NovelToon NovelToon
Doa Yang Sama Di Altar Yang Berbeda

Doa Yang Sama Di Altar Yang Berbeda

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:145
Nilai: 5
Nama Author: canny***

Menumpahkan es kopi ke baju Kenzo—si cowok genius anak pemilik yayasan—di hari pertama sekolah adalah awal dari bencana bagi Callista. Apalagi setelah mereka dipaksa jadi ketua dan sekretaris kelas. Perang dingin pun pecah, namun percikan benci perlahan berubah jadi cinta.
Sayangnya, realitas menghantam keras. Kenzo adalah seorang Kristen taat, sementara Callista beragama Buddha. Mereka sadar, sekuat apa pun perasaan itu, ada tembok keyakinan yang mustahil diseberangi.
Di saat hubungan itu mulai retak, ada Sean. Sahabat masa kecil Callista yang diam-diam memendam rasa, yang selalu menemaninya ke Vihara, dan memegang kunci dari doa yang sama di altar yang sama.
Ketika melangkah maju hanya menabrak dinding, akankah Callista tetap bertahan pada Kenzo, atau berbalik arah pada sahabat yang selama ini selalu berjalan seiringan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Atas Panggung Auditorium Lee Kuan Yew

Lampu-lampu sorot berdaya tinggi membiaskan cahaya putih keemasan di atas panggung Auditorium Lee Kuan Yew School of Public Policy. Udara dingin dari pendingin ruangan terpusat terasa menusuk kulit, berpadu dengan ketegangan pekat yang membungkus seluruh ruangan. Hari ini adalah Mid-Term Review—tahap uji krusial di mana sepuluh kelompok lintas negara harus mempresentasikan revisi proyek sosial mereka di hadapan lima juri internasional, perwakilan ASEAN, dan para akademisi senior.

Di barisan kursi peserta, Callista duduk membetulkan letak pin emas bertuliskan delegasi Indonesia di dadanya. Di sampingnya, Kenzo mengusap pelan sampul berkas proposal 'Bridge of Generations'. Wajah cowok itu tampak setenang air di telaga, meski gerak-gerik jemarinya yang merapikan lembar salinan memperlihatkan fokus yang terasah tajam.

"Kelompok Empat: Indonesia, Singapura, dan Jepang. Silakan mengambil tempat di atas panggung," panggil pembawa acara dengan intonasi bahasa Inggris yang formal.

Callista, Kenzo, Mei-Ling, dan Hiroto berdiri bersamaan. Mereka melangkah naik ke atas panggung berkarpet merah dengan gestur yang sangat rapi dan percaya diri.

Di tengah panggung, Hiroto membuka presentasi dengan pemaparan data pemetaan zonasi lansia menggunakan platform digital. Selanjutnya, Mei-Ling mengambil alih untuk menjelaskan efisiensi alokasi sumber daya. Penjelasan keduanya sangat presisi, dingin, dan berbasis angka.

Kini giliran Kenzo yang melangkah ke depan mikrofon utama. Dengan artikulasi bahasa Inggris yang jernih, tegas, dan berwibawa, Kenzo memaparkan kerangka integrasi kebijakan.

"Namun, sebuah sistem berbasis algoritma hanya akan menjadi cangkang kosong tanpa adanya interaksi kemanusiaan yang nyata," sambung Kenzo dengan nada suara yang dalam, memutus kebekuan data. "Untuk menjelaskan aspek keberlanjutan emosional dan pendekatan sosial, saya persilakan rekan saya, Callista."

Callista melangkah satu tindak ke depan. Di bawah tatapan ratusan pasang mata dan kilatan lampu kamera, rasa gugup Callista mendadak surut. Di dalam pikirannya, terbayang senyuman tulus Sean, aroma hio Vihara yang menenangkan, dan janji yang ia bawa dari tanah air.

"Proyek ini bukan sekadar tentang membagikan bantuan atau mencatat statistik," ujar Callista dengan suara yang tenang, hangat, namun bergetar penuh keyakinan. "Ini adalah tentang mengembalikan rasa memiliki. Ketika kita menghubungkan generasi muda dengan para lansia melalui sistem buddying, kita tidak hanya menyelesaikan isolasi sosial, tetapi juga membangun kembali akar budaya menghormati orang tua yang menjadi fondasi masyarakat Asia."

Callista memaparkan indikator kualitatif, metode pendampingan psikologis, dan kurikulum interaksi sosial dengan begitu luwes dan penuh empati. Penjelasannya menggabungkan ketajaman analisis akademis dengan ketulusan nurani yang sangat menyentuh.

Ketika tayangan slide terakhir menampilkan kalimat penutup, keheningan merayap di auditorium selama dua detik... sebelum akhirnya tepuk tangan riuh membahana dari jajaran juri dan seluruh hadirin!

Dr. Eleanor Vance, salah satu juri utama, menyunggingkan senyum lebar sambil bertepuk tangan. "Penyelarasan yang sangat indah antara kekuatan data dan kedalaman empati sosial. Excellent presentation, Team Four."

Seketika, rasa lega yang luar biasa membanjiri dada Callista. Ia menoleh ke arah Kenzo, yang juga sedang menatapnya dengan senyum bangga yang tulus dari sudut bibirnya.

