Belle Ursula yang waktu itu masih pelajar di sekolah menegah atas kelas dua belas di sukai oleh Lettu Harrel Jitro karena kecantikan dan kelincahan Belle di lapangan voli. Pertemuan itu, membuat Harrel berusaha mendekati Belle yang masih duduk di kelas dua belas. Mereka perpacaran. Ketika Belle lulus seleksi kuliah di fakultas kedokteran pada salah satu universitas negeri di Jogja. Cinta mereka di uji waktu dan jarak. Apakah cinta pertama Belle akan abadi??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kampung Suami
Pagi - pagi sekali, Hugo dan Belle sudah bersiap bersama dengan Beni, pagi ini jam delapan, mereka akan berangkat menuju sulawesi utara alias kota Manado. Tetapi bukan kota itu tujuan mereka melainkan Tondano, kampung dari Hugo. Di Tondano, keluarga mereka sudah menyiapkan kedatangan mereka. Malam ini ada ibadah pengucapan syukur pernikahan Hugo dengan Belle.
Tiba di bandara Sam Ratulangi setelah menempuh empat jam perjalanan udara dan menunggu di tempat transit di kota Sorong. Mereka tiba di Menado sore hari. Mereka memutuskan untuk langsung ke Tondano, karena jam tujuh malam ada ibadah. Mobil Hein yang di titip di bandara kepada teman brimobnya yang bertugas di bandara di gunakan untuk alat transportasi ke Tondano.
Jalur jalan yang mereka pilih agar tiba di Tondano adalah melewati Airmadidi. Tidak melewati jalan utama. Dan jalan ini lebih cepat sampai dan terhindar dari macet. Dalam perjalanan, Belle tertidur. Pengen sekali Hugo memeluk istrinya itu. Namun dia duduk di depan bersama adiknya. Tidak membutuhkan waktu yang lama. Kurang dari satu jam mereka tiba di kota Tondano. Rumah keluarga Hugo dekat dengan kampus universitas Negeri Manado. Orangtuanya juga mempunyai usaha kosan bagi mahasiswa yang dibangun oleh kedua anaknya Hugo dan Hein. Selain sawah dan tambak ikan air tawar.
Pukul empat sore mereka tiba di rumah. Om dan tante serta saudara sepupunya Hugo dan Hein sudah menunggu. Semua sudah disiapkan. Catering makanan juga sudah mulai datang. Meskipun ada di Jayapura, mamanya sudah mengurus semuanya itu di bantu oleh adeknya. Atau tantenya Hugo.
"Kak, gendong istrimu saja. Nanti barang - barang kalian aku dan Beni beresi."
"Makasih ya dek."
Mamanya Hugo sudah memberitahukan kepada adek - adeknya bahwa menantunya tertidur, jadi nanti selesai ibadah atau pas ibadah baru kenalan. Namun ketika Hugo mau mengendong. Belle sudah terbangun.
"Kak, sudah sampai."
"Iya sayang."
Begitu melihat Belle, semua tante dan omnya Hugo sudah menyambut bahkan saudara sepupu dan keponkan Hugo. Mereka memeluk dan mencium pipi Belle. Teh dan kue sudah disiapkan. Belle di persilahkan untuk minum. Kebetulan sekali, karena Belle merasa mual. Dia pun menikmati teh panas itu. Belle mulai terasa, kedinginan.
Karena mau ibadah, Belle sudah mempersiapkan dirinya. Selesai mandi dengan air hangat, dia pun mengenakan baju dress berwarna hijau pastel dan menggunakan sepatu flat berwarna hitam. Belle sangat cantik dengan baju dreesnya yang sederhana ini. Namun jangan di tanya harganya karena ini adalah barang branded.
"Ma, Belle bantu apa??"
"Sayang, mama sudah siapkan semua. Kita siap sambut pendeta dan jemaat saja. Hugo mana??"
"Aku disini ma."
Pukul tujuh malam ibadah mulai, sudah banyak warga jemaat yang datang, juga pendeta dan mejelisnya. Hanya satu jam ibadah selesai. Hugo diberi kesempatan mewakili keluarga untuk menyampaikan sepatah dua patah kata. Dalam ibadah ini juga hadir orangtua dari almarhum. Padahal keluarga Wowor mau menjodohkan Hugo dengan adiknya Natalia, yang bernama Siska Wowor seorang pegawai negeri sipil pada pada universitas Negeri Manado. Sisca ini adalah seorang Dosen. Dia juga datang bersama orangtuanya.
