NovelToon NovelToon
TALI MERAH & TEH TARIK

TALI MERAH & TEH TARIK

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:32
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Bagi Aira, bekerja di kafe itu hal biasa. Sampai ada Arjun-cowok keturunan India yang selalu datang jam sama, pesan minum sama, dan punya senyum yang bikin hati salah tingkah. Di lehernya selalu ada benang merah, katanya itu tanda ikatan. Dan suatu hari, dia mau ikat tali itu juga di tangan Aira, bilang kalau dia udah nggak mau cari ke mana-mana lagi. Cukup Aira aja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Hari-hari berlalu dalam diam yang makin terasa berat. Aira masih sama, dingin, jauh, dan selalu menempatkan jarak di antara kami seolah kami tak pernah saling kenal dekat.

Aku yang sedari dulu bertanya-tanya, bingung apa yang salah, apa yang berubah, mengapa dia berubah begitu drastis... hari ini aku mendapati diriku sendiri terperangkap dalam kebingungan yang sama persis, bahkan jauh lebih dalam menyiksanya.

Siang itu aku datang ke kafe, seperti kebiasaan yang tak sanggup ku hentikan meski tahu hanya akan disambut sikap dinginnya. Bagiku, sekadar melihatnya saja sudah cukup, meski hanya dari jauh.

Namun begitu langkah kakiku melangkah masuk melewati pintu, napasku seketika terhenti.

Di balik meja kasir, Aira berdiri tegak dengan postur tubuhnya yang anggun. Di sebelahnya, ada seorang pemuda. Seorang rekan kerja yang sering kulihat lewat, orang biasa saja.

Namun hari ini... cara pemuda itu berdiri, cara ia mencondongkan tubuhnya mendekat, nada bicaranya yang terdengar begitu akrab dan lembut... pemandangan sederhana itu terasa begitu tajam menusuk tepat di ulu hatiku.

Pemuda itu menunjuk sesuatu di atas buku catatan, bahu mereka nyaris bersentuhan. Aira menunduk, memperhatikan dengan saksama, dan... ia tersenyum. Sebuah senyum tipis, ringan, namun begitu indah dan tulus.

Senyum yang sudah berhari-hari, berminggu-minggu bahkan, tak pernah lagi ia berikan kepadaku. Senyum yang kini ia hadiahkan begitu saja kepada orang lain.

Ada sesuatu yang pecah perlahan di dalam dadaku.

Rasa itu datang begitu saja, tanpa diundang, tanpa aku mengerti dari mana asalnya. Sesak yang luar biasa. Rasa panas yang menjalar ke seluruh tubuh. Dan rasa ingin memiliki yang tiba-tiba muncul begitu kuat, hingga membuatku hampir kehilangan kendali.

Aku ingin sekali melangkah mendekat, berdiri di antara mereka, memisahkan jarak yang terasa terlalu rapat itu. Aku ingin sekali meminta pemuda itu menjauh, berhenti menatap Aira dengan pandangan yang seolah-olah ia berhak memiliki apa yang ada di hadapannya.

Tapi... atas dasar apa?

Kita kan hanya sahabat. Kita kan hanya teman baik. Aira berhak berteman dengan siapa saja. Aira berhak tersenyum kepada siapa saja. Aku bukan siapa-siapanya. Aku tak memiliki hak apa pun untuk melarang, untuk merasa cemburu, atau untuk merasa sakit hati.

"Lalu mengapa rasanya begitu sesak, Arjun? Mengapa rasanya ada bagian dari diriku yang hilang saat melihat dia tersenyum untuk orang lain? Apakah ini namanya cemburu? Namun cemburu itu kan milik mereka yang saling mencintai, yang terikat janji. Kita bukan begitu. Kita sahabat. Lalu mengapa rasanya begitu menyakitkan? Mengapa aku begitu bingung dengan apa yang kurasakan ini? Kenapa aku merasa kehilangan sesuatu padahal itu tak pernah menjadi milikku?"

Pertanyaan itu berputar hebat di kepalaku, membuatku kacau balau. Dulu aku sempat bingung sekali saat Aira berubah sikap setelah kehadiran Diya. Aku sempat bertanya-tanya mengapa dia begitu, mengapa dia marah, mengapa dia menjauh. Kini... kini aku mengerti segalanya sepenuhnya. Karena rasanya sama persis, bahkan jauh lebih dalam dan jauh lebih perih rasanya.

Dan yang paling menyiksaku

aku tak bisa bersikap dingin dan cuek sepertinya, tapi aku juga tak sanggup mengatakannya. Aku hanya bisa memendam semuanya sendiri, bergumul hebat dengan rasa yang tak ku kenali namanya ini.

Dengan langkah yang terasa berat dan kaku, aku melangkah mendekat. Aku berhenti di sisi meja kasir, berdiri di sana dengan perasaan yang berantakan tak karuan.

Pemuda itu menoleh, sedikit terkejut, lalu tersenyum sopan dan beralih pergi ke meja lain. Tinggallah aku dan Aira berdua.

