus kalau kamu tahu diri," lanjut Devan, suaranya terdengar datar namun sarat ancaman.
"Pernikahan ini hanyalah transaksi bisnis di atas kertas. Aku tidak butuh seorang istri, dan aku tidak berencana untuk menjadi suami yang baik. Tugasmu di rumah ini sangat sederhana, patuhi semua perintahku, jangan pernah mencampuri urusanku, jangan pernah masuk ke ruang pribadiku tanpa izin, dan yang terpenting, jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu atau mencintaimu." Aisha mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Devan.
Di balik rasa takutnya, ada secercah harga diri yang tersisa.
"Saya tidak pernah mengharapkan apa pun dari pernikahan ini, Tuan, maksud saya, Devan. Saya tahu posisi saya. Saya hanya barang jaminan."
Devan sedikit terkejut melihat keberanian Aisha yang berani menatap matanya secara langsung. Biasanya, orang-orang bahkan rekan bisnis atau anak buahnya yang berbadan kekar akan menunduk ketakutan jika dia menatap mereka seperti itu.
Namun, gadis ringkih di depannya ini memiliki binar ketegaran yang tersembunyi di balik matanya yang basah.
"Menarik," gumam Devan pelan, hampir tak terdengar.
Dia kemudian membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah map dokumen hitam, lalu melemparkannya ke depan Aisha.
"Tanda tangani itu." Aisha melangkah mendekat dan membuka map tersebut.
Itu adalah perjanjian pra-nikah. Isinya sangat menyudutkan dirinya, menyatakan bahwa dia tidak berhak atas sepeser pun harta kekayaan Devan jika terjadi perceraian di masa depan, dan pernikahan ini akan berlangsung selama waktu yang ditentukan oleh Devan sendiri.
Tanpa banyak bicara atau ragu, Aisha mengambil pulpen yang disediakan di atas meja dan menorehkan tanda tangannya di atas meterai. Dia tidak peduli dengan harta. Harta tidak bisa membeli kembali kasih sayang dua puluh tahun yang ternyata palsu.
Melihat Aisha menandatanganinya tanpa protes atau drama air mata untuk meminta keringanan, Devan kembali menatap gadis itu dengan pandangan menyelidik.
"Kamu tidak ingin membacanya dulu? Atau menuntut sesuatu?"
"Untuk apa?" Aisha menatap Devan dengan senyum getir yang terlihat sangat rapuh namun indah.
"Semua hak saya sebagai manusia sudah hilang sejak orang tua saya menjual saya pada Anda. Harta Anda tidak ada artinya bagi saya." Ruang kerja itu mendadak hening.
Devan terdiam, kata-kata Aisha entah mengapa memberikan hantaman kecil di dadanya. Pria itu berdeham pelan untuk menutupi kegundahannya, lalu mengambil kembali map dokumen tersebut.
"Keluar dari sini. Kamarmu adalah kamar yang kamu tempati tadi. Kita tidak akan tidur di ranjang yang sama. Jika tidak ada keharusan untuk tampil di depan publik atau acara keluarga Alister, anggap saja kita tidak saling kenal di dalam mansion ini," ucap Devan dingin, kembali ke mode tak tersentuhnya.
"Baik. Permisi," ucap Aisha pelan.
Dia membalikkan badan dan berjalan menuju pintu. Namun, baru saja tangan Aisha menyentuh gagang pintu, dia merasakan pandangannya tiba-tiba mengabur. Kepalanya berputar hebat.
Tekanan mental yang luar biasa sejak semalam, ditambah fakta bahwa dia belum makan apa pun sejak pagi karena dikurung oleh Sinta, akhirnya membuat tubuh ringkihnya menyerah. Kaki Aisha melemas. Tubuhnya limbung dan ambruk ke lantai dingin lorong tepat di ambang pintu kerja Devan.
"Aisha!" Suara dingin Devan berubah drastis menjadi kepanikan yang jarang sekali ditunjukkannya.
Devan langsung bangkit dari kursinya dengan kecepatan kilat, melompati meja kerjanya tanpa peduli beberapa berkas berhamburan. Sebelum tubuh Aisha sepenuhnya menghantam lantai, lengan kokoh Devan sudah lebih dulu menangkapnya. Devan mendekap tubuh mungil yang terasa sangat ringan dan dingin itu. Wajah Aisha sangat pucat, napasnya pendek-pendek.
"Sial," umpat Devan pelan saat tangannya menyentuh kening Aisha yang terasa agak demam.
Mata Devan kemudian tertuju pada pipi kiri Aisha yang membengkak samar. Jari-jari kasarnya yang biasa memegang senjata kini dengan sangat lembut menyentuh bekas luka tamparan tersebut. Ada rasa amarah yang tiba-tiba bergejolak di dalam dada sang mafia, bukan kepada Aisha, melainkan kepada keluarga Hendra dan Sinta yang tega memperlakukan gadis ini seperti binatang ternak yang siap disembelih.
Meskipun mulutnya berkata kejam dan menganggap Aisha hanya barang sitaan, namun melihat kondisi gadis itu yang begitu rapuh di pelukannya, naluri pelindung di dalam diri Devan bangkit. Devan mengangkat tubuh Aisha dengan mudah ke dalam gendongannya (bridal style).
Alih-alih membawanya kembali ke kamar paviliun belakang yang dingin, Devan melangkah lebar membawa Aisha menuju kamar utamanya sendiri, ruangan paling privat yang terlarang bagi siapa pun di mansion itu. Dia meletakkan Aisha di atas ranjang sutra miliknya dengan sangat hati-hati, seolah-olah gadis itu adalah barang porselen yang mudah pecah. Devan menatap wajah tidur Aisha yang masih tampak gelisah, lalu menghela napas panjang.
"Kamu adalah jaminanku, Aisha. Sebelum hutang itu lunas dengan caraku, tidak ada seorang pun yang boleh menyakitimu, termasuk keluargamu sendiri," bisik Devan dengan suara rendah, penuh dengan nada posesif yang berbahaya namun menyiratkan kepedulian yang mendalam.
Devan kemudian berbalik dan menekan tombol interkom di dinding.
"Bi Sumi, panggil dokter pribadi keluarga ke kamar utama sekarang juga. Dan siapkan sup hangat." Sang CEO Mafia itu kembali duduk di tepi ranjang, menatap lekat-lekat wajah istri kontraknya.
Permainan baru saja dimulai, dan Devan sadar, gadis di depannya ini mungkin akan mengubah banyak hal dalam hidupnya yang penuh dengan kegelapan.