Sebenarnya usaha Siska untuk dekat dengan Hugo sangat genjar. Dia setiap minggu bahkan hari menghubungi Hugo, menyatakan perasaannya namun tidak direspon sama Hugo. Kalau Hein sendiri tidak suka untuk di jodohkan. Dan Siska bukan tipe perempuan yang dia suka. Karena pergaulannya.
Orangtua Hugo sebenarnya tidak lagi mempunyai utang kepada keluarga wowor. Karena Hugo dan Hein sudah mengantikan semua utang orang tuanya.
Sekarang semua tamu yang adalah warga jemaat sedang menikmati makan dan minum yang disiapkan. Tadi Hugo sudah memperkenalkan istrinya kepada semua orang kampung. Dan sekarang Belle sedang di ajak berbicara dengan Siska.
"Kak, diperhatikan. Aku takut Siska buat sesuatu kepada kakak ipar." Meskipun usia Hein lebih tua setahun dari Belle, tetapi dia tetap menyapa Belle dengan sebutan kakak ipar. Jam sebelas baru semua bubar. Namun di antara orang - orang yang datang hanya keluarga Wowor yang belum terima akan pilihan Hugo. Mengingat Natalia sudah meninggal. Jadi malam itu mereka kembali membuat gosip yang tidak baik tentang Belle yang disebut perebut kekasih kakaknya sehingga Natalia meninggal.
Gosip ini sampai ke telinga keluarga Hugo. Mama dan papanya Hugo dan Hein sangat marah. Yang lebih menyakitkan kedekatan Belle tadi, adalah usaha Belle untuk meminta maaf. Padahal Belle tidak mengenal keluarganya almarhumah Natalia.
"Hugo tidak perduli selama istrinya baik - baik saja. Sayang apa kamu terganggu." Belle hanya tersenyum.
"Masa lalu kakak kan sudah kita bahas selesai. Dan aku percaya sama kamu sayang."
"I love you."
"I love you too." Hugo langsung mencium bibir istrinya. Namun Hugo masih menyimpan satu rahasia Siska yang menurutnya tidak penting.
Besok pagi subuh, Belle sudah bangun namun suami usilnya tidak mengijinkan dirinya keluar kamar, terlebih turun dari tempat tidur. Karena dia mau meminta jatah birahinya. Akhirnya subuh itu satu ronde pun terjadi. Satu ronde itu di sebut ketika mereka berdua mencapai puncak kenikmatan bersama. Jika hanya Belle sendiri maka itu belum sah satu ronde.
Selesai bercinta, Belle kembali tertidur dalam pelukan Hugo. Sengaja memang Hugo melakukan itu, agar Belle masih tidur bersama dengan dia.
Jam sembilan baru mereka bangun. Selesai sarapan Hugo mengajak Belle ke ladang orangtuanya. Yaitu sawah. Karena padi yang mereka tanam akan siap untuk di panen. Disana sudah ada papa mertuanya.
Belle menikmati sekali. Di bermain lumpur, karena hari ini papa mertuanya sedang memperkerjakan orang untuk membantu menanam padi ada sekitar delapan belas bedengan sawah yang harus di tanam sedangkan dua puluh bedengan siap di panen. Pembatas antara pagi yang baru tanam dan siap panen dibatasi oleh tanaman cabe yang siap panen juga untuk pertama kali.
Wujud Belle sudah tidak berbentuk dia kotor sekali karena kena lumpur. Mama mertua yang datang membawa makan siang hanya bisa tertawa.
"Ma, kamu harus siap bayar anak mantumu dia tanam padi tiga bedengan dan panen cabe empat ember."
"Siap pa. Mama bayar dengan cintanya mama bisa."
"Bisa sangat mama." Mama mertuanya langsung memeluk Belle dan menciumnya. Selesai makan siang. Hugo langsung mengendongnya di belakang punggungnya. Karena mereka akan pulang. Semua pekerja di sawah hanya senyum - senyum. Orang - orang kampung sangat senang, karena anak - anak keluarga ini sopan - sopan. Kedua anak dari keluarga ini sukses - sukses karena orangtua mereka yang ramah kepada orang lain. Waktu itu mereka hidup kasihan- kasihan, namun ketika Harrell Hugo Tandean dan Harun Hein Tandean sukses mereka merubah perekonomian orangtua mereka. Roda itu kadang di atas, kadang juga bisa di bawa. Begitu juga dengan kehidupan. Dulu tidak di anggap orang karena hidup susah, sekarang semua berlomba - lomba mau mendekat.