Sore harinya, setelah rangkaian evaluasi pertengahan program selesai, seluruh peserta diberikan waktu luang untuk menikmati area luar kampus. Hujan gerimis yang sempat turun kini menyisakan aroma segar tanah dan dedaunan basah di sepanjang jalan menuju Marina Bay.

Callista dan Kenzo berjalan berdampingan di sepanjang selasar waterfront dengan pemandangan lanskap pencakar langit Singapura yang megah di seberang teluk. Cahaya keemasan matahari terbenam membias indah di atas permukaan air laut yang tenang.

"Penjelasan lo di panggung tadi bener-bener mengunci nilai penuh dari juri, Callista," ujar Kenzo sambil menghentikan langkahnya di dekat pagar pembatas.

Callista tersenyum, menyandarkan kedua tangannya ke railing besi yang dingin. "Itu karena susunan data dari lo, Mei-Ling, dan Hiroto yang bikin argumen gue punya dasar kuat, Kenzo. Kita semua kerja keras buat ini."

Kenzo menatap lurus ke arah cakrawala kota yang mulai dihiasi lampu-lampu gedung. Angin sore berembus pelan, memainkan kerah kemejanya.

"Kemarin malam Bapak telepon gue lagi," kata Kenzo pelan, intonasi suaranya terdengar lebih terbuka dibanding biasanya.

Callista menoleh, mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Bapak bilang, beliau bangga liat laporan evaluasi dari panitia," lanjut Kenzo dengan senyum tipis yang agak samar. "Tapi di saat yang sama, beliau kembali mengingatkan soal berkas pendaftaran universitas di Sydney. Kadang... gue merasa hidup gue udah digariskan dari A sampai Z tanpa pernah dikasih ruang buat bertanya apa yang sebenarnya gue mau."

Callista menatap profil wajah Kenzo dari samping. Di balik gelar murid teladan, ketua OSIS yang disegani, dan calon pemimpin masa depan, Kenzo hanyalah seorang remaja yang merindukan kebebasan untuk memilih jalannya sendiri.

"Kenzo," panggil Callista lembut. "Lo udah membuktikan ke semua orang kalau lo mampu berdiri di tempat paling tinggi. Tapi lo juga berhak buat jujur sama diri lo sendiri. Apa pun jalan yang bakal lo pilih nanti—entah di Australia atau di mana pun—lo gak pernah gagal di mata orang-orang yang paham perjuangan lo."

Kenzo terdiam sejenak. Kata-kata sederhana dari Callista terasa seperti beban berat yang diangkat perlahan dari dadanya. Kenzo mengangguk pelan, menatap Callista dengan rasa terima kasih yang teramat dalam.

"Terima kasih, Callista. Lo selalu tahu cara memberikan sudut pandang yang menenangkan."

Malam harinya, saat Callista kembali ke kamar asramanya di Clementi, udara malam terasa dingin dan tenang. Ia meletakkan blazernya di sandaran kursi, lalu merogoh tasnya untuk mengambil ponsel.

Sebuah pemberitahuan video call yang masuk membuat senyuman manis langsung terbit di wajahnya. Callista menekan tombol hijau dan menyandarkan ponselnya di meja belajar.

Layar menampilkan sosok Sean yang sedang duduk di bangku kayu halaman rumah Callista di Jakarta. Di belakangnya, tampak Mama Callista yang sedang menyiram tanaman bunga di bawah remang lampu teras.

"Halo, Bu Perwakilan!" sapa Sean dengan cengiran khasnya yang hangat. "Gimana mid-term tadi? Tante Yuli sama Mama lo dari tadi sore udah nanyain terus."

"Lancar banget, Sean!" jawab Callista dengan mata berbinar-binar gembira. "Tim kita dapet nilai tertinggi dari juri! Tadi Dr. Vance bahkan puji bagian analisis empati sosial yang gue bawain."

"Tuh kan! Gue bilang juga apa!" seru Sean bangga, matanya menyipit penuh kebahagiaan. "Anak SMA Wijaya emang gak ada tandingannya!"

Mama Callista kemudian mendekat ke layar, melambaikan tangan dengan wajah haru. "Selamat ya, sayang. Mama proud of you. Jangan lupa tetap rendah hati dan jaga kesehatan di sana."

"Iya, Ma... Makasih ya, Ma," jawab Callista dengan suara agak parau menahan haru.

Setelah Mamanya kembali ke dalam rumah, layar kembali menampilkan Sean sendirian. Cowok itu menopang dagunya dengan tangan, menatap Callista dari balik layar dengan sorot mata yang penuh kelembutan.

"Sean," panggil Callista pelan.

"Kenapa, Cal?"

"Makasih ya... udah rajin nemenin Mama di rumah selama gue di sini."

Sean terkekeh pelan, tawa renyah yang selalu berhasil meruntuhkan rasa lelah Callista. "Sama-sama, Cal. Kan gue udah janji bakal jagain rumah dan altar tempat lo pulang. Lo di sana tinggal fokus selesaikan minggu terakhir, terus pulang membawa piala."

Callista meremas kantong kain merah pemberian Mama Sean yang tergeletak di samping laptopnya. Di tengah kemegahan Singapura dan persaingan akademis yang tinggi, suara dan kehadiran Sean adalah ikatan paling hangat yang tak pernah terputus oleh jarak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!