Aira mengangkat wajahnya. Senyumnya yang tadi tampak begitu indah itu seketika lenyap, berganti kembali menjadi raut wajah datar dan dingin yang biasa ia pasang di hadapanku. Matanya menatapku sekilas saja, lalu cepat-cepat membuang muka, berpura-pura sibuk dengan barang-barang di meja.

"Oh sudah datang?" sapanya singkat, datar, tanpa ada nada kehangatan sedikit pun.

Biasanya, aku akan menjawab biasa saja, aku akan berusaha bicara banyak hal untuk mencairkan suasana. Tapi hari ini... mulutku terasa kaku. Hatiku penuh sesak. Otakku penuh pertanyaan yang tak terjawab. Aku tak sanggup bersikap biasa saja, tapi aku juga tak sanggup bertanya apa-apa.

Aku hanya diam menatapnya. Mataku tak lepas dari wajahnya, mataku meneliti setiap gerak-geriknya, mataku seolah takut kehilangan dia sedetik saja. Tatapanku tajam, lekat, penuh rasa sakit dan kebingungan yang tersembunyi di baliknya.

"Kamu kenapa? Kok diam aja?" tanya Aira lagi, kali ini nadanya sedikit berubah. Dia menoleh, menatapku dengan raut bingung.

Dia merasa ada yang beda. Dia merasa aku berubah. Dia biasa melihatku datang dengan ceria, dengan semangat, dengan banyak pertanyaan. Tapi hari ini... aku diam, kaku, wajahku pucat dan penuh kekacauan.

Aku menelan ludah susah payah, berusaha mengatur napas yang rasanya makin berat. Aku berusaha tersenyum, tapi senyum itu terlihat begitu dipaksakan, begitu kaku, begitu sedih.

"Enggak apa-apa..." jawabku pelan, suaraku terdengar berat dan rendah, berbeda dari biasanya yang lantang dan hangat.

"Cuma... sedikit lelah aja."

Aku berbohong. Aku bukan lelah fisik. Aku lelah hati. Aku lelah berperang dengan diriku sendiri. Aku lelah berjuang dengan rasa yang tak ku mengerti ini.

Aku tak bertanya siapa pemuda tadi. Aku tak bertanya kenapa dia tersenyum. Aku tak bertanya apa hubungan mereka. Aku diam saja. Tapi tatapanku... tatapanku tak lepas darinya. Mataku menatapnya lekat-lekat, penuh tanya, penuh rasa sakit, penuh rasa ingin memiliki yang tersembunyi.

Aku berdiri di sana lebih dekat dari biasanya, aku tak mau menjauh, aku tak mau memberi ruang sedikit pun untuk orang lain masuk lagi di antara kami.

Aku berubah. Aku sadar itu.

Dulu aku yang selalu bertanya, aku yang selalu berusaha ngobrol, aku yang selalu mengejar perhatiannya. Sekarang... aku jadi pendiam, aku jadi aneh, aku jadi terlalu memperhatikan dia sampai terasa mengintimidasi. Aku jadi cemburu diam-diam, aku jadi takut kehilangan, aku jadi kacau sendirian.

Aira makin bingung. Dia menatapku lama, raut wajah dinginnya perlahan berubah jadi bingung balik. Dia biasa melihatku yang sabar, yang ceria, yang selalu bertanya kenapa dia berubah. Tapi sekarang... aku diam. Aku aneh. Aku berubah jadi jauh lebih misterius dan kacau darinya.

"Kamu... kamu beneran nggak apa-apa kan?" tanya Aira lagi, nadanya sedikit berubah, ada rasa penasaran dan kebingungan yang terselip.

Dia tak mengerti kenapa aku berubah seketika jadi begini. Dia tak mengerti kenapa aku menatapnya begitu dalam, begitu sedih, begitu penuh arti.

Aku mengangguk pelan, tapi mataku tak berkedip menatap matanya. Di dalam hatiku, ribuan pertanyaan masih berputar kencang.

"Kenapa dia tersenyum sama orang lain? Kenapa dia dingin sama aku? Kenapa rasanya aku mau dia cuma punya aku? Kenapa aku bingung banget sama diri aku sendiri?"

Tapi tak satu pun kata itu yang keluar dari mulutku. Aku memendam semuanya. Aku biarkan rasa cemburu, rasa sakit, dan kebingungan ini menyiksaku sendirian. Aku biarkan Aira makin bingung balik melihat perubahanku yang mendadak ini.

Karena aku pun tak mengerti apa yang kurasakan. Aku pun tak tahu nama rasa ini. Aku pun bingung, sama persis seperti dia dulu. Bedanya... aku tak sanggup menjauh. Aku malah makin mendekat, makin menatapnya, makin diam-diam menjaganya, dengan hati yang makin hancur dan makin penuh tanya.

Di sana, di balik tatapan kami yang saling bertemu tapi sama-sama penuh rahasia, Aira makin bingung,

"Kenapa Arjun berubah? Kenapa dia diam? Kenapa dia natap aku kayak gini? Apa yang dia rasain?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!